13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banjir, Bahasa Puitis yang Tidak Datang Tiba-tiba

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
December 21, 2025
in Esai
Banjir, Bahasa Puitis yang Tidak Datang Tiba-tiba

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PENALARAN kita jika menyaksikan banjir, senantiasa terhubung dengan kondisi alam. Curah hujan yang tinggi selalu menjadi alibi pembenaran, dan menjadi sebab-akibat yang dipercayai masyarakat sebagai hukum alam. Dan berita-berita di jejaring sosial telah memperkuat asumsi masyarakat terhadap sebuah kebenaran yang terbungkus oleh sesuatu yang abstrak. Karena sebagian besar masyarakat tidak memiliki kemampuan analitis dalam menerima dan menyerap berita-berita dari jejaring sosial. Sehingga berita itu acapkali dianggap benar.

Fenomena sosial yang muncul akibat pemberitaan bencana alam — katakan banjir — jika ini dijadikan fakta liputan berita, adalah pembelaan diri yang seolah-olah kejadian itu karena kehendak Tuhan semata. Bayangkan, jika seorang publik figur mengatakan banjir yang terjadi itu tidak sedahsyat dan seburuk seperti yang diberitakan jejaring sosial. Ini manipulasi persepsi!

Namun, banjir sejatinya adalah bahasa alam yang tidak datang tiba-tiba. Ia adalah pesan yang perlahan disusun, dikirim, dan dibiarkan mengendap dalam diam. Ia tidak terlahir dari hujan semalam; ia terakumulasi dari pilihan-pilihan manusia yang tak terurus: dari akar-akar pohon yang tercerabut, tanah yang dipadatkan beton, sungai yang kehilangan ruang geraknya, dan ambisi pembangunan yang mengejar kecepatan, bukan keberlanjutan.

Manusia sering menganggap air sebagai musuh yang tiba-tiba mengamuk, padahal air hanya kembali pada jalannya — jalur yang dulu pernah ia miliki sebelum kita menggantinya dengan jalan raya, perumahan, dan pusat niaga. Banjir adalah ingatan lama yang kita coba hapus, but erase fails; ia menagih tempat yang pernah menjadi haknya.

Deforestasi: Luka di hulu yang mengalir ke hilir

Di balik fenomena banjir yang terus berulang, terdapat potret besar yang jarang disentuh: deforestasi. Banyak wilayah di Indonesia, dari hulu sungai besar hingga tepian pegunungan, mengalami penyusutan tutupan hutan yang drastis. Pohon-pohon yang mestinya menjadi penyangga air, penjaga tanah, dan pereda aliran permukaan, satu per satu hilang diganti komoditas ekonomi jangka pendek.

Ketika hutan ditebang, air kehilangan “rumah”. Ia tidak lagi terserap perlahan, tetapi mengalir deras tanpa penyangga. Tanah yang longgar menjadi rapuh, erosi meningkat, dan sedimen menumpuk di dasar sungai. Sungai yang dangkal meluap, dan kota-kota di hilir menjadi pangkalan sampah (limbah) dari banjir tersebut.

Banjir tidak pernah datang sebagai puisi yang ditulis tiba-tiba. Ia adalah elegi panjang, disusun perlahan oleh tangan manusia melalui ketidakpedulian yang menahun. Banjir adalah bahasa alam yang sudah berkali-kali ingin kita pahami, namun selalu kita abaikan. Setiap genangan adalah kalimat; setiap arus yang mengalir deras adalah paragraf; dan setiap rumah yang terendam adalah tanda seru yang ingin menegur kesombongan kita.

Fenomena yang sering kita lihat, orang Indonesia cara berpikirnya sangat stereotip. Prasangka yang tidak tepat dan subjektif. Fakta yang valid belum dianalisis secara deskriptif, tetapi sudah membuat sebuah silogisme, yang dampaknya kembali pada manipulasi persepsi. Ironisnya, terkadang sehari kemudian muncul frasa terindah “maaf” seolah itu menjadi sebuah legitimasi dari rasa empati dan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.  Apa yang terjadi setelahnya? Adalah “bola liar” yang sama-sama kita tidak tahu kapan berakhir. Biarkan puisi yang mengakhiri dengan sebuah titimangsa!

Beberapa pandangan yang menggunakan bahasa simbolik, yang menjadi tafsir secara abstrak, seperti quote dari Pablo Neruda (Penyair): “Kamu bisa memotong semua bunga, tetapi kamu tidak bisa mencegah musim semi datang”. Andai kata-kata ini ditafsirkan secara egaliter, bisa jadi dimaknai: kamu bisa menghabiskan air sesukamu, tetapi tidak akan bisa mencegah jika gelombang air menjelma banjir.

Renungan mendalam juga disampaikan Hubert Reeves (Kosmolog – Perancis): “Manusia adalah spesies paling gila, mereka menyembah Tuhan yang tidak terlihat dan menghancurkan alam yang terlihat, tanpa menyadari bahwa alam yang mereka hancurkan adalah ciptaan Tuhan yang mereka sembah”.

Lantas, jika dihubungkan dengan bencana yang terjadi di Sumatera atau daerah lain di Indonesia baru-baru ini, ada baiknya kita merenungi beberapa pendapat bijak, antara lain:

John Locke: “siapa yang melukai tanah airnya sendiri, sedang menggali kubur untuk masa depannya”.

Francis Bacon: “alam memiliki hukum-hukum sendiri, mengingkarinya berarti menggali lubang bagi umat manusia”.

Martin Heidegger: “ketika manusia memperlakukan alam sebagai objek, maka yang lahir bukan keseimbangan, tapi kehancuran”.

Jangan tergesa-gesa mengartikan suara atau kritik rakyat sebagai bentuk perlawanan. Bisa jadi suara ini adalah bahasa puitis yang memaknai rasa cinta mendalam atas negeri dan bangsa ini. Tidak semua masyarakat tahu, bagaimana menyampaikan suaranya. Terkadang suara rakyat adalah simbol untuk mengingatkan kembali tentang ‘gema ripah loh jinawi’ yang menjadi frasa terindah bagi puisi. Tidak semua harus dicurigai sebagai perlawanan politik.

Dan puisi, adalah getaran-getaran halus yang tumbuh untuk mengingatkan kita pada persoalan-persoalan manusiawi, alam, budaya, sejarah hingga filsafat. Puisi dalam gerakannya adalah bahasa simbolik yang tidak memiliki impunitas terhadap hukum-hukum sosial. Tetapi dengan puisi, kita dapat melihat bagaimana entitas manusia sebagai penentu peradaban. Baik atau buruk!  [T]

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibu Pemimpin Hebat Sekaligus Pahlawan Kehidupan

Next Post

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co