25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastrawan Muda Melihat Keindahan || Sebuah Apresiasi

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
January 19, 2021
in Ulasan
Sastrawan Muda Melihat Keindahan || Sebuah Apresiasi

Buku "Bulan Sisi Kauh"

Pertengahan Januari 2021 ini saya dihadiahi beberapa buku oleh sastrawan muda perenung. Ada studi sastra dan prosa liris berbahasa Bali. Prosa Liris berjudul “Bulan Sisi Kauh” yang diterbitkan Pustaka Ekspresi cukup menggugah. Penulis menyebut dirinya “Nirguna”. Yang memberi kata pengantar juga tak kalah bikin merenung: IBM Dharma Palguna.

Saya tak akan membahas ini. Ulasan IBM Dharma Palguna terhadap prosa liris ini cukup mendalam: Si Nirguna dibahas dengan perspektif Triguna! Si Nirguna dilihat sisi-sisi eksistensialnya: terharu, cemas, sedih, takut dan merasa diri kecil, dekat jauh dan seterusnya. Khas ciri “mengada” manusia. Apa benar “Nirguna” demikian?

Nirguna pun jatuh bangun menyusuri jalan panjang itu—sebuah jalan panjang yang disebut Triguna Tattwa. Menarik bukan? Meskipun penulis menyebut “Kruna-krunane nenten lengut,” namun pilihan dan permainan katanya menyentuh rasa. Dan sulit untuk tidak mengatakan: ada “Palguna” di dalam perjalanan sastra “Nirguna”.

Tidak hanya beberapa karya ini, saya juga sempat membaca studi anak muda ini (saya panggil Gus DP) tentang Kidung Bhramara Saṅu Pati. Alur berpikirnya cukup rapi, kadang sangat sastrawi. Meskipun ia sadar, tak sedang merangkai kata untuk sebuah puisi gombal, tapi karya akademik.

Yang menarik adalah caranya mengelaborasi kata Lango, Mango dan Kalangwan. Sejak awal ia membuat kesimpulan atas elaborasi tentang subyek dan obyek keindahan—dan bagaimana keduanya menyatu.

Pada awal tulisan, Ia menjelaskan: Kalangwan merupakan keadaan bertemunya keindahan [langö] dan mengakibatkan leburnya jarak antara pencari dengan yang dicari. Leburnya jarak, menjadi sebab jiwa hanyut ke dalam keindahan yang sublim.

Jarak tidak hanya sebagai konsepsi ruang dan waktu, namun juga kesadaran yang memisahkan subjek dan objek. Leburnya jarak berarti lenyapnya ruang, waktu, dan kesadaran [subjek dan objek]. Keadaan demikian menjadi tujuan oleh kawi. Kawi adalah ia yang telah memasuki dan dimasuki oleh lango. Keadaan saling masuk-memasuki itulah yang diterjemahkan menjadi kalangwan.

Si penulis sadar tidak mudah membahasakan—apalagi memahami kalangwan. “Bukanlah perihal mudah membahasakan kalangwan, sebab seringkali kata-kata tidak mampu mewadahi ide yang dimaksudkan olehnya”. Begitu tulisnya.

Selanjutnya Ia mengutip pandangan beberapa peneliti seperti Zoetmulder dan Robson, yang terpenting adalah Suryohudoyo. Anak muda ini menginterpretasi pandangan Suryohudoyo ini. Suryohudoyo menyatakan bahwa istilah langö juga mengacu pada sensasi ketidaksadaran diri ketika seseorang benar-benar diserap oleh keindahan dan hilang di dalamnya, sehingga “segala sesuatu yang lain tenggelam dalam kehampaan dan terlupakan”.

Pertanyaannya memang, siapa yang dilebur dan melebur, siapa yang ditelan dan menelan. Ia menganggap bahwa ketika lango adalah sensasi ketidaksadaran diri seharusnya tidak ada lagi dikotomi antara subjek maupun objek, sebab keduanya telah lebur. Subjek seolah tertelan ke dalam keindahan objek, atau sebaliknya keindahan objek ditelan habis oleh subjek.

Sementara ini, subjeklah yang dikatakan hanyut ke dalam objek, dengan meniadakan kemungkinan bahwa yang terjadi dapat pula sebaliknya. “Argumentasi yang diungkapkan Suryohudoyo tersebut tidak memperjelas istilah langö,” kritiknya.

Kuntara menyebut pengalaman ekstatis. Alam dan manusia menjadi satu dengan keindahan. Ketika berhadapan dengan alam yang mempesona (alango), sang kawi pecinta keindahan (mango), terpesona (alango), terserap seluruhnya dan tenggelam dalam obyek yang dipandangnya (lengleng) hingga yang lain lenyap. Di sini semua kegiatan budi terhenti. Inilah pengalaman ekstatis yang merangkum pengalaman estetis dan mistik religius.

Di sini, Gus DP menolak terjebak pada pandangan dikotomis antara subyek dan obyek. Istilah “seorang diserap” seolah-olah mengindikasikan masih ada pandangan dualistik tentang subyek obyek. Saya kira ini yang ingin dia koreksi dari pandangan Suryohudoyo. Padahal, sejak awal penulis menyatakan bahwa hubungan antara subyek dan obyek dalam konteks kalangwan diwakili oleh istilah: surup sumurup: saling memasuki.

Sebenarnya ini adalah diskursus wacana filosofis-fenomenologis—meskipun Gus DP memang belum akrab dengan pemikiran filsuf-filsuf fenomenologi seperti Husserl, Sartre, Gadamer, Merleu Ponty, sampai pada Martin Heiddeger—perihal status ontologis dari subyek dan obyek. Termasuk memahami apa beda estetika subyek obyek dan estetika yang meleburkan keduanya.

Dalam pandangan fenomenologi, kesadaran memang tak pernah berdiri sendiri hanya pada subyek. Sadar berarti sadar akan sesuatu. Awalnya kesadaran ditutup dari relasinya terhadap obyek—ini dilakukan oleh Descartes dengan deklarasi cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada).

Dalam pandangan Husserl kesadaran selalu berkorelasi dengan obyek. Hal ini disebut sebagai intensionalitas: kesadaran yang terarah pada obyek. Husserl punya semboyan: Zurck zu den Sachen selbst (kembalilah pada benda-benda). Hanya saja Husserl masih dianggap menaruh esensi berada di dalam kesadaran.

Berbeda dengan Heiddeger yang memusatkan perhatiannya justru pada upaya menyingkap “ada” dalam korelasi antara subyek dan obyek. Ia membiarkan fenomena itu membukakan dirinya pada subyek dan obyek. Esensi sebuah fenomena tidak dicari jawabannya pada sesuatu di luar fenomena, melainkan membiarkan fenomena itu sendiri membukakan dirinya pada subyek dan obyek. Fenomenologi ontologis Heiddeger ini membiarkan “ada” menampakkan kesesuatuannya, misalnya membiarkan tampak kebatuan batu, kelayaran layar, kebungaan bunga. Rumit!! Bikin pala pusing!

Ada di dalam dunia mesti menjadikan dunia itu eksis. Saya menafsirkan lain: Ketika seorang ingin melukis bunga matahari, ia harus menjadi bunga matahari. Begitu kira-kira.

Resikonya adalah subyek harus “menghilangkan” predikat dirinya sebagai subyek, langsung masuk ke dalam obyek dengan tujuan menyingkap “ada”. Di sini subyek tidak terserap pada obyek, tetapi “ri pemateh ikang tutur”—berupaya menyamakan kesadaran dengan kesadaran obyek. Ini sering dilakukan oleh para kawi—yang selalu melakukan aksi “bunuh diri” sebagai subyek sebelum mengarang. Entah dengan cara menghina dirinya, atau dengan cara menyamarkan dirinya. Dengan cara itu, kebungaan bunga menjadi tampak.

Dan banyak yang bisa kita diskusikan. Tapi istilah Surup Sumurup sebenarnya menjadi penting dalam relasi antara subyek dan obyek dalam konteks pencapaian kalangwan. Satu lagi—saya memperkenalkan pandangan estetika yang dibahas oleh Ananda Coomaraswamy (AC). Pandangannya adalah antara lango dan mango sama-sama memiliki dimensi yang sama yakni keindahan atau rasa. Jika saya boleh gunakan cara berpikir AC, maka Kalangwan adalah pertemuan keindahan itu sendiri.

Sama seperti karya sastra atau karya seni salah satu kata kuncinya adalah rasa. Ananda Coomaraswamy menjelaskan bahwa elemen mendasar karya sastra puisi adalah rasa. Maka pertama karya sastra mesti “memiliki rasa” rasavant, yang bisa dinikmati oleh penikmat rasa, penilai rasa atau pecinta rasa (rasika), namun tak berhenti sampai di sana—karena sebuah karya sastra tidak hanya sebagai obyek rasika—dalam bahasa Jawa Kuna, rasika juga diartikan penikmat.

Jika berhenti sampai di rasika, maka masih ada batas antara subyek dan obyek. Lalu ia menyebut satu istilah lagi yakni rasasvadana sebagai pertemuan rasa, merasakan rasa—dan ujungnya adalah kontemplasi estetik.

Pandangan ini belum banyak dibahas dalam diskusi-diskusi estetika—sejauh yang saya ketahui—siapa tahu kawan-kawan lebih paham. Andai saja diskusi tentang Lango, Mango dan Kalangwan diperkaya dengan pandangan-pandangan tersebut, pasti lebih menarik. Setidaknya kita bisa memetakan “teori keindahan” dalam sastra kuno di nusantara—serta apa bedanya dengan teori-teori estetika di barat.

Tapi terlepas dari itu, saya cukup mengapresiasi kerja kebudayaan anak muda ini. Terimakasih pemberian buku dan studinya. Betul kata si penulis kritik adalah bagian dari cara bersahabat. Kritik bukan pembongkaran, tapi penciptaan kembali.

Setelah ini, semoga muncul para pencipta yang membayar utang sastra. Begitu juga para kritikus sastra yang membayar hutang pada kritikus sebelumnya yang telah membuka ruang penciptaan kembali. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Covid-19, Paman Meninggal, Stres dan Meredakan Stres || Cerita Mahasiswa Rantau dari Undiksha

Next Post

Dulu & Kini | Desa Les dan Siakin – Jalan Hutan Terasa Dekat, Jalan Aspal Terasa Jauh

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Dulu & Kini | Desa Les dan Siakin – Jalan Hutan Terasa Dekat, Jalan Aspal Terasa Jauh

Dulu & Kini | Desa Les dan Siakin - Jalan Hutan Terasa Dekat, Jalan Aspal Terasa Jauh

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co