Dalam perjalanan panjang sebuah kapal, selalu ada tokoh yang menjaga arah layar, meski tidak selalu tampak di mata para penumpang. Dalam dunia pendidikan Bali, sosok itu bernama Dr. KN. Boy Jayawibawa. Sejak awal memimpin Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali, Pak Boy membawa kapal besar bernama pendidikan menengah melintasi gelombang perubahan zaman yang tidak mudah.
Sejak memimpin pendidikan SMA, SMK, dan SLB Bali mengalami masa yang penuh perubahan: transformasi digital, tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif, dinamika demografi, perubahan karakter generasi muda, hingga fenomena sosial yang mempengaruhi dunia anak dan remaja. Justru pada masa penuh turbulensi itulah, Bali mencatatkan diri sebagai salah satu provinsi dengan capaian pendidikan yang sangat baik di Indonesia.

Salah satu jejak keberhasilan paling mencolok dalam dua tahun terakhir adalah SMK Fest. SMK Fest bukan sekadar sukses penyelenggaraan, tetapi juga sukses mengangkat peringkat SMK Bali secara nasional. Event ini bukan pula sekadar perlombaan, tetapi ruang unjuk kompetensi riil siswa Bali di hadapan dunia industri. Berbagai cabang lomba—hospitality, teknologi informasi, kuliner, agribisnis, desain komunikasi visual, otomotif, animasi, dan lainnya—melahirkan para finalis dan juara nasional dari Bali.
Gaung SMK Fest yang digelar di Bali dalam dua tahun terakhir ini pula membuat provinsi ini menjadi sorotan nasional. Banyak provinsi kini menjadikan Bali sebagai model penyelenggaraan kompetisi vokasi berbasis kolaborasi industri. Tidak sedikit pula industri nasional yang akhirnya membuka jalur rekrutmen khusus untuk lulusan SMK Bali. Inilah sebuah pengakuan yang lahir dari kerja nyata, bukan slogan.
Warisan penting lainnya dari masa kepemimpinan Dr. Boy adalah kebijakan keseimbangan antara sekolah negeri dan swasta. Di banyak wilayah, dulunya sekolah swasta selalu tertinggal dalam dukungan sarpras, kualitas guru, dan manajemen kelembagaan. Namun dengan pendekatan yang merangkul, regulasi dibangun baru, bukan mendominasi, sehingga menjadikan ekosistem pendidikan Bali tumbuh lebih merata.

Beberapa poin terlihat nyata, sekolah swasta mulai memiliki kualitas sarana yang bersaing dengan negeri, guru-guru swasta mendapatkan ruang pembinaan yang setara, sistem manajemen dan layanan pendidikan semakin profesional. Orang tua mulai melihat sekolah swasta bukan sebagai “pilihan cadangan”, tetapi sebagai alternatif sejajar.
Dengan penambahan Unit Sekolah Baru (USB) dan penataan zonasi, akses pendidikan juga semakin merata—mencegah penumpukan siswa pada sekolah tertentu dan menciptakan ekosistem yang lebih sehat secara kompetitif.
Bali dalam beberapa tahun terakhir bukan hanya mengikuti kompetisi nasional—tetapi konsisten memenangkannya. Deretan prestasi hadir, baik dari FLS2N (film fiksi, tari, teater, kriya, musik tradisional), O2SN (atletik, renang, bela diri, dan lainnya), LKS dengan berbagai bidang unggulan sampai kompetisi inovasi, literasi, teknologi, dan seni lainnya. Prestasi yang bertabur ini mencerminkan fondasi pembinaan yang kuat, perencanaan yang terukur, dan kepemimpinan yang jelas arah.
Di sisi lain, keberhasilan Bali dalam Tracer Study dan Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) tidak bisa diabaikan. Dalam dua instrumen nasional ini, Bali selalu menempati posisi atas. Capaian tersebut bukan hanya ukuran angka-angka. Lebih dari itu, menunjukkan bahwa lulusan SMK Bali terserap dunia kerja, berwirausaha, atau melanjutkan pendidikan dengan sangat baik. Lingkungan belajar di sekolah-sekolah pun dinilai kondusif, suportif, dan sejalan dengan prinsip pembelajaran. Indikator-indikator tersebut menjadi bukti objektif bahwa sistem pendidikan Bali bergerak menuju arah yang lebih baik—bukan sekadar klaim, tetapi terukur melalui instrumen standar nasional.

Kini, ketika sang nahkoda meninggalkan kapalnya, kapal besar bernama Pendidikan Bali tidak sedang terombang-ambing. Ia tengah melaju dengan arah yang sudah jelas, fondasi yang kuat, dan awak yang terlatih. Jejak yang ditinggalkan adalah struktur, budaya kerja, prestasi, serta reputasi. Dari sana, publik dapat jujur menyimpulkan bahwa kepemimpinan Pak Boy bukan sekadar hadir—tetapi bekerja, membangun, dan meninggalkan warisan yang nyata.
Lain daripada itu, tidak ada isu yang lebih sensitif di dunia pendidikan selain PPDB/SPMB. PPDB sering diwarnai polemik publik, ketidakjelasan informasi, hingga masuknya tekanan berbagai kepentingan. Di bawah kepemimpinan Dr. Boy, kerumitan sistem ini ditata ulang. Mekanisme diperbaiki, kanal aduan dibuat lebih ramah, dan koordinasi antara sekolah dan dinas berjalan lebih rapi. PPDB tidak mungkin bebas dari dinamika, tetapi kini Bali menikmati proses yang lebih tertib, lebih transparan, dan lebih manusiawi.
Yang membuat insan pendidikan Bali merasa benar-benar ditinggalkan dan dirasakan dalam jejak yang sangat mendalam bukan hanya prestasi angka, tetapi gaya kepemimpinannya. Dr. Boy tidak pernah membentak staf, tidak mempermalukan bawahan di ruang rapat, dan tidak memainkan wibawa dengan suara keras. Beliau hadir dengan ketenangan, santun, rasional, dan memberi rasa aman kepada semua yang bekerja bersamanya.
Di banyak kesempatan, ketika ketegangan rapat meningkat, beliau menurunkannya dengan satu kalimat jernih. Ketegasan tanpa intimidasi. Itulah yang membuatnya sangat dihormati, bukan ditakuti, pemimpin humanis yang dirindukan.
Ternyata, dalam birokrasi pendidikan, kita sering baru menyadari bahwa betapa pentingnya sosok seorang pemimpin ketika hari perpisahan tiba. Pendidikan Bali merasakan getaran itu kini, ketika Dr. KN. Boy Jayawibawa memasuki masa purna tugas sebagai Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Provinsi Bali. Sosok yang selama lima tahun terakhir menjadi jangkar ketenangan dan ketertiban sistem pendidikan kini bersiap meninggalkan geladak kapal yang selama ini beliau kemudikan.

Momen yang cukup bersejarah telah tercatat dalam perjalanan Sang Nahkoda Pendidikan Bali ketika dilakukan acara Pelepasan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Provinsi bali, Bapak Dr. KN Boy Jayawibawa. Acara yang berlangsung di Aula SMKN 5 Denpasar pada 22 November 2025 tersebut dihadiri oleh para pejabat Disdikpora, Pengawas dan Kepala SMA, SMK dan SLB Provinsi Bali. Suasana acara penuh kehangatan. Ruangan itu dipenuhi wajah-wajah yang menyimpan rasa bangga sekaligus kehilangan. Kesan dan pesan disampaikan secara bergantian oleh Koordinator Pengawas Provinsi Bali, Kabid SMK, yang sekaligus mewakili satuan pendidikan.
Suasana benar-benar hening ketika tiba giliran Bapak Boy menyampaikan sambutannya. Tidak ada kalimat yang berlebihan, tidak ada retorika yang dibuat-buat; hanya ketulusan seorang pemimpin yang telah memberikan seluruh energinya bagi kemajuan pendidikan Bali. Banyak yang tertegun, seolah menyaksikan bab terakhir dari sebuah kepemimpinan yang selama ini berjalan sunyi tetapi berdampak begitu nyata. Dalam keramahannya ada keteduhan, dalam tutur katanya ada keteguhan, dan dalam setiap jedanya terasa betapa besar cinta beliau pada dunia pendidikan yang kini bersiap beliau tinggalkan.
Kini, per 30 November 2025 Sang Nahkoda kini berlabuh, beliau mengakhiri masa tugasnya sebagai ASN. Ruang pendidikan Bali tentu terasa berbeda. Ada hening yang muncul perlahan, hening yang menandakan rasa kehilangan. Walau terasa berat, namun kepergian pemimpin bukanlah akhir dari perjalanan kapal. Justru inilah momen bagi para awak untuk menjaga arah layar sesuai nilai-nilai yang sudah diwariskan.
Selama ini, kapal pendidikan Bali telah dipandu dengan arah yang jelas dan telah melahirkan perubahan besar. Inilah kepemimpinan yang menumbuhkan kepercayaan pada masa depan pendidikan Bali. Sang nahkoda mungkin boleh saja meninggalkan kapal. Namun kompas yang ditinggalkan akan terus memandu perjalanan kapal menuju ke pelabuhan berikutnya.
Sehat selalu, Pak Boy. We love you full! [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole



























