26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Kabar Fotografer Teater Bali?

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
December 23, 2019
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Bicara soal fotografi, tentu perbincangan tak jauh-jauh tertuju pada yang namanya kamera. Saat melihat orang menenteng kamera, khususnya ketika saya memikirkan bagaimana membuka tulisan kali ini, entah kenapa ingatan jadi tertuju pada pengalaman masa kecil. Betapa saat itu, saya merasa kamera menjadi barang mahal yang tak sembarang orang bisa memakainya. Jika bukan wartawan, pastilah ia fotografer. Jika ia fotografer, tentu foto-foto yang dihasilkan bukan sembarang foto.

Memang, begitu naif pikiran saya kala itu, hampir sama naifnya dengan pikiran yang beranjak dewasa kini, ketika kian lazim menatap orang penantang-penenteng membawa kamera. Entah memang bisa membidik dengan benar atau hanya sekadar gaya. Namun pada mereka yang menenteng kamera dalam acara teaterlah saya masih meyakini, bahwa orang-orang ini pasti benar-benar fotografer. Bagaimana tidak? Jika cuma fotografer sekadarnya, dijamin 100% ia takkan memilih teater sebagai objek foto. Jangankan memoto, datang saja belum tentu ingin.

Misal ia adalah fotografer sekadar pingin cari cewek, cewek seperti apa yang bisa difoto dalam pertunjukan teater yang kebanyakan ditutupi make up? Iya, kalau memainkan karakter perempuan pesolek, kalau memerankan tokoh nenek-nenek? Betapa sial nasib mereka. Lain lagi dengan fotografer sekadar cari uang, teater tentu tak akan mampu memberi mereka peluang materi selain hanya ucapan terima kasih. Apalagi fotografer sekadar eksis di instagram. Jelas, teater bukanlah pilihan objek yang tepat jika dibandingkan dengan view pemandangan, acara budaya dan tradisi yang mahapariwisatanya bagi kelestarian Bali.

Dari sekian banyak fotografer yang bertebaran ini, adalah Agus Wiryadhi Saidi salah satu fotografer yang senantiasa hadir secara sukarela untuk mengabadikan pentas teater. Pada 28 November lalu, pada diskusi ‘Pertimbangan Fotografis dalam Pentas Teater’ acara Parade Teater Canasta 2019, kami cukup beruntung menyimak Guswier ngobrol ihwal proses kreatifnya selama 15 tahun dalam mendokumentasikan pertunjukan teater.

Secara implisit, Guswier menjelaskan bahwa foto teater bukanlah sebatas foto dokumentasi atau foto berindah-indah yang menggambarkan kegarangan atau kegantengan wajah aktor di atas panggung. Lebih dari itu, foto teater adalah foto peristiwa di atas peristiwa yang melahirkan peristiwa. Artinya, teater yang notabene merupakan  pemanggungan peristiwa sehari-hari, bertransformasi jadi peristiwa baru baik di mata penonton dan fotografer. Ketika dibekukan dalam mata kamera, ia hadir sebagai bentuk peristiwa tersendiri lagi.

Dalam konteks ini, kerja fotografi teater sebenarnya beda tipis dengan fotografi jurnalistik yang kerap diungkapkan sebagai satu gambar sejuta kata. Foto teater juga berupaya untuk melahirkan sejuta kata atau narasi lain di luar apa yang ‘tampak’ dalam fotonya. Bagaimana posisi bidik foto jurnalistik misalnya, yang fokus pada sepatu tentara dan senjata api dengan berjubel rakyat yang duduk saling peluk sebagai latarnya, begitu pula kualitas yang hadir dalam pertimbangan fotografer teater dalam menentukan pilihan bidiknya di tengah permainan aktor, set properti, dekor dan komposisi pentas.

Lebih khusus lagi, pada kerja fotografi teater, hadir tawar-menawar fotografer dalam menyesuaikan cahaya, desain panggung, penonton dan durasi pentas. Jika diumpamakan, fotografi teater merupakan seni melukis cahaya dalam medan perang berdurasi, sesuai durasi pentas teater. Sementara dalam fotografi jurnalistik, perang bisa berhari-hari lamanya, disertai kemungkinan tewas yang senantiasa menghantui sang fotografer. Sedang pada foto teater, tewasnya fotografer adalah selama pentas berlangsung, ia tak mendapatkan foto yang membuat dirinya puas. Lebih-lebih setelah pentas, ada pemain teater yang minta foto kepadanya, ‘Pak.. tadi bapak foto saya, kan?’

‘Ha? Ehm… ah.. ehm.. coba ta cek dulu di kamera, ya..’

Lalu…..

Tewas.

Demikianlah, foto jurnalistik dan foto teater punya kecenderungan yang mirip namun tak sama. Yang paling berbeda mungkin adalah apresiasinya di ruang publik. Hingga kini, kian banyak penghargaan yang dibuka untuk kerja-kerja foto jurnalistik, seperti Pulitzer, NPPA, Picture of The Year International dan lain sebagainya. Ini tentu jauh berbeda dengan foto teater yang notabene seringkali disikapi sama dengan foto dokumentasi biasa. Bukan hanya oleh penikmat foto saja, bahkan oleh seniman teater dan pihak penyelenggara pentas sendiri. Buktinya, seberapa banyak sih digelar acara yang khusus mendiskusikan fotografi dalam teater atau memberi ruang karya seni fotografi teater untuk berhadapan pada panggung publik?

Dalam ingatan saya sendiri, sedari tahun 2011, hanya ada dua acara yang secara khusus menghadirkan karya fotografi teater di Bali. Pertama adalah pameran foto pentas ‘Kereta Kencana’ karya Iuginne Iunesco yang diselenggarakan oleh Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha. Pameran foto yang bertempat di Kampus Bawah Undiksha Singaraja ini menyajikan foto-foto karya fotografer yang sempat membidik pentas Kereta Kencana dalam acara Parade Teater Arti Foundation 2011. Hardiman Adiwinata, sebagai sutradara pentas sekaligus inisiator pameran saat itu meyakini, bahwa teater tak boleh hanya berhenti pada panggung semata. Fotografi justru merupakan satu medium yang berpotensi melahirkan narasi-narasi lain di luar konteks pertunjukan teater itu sendiri.

Kedua adalah pameran Fotografi “Teater Kita: Panggung Baru” pada tahun 2014 yang diinisai oleh tiga fotografer Bali, yakni Agus Wiryadhi Saidi, Phalayasa Sukmakarsa dan (alm) Ida Bagus Darma Suta. Pameran yang digelar di Six Point Restaurant & Bar, Denpasar ini jadi penting artinya dalam konteks fotografi teater Bali saat itu, mengingat pilihan ruang restorant yang tak biasa dipilih sebagai tempat pameran. Justru pada ruang restaurant inilah, hadir semacam interaksi liyan di luar penonton yang pernah menyaksikan teater dalam foto yang dipamerkan.

Lain daripada itu, event fotografi pertunjukan hanya hidup pada lomba-lomba saja. Parahnya, lomba-lomba ini justru hanya sebatas lomba, yang tak jauh beda penyelenggaraannya dengan lomba fashion show, karaoke, atau mc tingkat sekolah. Hanya mengejar piala, tanpa ada gagasan dan wacana. Event yang tampak begitu gagap berhadapan dengan publiknya. Bagaimana tidak gagap? Jangankan ada kurasi dan pertanggung jawaban lomba, jurinya pun tak jelas siapa. Tiba-tiba saja ada lomba, tiba-tiba saja nama-nama juara terpampang di instagram, tiba-tiba saja penyerahan piala dan tiba-tiba saja hilang. Lalu apa yang bisa diharapkan dengan penyelenggaraan event yang tiba-tiba saja semacam itu?  

Makin ironis kiranya jika dibandingkan dengan bentuk-bentuk kerja teater yang berkembang hari ini, seperti program teater arsip yang dilakukan oleh Dewan Kesenian Jakarta yang mengeksplorasi arsip sebagai bahan pertunjukan dan acara teater. Ada pula kerja berbasis fotografi seperti yang dilakukan Radar Panca Dahana. Yang dalam salah satu esai pertunjukannya, sempat menggunakan foto sebagai sumber data dalam rangka membedah pentas tanpa pernah sekalipun melihat pertunjukannya secara langsung. Atau pada kerja seniman teater Riyadhus Shalihin dengan naskah Cut Out-nya yang ditulis berdasar pada dokumentasi foto sejarah dan lukisan Indonesia. Dari kerja-kerja ini, teater tak lagi dibatasi pada kepentingan membuat pertunjukan semata, melainkan mewujud dalam berbagai produk kerja seni seperti pameran, workshop, diskusi pun sebagai metode menciptakan pertunjukan baru yang berdasar pada arsip. Salah satu arsipnya, ya fotografi tadi.

Kini, sudah lima tahun berlalu sejak pameran foto terahkir “Teater Kita: Panggung Baru” digelar. Saya yakin, foto-foto di kantung kawan-kawan fotografer teaterpun banyak yang sudah berbiak lagi. Demikian pula dengan kehadiran fotografer muda yang kian marak menghadiri dan mengabadikan acara-acara teater, seperti Putu Sayoga, Syafiudin Vifick, Wayan Martino, Dodik Cahyendra, Hadhi Kusuma, dan kawan-kawan lainnya. Dalam diam dan kesenyapannya, mereka senantiasa mengisi ruang-ruang kosong dalam pertunjukan teater. Tentu jadi pertanyaan yang penting kemudian untuk diajukan pada hadirin, penyelenggara, dan khususnya seniman teater yang kerap diabadikan pertunjukannya. Tak adakah yang bisa direspon dari kerja-kerja fotografi teater kita sampai hari ini? Atau jangan-jangan memang sudah cukup puas oleh kerja fotografi teater, yang hanya berhenti pada tanda jempol di FB dengan komentar, ‘toooooopppp’ saja? [T]

Denpasar, 2019

Tags: balifotografiTeater
Share95TweetSendShareSend
Previous Post

Hari Ibu Bagi Anak yang Tak Tahu Ibu

Next Post

Maha Berat Beban Sosial Seorang Sarjana untuk Pulang ke Kampung Halaman

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Maha Berat Beban Sosial Seorang Sarjana untuk Pulang ke Kampung Halaman

Maha Berat Beban Sosial Seorang Sarjana untuk Pulang ke Kampung Halaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co