6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Pancasila Masih Ada atau Hanya Menjadi Ornamen Kekuasaan?

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
December 7, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

TRAGEDI ekologis di Sumatera membuka jendela gelap tentang bagaimana negara bekerja, bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai mesin kekuasaan yang mempertahankan dirinya sendiri. Ratusan manusia meregang nyawa, ribuan kehilangan rumah, dan desa-desa lenyap dari peta. Namun negara menolak mengakui status bencana nasional, seolah tragedi itu hanya gangguan kecil bagi stabilitas narasi pembangunan.

Dalam situasi semacam ini, pertanyaan yang selama ini dianggap tabu muncul kembali dengan lebih lantang:

Jika negara tak lagi menjalankan mandat moralnya, apa yang sebenarnya tersisa dari Pancasila?

Bagaimana mungkin sebuah negara menyebut dirinya “berketuhanan”, “berkemanusiaan”, dan “berkeadilan sosial” ketika ia bahkan enggan mengakui pekatnya duka rakyat sebagai bencana?

Negara yang Menolak Mengakui Luka Rakyatnya

Dalam teori representasi modern seperti yang dibahas dalam buku yang berjudul Representation in Crisis: The constitution, interest groups, and political parties oleh Ryden, D. K. (1996) dan karya yang ditulis oleh Salisbury, R. H. (1984) pada buku yang berjudul Interest representation: The dominance of institutions, menjelaskan bahwa negara pada titik tertentu dapat berhenti menjadi representasi rakyat dan bertransformasi menjadi regime interest-based,yaitu sebuah struktur yang bekerja terutama untuk kepentingan kelompok kecil dengan akses kekuasaan (Salisbury, 1984; Ryden, 1996).

Penolakan penetapan status bencana nasional bukan hanya keputusan administratif, melainkan penyangkalan terhadap kegagalan struktural. Pengakuan status itu berarti membuka pintu bagi evaluasi menyeluruh terhadap:

  • tata kelola lingkungan,
  • jejaring perizinan dan konsesi,
  • relasi negara terhadap korporasi,
  • serta akumulasi kekuasaan ekonomi-politik yang mengitari elite.

Karena itu, keengganan negara bukan sekadar kelalaian, tetapi pilihan politik. Diam berarti aman. Diam berarti kepentingan tak terganggu. Diam berarti narasi pembangunan tetap murni di mata publik.

Namun diam juga berarti satu hal lagi, yaitu:

Negara telah berhenti mendengar jeritan rakyatnya.

Ketika Ekologi Diperdagangkan, Manusia Menjadi Sampingan

Kerusakan ekologis di Sumatera bukanlah bencana alam semata, melainkan akumulasi panjang dari kebijakan ekstraktif. Studi WALHI, CIFOR, dan berbagai riset akademik menunjukkan bahwa ekspansi perkebunan sawit, tambang batubara, dan pembalakan hutan adalah penyumbang terbesar terhadap kerentanan banjir dan longsor (Abubakar, Ishak and Makmom, 2021; Lubis, Linkie and Lee, 2024).

Dalam paradigma developmentalism yang dominan sejak Orde Baru, kemajuan direduksi menjadi:

  • volume investasi,
  • panjang jalan baru,
  • jumlah konsesi industri,
  • dan grafik pertumbuhan kuartalan.

UU Cipta Kerja menjadi penanda paling telanjang dari ideologi tersebut. Penelitian seperti Wibisana, K. (2025) menegaskan bahwa omnibus law itu merupakan bagian dari “politik akumulasi” yang menggeser negara dari pelindung publik menjadi fasilitator modal (Wibisana, 2025). Prosedur pembuatan yang minim deliberasi memperlihatkan bagaimana DPR memilih posisi sebagai notaris kepentingan modal. Publik pun wajar bertanya:

Apakah hukum masih melindungi manusia, atau kini manusialah yang harus tunduk pada hukum yang memihak modal?

Republik Pencitraan

Setiap tragedi memperlihatkan watak asli kekuasaan. Alih-alih hadir dengan empati, sejumlah pejabat tampil dengan pujian hiperbolik kepada penguasa, bahkan saat warga masih berkabung. Adegan bupati yang memuja Presiden di tengah lokasi pengungsian bukan sekadar tindakan individu, bahwa itu adalah gejala struktural dari politics of performativity (Rose, 2002; Reed, 2013).

Teori political personalization menjelaskan bahwa dalam demokrasi elektoral modern, pejabat semakin terdorong untuk menunjukkan kesetiaan simbolik, bukan kinerja (Caprara, 2007; Garzia, 2011). Dalam konteks Indonesia, fenomena ini diperparah oleh:

  • Logika patronase, yang membuat pejabat daerah bergantung pada pusat untuk akses anggaran.
  • Ekosistem buzzer, yang berfungsi bukan untuk menyampaikan informasi, tetapi untuk membentuk persepsi.
  • Komodifikasi duka, di mana lokasi bencana menjadi latar ideal untuk pencitraan kemanusiaan.

Adapun dalam buku yang berjudul Social Media and Opinion Formation Through Buzzers,  dan artikel penelitian yang berjudul Penggunaan Buzzer dalam Hegemoni Pemerintahan Joko Widodo  telah menyingkap bagaimana struktur buzzer bekerja secara terorganisasi, yaitu membungkam kritik, memviralkan pujian, dan memaksakan narasi pemerintah telah bekerja keras (Abbiyyu and Nindyaswari, 2022; Budiawan, n.d.).

Maka tragedi pun berubah menjadi panggung. Puing-puing rumah menjadi dekorasi. Rakyat yang kehilangan anaknya menjadi figur tambahan. Duka menjadi konten. Dan publik pun mulai bertanya:

Apa arti Pancasila jika pejabat lebih sibuk memuja kekuasaan daripada memulihkan kehidupan warganya?

Ketika Pancasila Tidak Lagi Dihayati

Pancasila menjadi mantra yang sering diucapkan tetapi jarang diwujudkan. Dalam Civic Virtue Theory, nilai publik hanya hidup jika dipraktikkan secara konsisten oleh pemegang kekuasaan (Audi, 1998). Namun bagaimana rakyat percaya bahwa Pancasila masih hidup ketika:

  • air mata warga tak cukup untuk menggerakkan negara,
  • tanah ulayat digusur demi konsesi,
  • hutan ditebang demi ekspansi industri,
  • dan hak rakyat diperlakukan sebagai hambatan pembangunan?

Ketika nilai-nilai dasar bangsa tidak lagi dihayati, Pancasila turun derajat menjadi ornamen kekuasaan, bukan pedoman moral negara. Dan di sinilah muncul pertanyaan:

Jika negara tak lagi mempraktikkan Pancasila, siapa sesungguhnya yang mengkhianati ideologi bangsa—rakyat atau pemerintahannya?

Revolusi Senjata?

Kekecewaan publik sering melahirkan kata-kata keras, yaitu revolusi, kudeta, penggulingan kekuasaan. Namun sejarah politik, dari Eropa Timur hingga Korea Selatan, menunjukkan bahwa perubahan yang langgeng lahir dari shifts in moral legitimacy, bukan dari kekerasan.

Negara dapat bertahan dengan hukum.
Tetapi negara runtuh ketika kehilangan legitimasi moral.

Hari ini, erosi legitimasi itu terlihat:

di media sosial,
di ruang publik,
di desa-desa yang kehilangan keluarga,
dan di kota-kota yang mulai merasakan bahwa bencana ekologis tak lagi jauh.

Yang dibutuhkan bukan mengganti ideologi, melainkan mengambil kembali Pancasila dari tangan mereka yang menjadikannya slogan untuk menutupi kegagalan.

Ini bukan revolusi untuk menghancurkan negara.
Ini revolusi untuk memulihkan negara.
Revolusi etika.
Revolusi keberanian.
Revolusi warga untuk menuntut negara kembali menjadi milik publik.

Penutup

Bencana Sumatera memperlihatkan bagaimana negara kini beroperasi, yaitu mempertahankan stabilitas politik, melindungi jejaring bisnis, dan mengatur persepsi melalui pencitraan dan buzzer. Namun nilai-nilai bangsa tidak lahir dari istana, namun nilai itu lahir dari rakyat.

Jika negara gagal menjalankan Pancasila, itu bukan berarti Pancasila mati.
Itu berarti rakyatlah yang kini harus menjadi penjaga terakhirnya.
Karena ideologi hanya hidup sejauh ia diwujudkan.
Dan bila negara berhenti merawatnya, rakyatlah yang harus mengambil alih tugas itu.

Referensi

Abbiyyu, M.D. and Nindyaswari, D.A., 2022. Penggunaan Buzzer dalam Hegemoni Pemerintahan Joko Widodo. Langgas: Jurnal Studi Pembangunan, 1(2), pp.70–81.

Abubakar, A., Ishak, M.Y. and Makmom, A.A., 2021. Impacts of and adaptation to climate change on the oil palm in Malaysia: a systematic review. Environmental Science and Pollution Research, 28(39), pp.54339–54361.

Audi, R., 1998. A liberal theory of civic virtue. Social Philosophy and Policy, 15(1), pp.149–170.

Budiawan, S., n.d. Social Media and Opinion Formation Through Buzzers. Penerbit Adab.

Caprara, G.V., 2007. The personalization of modern politics. European review, 15(2), pp.151–164.

Garzia, D., 2011. The personalization of politics in Western democracies: Causes and consequences on leader–follower relationships. The Leadership Quarterly, 22(4), pp.697–709.

Lubis, M.I., Linkie, M. and Lee, J.S.H., 2024. Tropical forest cover, oil palm plantations, and precipitation drive flooding events in Aceh, Indonesia, and hit the poorest people hardest. Plos one, 19(10), p.e0311759.

Reed, I.A., 2013. Power: Relational, discursive, and performative dimensions. Sociological Theory, 31(3), pp.193–218.

Rose, M., 2002. The seductions of resistance: power, politics, and a performative style of systems. Environment and Planning D: Society and Space, 20(4), pp.383–400.

Ryden, D.K., 1996. Representation in Crisis: The constitution, interest groups, and political parties. State University of New York Press.

Salisbury, R.H., 1984. Interest representation: The dominance of institutions. American political science review, 78(1), pp.64–76.

Wibisana, K., 2025. Kebijakan Publik di Indonesia sebagai Alat Kepentingan Kapitalis. Jurnal Sosial dan Sains (SOSAINS), 5(5).

Tags: ekologinegarapancasila
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dharma Tula di Makassar: Ruang Bertanya, Ruang Bertumbuh bagi Umat Hindu di Perantauan

Next Post

Merindukan Kehidupan Berhala

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Merindukan Kehidupan Berhala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co