23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bioritma Pemersatu Nusantara

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 22, 2020
in Esai
Bioritma Pemersatu Nusantara

Ilustrasi tatkala.co / wikipedia / Nana Partha

Oleh Sugi Lanus bersama Donny Harimurti*

____

Pernah mendengar Bioritma (Biorythm)? https://en.wikipedia.org/wiki/Biorhythm

Dunia sempat berpendapat, bahwa manusia punya irama hidup untuk ketahanan fisik, emosi, dan intelektual yang berdaur secara teratur pasang naik dan pasang surutnya. Daur fisik 23 hari, emosi tiap 28 hari, dan intelektual 33 hari.

Tiap orang mengikuti siklus tubuh dan batiniah tersebut sejak lahir sampai mati. Siklus atau daur emosi 28 hari, misalnya, ditunjukkan dengan daur menstruasi bagi rata-rata kaum perempuan. Berbahagialah perempuan karena tubuhnya seiring dengan siklus semesta, dengan itu berkesempatan bersama semesta mengandung dan melahirkan kehidupan.

Bioritma juga dipakai mengukur pemilihan personel kunci yang menentukan keberhasilan perang sampai olympiade. Dulu sempat ada kalkulator bioritma.

Di Nusantara bioritma ini dikenal sebagai Kalender Wuku.

Dasar kalender Nusantara kuno ini lebih rinci berkaitan dengan wariga atau wewaran, mengandung perhitungan dari siklus 1 yaitu Ekawara sampai siklus 10 yaitu Dasawara, bersanding erat dengan perhitungan Wuku (siklus 7 dikalikan 30) yang disebut daur pawukon.

Kalender Wuku ini menentukan hari-hari penting penulisan dan pendirian prasasti, penobatan raja-raja, penentuan hari-hari suci di peradaban pardatuan, kedatuan, dan kerajaan-kerajaan dan komunitas kuno di Sumatera, Kalimantan, Sunda, Jawa, Bali, Buton, Kei, Sumba, dstnya.

Panjangnya wewaran yang diikat oleh pawukon ini masing-masing adalah 210 hari, atau di Bali disebut 6 bulan Bali.

Fisikawan Berlin ternama Wilhelm Fliess abad ke-19 — berdasarkan teori Sigmund Freud — merumuskan daur-daur bioritma membentuk siklus massal yang berdaur 23 x 28 x 33 = 21.252.

Periode nemu-gelang atau satu putaran oleh leluhur Nusantara dibagi menjadi 100 pawukon yang masing-masing sepanjang 210 hari. Totalnya 21.000 hari.

Kenapa rumusan fisikawan Jerman Wilhelm Flies sangat mendekati rumusan nemu gelang?

Dari mana leluhur kita tahu?

Biorhythm telah berdenyut dalam diri dan kehidupan masyarakat Nusantara kuno yang tubuh, napas, dan denyut hidupnya menyatu dengan alam sekitarnya, sungai, gunung-gunung, samudera, langit dan semesta.

Meskipun sempat menjadi pergunjingan sekian lama, bioritma semakin tidak populer karena fisikawan barat patah arang, tidak mempunyai tradisi pengetahuan kuno seperti yang dirumuskan leluhur kita lewat pendalaman laku hidup. Hening batiniah untuk mendengar denyut diri dan alam. Mereka gagal mencari realitas rumusannya, yang padahal, telah berlaku dalam kehidupan dan menjadi kalender peradaban Nusantara kuno dan tersisa sampai kini.

Sebagai bukti pengetahuan kuno ini masih hidup di Bali dan masih sangat menjadi pedoman utama untuk menentukan kalender kegiatan-kegiatan suci, pertanian, kegiatan nelayan dan semua aspek tradisi di Bali — ini berkaitan dengan bioritma karena aritmatikanya berasal dari micro-cosmos, yaitu tubuh manusia sendiri. Pengetahuan yang dihasilkan dari kesadaran kosmik, melalui pengetahuan diri bhuana alit untuk selaras-manunggal dengan alam semesta bhuana agung.

Di Jawa dan Sunda kalender wuku, sasih, titi mangsa masih menjadi jiwa dan irama kehidupan pedesaan.

Rumusnya:

“Wewaran alah dening Wuku, wuku alah dening penanggal lan pangelong, penanggal lan pangelong alah dening sasih, sasih alah dening dawuh, dawuh alah dening Sang Hyang Triyodasa Saksi”.

“Bahwa sistem siklus wewaran dikalahkan pengaruhnya oleh siklus pawukon, pawukon dikalahkan pengaruhnya oleh sasih (siklus bulan purnama dan bulan gelap), siklus sasih dikalahkan pengaruhnya oleh dawuh (putaran “momentum” waktu), “momentum” dikalahkan pengaruhnya oleh Sang Hyang Triyodasa Saksi — Maha Saksi Berwujud Tiga Belas Kekuatan Alam Semesta.“

Sang Hyang Triyodasa Saksi adalah Tiga Belas Kekuatan Mahadasyat pengatur semesta raya. KECERDASAN ULTIMA YANG MENGATUR SEMESTA RAYA. Ini sebab kenapa orang kita mengenal istilah cilaka tiga belas artinya tidak ada siapapun bisa membantu kalau kekuatan besar alam semesta raya bekerja di balik kejadian naas yang dialami.

Bioritma sebagai pemersatu alam pikir Nusantara

Pengorganisasian kehidupan petani, nelayan dan kerajaan di Sumatera, Sunda, Jawa, Bali, Lombok, sampai kepulauan Kei dstnya diikat oleh sebuah ikatan agenda kultural dan ritual bersama, yaitu sistem sasih dan kalender pawukon (30 x 7 hari = 210 hari), dikombinasikan dengan sitem lunar dan solar.

Setidaknya kalender Wuku telah mulai dikenal semenjak jaman Dinasti Sanjaya, Kerajaan Medang, sebagaimana tercantum dalam prasasti-prasasti Rakai Kayuwangi atau Dyah Lokapala pada abad ke 8 masehi. Peradaban di balik kebesaran Candi Borobudur dan Prambanan memakai kalender Wuku.

Kalender Wuku sampai saat ini masih sangat relevan mengatur kehidupan keseharian dan sepanjang hayat sebagian warga Indonesia – warga rumpun Sunda, Jawa, Bali dan Lombok, dstnya.

Setidaknya ada 5 peran penting yang sampai saat ini masih relevan dimainkan kalender Wuku dan wewaran dalam kehidupan masyarakat di beberapa suku di Nusantara — seperti Sunda, Jawa, Madura, Bali, Sasak, Sumbawa, dll.

1. Mengatur agenda hajatan ‘ketuhanan’ dan ‘ritus’ keagamaan (ritual tradisional), termasuk hari-hari nyekar (ziarah kubur).

2. Pedoman memahami sebab musabab munculnya halangan hidup, pedoman menjalani tahap-tahap kehidupan, dan bagaimana hal-hal tersebut dirangkai atau dilalui lewat slametan dan ritual Nusantara lainnya.

3. Memahami tabiat dan bawaan bulan dan pralambangnya, serta bagaimana memusnahkan tabiat bawaan dengan ritual menghilangkan ‘pamali diri’ dan ruwatannya.

4. Menjadi pedoman untuk memahami persyaratan memelihara jiwa dan obat penghilang lara.

5. Menjadi media penyatuan dan pengaturan keharmonisan hidup dengan alam dan manusia lain, termasuk di dalamnya sebagai pedoman hari bertani (pertanian), melaut (nelayan), mengambil ternak (peternakan) dsbnya, ini ditempuh dengan perhitungan wewaran dan hitungan 210 hari (Wariga gĕmĕt sajroning wuku sawiji).

Kalender Wuku menjadi ‘sistem keyakinan bersama yang padu secara imajiner’, yang menyatukan ‘imajinasi’ kita sebagai sebuah rumpun suku-suku di Nusantara. Dalam kehidupan rumpun suku-suku Nusantara kuno, sekalipun mereka seolah-oleh sibuk dengan ‘kesukuannya’ masing-masing, mereka dipertemukan secara intens secara ‘kultural’ dan secara ‘batiniah’ oleh sebuah ikatan mendalam yang dibangun oleh mitos dan nilai-nilai yang dimajinasikan bersama, secara bioritmik, melalui piranti dan berbagai perwatakan dan narasi yang berada di balik 30 wuku yang menyusun kalender pawukon tersebut, yang memuat berbagai simbol kultural sarat makna.

Nenek moyang kita telah terasah dan ‘bertemu’ dalam ‘pertemuan kultural’ yang imajiner tersebut — berabad-abad sebelum kemerdekaan Indonesia — dalam menjalani kehidupan dengan keyakinan dan niatan yang penuh kedalaman rasa yang bioritmik. Sama-sama mendengar detak semesta dalam dirinya, dan diteguhkan dalam hidup berpedoman pada kalender Wuku dan sasih yang sama. Leluhur Nusantara di berbagai pulau, tanpa disadari, bertemu secara bioritma.

Kalender Wuku secara arkais berperan sebagai benang untaian yang mempersatukan irama kehidupan rumpun masyarakat Sumatera, Sunda, Jawa, Bali, Lombok, Sumba, Bima, Kei dstnya dalam ‘ritmik-kalenderik’ yang sama.

Sekalipun terbentang gunung, sungai dan lintas laut serta pulau, mereka melangkah bersama dalam ‘siklus imajinasi’ – dijaga/diatur secara periodik dan tiada putus-putus. Irama kalenderik ini mengatur persamaan ‘persepsi imajiner’ mereka dalam melihat angin, hujan, laut dan ombak, juga berbagai mitologi yang melingkupinya.

Dalam mekanisme bioritmik ini leluhur menemukan hari baik buruk untuk memulai sesuatu agar tidak terhalang dalam pekerjaan, berkarya, memenuhi panggilan ritus kehidupan ruhaniah.

Bioritma kalender Wuku secara ‘misterius’ menjadi salah-satu pengikat ‘imajinasi kebangsaan’, ‘identitas kebangsaan’, memberi andil dalam membentuk ‘rasa ke-indonesia-an’ yang arkais di alam bawah sadar masyarakat Nusantara.

*Tulisan BIORITMA PEMERSATU NUSANTARA ini oleh Sugi Lanus bersama Donny Harimurti, yang menimbang ada keterkaitan antara Wuku dengan teori biorythm, terkhusus kaitannya dengan apa yang dirumuskan oleh fisikawan Wilhelm Fliess.

Tags: BioritmaNusantarapersatuan
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Orang Desa Bicara Desa

Next Post

Peran Nyata LPD Hadapi Covid-19

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19, LPD Baiknya Ringankan Kredit Krama – Contoh LPD Peliatan Ubud

Peran Nyata LPD Hadapi Covid-19

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co