23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kolaborasi LPD dan Pekerja Migran Membangun Desa

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
April 19, 2020
in Esai
Kolaborasi LPD dan Pekerja Migran Membangun Desa

Pekerja Migran Indonesia (PMI) baru datang dari luar negeri

Berbicara desa membuat pikiran imajinatif pembaca mengarah pada sebuah kondisi yang memperihatinkan. Seperti rendahnya kualitas SDM, terbatasnya infrastruktur, sedikitnya pertokoan, sedikitnya ragam profesi seperti dokter, pengacara, dosen, hakim, dominannya profesi sebagai petani, bahkan banyak menjadi petani gurem, karenanya angka kemiskinan lebih banyak terdapat di desa. Demikian wajah desa secara umum yang ada di Indonesia.

Karena itu pula, saat ini fokus dan lokus pembangunan Indonesia diarahkan ke desa. Desa diyakini sebagai harapan baru dalam mewujudkan Indonesia maju. Undang-undang No.6/2014 tentang desa memberi semangat baru kepada warga desa. UU ini hadir sebagai bentuk keberpihakan negara kepada desa. Dana desa sebesar Rp 1 M per desa per tahun yang digelontorkan pemerintah pusat membuat wajah desa berubah. Infrastruktur makin baik, sekolah-sekolah TK makin banyak, kantor kepala desa makin megah, penataan pasar desa makin baik, internet mulai masuk desa, dan banyak lagi perbaikan yang sudah terjadi.

Bali yang dikenal sebagai daerah tujuan wisata dunia juga mengalami perubahan. Disamping terbantu oleh suntikan dana desa dari APBN, desa di Bali khususnya desa adat banyak terbantu oleh LPD (Lembaga Perkreditan Desa). LPD didirikan untuk membantu warga desa dalam akses keuangan. Adanya LPD membuat warga desa yang awalnya tidak memenuhi syarat meminjam uang di bank (bank umum dan BPR) menjadi mendapat pinjaman di LPD.

Kelonggaran syarat yang ada di LPD membuat warga desa mendapat pinjaman/kredit. Kondisi ini menjadikan warga desa lebih berani membuat perencanaan hidup menuju kehidupan yang lebih baik. Misalnya perencanaan setelah tamat SMA. Umumnya, anak muda di desa bersekolah sampai jenjang SMA saja (wajib belajar 12 tahun). Keputusan itu diambil karena alasan ekonomi sehingga tidak berani melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Di samping itu, jika pun dipaksakan untuk kuliah, maka setelah lulus belum ada jaminan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Begitulah cerita-cerita atau obrolan yang biasa diobrolkan warga di desa saat bertemu di sawah maupun saat ngobrol di balai banjar.

Hadirnya LPD di desa membuat cerita hidup berubah. LPD menciptakan program yang memberikan kredit/pinjaman yang disesuaikan dengan kondisi peminjam/debitur. Sebagai contoh, banyak LPD terutama yang berada di pinggiran membuat program dengan nama kredit kapal pesiar bagi warga yang akan berangkat ke kapal. Skema kreditnya adalah membiayai seluruh biaya keberangkatan warga desa yang akan berangkat ke kapal.

Ada juga LPD yang memberi kredit sejak warga desa mulai sekolah di sekolah kapal pesiar (jenjang D1) sampai keberangkatan. Angsuran boleh dibayar setelah debitur mendapat gaji pertama setelah bekerja di kapal. Debitur dapat mengirimkan angsurannya dari tempatnya bekerja. Program ini benar-benar membantu warga desa. LPD bersinergi dengan anak muda yang akan berangkat demi kebaikan bersama. Program ini adalah simbiosis mutulalisme. LPD memeroleh pendapatan bunga dari pinjaman yang diberikan, anak muda mendapat kepastian biaya untk keberangkatan. Hal ini sejatinya adalah bagian dari upaya untuk membangun desa. Biasanya dengan sekali atau dua kali keberangkatan, semua utang di LPD akan lunas.

Umumnya, setelah berangkat yang 3 kali, perubahan hidup mulai dirasakan. Perubahan diawali dengan pembuatan rumah untuk orang tuanya, membeli mobil, kemudian untuk persiapan menikah. Setelah keberangkatan kelima maka sudah mulai memikirkan investasi. Apakah membeli tanah di Denpasar atau membuat usaha (bisnis). Dua atau tiga kali keberangkatan, keluarga yang di kampung sudah mulai merasakan perubahan hidup.

Kiriman uang perbulan mulai datang, orang tuanya yang rata-rata seorang petani mulai menggunakan baju bermerek luar negeri, menggunakan celana bahkan sudah terbiasa membawa handphone kemana-mana. Orang tua sudah tidak berutang lagi di warung, sudah bisa bayar peturunan di desa adat dengan lancar, dan cerita lainnya yang menunjukkan adanya perbaikan secara ekonomi.

Yang paling penting, adanya seorang kakak yang berangkat ke kapal pesiar membuat sang adik yang masih sekolah baik di SMA atau di SMP menjadi memiliki jaminan untuk bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya. Umumnya, jika adik dari seorang pekerja kapal pesiar sedang duduk di bangku SMA, sang adik akan mengikuti jejak sang kakak. Caranya juga hampir mirip dengan cara kakaknya.

Dimulai dengan sekolah di sekolah kapal pesiar selama 1 tahun, berikutnya meminjam uang di LPD sekitar Rp 40 juta untuk persiapan keberangkatan. Surat panggilan keberangkatan (job letter) dijadikan jaminan dan pembayaran angsuran dilakukan setelah mulai bekerja di kapal. Cerita berikutnya akan mirip dengan sang kakak. Dan keluarga yang bersangkutan kian mengalami peningkatan kualitas hidup.

Cerita sukses kakak beradik yang bekerja ke kapal pesiar akan berkabar ke tetangga yang ada di desa maupun di luar desa. Cerita ini akan membius semangat anak muda lainnya untuk mengikuti jejaknya.

Pertanyaan-pertanyaan mulai diajukan, seperti dimana sekolah agar bisa berangkat ke kapal? Siapa yang membantu sehingga bisa kerja di kapal? Berikutnya disusul pertanyaan, berapa biaya yang dihabiskan kalau mau berangkat ke kapal? Pertanyaan kunci, dimana atau bagaimana caranya mendapatkan uang tersebut agar bisa berangkat ke kapal?

Jawaban atas pertanyanaan-pertanyaan tersebut dibagi dengan riang gembira oleh para orang tua yang anaknya sudah duluan berangkat. Sampailah pada cerita bahwa LPD-lah sebagai pembuka pintu perbaikan hidup. LPD membantu semua biaya untuk keberangkatan. LPD berkolaborasi dengan calon pekerja kapal pesiar untuk membangun desa. Intinya LPD hadir sebagai solusi.

Layanan yang diberikan LPD akhirnya diadopsi oleh LPD-LPD di luar desa sehingga banyak LPD yang memberikan layanan kredit untuk calon pekerja ke kapal pesiar. Tidak heran jika di Bali banyak dijumpai sekolah kepal pesiar. Tidak heran juga jika banyak dijumpai anak muda yang umurnya di bawah 25 tahun sudah beberapa kali berangkat ke kapal pesiar.

Hampir di semua kabupaten di Bali banyak anak mudanya yang bekerja di kapal pesiar. Jumlah anak muda yang bekerja di kapal pesiar tiap tahun kian bertambah seiring adanya harapan dan kepastian untuk perbaikan hidup. Dan biasanya anak muda yang bekerja di kapal pesiar adalah anak muda yang berasal dari desa. Bahkan desa yang ada di pinggiran. Ini sangat berbeda dengan pilihan anak muda yang tinggal di kota yang lebih memilih melanjutkan kuliah setelah lulus SMA.

Seminggu belakangan ini media online maupun media cetak saling berlomba memberitakan orang yang bekerja di kapal pesiar. Awalnya orang yang bekerja di kapal disebut TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Belakangan sebutannya berubah menjadi PMI (Pekerja Migran Indonesia).

Salah satu surat kabar memberitakan bahwa saat ini (April 2020) setidaknya ada 78.000 orang Indonesia yang bekerja di kapal pesiar, dari jumlah tersebut, sebanyak 22.000 orang berasal dari Bali. PMI asal Bali menyumbang devisa sebanyak Rp 12 Triliun per tahun. Angka ini sangat besar dan sangat bermakna bagi perekonomian Bali. Berkat jasa tersebut, tidak berlebihan jika PMI disebut pahlawan devisa.

PMI biasanya bekerja di kapal antara 4-6 bulan, setelah itu kembali ke kampung halaman, Bali. Orang tua, sanak saudara, istri, anak, bahkan tetangga pun merasa bahagia mendengar berita jika ada salah satu anggotanya yang pulang dari kapal. Mereka bahagia karena akan segera berjumpa dan kebahagiaan dibarengi dengan adanya kepastian membawa lembaran uang dollar.

Orang rumah akan mendapat oleh-oleh yang semuanya berbau luar negeri. Mulai dari parfum, baju, celana, kaca mata, sepatu dan sebagainya. Intinya semua merasa bahagia tatkala PMI pulang kampung. Hadirnya teror Covid-19 membuat cerita menjadi mendadak berubah. Semoga Covid-19 segera kabur sehingga cerita-cerita bahagia saat seorang PMI pulang kampung segera terdengar kembali. PMI adalah harapan keluarga, pejuang desa sekaligus pahlawan devisa. Terima kasih PMI. [T]

Tags: desakapal pesiarLPDpekerja migran
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Stigma & Stigmata

Next Post

“The Flu”, “The Contagion”, dll. — Menonton Film Pandemi untuk Selamat dari Pandemi

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“The Flu”, “The Contagion”, dll. — Menonton Film Pandemi untuk Selamat dari Pandemi

“The Flu”, “The Contagion”, dll. -- Menonton Film Pandemi untuk Selamat dari Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co