“SAYA belum pernah merasakan Nyepi di Bali; tapi sering diberitahu orang-orang kalau Nyepi di Bali itu kebanyakan tidak diisi dengan berpuasa, tapi malah makan besar.” Made Bagus Aditya Putra, 19, memberi tahu saya. Mahasiswa Hindu dari Sidoarjo itu menjawab pertanyaan yang saya ajukan dengan singkat-singkat. “Ketika Nyepi tiba, saya sepenuhnya mengurung diri dalam ruangan, tidur dan membaca kitab,” sambungnya.
Surabaya dikenal sebagai kota pelabuhan yang kosmopolitan. Beragam etnis dan agama bertemu di sini: Jawa, Madura, Tionghoa, Arab, hingga Bali. Keberagaman itu pula yang membuat agama Hindu memiliki ruang untuk tumbuh, meski jumlahnya tidak sebesar di Bali.
Pada 2019, menurut data Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, ada 7.999 umat Hindu yang tinggal di Surabaya. Tak ada data terbaru mengenai jumlah pasti umat Hindu di Surabaya saat ini—meski data 2019 itu telah diperbarui pada 2025.

Sebagian besar umat Hindu Surabaya berasal dari komunitas Bali yang merantau untuk bekerja, berdagang, atau menempuh pendidikan. Dalam struktur komunitasnya, lebih dari seribu kepala keluarga tergabung dalam organisasi Banjar Surabaya—sebuah wadah sosial dan budaya yang menjaga tradisi Hindu Bali di perantauan.
Jumlah itu mungkin kecil dibandingkan populasi Surabaya yang mencapai hampir tiga juta jiwa. Namun komunitas ini tetap hidup, merawat identitas, serta menjaga ritual keagamaan yang diwariskan turun-temurun.
Di tengah dominasi rumah ibadah agama lain, umat Hindu Surabaya memiliki beberapa pura yang menjadi pusat aktivitas spiritual. Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur tahun 2023, terdapat 10 pura di Surabaya dan sekitarnya. Dan yang paling terkenal adalah Pura Agung Jagat Karana di kawasan Tanjung Perak. Pura ini dibangun pada 1968 dan diresmikan pada 1969, dengan area sekitar 7.703 meter persegi yang terdiri dari tiga bagian utama: mandala utama, madya, dan nista.
Selain itu, ada pula Pura Segara Kenjeran yang berada di kawasan pesisir Kenjeran. Pura ini sering menjadi tempat kegiatan besar seperti upacara Melasti menjelang Nyepi dan berbagai ritual penyucian lainnya. Beberapa pura lain juga tersebar di berbagai wilayah kota, seperti Pura Candi Cemara Agung di Tandes dan Pura Tirta Empul di Babatan. Meski jumlahnya tidak banyak, pura-pura ini menjadi ruang spiritual sekaligus pusat komunitas bagi umat Hindu Surabaya. Di tengah kota yang terus berubah, pura-pura kecil itu juga menjadi semacam jangkar spiritual—tempat umat Hindu Surabaya kembali menemukan dirinya.

Ya, bagi banyak umat Hindu Surabaya, menjalankan tradisi bukan hanya soal ritual keagamaan. Ia juga cara menjaga identitas budaya. Sebagian besar dari mereka, sekali lagi, adalah perantau dari Bali. Mereka membawa serta bahasa, adat, dan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan leluhur. Banjar-banjar komunitas menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, dan merayakan hari besar bersama. Anak-anak muda belajar menabuh gamelan, menari Bali, hingga membuat ogoh-ogoh. Dengan cara itu, tradisi tetap hidup meski jauh dari tanah asal.
Adit, satu dari sekian umat Hindu yang menjalankan Nyepi di tengah ramainya Kota Surabaya, bercerita kepada saya bagaimana ia hanya berdiam diri di kosnya di daerah Mulyorejo, Manyar, saat Nyepi tiba. Meski di luar ramai, menurutya tantangannya tidak sesusah itu. Ia hanya terganggu karena suasana ruangan menjadi tambah panas. “Tidak bisa menyalakan kipas atau AC karena listrik tidak dinyalakan,” katanya.
Berbeda dengan Adit, Ni Made Ayu Indri Harya Putti, 22—mahasiswa asal Ubud yang merantau ke Surabaya itu—menyatakan bahwa tantangan terbesar saat menjalankan Catur Brata Penyepian adalah lingkungan yang tidak sepenuhnya hening—sebagaimana di Bali. Lingkungan tempatnya indekos di daerah Ketintang tak bisa ia kontrol dan kondisikan. Kebisingan nyaris selalu ada. Saat kamar kos lain cukup bising, ia hanya bisa memfokuskan diri karena cukup sulit jika menjelaskan ke penghuni lain kalau ia sedang beribadah. Ya, tentu saja tak ada Pecalang di sekitar kosnya.
“Syukurnya, pemilik kos memahami kalau saya sedang Nyepi. Jadi, biasanya beliau bantu memberitahu penghuni kos lain untuk tidak ramai,” terang Indri.
Kota Surabaya memang tidak pernah benar-benar diam. Gelak datang dari warung kopi yang teronggoh di segala penjuru, deru motor memecah udara, klakson mobil bersahutan di persimpangan, dan pelabuhan di utara kota nyaris selalu sibuk oleh kapal-kapal yang datang dan pergi. Kontras itu terasa begitu nyata. Nyepi yang identik dengan kesunyian justru dijalankan di tengah kota metropolitan yang tak pernah berhenti bergerak.
Namun, menurut Ir. Ketut Gotra, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Surabaya, tantangan terbesar melaksanakan Catur Brata Penyepian di Surabaya kebanyakan tidak datang dari luar, justru datang dari diri sendiri. “Misal saja tidur biasa pakai AC; tapi saat Nyepi listrik dimatikan,” terang pria 68 tahun itu, seolah mengulang apa yang Adit sampaikan.

Selama ini, kata Gotra, umat Hindu di Surabaya selalu aman saat melaksanakan Nyepi. Tidak ada gangguan apa pun dari luar, kecuali deru dan panas metropolitan yang sudah menjadi keniscayaan. “Pada umumnya, tetangga kami mengetahui kalau kami sedang Nyepi,” ujarnya.
Nyepi di Surabaya atau di Bali, Sama Saja
Pada dasarnya, Nyepi di Surabaya tidak jauh berbeda dengan di Bali. “Prinsipnya sama. Hanya hal-hal kecil yang tidak berarti yang membedakan,” kata Ir. Ketut Gotra. Ia tidak memberi contoh riil untuk “hal-hal kecil yang tidak berarti” itu. Yang jelas, sebelum Nyepi, di Surabaya juga ada upacara Melasti dan Tawur Agung Kesanga sebagaimana umat Hindu di Bali.
Pada pagi menjelang Nyepi, Sabtu, 14 Maret 2026, ribuan umat Hindu berjalan kaki dari Pura Segara Kenjeran menuju Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran. Mereka membawa pratima—simbol-simbol suci dari pura—serta sesaji yang disusun rapi dalam wadah anyaman. Iringan baleganjur (gamelan Bali) mengalun di antara langkah-langkah mereka. Di sepanjang jalan, warga Surabaya yang berbeda agama sering berhenti sejenak untuk menyaksikan prosesi tersebut.
Sesampainya di pantai, doa-doa dipanjatkan. Air laut dipercikkan sebagai simbol penyucian diri. Sebagian sesaji kemudian dilarung ke laut sebagai lambang pelepasan segala kotoran lahir dan batin. Melasti bukan sekadar ritual, kata Gotra, ia adalah perjalanan spiritual yang menandai dimulainya rangkaian Hari Raya Nyepi.

Selain Melasti, umat Hindu Surabaya juga melaksanakan Tawur Agung Kesanga sebelum Nyepi. Jika Melasti bertujuan mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudra, maka sehari sebelum Nyepi saatnya mensucikan alam semesta beserta isinya dan melaksanakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan; manusia dengan manusia; dan manusia dengan alam. “Upacara ini dilaksanakan di Catus Pata—perempatan jalan atau di jaba pura,” Gotra menjawab pertanyaan saya.
Selesai Tawur Kesanga, pada sore hari, di beberapa kawasan Surabaya, patung raksasa ogoh-ogoh juga diarak keliling. Wajah-wajah raksasa itu menggambarkan buta kala—simbol sifat buruk manusia seperti amarah, keserakahan, dan iri hati. Arak-arakan ogoh-ogoh sering digelar di sekitar pura, seperti di kawasan Pura Segara Kenjeran, serta di beberapa titik kota.
Anak-anak muda Bali di Surabaya menjadi motor penggerak pembuatan ogoh-ogoh. Mereka bekerja berminggu-minggu, merancang kerangka bambu, melapisinya dengan kertas dan cat warna-warni. Sore itu, Kamis, 18 Maret 2026, Surabaya terasa berbeda. Jalanan di sekitar Pura Segara Kenjeran yang biasanya dipenuhi kendaraan berubah menjadi ruang perayaan budaya. Ogoh-ogoh diarak dari Pura Segara Kenjeran, melintasi Jalan Bambang Sutoro dan Jalan Wiratno menuju kawasan Pantai Mentari sebelum akhirnya kembali ke titik awal di Pura Segara.
Namun, meski secara prinsip sama, seperti yang disampaikan Gotra di atas, tetap saja ada perbedaan antara Nyepi di Surabaya dan di Bali. Perbedaan itu terletak pada besaran sesaji persembahan pada rangkaian hari Nyepi—walaupun mungkin ini yang disebut Gotra sebagai “hal-hal kecil yang tidak berarti”.
Di Surabaya, seperti kata Adit, persembahan banten—yang ditujukan kepada Tuhan/Sang Hyang Widhi berupa jajanan, buah-buahan (hasil produksi atau pada umumnya dalam bentuk makanan) yang dihias maupun tidak—tidak terlalu banyak sebagai mana umat Hindu di Bali.
“Berbeda dengan zaman orang tua kami [terutama yang dari Bali], mereka cenderung mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk mebanten. Tidak ada yang salah dengan perilaku itu. Namun mebanten secukupnya saja menurut saya sudah cukup, seperti yang dilakukan keluarga saya di Sidoarjo—karena masih banyak keperluan lain yang perlu dipenuhi,” Adit menegaskan.
Saling Jaga, Saling Dukung
Hari Nyepi sendiri memiliki empat pantangan yang disebut Catur Brata Penyepian: tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan). Di Bali, aturan ini berlaku hampir total di seluruh pulau. Bandara dan pelabuhan ditutup, jalanan kosong, dan lampu dipadamkan.

Sementara di Surabaya tentu saja situasinya berbeda. Kota besar tidak mungkin berhenti sepenuhnya. Namun umat Hindu tetap menjalankan Nyepi dengan khusyuk di rumah, di kos, atau di pura. Beberapa keluarga memilih mematikan lampu dan menghabiskan hari dengan meditasi serta doa. Ada pula yang berkumpul di pura untuk sembahyang. Meski ada pula yang “terpaksa” melanggar pantangan tersebut.
“Kegiatan berjalan normal seperti libur biasanya. Bahkan pekerjaan orang tua saya saja masih harus berjalan, tidak libur,” terang Adit. Orang tua Adit memiliki usah sendiri.
Menariknya, seperti keterangan Gotra, banyak tetangga dari agama lain yang menghormati tradisi ini. Mereka menahan diri untuk tidak membuat kebisingan di sekitar rumah umat Hindu atau di sekitar pura tempat umat Hindu mekemit. Di kota yang riuh seperti Surabaya, bentuk penghormatan kecil seperti itu terasa sangat berarti.
Selain itu, menjelang Nyepi, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya juga organisasi masyarakat (ormas) seperti Nahdlatul Ulama (NU) mengimbau masjid maupun musala yang berdekatan dengan pura atau rumah umat Hindu untuk tidak menggunakan pengeras suara. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada umat Hindu yang sedang menjalankan ritual keagamaan. Apalagi Nyepi tahun ini bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri bagi ormas Islam seperti Muhammadiyah.
Tak sampai di situ, setiap Nyepi, Pemerintah Kota Surabaya selalu membantu umat Hindu. Hal ini disampaikan oleh Ketut Gotra. Katanya, koordinasi pura dengan Pemkot Surabaya dalam pelaksanaan Nyepi selama ini sangat baik. “Terbukti, semua fasilitas dibantu. Mulai acara Melasti sampai acara pasca Nyepi. Kami diberikan tempat, tenda, konsumsi, perahu, toilet portabel, pengeras suara, dll.”
Pada akhirnya, meski di luar pura masih seperti biasa. Kendaraan menyemut, kapal-kapal bersandar di pelabuhan, dan suara kota tetap hidup. Namun bagi umat Hindu di Kota Surabaya, Nyepi tetap hadir—meski hanya dalam ruang kecil yang mereka ciptakan sendiri.
Sunyi tidak selalu berarti ketiadaan suara. Kadang ia hadir sebagai ruang batin: tempat manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah keramaian Surabaya, umat Hindu merawat sunyi itu—setiap tahun, setiap Nyepi. Dan di kota yang tidak pernah benar-benar tidur itu, mereka tetap menemukan cara untuk diam.
“Sebisa mungkin kami menjaga suasana hening di rumah; kami hanya mematikan lampu, semua tetangga sudah mengerti,” Gotra mengulang-ulang perkatannya.[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula3-360x180.jpeg)
![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula2-360x180.jpeg)
![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula1-360x180.jpeg)























