DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana berlangsung tenang. Tanpa riuh penonton, hanya para peserta dan dewan juri yang berada di dalam stan. Di antara mereka, I Gede Agus Juniartha atau akrab disapa Gus Joni tampak sibuk merapikan karyanya, ia berupaya menyajikan yang terbaik pada sesi penilaian.
Hari itu, puluhan sketsa, tapel, dan ogoh-ogoh mini berjajar di ruang pamer tersebut. Di sinilah kreativitas para generasi muda dipertandingkan melalui berbagai lomba yang menjadi bagian dari rangkaian Kasanga Festival 2026.
Lomba tersebut digelar pada Sabtu, 7 Maret 2026. Para peserta bersaing menampilkan konsep, proses, dan kreativitas terbaik mereka. Salah satu yang dipertandingkan adalah lomba ogoh-ogoh mini kategori nonmesin yang diikuti 25 karya.
Sedari pagi, Gus Joni sudah berada di stan pameran. Ia menata ogoh-ogoh mini buatannya dengan teliti. Sesekali ia memperbaiki posisi aksesori dan ornamen yang menempel pada ogoh-ogoh. Ia ingin memastikan setiap detail terlihat rapi saat juri mulai menilai.
“Rasanya senang bisa ikut meramaikan kembali Kasanga Fest tahun ini,” katanya.

Ini adalah kali kedua Gus Joni mengikuti lomba ogoh-ogoh mini dalam Kasanga Festival. Ia pernah berpartisipasi pada 2023 dan saat itu berhasil meraih juara kedua. Pengalaman tersebut menjadi kenangan sekaligus motivasi baginya untuk kembali mencoba peruntungan.
Menurutnya, lomba seperti ini memberi ruang bagi para kreator muda untuk menunjukkan ide sekaligus mengasah kemampuan mereka dalam berkarya, terutama dalam hal seni ogoh-ogoh.
Pada garapan kali ini, Gus Joni mengangkat kisah “Ki Gede Taksu Badung”. Konsep tersebut sudah ia siapkan sejak beberapa bulan sebelumnya. Ia ingin menghadirkan sosok yang memiliki makna kuat dalam tradisi Bali, khususnya yang berkaitan dengan kekuatan taksu. Bagi Gus Joni, taksu bukan sekadar istilah dalam dunia seni Bali. Ia merupakan energi spiritual yang dipercaya memberi jiwa pada sebuah karya.

Karena itu, sebelum mulai membuat ogoh-ogoh mini, ia terlebih dahulu memikirkan konsep cerita yang ingin diangkat. Ia mencoba membayangkan bagaimana karakter Ki Gede Taksu Badung dapat tercermin melalui bentuk, ekspresi, dan detail visual ogoh-ogoh yang ia buat.
Pemuda lulusan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) itu mengaku, ketertarikannya pada seni ogoh-ogoh sudah tumbuh sejak lama. Tradisi ini, menurutnya, memberi ruang luas bagi generasi muda untuk berkreasi sekaligus menjaga warisan budaya.
“Kasanga Festival menjadi salah satu panggung penting bagi para kreator ogoh-ogoh untuk mempertemukan gagasan dan pendekatan artistik yang beragam,” ujarnya.

Menurut Gus Joni, setiap peserta datang dengan konsep yang berbeda. Ada yang menonjolkan teknik pengerjaan, ada yang kuat pada cerita yang diangkat, sementara yang lain mencoba menghadirkan pendekatan visual yang lebih eksperimental.
“Setiap tahun pasti ada ide baru dari teman-teman peserta. Itu yang membuat lomba ini selalu menarik dan kompetitif,” ucapnya.
Di dalam stan pameran, para juri bergerak dari satu karya ke karya lainnya. Mereka mengamati detail ogoh-ogoh mini yang dipamerkan para peserta, mencatat berbagai aspek yang dinilai, mulai dari konsep hingga pengerjaan.
Sementara itu, para peserta berupaya mempresentasikan karyanya sejelas mungkin. Termasuk Gus Joni yang mempresentasikan karyanya dengan lugas.

Akan tetapi, sayangnya hasil lomba tahun ini belum berpihak kepada Gus Joni. Namanya belum masuk dalam daftar juara. Meski demikian, ia tidak tampak kecewa berlarut-larut. Ia tetap menerima hasil tersebut dengan lapang. Baginya, mengikuti lomba ogoh-ogoh mini bukan hanya tentang hasil akhir.
Proses mempersiapkan karya, bertemu dengan para kreator lain, serta melihat beragam ide baru justru menjadi pengalaman yang berharga. Ia pun berharap dapat kembali mengikuti lomba serupa di masa mendatang dengan konsep yang lebih matang.
Bagi Gus Joni, ogoh-ogoh bukan sekadar karya yang dipertandingkan menjelang Nyepi. Di baliknya terdapat proses kreatif, nilai budaya, dan semangat generasi muda untuk terus menjaga tradisi. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
BACA JUGA:




























