26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maksudnya Begini, Bilangnya Begitu | Politik Satire dalam Video Klip “Suud Minum Yan”

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 8, 2021
in Esai
Maksudnya Begini, Bilangnya Begitu | Politik Satire dalam Video Klip “Suud Minum Yan”

Foto di-screenshot dari video klip Suud Minum Yan, Interblock Sinema

Apakah teman-teman pernah mendengar cocoklogi? Jika belum, cocoklogi terdiri dari dua kata; cocok dan logi. Cocok artinya cocok, pas, mantap—manis batu! Sedangkan logi atau logos adalah sebuah ilmu, jadi bisa disimpulkan dengan bebas bahwa cocoklogi adalah ilmu mencocok-cocokan sesuatu agar pas, agar mantap dan agar manis batu.

Cocoklogi kali ini akan melihat makna di balik sebuah video klip yang beberapa hari terakhir sempat ramai dibicarakan karena kaitannya dengan kritik yang diselipkan dalam bentuk satire maupun candaan. Bagaimana satire dalam video klip itu?

Baik, kita mulai dari kritikan, atau jika kita hubung-hubungkan sebuah kekecewaan pembuatnya (ini bicara pembuatnya dulu, belum pada masyarakat maupun warganet yang merasa terwakili oleh kritiknya).

Kekecewaan atau kritikan terhadap sesuatu atau seseorang yang memiliki kekuasaan tidak serta merta bisa diungkapkan secara terbuka dan gamblang. Nggak! Pengungkapan dalam kemaşan yang lebih ringan, dengan humor/lawakan menjadi cara yang dianggap efektif. Kalau kata seseorang dalam bahasa enggres, “Only jokes that have a purpose run the risk of meeting with people who do not want to listen them.” Alasan memilih humor adalah sebagai satu dari sekian cara meluapkan protes sosial, sebab sesuai dengan kepribadian tradisional bangsa kita yang tidak suka dikritik secara langsung. Apalagi di Bali ya ges? Sekali kritik, dua tiga cetik dan leak mendatangi. Hiiiii… serem! 

Gaya penyampaian semacam itu dinamakan satire. Satire merupakan gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran atau ejekan terhadap suatu keadaan atau seseorang. Political satire adalah bagian dari satire yang khusus mengambil sisi hiburan dari sebuah fenomena politik. Digunakan pula dalam pidato politik untuk mengungkapkan pesan secara implisit, seperti pada saat “menyerang’ lawan politik dengan menggunakan kata-kata sindiran.

Pesan satir bisa diwujudkan dalam beragam bentuk, karikatur, tulisan, karya sastra, maupun karya seni termasuk di dalamnya adalah lagu[1]. Termasuk film dan bahkan video klip musik karena termasuk dalam bagian karya seni. Video merupakan salah satu elemen penting yang ikut berperan dalam membangun sebuah sistem komunikasi dalam bentuk gambar bergerak. Secara umum video memanipulasi gambar dengan konsep yang matang sebelum pembuatannya.

Seperti pada video klip Suud Minum Yan!!! dari group band asal Bali, Capiyot feat Interblock Band yang digarap oleh Interblock Cinema Januari 2021. Lagu ini berhasil menarik perhatian, khususnya warganet di Bali. Setelah tiga hari diunggah di Youtube, dan pada saat cocoklogi ini ditulis, jumlah penontonnya sudah mencapai sembilan puluh tiga ribu lebih, ini belum termasuk versi karaokenya yang diunggah sehari setelah video klipnya yang sudah mencapai lima ribu enam ratus, dan versi liriknya yang sudah ditonton sebanyak tiga ribu seratus kali. Wow banget kan ges? 

Video klip Suud Minum Yan memiliki gaya visual yang menarik dan menggunakan alur bercerita yang tak linier. Dikisahkan Gede Sujana yang memerankan tokoh Pak Yan pergi ke kota (Badung) untuk mencari kerja, karakter Pak Yan ketika kecil disampaikan kalem tapi ketika dia besar dan mendapat pekerjaan yang bagus, ia menjadi menjengkelkan dengan banyaknya aturan yang dia buat. Aturan apa? Tidak disebutkan atau tidak digambarkan dalam video klipnya. Video klip ditutup dengan adegan Pak Yan ingin mencoba mengambil mic Capiyot dengan membawa map merah, tapi tak satu pun yang menghiraukannya dan meninggalkannya begitu saja.

Beberapa scene dalam video klip ini diedit dengan efek slow motion yang menampilkan pola-pola tertentu. Jika diperhatikan, video klip ini satire dan memperlihatkan simbol kritik apa yang terjadi di Bali akhir-akhir ini.

Pesan satir politik melalui lagu dan ditambah video klip mampu memberi teguran sarat kritik dengan sisipan kemasan humor lebih mengena. Menurut Freud, tampilan jenaka dimaksudkan untuk mengungkapkan tekanan terhadap musuh, mengajak orang lain untuk menertawakan musuh kita atau musuh bersama. Kira-kira begini kutipannya, “By belittling and humbling our enemy, by scorning and radiculating him, we indirectly obtain the pleasure of his defeat by laughter of the third person, the inactive spectator”.

Kekuatan visualisasi membantu membentuk frame penonton akan pesan yang disampaikan. Interpretasi adalah sebuah proses pemberian arti dan pemahaman terhadap pengalaman, artinya penonton akan menginterpretasi tanda yang secara fisik diterima kemudian dikaitkan dengan pengalamannya akan tanda yang berkaitan.

Satire dalam video klip Suud Minum Yan, berdasarkan cocoklogi yang saya lakukan bisa dilihat dari poin-poin berikut ini:

1. Karakter Politisi Berbaju Merah

Pak Yan dalam video klip Suud Minum Yan merupakan seorang politisi. Hal ini bisa dilihat di bagian awal video klip Pak Yan lengkap dengan kemeja merah, udeng merah, anteng poleng–membawa proposal perbaikan jalan di Karangasem. Sudah pasti Pak Yan ini seorang politisi. Memang rakyat biasa bisa perbaiki jalan negara? Ya bisa, kalau kerjanya jam-jaman. Kerja delapan jam belum dikurangi PSBB-Work From Home dan sebagainya sebagainya kok minta gaji dua ratus juta. Sudah miskin secara struktural kok masih mimpi. Eh.

Meskipun begitu, Pak Yan ini digambarkan sepertinya tidak sebagai politisi cerdas, namun lebih kepada politisi yang mudah ditipu, jika waktu kecil Pak Yan ini disebut olog-olog pong. Boleh diisi jirr.. Jika ingin improvisasi. Jadinya olog-olog pong jiiirr~. Karena tidak tahu ke mana arah tujuannya, nasib Pak Yan berhasil ditipu oleh tukang ojek yang menarifnya mahal meskipun jarak dari posisi sebelumnya ke tujuan tak terlalu jauh, bahkan hanya 1 meter. Pak Yan 0 – Tukang Ojek 1.

2. Minum Arak Halus

Karakter Pak Yan dalam video klip ini digambarkan memang suka minum, dalam beberapa scene dia menenggak arak sendiri, minum tuak sendiri. Karena rasa penasaran saya yang berlebih, saya mencari-cari apakah ada karakter dalam novel atau dalam apapun yang mirip-mirip dengan Pak Yan dalam video klip ini?

Saya ketik saja di google “laki-laki baju merah suka minum arak bali”. Google ternyata menunjukkan beberapa artikel dan foto orang berbaju merah juga muncul. Wah, saya semakin penasaran. Pikiran sederhana saya bertanya, apakah si baju merah ini mirip dengan Pak Yan di video klip? Dari tampilan baju dan udeng, oke sama— ya, sama-sama warna merah dan terkadang batik. Dari kacamata tidak, Pak Yan di video klip tidak menggunakan kacamata, sedangkan orang baju merah yang ditunjukkan Google menggunakan kacamata. Yang berbeda lagi, Pak Yan di video klip brewok, sementara di Google klimis.

Saya cari-cari lagi apa yang mirip, ternyata orang baju merah yang ditunjukkan Google, memiliki beberapa kutipan mengenai arak. Bagimana kutipannya? Ah, cari sendiri dah. Jika sudah baca-baca kutipan itu, bisa-bisalah disimpulkan bahwa Pak Yan di video klip dengan si baju merah yang ditunjukkan Google mirip! Mirip-mirip suka arak.

3. Karakter Pak Yan Berubah-ubah

Berubah di sini bukan menjadi bunglon atau power rangers, ultraman, kamen riders, musang ekor sembilan dan lain sebagainya, melainkan dirinya sendiri—Pak Yan itu sendiri. Melalui penggalan liriknya dan satu scene masa kecil, Pak Yan kecil adalah anak yang kalem dan ketika dewasa dia berubah—-apalagi ketika mendapatkan pekerjaan yang bagus, dia jarang senyum dan tampangnya digambarkan arogan, tapi semenjak itu juga dia berubah menjadi orang yang banyak aturan.

Melihat liriknya saya bertanya pada diri sendiri, aturan apa ya ini? Karena dalam lirik atau dalam video klipnya, tidak disebutkan aturan macam apa. Daripada saya susah tidur memikirkan video klip macam begini, saya pun mengetik di Google lagi “Aturan berubah-ubah di Bali”, makasi Google! Google pun menunjukkan aturan mulai dari Swab test, kebijakan masuk ke Bali, hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat.  Apakah ini yang dimaksud aturan yang berubah-ubah?

Aduh, kebanyakan berpikir saya jadi lapar. Sudah bingung mencari maksud Pak Yan di video klip ditambah lapar ditambah saat saya mengetik tulisan ini jam menunjukkan pukul delapan kurang lima belas. Daripada saya bingung, kelaparan dan tidak bisa beli makan hiiiii… ngeri, mending saya keluar dulu beli makan.

Kalian yang baca dan nonton videonya cari sendirilah. Sudah gede masak perlu disuapin. Wkwkwkk. [T][Editor Adnyana Ole]


[1] (Leonard Freedman, The Offensive Art¸Political Satire and Its Censorship around the World from Beerbohm to Borat, (London: Praeger, 2009), p. 68.)

________

Video klip Suud Minum Yan…
Tags: laguLagu Pop Balimusikmusik pop baliPolitiksatire
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cara Indah Sastrawan Bali Modern Mengantar Alit Juliartha Menuju Rumah Puisi Abadi | In Memoriam

Next Post

Terpapar Umbu Landu Paranggi | Kisah Aliran Kepenyairan di Bali

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Terpapar Umbu Landu Paranggi | Kisah Aliran Kepenyairan di Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co