24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengetuk Pintu dan Memasuki Suatu Komunitas || Dari Buku “Melawan Setan Bermata Runcing”

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 14, 2021
in Esai
Mengetuk Pintu dan Memasuki Suatu Komunitas || Dari Buku “Melawan Setan Bermata Runcing”

Ilustrasi berjudul Memahami Komunitas oleh Oceu Apristawijaya

Dari semua acara di  tahun 2020 yang saya hadiri,  yang paling meninggalkan kesan mendalam adalah pameran seni  sekaligus diskusi buku yang diadakan di Kulidan Kitchen pada tanggal 12 Februari 2020 pada hari Rabu sore dengan pembawa acara yaitu Butet Manurung selaku pendiri Sokola Institute dan Oceu Apristawijaya sebagai illustrator yang karya seninya yang dipajang di dinding Kulidan Kitchen. Mereka berdua menjalani hidup yang dapat dikatakan berunsur petualangan.

Menjelajahi daerah yang tidak dikenal, tinggal di tempat yang budayanya amat berbeda dari perkotaan dan hidup bersama kaum yang hidupnya semi nomaden selama beberapa waktu seperti yang tertulis dalam buku yang didiskusikan. Karya ilustrasi beliau memberikan inspirasi untuk bertanya- tanya tentang metode pendekatan dan penyusunan agenda yang selama ini dilakukan oleh perorangan maupun lembaga terhadap suatu komunitas yang berada di suatu wilayah.

Dimoderatori oleh I Komang Adiartha, pembahasan buku dan karya seni berjudul Melawan Setan Bermata Runcing   menguak berbagai hal mulai dari pendidikan, kehidupan sosial, advokasi , kesehatan dan yang ada satu hal terpenting yang akan diulas dalam artikel ini sebagai pembuka sebelum menyusun agenda yang berkaitan dengan hal hal di atas. Acara tersebut dapat  membuka suatu bahan untuk diskusi publik mengenai kebijakan yang selama ini diambil oleh institusi mulai dari lembaga pemerintah, LSM, hingga korporasi maupun   akar rumput untuk mengevalusi kembali efektivitas program yang mereka buat di suatu wilayah. Sokola Institute menunjukkan suatu metode yang berpegang teguh pada rasa kasih dan kerendahan hati dalam berinteraksi dengan komunitas yang menjadi tujuan dari agenda yang dibuatnya.

Ilustrasi berikut ini yang pernah dipajang di dinding Kulidan Space akan memberikan gambaran awal mengenai hidup bersama komunitas. Judul karyanya berjudul Memahami Komunitas. Deskripsi ilustrasi ini menceritakan anggota Sokola Institute menelusuri sungai di siang hari bersama komunitas lokal dengan bergotong royong mendayung perahu. Mereka bersama sama mengumpulkan hasil bumi, lalu diletakkan di atas perahu untuk diangkut ke pemukiman. Lihat, bagaimana orang yang lahir dan besar di kota menyesuaikan penampilannya dengan komunitas lokal terlihat dari gaya berpakaiannya yang nyaris serupa serta tinggal di rumah adat. Mereka merasakan susah dan senangnya bersama anggota komunitas.  Pendekatan di sini jelas menunjukkan kerendahan hati dari pihak lembaga. Anggota Sokola Insitute ingin menyelami kehidupan di suatu komunitas sebelum memulai menyusun agenda di bidang pendidikan, advokasi, dan kesehatan serta pemberdayaan. 

Ilustrasi berjudul Memahami Komunitas oleh  Oceu Apristawijaya

Dodi Rokhdian, anggota Sokola Insitute menulis metode yang ia gunakan dalam menelusuri komunitas jika dirangkum dalam satu paragram bunyinya sebagai berikut:

“Metode Etnografi memungkinkan munculnya empati atas realitas hidup melalui konsekuensi metodologis saat menjalankannya, dan sebuah metode menjadi bermakna ketika digunakan sebagai alat perubahan, berpihak serta tidak netral.”

Bagi pihak-pihak yang ingin menyusun agenda pembangunan atau agenda lainnya suatu daerah di bidang apapun, harus menelusuri sendi sendi kehidupan komunitas yang bertempat di wilayah tersebut untuk mendapatkan pengetahuan sebagai tahap amat penting di awal agar komunitas kedua dapat menerima manfaat langsung. Dari cerita yang diulas oleh Sokola Institue ketika pengetahuan ini tidak diperoleh secara akurat atau amat dangkal karena penyusun agenda tidak memahami kebutuhan dan permasalahannya, terjadi suatu pemborosan sumber daya yang sia sia bahkan menambah masalah baru.

Di Sumatera, program perumahan publik oleh pemerintah untuk orang Rimba berakhir dengan dijualnya rumah tersebut kepada pihak luar karena tidak cocok dengan cara hidupnya yang semi nomaden sesuai dengan mata pencaharian. Di Kajang, tempat penggembalaan ternak bagian vital bagi kehidupan, adanya sekolah formal membuat siswa sulit datang ke sekolah di waktu tertentu karena berurusan di padang rumput. Selain itu mata pelajaran yang diterima oleh siswa ini nyaris tak menyentuh persolahan sehari hari mereka sehingga dianggap menguras waktu. 

Untuk itu ada lima pengetahuan berdasarkan tingkatannya untuk menyusun agenda untuk komunitas yaitu:

1.) Deskripsi kehidupan sehari hari, lingkungan fisik, dan masalah yang dihadapi suatu komunitas.

Inilah pengetahuan terpenting. Oleh sebab itu, pegiat dari LSM maupun pejabat dan pegawai pemerintah yang ingin membuat suatu agenda di desa tertentu tidak hanya berkantor di sana saat siang hari lalu pulang ke tempat penginapan ekslusif di malam hari. Mereka selayaknya mengamati aktivitas warga sambil ikut membantu serta menginap di desa itu saat malam sambil berdialog dengan kepala desa dan seluruh warganya sehingga mendapatkan peta permasalahan. Dengan ini, komunitas merasa dijadikan sebagai rekan bukan objek atas kebijakan yang dipaksakan dari atas.

2.) Aspirasi dan idealisasi kehidupan yang diharapkan

Dari tinggal dan ikut berperan langsung dalam kehidupan komunitas, akan mengetahui kebutuhan kebutuhannya berdasarkan prioritas. Ini membantu penyusunan anggaran untuk mewujudkan agenda yang dijalankan agar efektif dan menjawab hal terpenting yang amat dibutuhkan oleh mereka untuk kehidupan yang layak. Di sinilah perlunya rasa empati, ikut merasakan penderitaan dan kegembiraan mereka.

3.) Pemetaan pelaku di komunitas terkait peranan, pengaruh, dinamika dan jejaringnya dalam kehidupan harian

Dalam suatu komunitas di sebuah desa pasti ada orang orang yang berpengaruh. Membangun dialog dengan orang orang ini amat penting karena orang yang berpengaruh ini amat menentukan jalannya agenda yang disusun. Mereka yang paling dipercaya oleh anggota komunitas.

4.) Faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi implementasi program

Dengan mengetahui kondisi lingkungan dan sosial komunitas, serta riwayat interaksinya dengan pihak luar, dapat memperhitungkan hal yang akan memperlancar agenda dan menyiapkan penanganan terhadap sesuatu yang akan merintangi jalannya agenda.

5.) Praktek dan cara produksi komunitas dalam pemenuhan kebutuhan hidup harian

Ini adalah mengkaji aktivitas ekonomi warga sekitar. Produksi menentukan cara hidup dan masalah yang dialaminya. Memahami ini penting untuk menyusun agenda pendidikan secara lebih menyentuh permasalahan ke akarnya. Dalam aktivitas yang dilakukan oleh Sokola Institute bersama orang Rimba yang sebagian besar hidup dari berburu dan bertani, mereka bersama sama menyusun kurikulum pendidikan yang berkaitan dengan mata pencaharian tersebut dan memfasilitasi orang Rimba menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan itu setelah belajar bersama. Di sinilah syarat amat penting menyusun literasi hadap masalah

Kehidupan sebuah komunitas dan latar budaya yang menauginya diibaratkan sebuah “rumah” dan kajian untuk dapat lima pengetahuan adalah langkah awal sebagai “mengetuk pintu”. Di dalam aksi lapangan. Kajian menjadi langkah awal untuk membangun kedekatan hubungan dengan subjek di lokasi program yang akan diadakan. Ikuti tata cara seempat, memperkenalkan diri, meminta izin dan menjelaskan maksud serta tujuan. Dari tindakan yang diambil tadi setelah mendapat pengetahuan yang pertama, akan mengetahui respon tuan rumah terhadap agenda yang dibawa apakah ingin mengerti lebih dalam atau menolak. Baru setelah itu menggali pengetahuan ke dua hingga ke lima.

Metode Etnografi

Untuk dapat mengerti secara menyeluruh mengenai dimensi kehidupan suatu komunitas dan wilayah dimana mereka berada harus melalui observasi saksama dengan berpartisipasi dan ikut hidup dalam komunitas tersebut. Karena itu kajian menggunakan pendekatan yang menekankan pada proses dan makna- berupa realitas yang dibangun secara sosial dan adanya kaitan erat antara pihak yang mengkaji dengan sasaran yang dikaji. Ini disebut kajian kualitatif

Kajian ini mengambil metode etnografi yaitu sebuah metode antropologis yang jika digunakan dengan tepat dapat menguak perspektif budaya dan kebenaran kebenaran dalam sudut pandang lokal. Pendekatan kualitatif akan sejajar dengan tujuan etnografi kritis dimana berangkat dari tanggung jawab moral untuk menemukan proses ketimpangan pada wilayah kehidupan yang memberi peluang terwujudnya penegakan kemanusiaan untuk komunitas tersebut. Pendekatan etnografi dilakukan oleh Sokola Institue saat melakukan improvisasi seragam sekolah untuk murid murid di Kajang yang menganggap warna putih merah tabu dipakai dan merancang pendidikan yang menyentuh sendi kehidupan sehari hari mereka sehingga melek huruf di sana meningkat.

Etnografi kritis mengupas kejadian di balik kenyataan yang terlihat, menggugat status quo dan netralitas serta mempertanyakan asumsi asumsi yang diterima begitu saja yang mendasari berjalannya sebuah kekuasaan dan kendali. Melawan penjinakan dan berjalan dari realita akan “apa yang ada” menuju “apa yang seharusnya”.

Seseorang yang menggunakan metode etnografi untuk mendapat lima pengetahuan secara menyeluruh mengenai komunitas akan melebur di tengah ritme harian, menghadiri pertemuan dan perayaan, melakukan kunjungan pribadi ke rumah warga, mendengar permasalahan sehari hari, menghadiri rapat komunitas, berdiskusi hal hal tematis atau sekadar berbicara saja di berbagai konteks dan latar budaya tempat komunitas itu.

Dia akan menggali data melalui wawancara, diskusi kelompok terfokus yang berutujuan memetakan masalah dna mencari penyelesaian, mengambil foto, membuat sketsa wilayah serta menyelenggarakan penilaian desa secara partisipatif yang memungkinkan komunitas secara bersama sama menganalisis suatu masalah dalam rangka merumuskan perencanaan dan kebijakan secara nyata.

Metode ini tidak hanya berlaku untuk mendekati komunitas terpencil seperti orang Rimba di Jambi atau Suku Asmat di Papua. Ia dapat digunakan juga untuk wilayah yang berada tak jauh dari tempat kita tinggal. Dari sinilah sebabnya pejabat dan aktivis perlu menggali ilmu dan belajar bersama Sokola Institute mengenai menyusun agenda pendidikan hingga pemberdayaan supaya hasilnya efektif terutama menyelesaikan permasalahan yang ada.

Sumber:

  1. Manurung, Butet, et. al. (2019).Melawan Setan Bermata Runcing. Jakarta, Sokola Institute
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sosok Alm. Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta M.A || Pembuka URW Media Tahun 2021

Next Post

Aku, Si Raksasa Baik | Kalian Boleh Jauhi Aku, Tapi Jangan Serang Aku

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Aku, Si Raksasa Baik | Kalian Boleh Jauhi Aku, Tapi Jangan Serang Aku

Aku, Si Raksasa Baik | Kalian Boleh Jauhi Aku, Tapi Jangan Serang Aku

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co