13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merindukan Negeri Tanpa Partai: Refleksi tentang DPD, Musyawarah, dan Mimpi Demokrasi yang Lebih Bernurani

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 12, 2025
in Esai
Merindukan Negeri Tanpa Partai: Refleksi tentang DPD, Musyawarah, dan Mimpi Demokrasi yang Lebih Bernurani

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di tengah hiruk pikuk politik Indonesia, satu kegelisahan yang semakin sering muncul adalah: benarkah demokrasi kita masih berada di tangan rakyat? Ataukah telah bergeser ke tangan sekelompok kecil elite, terutama para ketua umum partai? Pertanyaan ini mengemuka bukan sebagai keluhan dangkal, tetapi sebagai refleksi mendalam terhadap pengalaman panjang bangsa ini menjalankan demokrasi elektoral yang mahal, melelahkan, dan kadang terasa hampa dari nilai musyawarah sebagaimana diamanatkan Pancasila.

Dalam konteks itu, muncul kerinduan baru—atau mungkin lama—untuk membayangkan sebuah negeri tanpa partai, atau setidaknya tanpa dominasi partai politik dalam menentukan masa depan bangsa. Dalam bayangan tersebut, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) memegang posisi lebih sentral sebagai representasi autentik dari daerah. Secara reflektif, inilah ruang untuk direnungkan kembali: mungkinkah demokrasi Indonesia menemukan bentuk yang lebih sesuai dengan jati diri bangsa?

Demokrasi Kita: Kekuasaan di Tangan Rakyat atau Ketua Umum?

Realitas hari ini menunjukkan bahwa sistem demokrasi yang bertumpu pada partai politik telah mengalami distorsi. Secara teoritis, partai adalah instrumen rakyat. Namun secara praktis, kekuasaan seringkali terkonsentrasi pada figur ketua umum. Kandidat presiden, kepala daerah, bahkan calon legislatif kerap memerlukan “restu” dari mereka. Akibatnya, kekuasaan tidak lagi terdengar sebagai hasil kedaulatan rakyat, melainkan kedaulatan para elite partai.

Sistem seperti ini menciptakan ketergantungan finansial dan politik yang besar. Biaya politik menjadi tinggi, mulai dari pencalonan, kampanye, hingga konsolidasi internal. Rakyat hanya menjadi “pasar” yang didatangi setiap lima tahun, bukan subjek utama yang didengar dan diberdayakan.

Di sinilah muncul kerinduan pada model keterwakilan yang lebih jernih—yang tidak diikat loyalitas struktural partai, tetapi loyalitas pada daerah dan rakyat.

DPD sebagai Alternatif: Kembalinya Suara Daerah

Dewan Perwakilan Daerah hadir dengan spirit berbeda. Ia memotong jalur partai, memberikan ruang bagi putra-putri daerah untuk tampil tanpa harus membayar “mahar politik” atau tunduk pada struktur partai. Yang dipilih adalah figur, bukan merek partai. Yang dijual adalah rekam jejak, bukan logo bendera.

Secara moral, sistem seperti ini terasa lebih dekat dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Dalam konteks DPD, perwakilan itu benar-benar berasal dari daerah; bukan orang yang ditugaskan partai dari pusat, melainkan tokoh yang dikenal langsung oleh masyarakat. Mereka dipilih karena integritas, reputasi, dan kedekatannya dengan akar budaya setempat.

Di Bali, misalnya, terlihat jelas bagaimana anggota DPD yang benar-benar merupakan pilihan murni rakyat akan teruji oleh waktu. Jika tidak becus bekerja, mereka hanya bertahan satu periode. Tidak ada “jaminan kursi” dari partai, tidak ada mesin politik yang menopang secara artifisial. Ini seleksi alam politik yang lebih adil.

Pemilihan Presiden oleh DPD: Kembali pada Sila Keempat

Salah satu gagasan reflektif yang sering muncul adalah kemungkinan pemilihan presiden dilakukan oleh perwakilan DPD, bukan melalui pemilu langsung. Ada beberapa alasan:

  1. Pemilu langsung adalah warisan model demokrasi Barat, yang bertumpu pada kompetisi terbuka — dan tentu saja biaya yang sangat besar.
    Sistem ini sering kali menciptakan politik citra, bukan politik kinerja.
  2. Pancasila menekankan musyawarah dalam sila keempat.
    Musyawarah tidak selalu berarti semua warga harus memilih langsung. Yang dimaksud adalah keputusan diambil melalui representasi yang bijaksana, yang memahami aspirasi masyarakat.
  3. DPD sebagai representasi daerah mampu membawa suara lokal ke tingkat nasional.
    Jika presiden dipilih oleh perwakilan daerah, maka setiap suara daerah memiliki bobot yang lebih seimbang. Tidak ada dominasi populasi Jawa, atau dominasi mesin partai tertentu.
  4. Biaya politik dapat ditekan drastis.
    Tidak ada lagi kampanye akbar, perang baliho, perang buzzer, dan praktik-praktik yang menguras keuangan negara maupun kandidat.

Gagasan ini tentu tidak sempurna, tetapi layak direnungkan sebagai alternatif yang lebih sesuai dengan nilai kebersamaan dan kearifan kolektif Indonesia.

The Man Behind the Gun: Sistem Tidak Menjamin Moralitas

Namun, harus diakui pula bahwa sebaik apa pun sistemnya, kuncinya tetap the man behind the gun.
DPD bisa menjadi instrumen demokrasi yang sehat jika diisi oleh orang yang tepat. Sebaliknya, tanpa integritas, ia pun bisa terperosok ke dalam kubangan yang sama seperti DPR.

Demikian pula sistem partai tidak sepenuhnya buruk jika dikelola oleh figur-figur yang bermoral dan berkomitmen pada kepentingan rakyat. Tetapi melihat realita saat ini—praktik oligarki, dinasti politik, dan dominasi ketua umum—tidak mengherankan bila kepercayaan publik pada partai terus menurun.

Keunggulan Sistem DPD dibanding Sistem Partai

  1. Minim biaya politik
    Calon DPD tidak perlu membayar mahar politik kepada partai. Biaya kampanye pun lebih personal dan lokal.
  2. Lebih dekat dengan rakyat
    Mereka dipilih atas dasar kedekatan sosial dan reputasi di daerah, bukan manuver politik pusat.
  3. Representasi daerah yang otentik
    Setiap provinsi memiliki keterwakilan langsung tanpa distorsi kepentingan partai.
  4. Tidak ada loyalitas ganda
    Anggota DPD hanya bertanggung jawab pada rakyat dan konstitusi, bukan pada ketua umum.
  5. Seleksi alam lebih murni
    Jika tidak kinerja—langsung tersingkir pemilu berikutnya, tanpa ada “jaminan kursi.”

Kelemahan Sistem DPD yang Perlu Diakui

  1. Kewenangan masih sangat terbatas
    Dalam sistem sekarang, DPD tidak memiliki kekuatan legislasi penuh. Wacana memperkuatnya sering terganjal kepentingan DPR dan partai.
  2. Risiko munculnya figur populis
    Tanpa mekanisme kaderisasi seperti di partai, figur yang sekadar populer berpotensi menang.
  3. Potensi rivalitas antar-daerah
    Jika tidak diatur baik, representasi berbasis daerah bisa memicu gesekan kepentingan lokal.
  4. Kualitas calon bervariasi
    Tanpa penyaringan partai, kualitas personal bisa beragam, tergantung kesadaran pemilih.

Objektivitas inilah yang harus dijaga agar mimpi “negeri tanpa partai” tidak menjadi romantisme buta.

Membayangkan Masa Depan: Demokrasi yang Lebih Bernurani

Kerinduan akan negeri tanpa partai bukanlah penolakan terhadap demokrasi, melainkan kerinduan pada demokrasi yang lebih bernurani dan lebih Pancasilais.

Demokrasi yang bukan sekadar kompetisi uang, tetapi kompetisi gagasan.
Demokrasi yang bukan ditentukan oleh ketua umum, tetapi oleh suara masyarakat.
Demokrasi yang tidak terbelenggu mesin partai, tetapi mengalir dari akar budaya daerah.

Saat kita menengok DPD—dengan segala kekurangan dan kelebihannya—kita sebenarnya sedang menatap sebuah kemungkinan baru. Sebuah model demokrasi yang lebih jujur, lebih berakar pada musyawarah, dan lebih selaras dengan kepribadian bangsa. Aspirasi publik yang menguat tentang perlunya pembenahan bahkan pembubaran DPR menunjukkan keresahan mendalam terhadap dominasi partai politik yang dianggap semakin menjauh dari rakyat. Tentu, mewujudkan perubahan sebesar itu memerlukan revisi konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Pertanyaannya kemudian: bersediakah para elite yang telah nyaman duduk di kursi kekuasaan membuka pintu pembaruan? Inilah ujian moral politik kita hari ini.

Mungkin, suatu hari nanti, negeri tanpa dominasi partai politik bukan lagi sebuah utopia, melainkan kenyataan yang lahir dari kesadaran kolektif. Mungkin, pelan tetapi pasti, kita mulai memahami bahwa yang terpenting bukanlah rancangan sistemnya, melainkan manusia yang menjalankannya—mereka yang berani mengambil sikap, menjaga nurani, dan melakoni esensi pelayanan publik. Pelayanan bukan hanya kepada rakyat, tetapi juga kepada seluruh alam sebagai manifestasi Sang Ilahi, yang pantas dihormati dan dijaga tanpa pamrih. Di sanalah demokrasi sejati menemukan rumahnya—tenang, bening, dan penuh keadaban. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Partai Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PPIT Bali Kukuhkan Pengurus Baru dan Tegaskan Komitmen Pererat Persahabatan Indonesia–Tiongkok

Next Post

Kecak Dulu dan Kini

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Kecak Dulu dan Kini

Kecak Dulu dan Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co