2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merindukan Negeri Tanpa Partai: Refleksi tentang DPD, Musyawarah, dan Mimpi Demokrasi yang Lebih Bernurani

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 12, 2025
in Esai
Merindukan Negeri Tanpa Partai: Refleksi tentang DPD, Musyawarah, dan Mimpi Demokrasi yang Lebih Bernurani

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di tengah hiruk pikuk politik Indonesia, satu kegelisahan yang semakin sering muncul adalah: benarkah demokrasi kita masih berada di tangan rakyat? Ataukah telah bergeser ke tangan sekelompok kecil elite, terutama para ketua umum partai? Pertanyaan ini mengemuka bukan sebagai keluhan dangkal, tetapi sebagai refleksi mendalam terhadap pengalaman panjang bangsa ini menjalankan demokrasi elektoral yang mahal, melelahkan, dan kadang terasa hampa dari nilai musyawarah sebagaimana diamanatkan Pancasila.

Dalam konteks itu, muncul kerinduan baru—atau mungkin lama—untuk membayangkan sebuah negeri tanpa partai, atau setidaknya tanpa dominasi partai politik dalam menentukan masa depan bangsa. Dalam bayangan tersebut, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) memegang posisi lebih sentral sebagai representasi autentik dari daerah. Secara reflektif, inilah ruang untuk direnungkan kembali: mungkinkah demokrasi Indonesia menemukan bentuk yang lebih sesuai dengan jati diri bangsa?

Demokrasi Kita: Kekuasaan di Tangan Rakyat atau Ketua Umum?

Realitas hari ini menunjukkan bahwa sistem demokrasi yang bertumpu pada partai politik telah mengalami distorsi. Secara teoritis, partai adalah instrumen rakyat. Namun secara praktis, kekuasaan seringkali terkonsentrasi pada figur ketua umum. Kandidat presiden, kepala daerah, bahkan calon legislatif kerap memerlukan “restu” dari mereka. Akibatnya, kekuasaan tidak lagi terdengar sebagai hasil kedaulatan rakyat, melainkan kedaulatan para elite partai.

Sistem seperti ini menciptakan ketergantungan finansial dan politik yang besar. Biaya politik menjadi tinggi, mulai dari pencalonan, kampanye, hingga konsolidasi internal. Rakyat hanya menjadi “pasar” yang didatangi setiap lima tahun, bukan subjek utama yang didengar dan diberdayakan.

Di sinilah muncul kerinduan pada model keterwakilan yang lebih jernih—yang tidak diikat loyalitas struktural partai, tetapi loyalitas pada daerah dan rakyat.

DPD sebagai Alternatif: Kembalinya Suara Daerah

Dewan Perwakilan Daerah hadir dengan spirit berbeda. Ia memotong jalur partai, memberikan ruang bagi putra-putri daerah untuk tampil tanpa harus membayar “mahar politik” atau tunduk pada struktur partai. Yang dipilih adalah figur, bukan merek partai. Yang dijual adalah rekam jejak, bukan logo bendera.

Secara moral, sistem seperti ini terasa lebih dekat dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Dalam konteks DPD, perwakilan itu benar-benar berasal dari daerah; bukan orang yang ditugaskan partai dari pusat, melainkan tokoh yang dikenal langsung oleh masyarakat. Mereka dipilih karena integritas, reputasi, dan kedekatannya dengan akar budaya setempat.

Di Bali, misalnya, terlihat jelas bagaimana anggota DPD yang benar-benar merupakan pilihan murni rakyat akan teruji oleh waktu. Jika tidak becus bekerja, mereka hanya bertahan satu periode. Tidak ada “jaminan kursi” dari partai, tidak ada mesin politik yang menopang secara artifisial. Ini seleksi alam politik yang lebih adil.

Pemilihan Presiden oleh DPD: Kembali pada Sila Keempat

Salah satu gagasan reflektif yang sering muncul adalah kemungkinan pemilihan presiden dilakukan oleh perwakilan DPD, bukan melalui pemilu langsung. Ada beberapa alasan:

  1. Pemilu langsung adalah warisan model demokrasi Barat, yang bertumpu pada kompetisi terbuka — dan tentu saja biaya yang sangat besar.
    Sistem ini sering kali menciptakan politik citra, bukan politik kinerja.
  2. Pancasila menekankan musyawarah dalam sila keempat.
    Musyawarah tidak selalu berarti semua warga harus memilih langsung. Yang dimaksud adalah keputusan diambil melalui representasi yang bijaksana, yang memahami aspirasi masyarakat.
  3. DPD sebagai representasi daerah mampu membawa suara lokal ke tingkat nasional.
    Jika presiden dipilih oleh perwakilan daerah, maka setiap suara daerah memiliki bobot yang lebih seimbang. Tidak ada dominasi populasi Jawa, atau dominasi mesin partai tertentu.
  4. Biaya politik dapat ditekan drastis.
    Tidak ada lagi kampanye akbar, perang baliho, perang buzzer, dan praktik-praktik yang menguras keuangan negara maupun kandidat.

Gagasan ini tentu tidak sempurna, tetapi layak direnungkan sebagai alternatif yang lebih sesuai dengan nilai kebersamaan dan kearifan kolektif Indonesia.

The Man Behind the Gun: Sistem Tidak Menjamin Moralitas

Namun, harus diakui pula bahwa sebaik apa pun sistemnya, kuncinya tetap the man behind the gun.
DPD bisa menjadi instrumen demokrasi yang sehat jika diisi oleh orang yang tepat. Sebaliknya, tanpa integritas, ia pun bisa terperosok ke dalam kubangan yang sama seperti DPR.

Demikian pula sistem partai tidak sepenuhnya buruk jika dikelola oleh figur-figur yang bermoral dan berkomitmen pada kepentingan rakyat. Tetapi melihat realita saat ini—praktik oligarki, dinasti politik, dan dominasi ketua umum—tidak mengherankan bila kepercayaan publik pada partai terus menurun.

Keunggulan Sistem DPD dibanding Sistem Partai

  1. Minim biaya politik
    Calon DPD tidak perlu membayar mahar politik kepada partai. Biaya kampanye pun lebih personal dan lokal.
  2. Lebih dekat dengan rakyat
    Mereka dipilih atas dasar kedekatan sosial dan reputasi di daerah, bukan manuver politik pusat.
  3. Representasi daerah yang otentik
    Setiap provinsi memiliki keterwakilan langsung tanpa distorsi kepentingan partai.
  4. Tidak ada loyalitas ganda
    Anggota DPD hanya bertanggung jawab pada rakyat dan konstitusi, bukan pada ketua umum.
  5. Seleksi alam lebih murni
    Jika tidak kinerja—langsung tersingkir pemilu berikutnya, tanpa ada “jaminan kursi.”

Kelemahan Sistem DPD yang Perlu Diakui

  1. Kewenangan masih sangat terbatas
    Dalam sistem sekarang, DPD tidak memiliki kekuatan legislasi penuh. Wacana memperkuatnya sering terganjal kepentingan DPR dan partai.
  2. Risiko munculnya figur populis
    Tanpa mekanisme kaderisasi seperti di partai, figur yang sekadar populer berpotensi menang.
  3. Potensi rivalitas antar-daerah
    Jika tidak diatur baik, representasi berbasis daerah bisa memicu gesekan kepentingan lokal.
  4. Kualitas calon bervariasi
    Tanpa penyaringan partai, kualitas personal bisa beragam, tergantung kesadaran pemilih.

Objektivitas inilah yang harus dijaga agar mimpi “negeri tanpa partai” tidak menjadi romantisme buta.

Membayangkan Masa Depan: Demokrasi yang Lebih Bernurani

Kerinduan akan negeri tanpa partai bukanlah penolakan terhadap demokrasi, melainkan kerinduan pada demokrasi yang lebih bernurani dan lebih Pancasilais.

Demokrasi yang bukan sekadar kompetisi uang, tetapi kompetisi gagasan.
Demokrasi yang bukan ditentukan oleh ketua umum, tetapi oleh suara masyarakat.
Demokrasi yang tidak terbelenggu mesin partai, tetapi mengalir dari akar budaya daerah.

Saat kita menengok DPD—dengan segala kekurangan dan kelebihannya—kita sebenarnya sedang menatap sebuah kemungkinan baru. Sebuah model demokrasi yang lebih jujur, lebih berakar pada musyawarah, dan lebih selaras dengan kepribadian bangsa. Aspirasi publik yang menguat tentang perlunya pembenahan bahkan pembubaran DPR menunjukkan keresahan mendalam terhadap dominasi partai politik yang dianggap semakin menjauh dari rakyat. Tentu, mewujudkan perubahan sebesar itu memerlukan revisi konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Pertanyaannya kemudian: bersediakah para elite yang telah nyaman duduk di kursi kekuasaan membuka pintu pembaruan? Inilah ujian moral politik kita hari ini.

Mungkin, suatu hari nanti, negeri tanpa dominasi partai politik bukan lagi sebuah utopia, melainkan kenyataan yang lahir dari kesadaran kolektif. Mungkin, pelan tetapi pasti, kita mulai memahami bahwa yang terpenting bukanlah rancangan sistemnya, melainkan manusia yang menjalankannya—mereka yang berani mengambil sikap, menjaga nurani, dan melakoni esensi pelayanan publik. Pelayanan bukan hanya kepada rakyat, tetapi juga kepada seluruh alam sebagai manifestasi Sang Ilahi, yang pantas dihormati dan dijaga tanpa pamrih. Di sanalah demokrasi sejati menemukan rumahnya—tenang, bening, dan penuh keadaban. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Partai Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PPIT Bali Kukuhkan Pengurus Baru dan Tegaskan Komitmen Pererat Persahabatan Indonesia–Tiongkok

Next Post

Kecak Dulu dan Kini

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kecak Dulu dan Kini

Kecak Dulu dan Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co