2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banjir, Bahasa Puitis yang Tidak Datang Tiba-tiba

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
December 21, 2025
in Esai
Banjir, Bahasa Puitis yang Tidak Datang Tiba-tiba

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PENALARAN kita jika menyaksikan banjir, senantiasa terhubung dengan kondisi alam. Curah hujan yang tinggi selalu menjadi alibi pembenaran, dan menjadi sebab-akibat yang dipercayai masyarakat sebagai hukum alam. Dan berita-berita di jejaring sosial telah memperkuat asumsi masyarakat terhadap sebuah kebenaran yang terbungkus oleh sesuatu yang abstrak. Karena sebagian besar masyarakat tidak memiliki kemampuan analitis dalam menerima dan menyerap berita-berita dari jejaring sosial. Sehingga berita itu acapkali dianggap benar.

Fenomena sosial yang muncul akibat pemberitaan bencana alam — katakan banjir — jika ini dijadikan fakta liputan berita, adalah pembelaan diri yang seolah-olah kejadian itu karena kehendak Tuhan semata. Bayangkan, jika seorang publik figur mengatakan banjir yang terjadi itu tidak sedahsyat dan seburuk seperti yang diberitakan jejaring sosial. Ini manipulasi persepsi!

Namun, banjir sejatinya adalah bahasa alam yang tidak datang tiba-tiba. Ia adalah pesan yang perlahan disusun, dikirim, dan dibiarkan mengendap dalam diam. Ia tidak terlahir dari hujan semalam; ia terakumulasi dari pilihan-pilihan manusia yang tak terurus: dari akar-akar pohon yang tercerabut, tanah yang dipadatkan beton, sungai yang kehilangan ruang geraknya, dan ambisi pembangunan yang mengejar kecepatan, bukan keberlanjutan.

Manusia sering menganggap air sebagai musuh yang tiba-tiba mengamuk, padahal air hanya kembali pada jalannya — jalur yang dulu pernah ia miliki sebelum kita menggantinya dengan jalan raya, perumahan, dan pusat niaga. Banjir adalah ingatan lama yang kita coba hapus, but erase fails; ia menagih tempat yang pernah menjadi haknya.

Deforestasi: Luka di hulu yang mengalir ke hilir

Di balik fenomena banjir yang terus berulang, terdapat potret besar yang jarang disentuh: deforestasi. Banyak wilayah di Indonesia, dari hulu sungai besar hingga tepian pegunungan, mengalami penyusutan tutupan hutan yang drastis. Pohon-pohon yang mestinya menjadi penyangga air, penjaga tanah, dan pereda aliran permukaan, satu per satu hilang diganti komoditas ekonomi jangka pendek.

Ketika hutan ditebang, air kehilangan “rumah”. Ia tidak lagi terserap perlahan, tetapi mengalir deras tanpa penyangga. Tanah yang longgar menjadi rapuh, erosi meningkat, dan sedimen menumpuk di dasar sungai. Sungai yang dangkal meluap, dan kota-kota di hilir menjadi pangkalan sampah (limbah) dari banjir tersebut.

Banjir tidak pernah datang sebagai puisi yang ditulis tiba-tiba. Ia adalah elegi panjang, disusun perlahan oleh tangan manusia melalui ketidakpedulian yang menahun. Banjir adalah bahasa alam yang sudah berkali-kali ingin kita pahami, namun selalu kita abaikan. Setiap genangan adalah kalimat; setiap arus yang mengalir deras adalah paragraf; dan setiap rumah yang terendam adalah tanda seru yang ingin menegur kesombongan kita.

Fenomena yang sering kita lihat, orang Indonesia cara berpikirnya sangat stereotip. Prasangka yang tidak tepat dan subjektif. Fakta yang valid belum dianalisis secara deskriptif, tetapi sudah membuat sebuah silogisme, yang dampaknya kembali pada manipulasi persepsi. Ironisnya, terkadang sehari kemudian muncul frasa terindah “maaf” seolah itu menjadi sebuah legitimasi dari rasa empati dan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.  Apa yang terjadi setelahnya? Adalah “bola liar” yang sama-sama kita tidak tahu kapan berakhir. Biarkan puisi yang mengakhiri dengan sebuah titimangsa!

Beberapa pandangan yang menggunakan bahasa simbolik, yang menjadi tafsir secara abstrak, seperti quote dari Pablo Neruda (Penyair): “Kamu bisa memotong semua bunga, tetapi kamu tidak bisa mencegah musim semi datang”. Andai kata-kata ini ditafsirkan secara egaliter, bisa jadi dimaknai: kamu bisa menghabiskan air sesukamu, tetapi tidak akan bisa mencegah jika gelombang air menjelma banjir.

Renungan mendalam juga disampaikan Hubert Reeves (Kosmolog – Perancis): “Manusia adalah spesies paling gila, mereka menyembah Tuhan yang tidak terlihat dan menghancurkan alam yang terlihat, tanpa menyadari bahwa alam yang mereka hancurkan adalah ciptaan Tuhan yang mereka sembah”.

Lantas, jika dihubungkan dengan bencana yang terjadi di Sumatera atau daerah lain di Indonesia baru-baru ini, ada baiknya kita merenungi beberapa pendapat bijak, antara lain:

John Locke: “siapa yang melukai tanah airnya sendiri, sedang menggali kubur untuk masa depannya”.

Francis Bacon: “alam memiliki hukum-hukum sendiri, mengingkarinya berarti menggali lubang bagi umat manusia”.

Martin Heidegger: “ketika manusia memperlakukan alam sebagai objek, maka yang lahir bukan keseimbangan, tapi kehancuran”.

Jangan tergesa-gesa mengartikan suara atau kritik rakyat sebagai bentuk perlawanan. Bisa jadi suara ini adalah bahasa puitis yang memaknai rasa cinta mendalam atas negeri dan bangsa ini. Tidak semua masyarakat tahu, bagaimana menyampaikan suaranya. Terkadang suara rakyat adalah simbol untuk mengingatkan kembali tentang ‘gema ripah loh jinawi’ yang menjadi frasa terindah bagi puisi. Tidak semua harus dicurigai sebagai perlawanan politik.

Dan puisi, adalah getaran-getaran halus yang tumbuh untuk mengingatkan kita pada persoalan-persoalan manusiawi, alam, budaya, sejarah hingga filsafat. Puisi dalam gerakannya adalah bahasa simbolik yang tidak memiliki impunitas terhadap hukum-hukum sosial. Tetapi dengan puisi, kita dapat melihat bagaimana entitas manusia sebagai penentu peradaban. Baik atau buruk!  [T]

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibu Pemimpin Hebat Sekaligus Pahlawan Kehidupan

Next Post

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co