RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan pasti naik ke atas panggung. Penghargaan itu merupakan apresiasi tertinggi dari Pemerintah Provinsi Bali kepada tokoh maupun lembaga yang berjasa melestarikan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali sesuai Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018.
Itulah sosok I Wayan Turun, seorang sastrawan, budayawan, dan undagi (arsitek tradisional) terkemuka asal Kesiman, Denpasar, Bali yang menerima penghargaan itu pada penutupan Bulan Bahasa Bali VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali (Art Center) Denpasar, Sabtu 28 Pebruari 2026. Penghargaan yang diserahkan oleh dari Gubernur Bali, Wayan Koster berupa lencana dan piagam ini menjadi penanda pengakuan atas dedikasi panjang dalam menjaga warisan budaya Bali.
“Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Pemerintah Provinis Bali atas penghargaan yang diberikan. Hari ini saya mendapatkan penghargaan, maka mulai hari ini pula saya kembali belajar. Jujur, penghargaan ini terlalu besar, maka saya tidak akan pernah berhenti belajar, baik itu menulis sastra ataupun mengarang,” kata Wayan Turun usai menerima penghargaan itu,
Sejak tahun 1970, Wayan Turun sudah puluhan tahun merawat dan menulis warisan aksara itu. Ia sebagai penekun lontar, penulis purana, dan babad yang selalu konsisten dalam berkarya. Pada tahun 1978–1979, ia mulai aktif menulis dan menyalin naskah lontar. Hingga kini, tak kurang dari 200 lontar telah ia hasilkan—baik berupa Kakawin, Kidung, Purana Pura, maupun Babad. “Menulis lontar bukan hanya pekerjaan tangan, tetapi juga kerja batin,” ucap pria kelahiran 1951.

Selain menulis sastra klasik seperti kakawin dan kidung, Wayan Turun juga dikenal sebagai penulis prasasti. Ia mengerjakan sejumlah prasasti pura dan tanah adat, termasuk penulisan Purana serta kajian aksara Bali klasik. Dalam prosesnya, ia tak hanya menggunakan aksara Bali biasa, tetapi juga mendalami aksara Bali Kuna, Jawa Kuna, hingga Dewanagari untuk kepentingan penelitian dan penyusunan naskah.
Sejak 2008 hingga memasuki masa purnabakti sekitar 16 tahun kemudian, Turun tetap aktif berkarya dan terlibat membantu tugas-tugas di lingkungan dinas provinsi, khususnya yang berkaitan dengan penulisan Purana dan pengembangan aksara Bali. Bahkan setelah pensiun, aktivitas menulis lontar tetap ia jalani.
Bagi Turun, perkembangan penulisan lontar saat ini menghadapi tantangan sekaligus peluang. Tantangan terbesar adalah regenerasi. “Sekarang membaca aksara Bali Kuna saja sudah jarang yang bisa. Kalau tidak diwariskan, bisa hilang,” ujarnya.
Namun ia juga melihat adanya harapan melalui kegiatan Bulan Bahasa Bali dan meningkatnya perhatian terhadap dokumentasi serta penelitian naskah kuno. Menurutnya, lontar bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang memuat sejarah, tata kehidupan, hingga nilai spiritual masyarakat Bali.
Penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama yang diterimanya menjadi penegasan atas konsistensi dan pengabdiannya menjaga warisan literasi tradisional Bali. Lebih dari sekadar prestasi pribadi, penghargaan itu menjadi simbol bahwa kerja sunyi para penulis lontar tetap mendapat tempat dalam pembangunan kebudayaan Bali.
Wayan Turun sudah menulis lebih dari 100 karya sastra, termasuk Geguritan Penataran, Geguritan Balian Batur, dan Kidung Kidalang Pricek. Ia juga biasa aktif menyalin dan menulis lontar, serta mampu membaca berbagai aksara kuno seperti Jawa Kuna, Bali Kuna, dan Dewa Nagari.
Mantan petugas di Museum Bali biasa membantu orang mendalami aksara kuno dan naskah kuno. Ia juga sebagai undagi, seorang arsitek tradisional Bali, dan pembuat bade (menara jenazah). Sebagai seniman yang memainkan gamelan dan pelukis. Penghargaan yang pernah diterimanya, seperti Piagam Upakara Budaya dari Walikota Denpasar pada tahun 1995 atas jasanya dalam bidang seni dan budaya.

Sampai saat ini, Wayan Turun tetap tekun menulis. Baginya, selama tangan masih mampu menggores aksara di atas lontar, selama itu pula warisan leluhur akan terus ia jaga dan wariskan kepada generasi berikutnya. Atas dedikasi serta komitmenya melestarikan aksara dan Bahasa Bali, I Wayan Turun mendapatkan Anugerah Bali Kerti Nugraha Mahottama berhak mendapat uang senilai Rp 100 juta dan pin emas seberat 25 gram. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























