12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film Pendek “Fauve”, Kisah Melanggar Sebuah Aturan Alam

Putu Kusuma Wijaya by Putu Kusuma Wijaya
October 6, 2019
in Ulasan
Film Pendek “Fauve”, Kisah Melanggar Sebuah Aturan Alam

Film Pendek Fauve

Cerita pendek Le Tolstoy berjudul Master and Man bergerak seputar dua tokoh yang menarik. Membuat kisah antara dua orang memerlukan kedalaman tersendiri untuk bisa dikatakan sebagai sebuah cerita yang melekat lama diingat. Pemilik tanah Vasily Andreyevich Brekunov berjuang keras untuk tetap hidup dalam lebatnya hujan salju. Inilah yang teringat, kala menyaksikan film pendek sutradara Kanada Jereme Comte berjudul FAUVE.

Sang sutradara mempunyai dua  pemain kartu AS ( Félix Grenier and Alexandre Perreault) yang tidak saja mampu memainkan perannya, tetapi berhasil menghantui penontonnya selama beberapa saat.  Awalnya cerita biasa saja, permainan antara dua anak kecil. Di gerbong kereta hingga ke tempat-tempat sekitar. Hanya dua orang ini yang terpotret, Latar belakang kosong dan sepi layaknya jaman zombie meraja lela. Sang sutradara dibantu permainan dua anak ini membuat penontonnya nyaman duduk di kursi yang empuk.

Begitu memasuki daerah eksklusif anak Krakatao, pikiran tiba-tiba berdebar. Kru film National Geographic yang saya antar, menyuruh menghubungi tim BKSDA Lampung di kapal lain yang menjaga kami. Sutradara bertanya apakah aman mendekati anak Krakatoa lebih dekat dari 200 meter seperti yang dianjurkan tim pemantau vulkanologi di Anyer Carita. Ini karena drone tak bisa memotret dengan bagus di  daerah 200 meter

“Aman”, katanya tegas. Bahkan kalau mau, saya bisa memasuki ekslusif zone yang paling aman untuk bisa membuat gambar dramatis. Saya menjelaskan dan sutradara National Geographic yang orang Inggeris itu,  berfikir sejenak,  lalu menginginkan lebih detail penjelasan di titik kordinat mana operator drone rekan saya bersama pemandu alam BKSDA Lampung akan berada.

Saya menggambar posisi sesuai penjelasan yang saya terima dari percakapan radio. “Okay, kalau ini aman, kita lakukan, tetapi tunggu dulu, saya akan menghubungi London. Melalui telepon satelit terjadi percakapan singkat dengan kantornya dan dengan dingin,  sutradara menggelengkan kepalanya. ‘No, Kita tidak boleh masuk ekskludif zone. Terlalu berbahaya dan tak diijinkan asuransi” Maka cukuplah kami hanya berada di titik 100 meter di depan anak Krakatoa yang begitu penuh misteri.

Pasir-pasir yang menyelimuti Anak Krakatoa mengingatkan akan sebuah tempat yang dilalui dua anak itu. Mereka berlari  saling bergurau. Di sinilah kemudian, cerita tiba-tiba berubah. Sesuatu terjadi dan penonton mulai menarik nafas panjang. Tak lagi nyaman duduk di kursinya.  Dari film yang sepertinya kecil, tiba-tiba membesar bagaikan gunung purba TOBA. Tak terbayangkan kalau danau terbesar Nusantara dengan panjang 90 Km itu adalah kaldera dari gunung besar TOBA. Tanah letusan TOBA hingga sampai ke India.

Banyak penulis cerita yang sengaja tidak menceritakan, sebuah kisah yang ternyata hadir tersembunyi dalam lapisan lain. Ini disengaja, seakan-akan apa yang ditulis untuk menceritakan apa yang tidak ditulis.  Kisah yang tersembunyi itu berjalan bergandengan dengan yang terlihat. Bagaikan konsep SEKALA-NISKALA dimana kedua hal ini tak terpisahkan.  Dalam film pendek FAUVE menegaskan bahwa Sinema mempunyai kemampuan yang besar menceritakan hal yang tak bisa dijelaskan dengan medium lain. Sinema bukan semata tentang apa yang ditujukkan tetapi juga tentang apa yang tidak ditunjukkan.

Dua anak itu lalu melewati batas apa yang seharusnya tidak mereka lakukan. Memasuki daerah ekslusif zone yang menawarkan berbagai macam bahaya. Mereka tetap bermain layaknya anak kecil tak terjadi apa-apa. Kejaran mobil truk pengangkut pasir hanyalah membuatnya berlari senang.

Sehari setelah mengunjungi anak Krakatoa bersama kru film National Geographic yang tengah meneliti longsoran mengakibatkan tsunami tak terduga beberapa hari lalu, hati menjadi lega karena selama syuting tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Beberapa minggu dipersiapkan melakukan perjalanan ini. Orang tak pernah menduga akan bahaya gunung meletus. Ini bisa terjadi kapan saja. Anak Krakatoa dipantau setiap hari dengan laporan-laporan tremor dari dua tempat, Pulau Sibesi yang berjarak 13 Km dari ekslusif zone dan di Anyer. Mereka membuat laporan setiap hari dan memasang CCTV.


Film pendek Fauve

Kru film dari Inggeris mempersiapkan segala detail dari prosedur keselamatan. Telepon satelit harus tetap hidup,  memberikan titik kordinat setiap jam nya. Pelampung di boat harus sesuai dengan penumpang. Apa yang  dilakukan jika terjadi letusan, dan segala hal detail seakan letusan itu benar-benar aka terjadi. . Speed boat dipersiapkan, tak boleh jauh dari kapal induk. Inilah prosedur keselamatan yang membuat orang Indonesia geleng-geleng kepala. Menggunakan sabuk keselamatan di mobil saja, kita tidak mau.  Kata NASIB selalu menjadi andalan. Yah, sudah nasib mau apa lagi? Sering kita dengar.

Seluruh kru Inggeris  pada saat sarapan pagi di pantai Carita, keesokan harinya, dikejutkan dengan gambar CCTV grup WA Anak Krakatoa. Tiga orang berpakaian bak pendaki gunung kawakan melambaikan tangannya di atas kawah gunung super aktif itu. Mereka bangga masuk ke dalam kawasan yang dilarang masuk. Kemarahan terjadi di dalam grup WA Anak Krakatoa.  Gunung ini bukan daerah tujuan wisata. Inilah sesuatu membuat kita begitu lain dalam pergaulan Internasional. Prosedur keselamatan dan segala larangan adalah hal yang harus dilanggar. Kita menganggap remeh misteri alam.

Menjelang anak Krakatoa meletus,  mengakibatkan tsunami  vulkanik selat Sunda beberapa waktu silam, seorang saksi mata menuturkan bahwa dari pantai Carita, Gunung kelihatan sangat indah. Warna keemasan menggoda. Ini pemandangan yang jarang disaksikan selama hidup. Malam harinya, sesuatu terjadi. Yang tak disangka, peringatan tsunami tak ada. Tiba-tiba saja ada hantaman yang memporak-porandakan tatanan. Alam tak bisa diajak berkompromi. Alam menjadi musuh yang tak bisa dipermainkan. Longsoran Anak Krakatoa, dari ketinggian 300 an meter menjadi 120 meter. Selisih itulah yang menyebabkan guncangan trsunami vulkanik yang tak terduga.

Akhirnya Vasily Andreyevich Brekunov, sang tuan tanah berjuang untuk melawan badai salju, bergerak untuk tetap hidup.  Begitu badai reda, sesuatu terjadi dan Leo Tolstoy memberikan renungan. Perlukah kita melawan garis kehidupan? Dimanakah prosedur keselamatan berada? Dalam bencana, waktu satu detik begitu krusial, itulah kenapa tidak boleh meletakkan bagasi dekat pintu keselamatan. Lalu teringat cerita kecelakaan Romo  gereja paroki Paulus Singaraja di Baturiti beberapa waktu lalu. Romo berhasil lolos dari hal yang tak diinginkan karena dua hal. Pertama karena lindunganTuhan, yang kedua karena mengenakan sabuk pengaman.

FAUVISME adalah aliran seni lukis yang mempunyai umur pendek, berasal dari kata FAUVE (Binatang Liar)  Gaya ekspresi begitu kuat dan melawan segala hal yang telah dihidangkan alam. Warna kuning bisa untuk daun dan tak ada aturan yang menjembatani. Terjun bebas dengan segala yang dikehendaki. Memberi warna apa saja terhadap alam sesungguhnya justru memberikan pengalaman personal antara pelukis dengan alam tersebut. [T]

Film FAUVE dari Jeremi Comte mendapatkan penghargaan di berbagai festival film dunia. Nominasi pada kategori piala Oscar 2018 lalu. Diputar dalam program IN BETWEEN- Minikino Film week 5 (Minggu, 6 Oktober 2019, pukul 17.00, di RUMAH FILM SANGKARSA)

Tags: film pendekFilm Pendek FauveMinikinoMinikino Film WeekRumah Film Sang Karsa
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Amor Fati: Menghadap Takdir dengan Kesederhanaan

Next Post

HUJAN

Putu Kusuma Wijaya

Putu Kusuma Wijaya

Pembuat film. Pengelola Rumah Film Sang Karsa di Jalan Singaraja-Seririt KM 13.2, Kaliasem, Buleleng

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
RIPUH

HUJAN

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co