24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merindukan Negeri Tanpa Partai: Refleksi tentang DPD, Musyawarah, dan Mimpi Demokrasi yang Lebih Bernurani

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 12, 2025
in Esai
Merindukan Negeri Tanpa Partai: Refleksi tentang DPD, Musyawarah, dan Mimpi Demokrasi yang Lebih Bernurani

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di tengah hiruk pikuk politik Indonesia, satu kegelisahan yang semakin sering muncul adalah: benarkah demokrasi kita masih berada di tangan rakyat? Ataukah telah bergeser ke tangan sekelompok kecil elite, terutama para ketua umum partai? Pertanyaan ini mengemuka bukan sebagai keluhan dangkal, tetapi sebagai refleksi mendalam terhadap pengalaman panjang bangsa ini menjalankan demokrasi elektoral yang mahal, melelahkan, dan kadang terasa hampa dari nilai musyawarah sebagaimana diamanatkan Pancasila.

Dalam konteks itu, muncul kerinduan baru—atau mungkin lama—untuk membayangkan sebuah negeri tanpa partai, atau setidaknya tanpa dominasi partai politik dalam menentukan masa depan bangsa. Dalam bayangan tersebut, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) memegang posisi lebih sentral sebagai representasi autentik dari daerah. Secara reflektif, inilah ruang untuk direnungkan kembali: mungkinkah demokrasi Indonesia menemukan bentuk yang lebih sesuai dengan jati diri bangsa?

Demokrasi Kita: Kekuasaan di Tangan Rakyat atau Ketua Umum?

Realitas hari ini menunjukkan bahwa sistem demokrasi yang bertumpu pada partai politik telah mengalami distorsi. Secara teoritis, partai adalah instrumen rakyat. Namun secara praktis, kekuasaan seringkali terkonsentrasi pada figur ketua umum. Kandidat presiden, kepala daerah, bahkan calon legislatif kerap memerlukan “restu” dari mereka. Akibatnya, kekuasaan tidak lagi terdengar sebagai hasil kedaulatan rakyat, melainkan kedaulatan para elite partai.

Sistem seperti ini menciptakan ketergantungan finansial dan politik yang besar. Biaya politik menjadi tinggi, mulai dari pencalonan, kampanye, hingga konsolidasi internal. Rakyat hanya menjadi “pasar” yang didatangi setiap lima tahun, bukan subjek utama yang didengar dan diberdayakan.

Di sinilah muncul kerinduan pada model keterwakilan yang lebih jernih—yang tidak diikat loyalitas struktural partai, tetapi loyalitas pada daerah dan rakyat.

DPD sebagai Alternatif: Kembalinya Suara Daerah

Dewan Perwakilan Daerah hadir dengan spirit berbeda. Ia memotong jalur partai, memberikan ruang bagi putra-putri daerah untuk tampil tanpa harus membayar “mahar politik” atau tunduk pada struktur partai. Yang dipilih adalah figur, bukan merek partai. Yang dijual adalah rekam jejak, bukan logo bendera.

Secara moral, sistem seperti ini terasa lebih dekat dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Dalam konteks DPD, perwakilan itu benar-benar berasal dari daerah; bukan orang yang ditugaskan partai dari pusat, melainkan tokoh yang dikenal langsung oleh masyarakat. Mereka dipilih karena integritas, reputasi, dan kedekatannya dengan akar budaya setempat.

Di Bali, misalnya, terlihat jelas bagaimana anggota DPD yang benar-benar merupakan pilihan murni rakyat akan teruji oleh waktu. Jika tidak becus bekerja, mereka hanya bertahan satu periode. Tidak ada “jaminan kursi” dari partai, tidak ada mesin politik yang menopang secara artifisial. Ini seleksi alam politik yang lebih adil.

Pemilihan Presiden oleh DPD: Kembali pada Sila Keempat

Salah satu gagasan reflektif yang sering muncul adalah kemungkinan pemilihan presiden dilakukan oleh perwakilan DPD, bukan melalui pemilu langsung. Ada beberapa alasan:

  1. Pemilu langsung adalah warisan model demokrasi Barat, yang bertumpu pada kompetisi terbuka — dan tentu saja biaya yang sangat besar.
    Sistem ini sering kali menciptakan politik citra, bukan politik kinerja.
  2. Pancasila menekankan musyawarah dalam sila keempat.
    Musyawarah tidak selalu berarti semua warga harus memilih langsung. Yang dimaksud adalah keputusan diambil melalui representasi yang bijaksana, yang memahami aspirasi masyarakat.
  3. DPD sebagai representasi daerah mampu membawa suara lokal ke tingkat nasional.
    Jika presiden dipilih oleh perwakilan daerah, maka setiap suara daerah memiliki bobot yang lebih seimbang. Tidak ada dominasi populasi Jawa, atau dominasi mesin partai tertentu.
  4. Biaya politik dapat ditekan drastis.
    Tidak ada lagi kampanye akbar, perang baliho, perang buzzer, dan praktik-praktik yang menguras keuangan negara maupun kandidat.

Gagasan ini tentu tidak sempurna, tetapi layak direnungkan sebagai alternatif yang lebih sesuai dengan nilai kebersamaan dan kearifan kolektif Indonesia.

The Man Behind the Gun: Sistem Tidak Menjamin Moralitas

Namun, harus diakui pula bahwa sebaik apa pun sistemnya, kuncinya tetap the man behind the gun.
DPD bisa menjadi instrumen demokrasi yang sehat jika diisi oleh orang yang tepat. Sebaliknya, tanpa integritas, ia pun bisa terperosok ke dalam kubangan yang sama seperti DPR.

Demikian pula sistem partai tidak sepenuhnya buruk jika dikelola oleh figur-figur yang bermoral dan berkomitmen pada kepentingan rakyat. Tetapi melihat realita saat ini—praktik oligarki, dinasti politik, dan dominasi ketua umum—tidak mengherankan bila kepercayaan publik pada partai terus menurun.

Keunggulan Sistem DPD dibanding Sistem Partai

  1. Minim biaya politik
    Calon DPD tidak perlu membayar mahar politik kepada partai. Biaya kampanye pun lebih personal dan lokal.
  2. Lebih dekat dengan rakyat
    Mereka dipilih atas dasar kedekatan sosial dan reputasi di daerah, bukan manuver politik pusat.
  3. Representasi daerah yang otentik
    Setiap provinsi memiliki keterwakilan langsung tanpa distorsi kepentingan partai.
  4. Tidak ada loyalitas ganda
    Anggota DPD hanya bertanggung jawab pada rakyat dan konstitusi, bukan pada ketua umum.
  5. Seleksi alam lebih murni
    Jika tidak kinerja—langsung tersingkir pemilu berikutnya, tanpa ada “jaminan kursi.”

Kelemahan Sistem DPD yang Perlu Diakui

  1. Kewenangan masih sangat terbatas
    Dalam sistem sekarang, DPD tidak memiliki kekuatan legislasi penuh. Wacana memperkuatnya sering terganjal kepentingan DPR dan partai.
  2. Risiko munculnya figur populis
    Tanpa mekanisme kaderisasi seperti di partai, figur yang sekadar populer berpotensi menang.
  3. Potensi rivalitas antar-daerah
    Jika tidak diatur baik, representasi berbasis daerah bisa memicu gesekan kepentingan lokal.
  4. Kualitas calon bervariasi
    Tanpa penyaringan partai, kualitas personal bisa beragam, tergantung kesadaran pemilih.

Objektivitas inilah yang harus dijaga agar mimpi “negeri tanpa partai” tidak menjadi romantisme buta.

Membayangkan Masa Depan: Demokrasi yang Lebih Bernurani

Kerinduan akan negeri tanpa partai bukanlah penolakan terhadap demokrasi, melainkan kerinduan pada demokrasi yang lebih bernurani dan lebih Pancasilais.

Demokrasi yang bukan sekadar kompetisi uang, tetapi kompetisi gagasan.
Demokrasi yang bukan ditentukan oleh ketua umum, tetapi oleh suara masyarakat.
Demokrasi yang tidak terbelenggu mesin partai, tetapi mengalir dari akar budaya daerah.

Saat kita menengok DPD—dengan segala kekurangan dan kelebihannya—kita sebenarnya sedang menatap sebuah kemungkinan baru. Sebuah model demokrasi yang lebih jujur, lebih berakar pada musyawarah, dan lebih selaras dengan kepribadian bangsa. Aspirasi publik yang menguat tentang perlunya pembenahan bahkan pembubaran DPR menunjukkan keresahan mendalam terhadap dominasi partai politik yang dianggap semakin menjauh dari rakyat. Tentu, mewujudkan perubahan sebesar itu memerlukan revisi konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Pertanyaannya kemudian: bersediakah para elite yang telah nyaman duduk di kursi kekuasaan membuka pintu pembaruan? Inilah ujian moral politik kita hari ini.

Mungkin, suatu hari nanti, negeri tanpa dominasi partai politik bukan lagi sebuah utopia, melainkan kenyataan yang lahir dari kesadaran kolektif. Mungkin, pelan tetapi pasti, kita mulai memahami bahwa yang terpenting bukanlah rancangan sistemnya, melainkan manusia yang menjalankannya—mereka yang berani mengambil sikap, menjaga nurani, dan melakoni esensi pelayanan publik. Pelayanan bukan hanya kepada rakyat, tetapi juga kepada seluruh alam sebagai manifestasi Sang Ilahi, yang pantas dihormati dan dijaga tanpa pamrih. Di sanalah demokrasi sejati menemukan rumahnya—tenang, bening, dan penuh keadaban. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Partai Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PPIT Bali Kukuhkan Pengurus Baru dan Tegaskan Komitmen Pererat Persahabatan Indonesia–Tiongkok

Next Post

Kecak Dulu dan Kini

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kecak Dulu dan Kini

Kecak Dulu dan Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co