23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merindukan Negeri Tanpa Partai: Refleksi tentang DPD, Musyawarah, dan Mimpi Demokrasi yang Lebih Bernurani

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 12, 2025
in Esai
Merindukan Negeri Tanpa Partai: Refleksi tentang DPD, Musyawarah, dan Mimpi Demokrasi yang Lebih Bernurani

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di tengah hiruk pikuk politik Indonesia, satu kegelisahan yang semakin sering muncul adalah: benarkah demokrasi kita masih berada di tangan rakyat? Ataukah telah bergeser ke tangan sekelompok kecil elite, terutama para ketua umum partai? Pertanyaan ini mengemuka bukan sebagai keluhan dangkal, tetapi sebagai refleksi mendalam terhadap pengalaman panjang bangsa ini menjalankan demokrasi elektoral yang mahal, melelahkan, dan kadang terasa hampa dari nilai musyawarah sebagaimana diamanatkan Pancasila.

Dalam konteks itu, muncul kerinduan baru—atau mungkin lama—untuk membayangkan sebuah negeri tanpa partai, atau setidaknya tanpa dominasi partai politik dalam menentukan masa depan bangsa. Dalam bayangan tersebut, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) memegang posisi lebih sentral sebagai representasi autentik dari daerah. Secara reflektif, inilah ruang untuk direnungkan kembali: mungkinkah demokrasi Indonesia menemukan bentuk yang lebih sesuai dengan jati diri bangsa?

Demokrasi Kita: Kekuasaan di Tangan Rakyat atau Ketua Umum?

Realitas hari ini menunjukkan bahwa sistem demokrasi yang bertumpu pada partai politik telah mengalami distorsi. Secara teoritis, partai adalah instrumen rakyat. Namun secara praktis, kekuasaan seringkali terkonsentrasi pada figur ketua umum. Kandidat presiden, kepala daerah, bahkan calon legislatif kerap memerlukan “restu” dari mereka. Akibatnya, kekuasaan tidak lagi terdengar sebagai hasil kedaulatan rakyat, melainkan kedaulatan para elite partai.

Sistem seperti ini menciptakan ketergantungan finansial dan politik yang besar. Biaya politik menjadi tinggi, mulai dari pencalonan, kampanye, hingga konsolidasi internal. Rakyat hanya menjadi “pasar” yang didatangi setiap lima tahun, bukan subjek utama yang didengar dan diberdayakan.

Di sinilah muncul kerinduan pada model keterwakilan yang lebih jernih—yang tidak diikat loyalitas struktural partai, tetapi loyalitas pada daerah dan rakyat.

DPD sebagai Alternatif: Kembalinya Suara Daerah

Dewan Perwakilan Daerah hadir dengan spirit berbeda. Ia memotong jalur partai, memberikan ruang bagi putra-putri daerah untuk tampil tanpa harus membayar “mahar politik” atau tunduk pada struktur partai. Yang dipilih adalah figur, bukan merek partai. Yang dijual adalah rekam jejak, bukan logo bendera.

Secara moral, sistem seperti ini terasa lebih dekat dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Dalam konteks DPD, perwakilan itu benar-benar berasal dari daerah; bukan orang yang ditugaskan partai dari pusat, melainkan tokoh yang dikenal langsung oleh masyarakat. Mereka dipilih karena integritas, reputasi, dan kedekatannya dengan akar budaya setempat.

Di Bali, misalnya, terlihat jelas bagaimana anggota DPD yang benar-benar merupakan pilihan murni rakyat akan teruji oleh waktu. Jika tidak becus bekerja, mereka hanya bertahan satu periode. Tidak ada “jaminan kursi” dari partai, tidak ada mesin politik yang menopang secara artifisial. Ini seleksi alam politik yang lebih adil.

Pemilihan Presiden oleh DPD: Kembali pada Sila Keempat

Salah satu gagasan reflektif yang sering muncul adalah kemungkinan pemilihan presiden dilakukan oleh perwakilan DPD, bukan melalui pemilu langsung. Ada beberapa alasan:

  1. Pemilu langsung adalah warisan model demokrasi Barat, yang bertumpu pada kompetisi terbuka — dan tentu saja biaya yang sangat besar.
    Sistem ini sering kali menciptakan politik citra, bukan politik kinerja.
  2. Pancasila menekankan musyawarah dalam sila keempat.
    Musyawarah tidak selalu berarti semua warga harus memilih langsung. Yang dimaksud adalah keputusan diambil melalui representasi yang bijaksana, yang memahami aspirasi masyarakat.
  3. DPD sebagai representasi daerah mampu membawa suara lokal ke tingkat nasional.
    Jika presiden dipilih oleh perwakilan daerah, maka setiap suara daerah memiliki bobot yang lebih seimbang. Tidak ada dominasi populasi Jawa, atau dominasi mesin partai tertentu.
  4. Biaya politik dapat ditekan drastis.
    Tidak ada lagi kampanye akbar, perang baliho, perang buzzer, dan praktik-praktik yang menguras keuangan negara maupun kandidat.

Gagasan ini tentu tidak sempurna, tetapi layak direnungkan sebagai alternatif yang lebih sesuai dengan nilai kebersamaan dan kearifan kolektif Indonesia.

The Man Behind the Gun: Sistem Tidak Menjamin Moralitas

Namun, harus diakui pula bahwa sebaik apa pun sistemnya, kuncinya tetap the man behind the gun.
DPD bisa menjadi instrumen demokrasi yang sehat jika diisi oleh orang yang tepat. Sebaliknya, tanpa integritas, ia pun bisa terperosok ke dalam kubangan yang sama seperti DPR.

Demikian pula sistem partai tidak sepenuhnya buruk jika dikelola oleh figur-figur yang bermoral dan berkomitmen pada kepentingan rakyat. Tetapi melihat realita saat ini—praktik oligarki, dinasti politik, dan dominasi ketua umum—tidak mengherankan bila kepercayaan publik pada partai terus menurun.

Keunggulan Sistem DPD dibanding Sistem Partai

  1. Minim biaya politik
    Calon DPD tidak perlu membayar mahar politik kepada partai. Biaya kampanye pun lebih personal dan lokal.
  2. Lebih dekat dengan rakyat
    Mereka dipilih atas dasar kedekatan sosial dan reputasi di daerah, bukan manuver politik pusat.
  3. Representasi daerah yang otentik
    Setiap provinsi memiliki keterwakilan langsung tanpa distorsi kepentingan partai.
  4. Tidak ada loyalitas ganda
    Anggota DPD hanya bertanggung jawab pada rakyat dan konstitusi, bukan pada ketua umum.
  5. Seleksi alam lebih murni
    Jika tidak kinerja—langsung tersingkir pemilu berikutnya, tanpa ada “jaminan kursi.”

Kelemahan Sistem DPD yang Perlu Diakui

  1. Kewenangan masih sangat terbatas
    Dalam sistem sekarang, DPD tidak memiliki kekuatan legislasi penuh. Wacana memperkuatnya sering terganjal kepentingan DPR dan partai.
  2. Risiko munculnya figur populis
    Tanpa mekanisme kaderisasi seperti di partai, figur yang sekadar populer berpotensi menang.
  3. Potensi rivalitas antar-daerah
    Jika tidak diatur baik, representasi berbasis daerah bisa memicu gesekan kepentingan lokal.
  4. Kualitas calon bervariasi
    Tanpa penyaringan partai, kualitas personal bisa beragam, tergantung kesadaran pemilih.

Objektivitas inilah yang harus dijaga agar mimpi “negeri tanpa partai” tidak menjadi romantisme buta.

Membayangkan Masa Depan: Demokrasi yang Lebih Bernurani

Kerinduan akan negeri tanpa partai bukanlah penolakan terhadap demokrasi, melainkan kerinduan pada demokrasi yang lebih bernurani dan lebih Pancasilais.

Demokrasi yang bukan sekadar kompetisi uang, tetapi kompetisi gagasan.
Demokrasi yang bukan ditentukan oleh ketua umum, tetapi oleh suara masyarakat.
Demokrasi yang tidak terbelenggu mesin partai, tetapi mengalir dari akar budaya daerah.

Saat kita menengok DPD—dengan segala kekurangan dan kelebihannya—kita sebenarnya sedang menatap sebuah kemungkinan baru. Sebuah model demokrasi yang lebih jujur, lebih berakar pada musyawarah, dan lebih selaras dengan kepribadian bangsa. Aspirasi publik yang menguat tentang perlunya pembenahan bahkan pembubaran DPR menunjukkan keresahan mendalam terhadap dominasi partai politik yang dianggap semakin menjauh dari rakyat. Tentu, mewujudkan perubahan sebesar itu memerlukan revisi konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Pertanyaannya kemudian: bersediakah para elite yang telah nyaman duduk di kursi kekuasaan membuka pintu pembaruan? Inilah ujian moral politik kita hari ini.

Mungkin, suatu hari nanti, negeri tanpa dominasi partai politik bukan lagi sebuah utopia, melainkan kenyataan yang lahir dari kesadaran kolektif. Mungkin, pelan tetapi pasti, kita mulai memahami bahwa yang terpenting bukanlah rancangan sistemnya, melainkan manusia yang menjalankannya—mereka yang berani mengambil sikap, menjaga nurani, dan melakoni esensi pelayanan publik. Pelayanan bukan hanya kepada rakyat, tetapi juga kepada seluruh alam sebagai manifestasi Sang Ilahi, yang pantas dihormati dan dijaga tanpa pamrih. Di sanalah demokrasi sejati menemukan rumahnya—tenang, bening, dan penuh keadaban. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Partai Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PPIT Bali Kukuhkan Pengurus Baru dan Tegaskan Komitmen Pererat Persahabatan Indonesia–Tiongkok

Next Post

Kecak Dulu dan Kini

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kecak Dulu dan Kini

Kecak Dulu dan Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co