24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
April 8, 2020
in Esai
Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Kita masyarakat Bali sejatinya adalah warga (krama) adat. Sebagai krama adat, kita tidak memiliki KTP tetapi cukup terdaftar saja di desa adat. Sehingga banyak kasus terjadi, alamat KTP dimana dan alamat desa adatnya dimana. Artinya antara alamat KTP dengan alamat desa adat bisa dan sering berbeda. Banyak anak rantau, karena alasan formal terpaksa harus pindah domisili dengan mengubah alamat KTP. Tetapi tidak berlaku untuk status krama adat. Status krama adat tetap tercatat utuh di tempat kelahirannya yakni di kampung halaman. Dalam konteks ini, masyarakat Bali lebih “setia” kepada desa adatnya. Terbukti lebih sedikit orang pindah desa adat daripada pindah desa dinas.

Era kepemimpinan Pak Koster sebagai Gubernur Bali juga menempatkan desa adat sebagai fokus perjuangannya. Bali era baru dimulai dengan menata ulang dan menata kembali desa adat. Ini dibuktikan dengan diterbitkannya Perda Nomor 4 tahun 2019 tentang desa adat. Pemerintah Provinsi Bali juga membentuk  Dinas Pemajuan Desa Adat yang khusus mengurus segala hal yang berkaitan dengan desa adat.

Disamping itu, Majelis Desa Adat yang ada di masing-masing kabupaten/kota dan pusatnya di provinsi dijanjikan untuk dibuatkan kantor yang representatif oleh Gubernur Bali. Mulai tahun 2020, tiap desa adat juga diberikan dana sebesar 300 juta per tahun untuk pemberdayaan desa adat. Intinya keberadaan desa adat sangat penting peranannya sehingga benar-benar diperhatikan oleh pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi.  

Sejak dahulu, Bali sudah dikenal secara nasional. Beberapa kali nama Bali muncul di tingkat nasional karena sukses melaksanakan program pemerintah pusat. Peran desa adat sudah terbukti dalam mensukseskan program pemerintah pusat. Seperti 1) program Keluarga Berencana (KB) sangat berhasil di Bali karena sistem banjar; 2) Program wajib belajar 9 tahun dalam bidang pendidikan juga bisa berhasil karena adanya pendekatan adat melalui sistem banjar; dan 3) dalam bidang pertanian, subak diakui oleh dunia internasional karena sistem pertaniannya yang efektif dan efisien.

Jasmerah, demikian ungkapan besar dari Bung Karno. Untuk itu penting menengok kembali proses awal pendirian Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di tahun 1984. Kenapa saat itu dipilih desa adat sebagai basis LPD? Kenapa bukan desa dinas? Apa keistimewaan desa adat? Pertanyaan itu perlu dijawab oleh generasi muda sebagai generasi penerus. Jawaban atas pertanyaan itu terdapat dalam buku “30 tahun LPD Bali” yang diterbitkan oleh LPLPD.

Buku itu menjelaskan bahwa, dipilihnya desa adat sebagai basis pendirian LPD karena 1) Desa adat merupakan lembaga yang telah mengakar dan dihormati oleh krama-nya; 2) Desa adat telah mempunyai aturan baik secara tertulis maupun tidak tertulis; 3) Desa adat merupakan suatu lembaga tradisional dan bersifat kelompok yang didasarkan pada geografis adat, dimana terdapat interkasi sosial yang terjadi sehari-hari sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kesatuan dan kerjasama alamiah sebagai perwujudan gotong royong; dan 4) Desa adat mempunyai kewajiban dan beban tanggung jawab yang cukup besar bisla dibandingkan dengan hak yang dimiliki.

Saat tini, tanpa terasa, masyarakat Bali sudah mengkarantina diri dengan diam di rumah lebih dari 14 hari. Sesuai informasi yang beredar di berita online maupun di media sosial bahwa untuk memutus penyebaran virus corona dibutuhkan waktu 14 hari. Harusnya virus itu sudah pergi dari Bali. Karena masyarakat Bali sudah diam di rumah lebih dari yang disyaratkan.

Benarkah virus itu sudah pergi dari Bali? Saya rasa belum, hal ini perkuat oleh data bahwa jumlah ODP yang makin bertambah serta adanya perubahan status, dari status siaga darurat dinaikkan menjadi tanggap darurat. Artinya virus ini masih berada di sekitar kita. Penyebaran virus akan terhenti jika semua masyarakat Bali tanpa terkecuali benar-benar diam di rumah.

Faktanya masih banyak masyarakat yang beraktivitas di tempat keramaian, seperti di pasar tradisonal. Masyarakat datang ke pasar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pertanyaannya, sampai kapan kita harus diam di rumah? Apakah harus menyelesaikan 14 hari sesi kedua?.

Jika hal yang tidak diinginkan terjadi, yakni penyebaran virus corona kian ganas, maka saatnya benteng terakhir pertahanan Bali yaitu desa adat tampil sebagai “panglima perang” menghadapi virus ini. Desa adat sudah terbukti berhasil sebagai benteng dalam menjaga budaya, dan adat Bali.

Saat ini desa adat harus tampil di depan untuk  menyelamatkan krama Bali dari virus corona. Caranya, masing-masing desa adat melakukan semacam “nyepi desa” selama 14 hari. Krama adat dipastikan tunduk dengan adat. Dalam konteks ini, paruman desa adat jauh lebih bertaring daripada surat imbauan dari pemerintah. Sehingga bisa memberi garansi bahwa karantina diri selama 14 hari akan berhasil dilakukan.

Berikutnya akan muncul pertanyaan, bagaimana caranya agar krama adat tidak kelaparan? Lagi-lagi desa adat hadir sebagai solusi. Saatnya desa adat bergerak dengan cara menggunakan kas desa adat. Seperti diketahui, salah satu sumber dana desa adat adalah dari laba LPD  berupa 20% untuk dana pembangunan desa dan 5% untuk dana sosial.

Dana ini bisa digunakan untuk menjamin kehidupan dan untuk membiayai kebutuhan pokok kramanya selama 14 hari. Saatnya Bendesa adat berani membuat keputusan. Untuk sementara waktu, lupakan dana yang dimiliki untuk pembangunan fisik. Utamakan untuk kebutuhan pokok krama adat. Beberapa desa adat sudah melakukan, diantaranya desa adat Panjer, Denpasar Selatan, Desa adat Selulung Kintamani, dan desa adat Wanagiri, Tabanan. Semoga banyak lagi desa adat yang benar-benar hadir sebagai pahlawan bagi krama adatnya. Astungkara. [T]

Tags: covid 19desa adat
Share72TweetSendShareSend
Previous Post

Korona, Belajar di Rumah, dan Matinya Belajar Hapalan

Next Post

Kami Pun Karantina Dalam Kamar

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kerja di Kapal Pesiar, “Macolek Pamor” Dianggap Kaya

Kami Pun Karantina Dalam Kamar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co