14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banjir, Bahasa Puitis yang Tidak Datang Tiba-tiba

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
December 21, 2025
in Esai
Banjir, Bahasa Puitis yang Tidak Datang Tiba-tiba

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PENALARAN kita jika menyaksikan banjir, senantiasa terhubung dengan kondisi alam. Curah hujan yang tinggi selalu menjadi alibi pembenaran, dan menjadi sebab-akibat yang dipercayai masyarakat sebagai hukum alam. Dan berita-berita di jejaring sosial telah memperkuat asumsi masyarakat terhadap sebuah kebenaran yang terbungkus oleh sesuatu yang abstrak. Karena sebagian besar masyarakat tidak memiliki kemampuan analitis dalam menerima dan menyerap berita-berita dari jejaring sosial. Sehingga berita itu acapkali dianggap benar.

Fenomena sosial yang muncul akibat pemberitaan bencana alam — katakan banjir — jika ini dijadikan fakta liputan berita, adalah pembelaan diri yang seolah-olah kejadian itu karena kehendak Tuhan semata. Bayangkan, jika seorang publik figur mengatakan banjir yang terjadi itu tidak sedahsyat dan seburuk seperti yang diberitakan jejaring sosial. Ini manipulasi persepsi!

Namun, banjir sejatinya adalah bahasa alam yang tidak datang tiba-tiba. Ia adalah pesan yang perlahan disusun, dikirim, dan dibiarkan mengendap dalam diam. Ia tidak terlahir dari hujan semalam; ia terakumulasi dari pilihan-pilihan manusia yang tak terurus: dari akar-akar pohon yang tercerabut, tanah yang dipadatkan beton, sungai yang kehilangan ruang geraknya, dan ambisi pembangunan yang mengejar kecepatan, bukan keberlanjutan.

Manusia sering menganggap air sebagai musuh yang tiba-tiba mengamuk, padahal air hanya kembali pada jalannya — jalur yang dulu pernah ia miliki sebelum kita menggantinya dengan jalan raya, perumahan, dan pusat niaga. Banjir adalah ingatan lama yang kita coba hapus, but erase fails; ia menagih tempat yang pernah menjadi haknya.

Deforestasi: Luka di hulu yang mengalir ke hilir

Di balik fenomena banjir yang terus berulang, terdapat potret besar yang jarang disentuh: deforestasi. Banyak wilayah di Indonesia, dari hulu sungai besar hingga tepian pegunungan, mengalami penyusutan tutupan hutan yang drastis. Pohon-pohon yang mestinya menjadi penyangga air, penjaga tanah, dan pereda aliran permukaan, satu per satu hilang diganti komoditas ekonomi jangka pendek.

Ketika hutan ditebang, air kehilangan “rumah”. Ia tidak lagi terserap perlahan, tetapi mengalir deras tanpa penyangga. Tanah yang longgar menjadi rapuh, erosi meningkat, dan sedimen menumpuk di dasar sungai. Sungai yang dangkal meluap, dan kota-kota di hilir menjadi pangkalan sampah (limbah) dari banjir tersebut.

Banjir tidak pernah datang sebagai puisi yang ditulis tiba-tiba. Ia adalah elegi panjang, disusun perlahan oleh tangan manusia melalui ketidakpedulian yang menahun. Banjir adalah bahasa alam yang sudah berkali-kali ingin kita pahami, namun selalu kita abaikan. Setiap genangan adalah kalimat; setiap arus yang mengalir deras adalah paragraf; dan setiap rumah yang terendam adalah tanda seru yang ingin menegur kesombongan kita.

Fenomena yang sering kita lihat, orang Indonesia cara berpikirnya sangat stereotip. Prasangka yang tidak tepat dan subjektif. Fakta yang valid belum dianalisis secara deskriptif, tetapi sudah membuat sebuah silogisme, yang dampaknya kembali pada manipulasi persepsi. Ironisnya, terkadang sehari kemudian muncul frasa terindah “maaf” seolah itu menjadi sebuah legitimasi dari rasa empati dan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.  Apa yang terjadi setelahnya? Adalah “bola liar” yang sama-sama kita tidak tahu kapan berakhir. Biarkan puisi yang mengakhiri dengan sebuah titimangsa!

Beberapa pandangan yang menggunakan bahasa simbolik, yang menjadi tafsir secara abstrak, seperti quote dari Pablo Neruda (Penyair): “Kamu bisa memotong semua bunga, tetapi kamu tidak bisa mencegah musim semi datang”. Andai kata-kata ini ditafsirkan secara egaliter, bisa jadi dimaknai: kamu bisa menghabiskan air sesukamu, tetapi tidak akan bisa mencegah jika gelombang air menjelma banjir.

Renungan mendalam juga disampaikan Hubert Reeves (Kosmolog – Perancis): “Manusia adalah spesies paling gila, mereka menyembah Tuhan yang tidak terlihat dan menghancurkan alam yang terlihat, tanpa menyadari bahwa alam yang mereka hancurkan adalah ciptaan Tuhan yang mereka sembah”.

Lantas, jika dihubungkan dengan bencana yang terjadi di Sumatera atau daerah lain di Indonesia baru-baru ini, ada baiknya kita merenungi beberapa pendapat bijak, antara lain:

John Locke: “siapa yang melukai tanah airnya sendiri, sedang menggali kubur untuk masa depannya”.

Francis Bacon: “alam memiliki hukum-hukum sendiri, mengingkarinya berarti menggali lubang bagi umat manusia”.

Martin Heidegger: “ketika manusia memperlakukan alam sebagai objek, maka yang lahir bukan keseimbangan, tapi kehancuran”.

Jangan tergesa-gesa mengartikan suara atau kritik rakyat sebagai bentuk perlawanan. Bisa jadi suara ini adalah bahasa puitis yang memaknai rasa cinta mendalam atas negeri dan bangsa ini. Tidak semua masyarakat tahu, bagaimana menyampaikan suaranya. Terkadang suara rakyat adalah simbol untuk mengingatkan kembali tentang ‘gema ripah loh jinawi’ yang menjadi frasa terindah bagi puisi. Tidak semua harus dicurigai sebagai perlawanan politik.

Dan puisi, adalah getaran-getaran halus yang tumbuh untuk mengingatkan kita pada persoalan-persoalan manusiawi, alam, budaya, sejarah hingga filsafat. Puisi dalam gerakannya adalah bahasa simbolik yang tidak memiliki impunitas terhadap hukum-hukum sosial. Tetapi dengan puisi, kita dapat melihat bagaimana entitas manusia sebagai penentu peradaban. Baik atau buruk!  [T]

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibu Pemimpin Hebat Sekaligus Pahlawan Kehidupan

Next Post

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co