PERNAHKAH terlintas di pikiran kita spontan satu pertanyaan, “Apa tujuan hidup ini?”. Atau memikirkan, “Siapa saya ini?”. Atau pertanyaan-pertanyaan lain yang membingungkan untuk dijawab. Menjadi dinamika dalam diri, jika sebuah pertanyaan menimbulkan pertanyaan-pertaanyaan baru, karena jawaban dari sebuah pertanyaan masih kabur atau tidak jelas. Muncullah kemudian kompleksitas pertanyaan yang kian tidak terselesaikan. Nah, ketika itulah diperlukannya kehadiran guru.
Kata ‘guru’ sudah sering terdengar oleh kita. Kata ‘guru sejati’ mungkin pernah terdengar bagi orang-orang yang menekuni arti hidup. Terkadang juga pernah terlintas dalam pikiran maupun telinga kita kata ‘guru sejati’ itu. Namun, apa ‘guru sejati’ itu? Mari kita renungkan.
Dalam salah satu ajaran kepercayaan masyarakat Hindu Bali, ada istilah Catur Guru. Itu adalah empat bagian dalam hidup manusia yang bertugas sebagai ‘pencerah’. Pertama disebut Guru Rupaka adalah orang tua yang melahirkan kita, yang kedua disebut Guru Pengajian adalah guru di sekolah atau tempat kursus, ketiga disebut Guru Wisesa yaitu adalah pemerintah, dan keempat disebut Guru Swadyaya yaitu Tuhan.
Jadi, manakah ‘guru sejati’ itu? Apakah keempat bagian dari Catur Guru tersebut merupakan ‘guru sejati’? Mungkin kiranya salah satu dari Catur Guru itu dinamakan guru sejati? Bagaimana jika salah satu dari ‘Catur Guru’ itu tidak dimiliki atau tidak sempat ‘hadir’ memberikan pencerahan hidup? Lalu bagaimana kita sebagai manusia bisa ‘tercerahkan’ oleh guru seperti tugas guru biasanya?
Jika kita perhatikan, keempat bagian dari ‘Catur Guru’ adalah faktor eksternal dari luar diri manusia yang berperan ‘mencerahkan’ manusia supaya menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya. Terlebih menjadi manusia yang ‘manusia’, memiliki budi luhur yang kiranya dipenuhi rasa kasih dan kelakuan baik.
‘Catur Guru’ merupakan faktor eksternal dari dalam diri manusia yang berperan ‘mencerahkan’ itu. Lalu apa faktor internal yang bisa ‘mencerahkan’ diri manusia itu sendiri? Faktor internal itu Ialah diri manusia itu sendiri, faktor internal manusialah yang disebut sebagai ‘Guru Sejati’. Mengapa demikian? Kita pahami lagi arti dari ‘Guru Sejati’ yang saya maksud.
Sama halnya dengan beberapa kutipan seperti ‘nandurin karang awak’, ‘berkaca pada diri sendiri’, atau lebih jauh lagi kutipan ‘engkau mencariku sangat jauh, sesungguhnya aku sangat dekat, saking dekatnya engkau tidak dapat melihat aku’. Beberapa contoh kutipan tersebut memiliki arti sama yaitu introspeksi diri, menemukan kesejatian diri.
Sebagian manusia lebih sering memperhatikan hal yang berada di luar dirinya daripada memperhatikan diri sendiri, sehingga sangat bias untuk bisa menyelami dirinya sendiri. Sehingga menibulkan masalah dari luar diri manusia karena saking banyaknya mengejar, memperhatikan, dan mengurus yang diluar dirinya.
Padahal lahir ke dunia ini sudah masalah, buktinya manusia minimal harus makan atau minum, supaya bisa bertahan hidup. Apakah makan dan minum itu gratis? Gratis dalam artian seketika hadir di hadapan manusia? Itu perlu usaha untuk memenuhinya. Setiap makan dan minum yang dikonsumsi manusia ada usaha dalam prosesnya. Adanya proses adalah sama dengan adanya usaha, dan usaha itu sama dengan masalah.
Masalah bisa dibilang masalah karena hal itu tidak datang secara tiba-tiba dihadapan diri manusia, harus ada proses untuk mendapatknya, itu yang dimaksud masalah. Lantas, jika setiap proses adalah masalah, berarti untuk manusia itu sendiri yang banyaknya melewati proses dalam hidupnya, berarti manusia penuh dengan masalahnya sendiri. Lalu, jika sudah banyak masalah di diri manusia, mengapa nambah masalah lagi dengan mengurus hal diluar dirinya? Mari kita pelajari pelan-pelan.
Berawal dari masalah yang dikenal di dalam diri manusia dalam kepercayan Hindu Bali adalah Sad Ripu. Ia merupakan enam musuh yang ada di dalam diri manusia yaitu pertama disebut Kama atau hawa nafsu, kedua disebut Lobha tau keserakahan, ketiga disebut Krodha atau kemarahan, keempat Mada atau kemabukan, kelimat disebut Matsarya atau irihati/dengki, dan yang keenam disebut Moha atau kebingungan.
Hawa nafsu atau bisa disebut dengan suatu keinginan yang tidak terkendalikan. Ia selalu datang, namun tetap harus dikendalikan setidaknya dengan cara berpikir positif. Keserakahan atau rakus atau juga tamak, dan juga iri hati/dengki harus dikendalikan dengan cara bersyukur atas apa yang dimiliki.
Kemarahan dikendalikan dengan kesabaran, kemabukan dikendalikan dengan tidak berlebihan mengkonsumsi sesuatu atau memikirkan sesuatu. Kebingungan atau angkuh dikendalikan dengan menenangkan pikiran dengan berpikir secara jernih.
Secara sederhana begitulah konsepnya, namun kenyataan di kehidupan tidak sesederhana itu, ada beberapa hal yang menjadi tantangan untuk dikondisikan yang berasal dari luar diri manusia. Tiga hal yang mampu mempengaruhi manusia ialah makanan dan minuman, lingkungan, yang lebih ekstrim ialah konsumsi postingan media sosial.
Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia mempengaruhi diri dan pemikiran manusia. Jika mengkonsumsi makanan yang dominan pedas, rasa pedas itu mengganggu perut hingga emosi manusia. Minum minuman yang bisa mengganggu pencernaan atau pikiran misalnya miras atau minuman mengandung alkohol. Intinya makanan yang mampu mempengaruhi kondisi tubuh atau pikiran menjadi kurang bagus perlu dikondisikan.
Lingkungan yang kurang ‘sehat’ juga mempengaruhi kebiasaan manusia itu sendiri. Jika lingkungannya kurang ‘sehat’ seperti misalnya pola pikir lingkungan baik itu keluarga, teman, maupun masyarakatnya, jika mental diri manusia tidak kuat, dia akan terpengaruh oleh lingkungannya yang mengarah ke hal yang kurang baik, begitu juga sebaliknya.
Media sosial pada kehidupan manusia saat ini juga mampu mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri. Bagaimana tidak? Karena dalam digital mengenal Namanya algoritma, yang mampu mendeteksi kebiasaan manusia dari apa yang sempat dia lihat di postingan-postingan media sosial. Jika manusia fokus mencari dan melihat tentang kesedihan, media sosial dengan lagoritmanya menyesuaikan dengan menampilkan hal-hal yang bersifat sedih, walaupun dikemudian kesempatan manusia pengguna media sosial tidak mencari hal tersebut.
Secara otomatis jika sering melihat postingan tentang kesedihan, postingan tentang kesedihan mampu menyebabkan otak atau pikiran manusia terjerumus kedalam hal kesedihan. Larut dalam postingan yang kurang positif, hingga memungkinkan manusia itu berada dalam lingkaran pikiran yang kurang baik.
Jika dilihat secara keseluruhan, Sad Ripu, makanan, lingkungan, dan media sosial yang telah dijelaskan merupakan kenikmatan keduniawian yang sangat berpengaruh membentuk diri manusia. Pengaruh-pengaruh tersebut perlu dikendalikan oleh diri manusia. Layaknya seorang pendeta, dia mengendalikan dirinya dari hal-hal keduniawian. Lalu, apakah diri manusia harus menjadi seorang pendeta terlebih dulu supaya ada kewajiban melepas sifat keduniawian? Tentu tidak. Semua adalah pilihan.
Diri manusia cukup mempelajari dirinya sendiri, itulah guru sejati. Guru sejati hadir di dalam diri manusia, hadir di dalam nurani manusia, hadir dalam kepekaan dirinya sendiri bagi ia yang berusaha menggali dirinya sendiri. Seperti seorang yang sedang meditasi, mencari inti diri, mencari ketenangan, hingga kedamaian, dan menemukan kesadaran dan pencerahan.
Jika manusia mampu menyelami guru sejati itu, begitu indahnya dunia yang sedikit tidaknya memanusiakan manusia, menjaga keharmonisan dirinya dengan lingkungan, terciptanya keseimbangan kehidupan yang damai, memiliki budi luhur yang dipenuhi rasa kasih dan kelakuan baik. Begitulah harusnya manusia, menemukan guru sejati di dalam dirinya sendiri. [T]
Penulis: Agus Suardiana Putra
Editor: Adnyana Ole




























