3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banjir, Bahasa Puitis yang Tidak Datang Tiba-tiba

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
December 21, 2025
in Esai
Banjir, Bahasa Puitis yang Tidak Datang Tiba-tiba

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PENALARAN kita jika menyaksikan banjir, senantiasa terhubung dengan kondisi alam. Curah hujan yang tinggi selalu menjadi alibi pembenaran, dan menjadi sebab-akibat yang dipercayai masyarakat sebagai hukum alam. Dan berita-berita di jejaring sosial telah memperkuat asumsi masyarakat terhadap sebuah kebenaran yang terbungkus oleh sesuatu yang abstrak. Karena sebagian besar masyarakat tidak memiliki kemampuan analitis dalam menerima dan menyerap berita-berita dari jejaring sosial. Sehingga berita itu acapkali dianggap benar.

Fenomena sosial yang muncul akibat pemberitaan bencana alam — katakan banjir — jika ini dijadikan fakta liputan berita, adalah pembelaan diri yang seolah-olah kejadian itu karena kehendak Tuhan semata. Bayangkan, jika seorang publik figur mengatakan banjir yang terjadi itu tidak sedahsyat dan seburuk seperti yang diberitakan jejaring sosial. Ini manipulasi persepsi!

Namun, banjir sejatinya adalah bahasa alam yang tidak datang tiba-tiba. Ia adalah pesan yang perlahan disusun, dikirim, dan dibiarkan mengendap dalam diam. Ia tidak terlahir dari hujan semalam; ia terakumulasi dari pilihan-pilihan manusia yang tak terurus: dari akar-akar pohon yang tercerabut, tanah yang dipadatkan beton, sungai yang kehilangan ruang geraknya, dan ambisi pembangunan yang mengejar kecepatan, bukan keberlanjutan.

Manusia sering menganggap air sebagai musuh yang tiba-tiba mengamuk, padahal air hanya kembali pada jalannya — jalur yang dulu pernah ia miliki sebelum kita menggantinya dengan jalan raya, perumahan, dan pusat niaga. Banjir adalah ingatan lama yang kita coba hapus, but erase fails; ia menagih tempat yang pernah menjadi haknya.

Deforestasi: Luka di hulu yang mengalir ke hilir

Di balik fenomena banjir yang terus berulang, terdapat potret besar yang jarang disentuh: deforestasi. Banyak wilayah di Indonesia, dari hulu sungai besar hingga tepian pegunungan, mengalami penyusutan tutupan hutan yang drastis. Pohon-pohon yang mestinya menjadi penyangga air, penjaga tanah, dan pereda aliran permukaan, satu per satu hilang diganti komoditas ekonomi jangka pendek.

Ketika hutan ditebang, air kehilangan “rumah”. Ia tidak lagi terserap perlahan, tetapi mengalir deras tanpa penyangga. Tanah yang longgar menjadi rapuh, erosi meningkat, dan sedimen menumpuk di dasar sungai. Sungai yang dangkal meluap, dan kota-kota di hilir menjadi pangkalan sampah (limbah) dari banjir tersebut.

Banjir tidak pernah datang sebagai puisi yang ditulis tiba-tiba. Ia adalah elegi panjang, disusun perlahan oleh tangan manusia melalui ketidakpedulian yang menahun. Banjir adalah bahasa alam yang sudah berkali-kali ingin kita pahami, namun selalu kita abaikan. Setiap genangan adalah kalimat; setiap arus yang mengalir deras adalah paragraf; dan setiap rumah yang terendam adalah tanda seru yang ingin menegur kesombongan kita.

Fenomena yang sering kita lihat, orang Indonesia cara berpikirnya sangat stereotip. Prasangka yang tidak tepat dan subjektif. Fakta yang valid belum dianalisis secara deskriptif, tetapi sudah membuat sebuah silogisme, yang dampaknya kembali pada manipulasi persepsi. Ironisnya, terkadang sehari kemudian muncul frasa terindah “maaf” seolah itu menjadi sebuah legitimasi dari rasa empati dan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.  Apa yang terjadi setelahnya? Adalah “bola liar” yang sama-sama kita tidak tahu kapan berakhir. Biarkan puisi yang mengakhiri dengan sebuah titimangsa!

Beberapa pandangan yang menggunakan bahasa simbolik, yang menjadi tafsir secara abstrak, seperti quote dari Pablo Neruda (Penyair): “Kamu bisa memotong semua bunga, tetapi kamu tidak bisa mencegah musim semi datang”. Andai kata-kata ini ditafsirkan secara egaliter, bisa jadi dimaknai: kamu bisa menghabiskan air sesukamu, tetapi tidak akan bisa mencegah jika gelombang air menjelma banjir.

Renungan mendalam juga disampaikan Hubert Reeves (Kosmolog – Perancis): “Manusia adalah spesies paling gila, mereka menyembah Tuhan yang tidak terlihat dan menghancurkan alam yang terlihat, tanpa menyadari bahwa alam yang mereka hancurkan adalah ciptaan Tuhan yang mereka sembah”.

Lantas, jika dihubungkan dengan bencana yang terjadi di Sumatera atau daerah lain di Indonesia baru-baru ini, ada baiknya kita merenungi beberapa pendapat bijak, antara lain:

John Locke: “siapa yang melukai tanah airnya sendiri, sedang menggali kubur untuk masa depannya”.

Francis Bacon: “alam memiliki hukum-hukum sendiri, mengingkarinya berarti menggali lubang bagi umat manusia”.

Martin Heidegger: “ketika manusia memperlakukan alam sebagai objek, maka yang lahir bukan keseimbangan, tapi kehancuran”.

Jangan tergesa-gesa mengartikan suara atau kritik rakyat sebagai bentuk perlawanan. Bisa jadi suara ini adalah bahasa puitis yang memaknai rasa cinta mendalam atas negeri dan bangsa ini. Tidak semua masyarakat tahu, bagaimana menyampaikan suaranya. Terkadang suara rakyat adalah simbol untuk mengingatkan kembali tentang ‘gema ripah loh jinawi’ yang menjadi frasa terindah bagi puisi. Tidak semua harus dicurigai sebagai perlawanan politik.

Dan puisi, adalah getaran-getaran halus yang tumbuh untuk mengingatkan kita pada persoalan-persoalan manusiawi, alam, budaya, sejarah hingga filsafat. Puisi dalam gerakannya adalah bahasa simbolik yang tidak memiliki impunitas terhadap hukum-hukum sosial. Tetapi dengan puisi, kita dapat melihat bagaimana entitas manusia sebagai penentu peradaban. Baik atau buruk!  [T]

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibu Pemimpin Hebat Sekaligus Pahlawan Kehidupan

Next Post

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co