I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya Opini yang ditulisnya itu menjadi yang terbaik dari 40 peserta yang ikut lomba. Walau demikian, Guru Bahasa Bali di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar ini tetap rendah hati dan akan terus belajar, karena sehebat apapun seseorang pasti ada yang lebih unggul.
“Mengikuti lomba menulis opini berbahasa Bali sebuah pengalaman yang sangat bermakna bagi saya. Lomba ini bukan sekadar ruang adu gagasan, tetapi momentum untuk merenungkan kembali jati diri sebagai orang Bali,” kata Made Sunaryana yang tamatan S-1 Sastra Agama dan Pendidikan Bahasa Bali di STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja (kini, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan atau IAHN Mpu Kuturan, Jumat 27 Pebruari 2026.
Pada lomba itu, Made Sunaryana menulis opini bahasa Bali berjudul “Anggah Ungguh Basa Bali: Etika Basa Pinaka Sundih Ngaruruh Purnaning Jiwa”. Dalam tulisannya itu, ia ingin menegaskan bahwa kesantunan berbahasa adalah jalan sunyi menuju penyempurnaan jiwa. Hal itu tampak dalam setiap pilihan kata, ada tanggung jawab moral; dalam setiap kalimat, ada cerminan kepribadian.
Anak kedua dari pasangan I Made Swita dan Nengah Suartini itu memang sangat tertarik mengikuti lomba Menulis Opini bahasa Bali itu. Ketertarikannya berangkat dari tema yang diusung Bulan Bahasa Bali tahun 2026 ini, yakni Atma Kerthi Udiana Purnaning Jiwa. “Saya mempunyai keyakinan bahwa anggah-ungguh bahasa Bali bukan sekadar tingkatan bahasa, melainkan fondasi etika dalam membangun kualitas jiwa. Bahasa membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara memandang sesama. Ketika bahasa dijaga dengan kesadaran, di sanalah karakter ditempa,” ucapnya.

Di tengah dunia yang kian riuh oleh kebebasan tanpa batas, Made Sunaryana yang berasal dari Desa Pengulon, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng itu merasa menemukan ketenangan dalam nilai anggah-ungguh basa Bali – etika bahasa yang mengajarkan hormat, kesadaran, dan pengendalian diri. “Saya melihat semangat luar biasa dari para peserta Lomba Opini bahasa Bali tahun 2026 ini yang membuktikan, bahwa bahasa Bali tidak pernah kehilangan daya hidupnya. Ia tetap bernapas melalui pikiran-pikiran kritis generasi muda Bali,” sebutnya.
Anak kedua dari pasangan I Made Swita dan Nengah Suartini itu merasakan sesuatu yang sangat positif saat mengikuti lomba menulis opini berbahasa Bali itu. Sebagai peserta lomba merupakan pengalaman yang sangat bermakna baginya. Ini membuktikan Bulan Bahasa Bali menjadi sebuah ajang bagi generasi muda untuk membuktikan diri dalam menjaga kelangsungan Bahasa Bali. “Pesan saya, kegiatan seperti ini perlu terus dihidupkan sebagai ruang pembinaan karakter dan literasi budaya. Bahasa Bali akan tetap ajeg bukan hanya karena diwariskan, tetapi karena diperjuangkan,” pesannya.
Setelah mengikuti lomba itu, Made Sunaryana kemudian berharap capaian ini menjadi pemantik semangat bagi dirinya khususnya untuk terus berproses lebih baik kedepannya dan bagi generasi muda Bali pada umumnya agar berani untuk berpikir, menulis, dan menyuarakan gagasan dalam bahasa Bali. “Bahasa Bali harus hadir tidak hanya dalam seremoni adat, tetapi juga dalam wacana intelektual dan media publik,” harapnya.

Ruang-ruang seperti Bulan Bahasa Bali mestinya lebih banyak ada untuk menjaga kelangsungan Bahasa Bali. “Semoga semakin banyak ruang yang memberikan tempat bagi bahasa Bali untuk berkembang secara kreatif dan progresif. Karena ketika bahasa dijaga dengan kesadaran, sejatinya kita sedang menjaga martabat dan kesempurnaan diri kita sendiri,” tegas Made Sunaryana. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























