13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru: Masihkah “Digugu” dan Ditiru? —Catatan Hari Guru

Chusmeru by Chusmeru
November 25, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

 ALMARHUMAH ibu saya seorang guru sekolah dasar (SD) negeri di tahun 1950 – hingga tahun 1990-an. Ayah seorang pegawai swasta. Mereka harus menghidupi dan menyekolahkan empat orang anak pada zamannya. Apakah saya bangga kepada kedua orang tua saya? Tentu saja sangat bangga.

Hanya menamatkan Sekolah Guru B (SGB) saat itu, ibu saya dapat menjadi guru. SGB adalah jenis pendidikan guru yang berkembang di awal kemerdekaan Indonesia untuk memenuhi kekurangan guru di tingkat sekolah dasar. Waktu tempuh pendidikan selama empat tahun, setelah lulus sekolah rakyat (SR) atau setingkat SD sekarang.

Menjadi anak seorang guru pada waktu itu merupakan kebanggaan tersendiri. Di kampung saya, di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, profesi guru dapat dihitung dengan jari. Seorang guru sangat disegani dan dihormati. Panggilan “Bu Guru” orang-orang di kampung kepada ibu saya merupakan sebutan yang mulia, meski bukan seorang priyayi berdarah biru.

Apresiasi masyarakat saat itu kepada guru sudah tentu tak terlepas dari kiprah guru, sehingga muncul anggapan guru adalah akronim digugu dan ditiru. Guru adalah sosok yang patut dipercaya dan ditiru perilakunya. Kredibilitas guru sebagai komunikator kala itu setara dengan tokoh masyarakat lain. Nyaris, banyak pertanyaan dari masyarakat tentang isu-isu tertentu ditanyakan kepada seorang guru, karena guru dianggap mampu menjawabnya.

Guru Dahulu

Apakah guru zaman dahulu digugu, dipercaya oleh murid-muridnya? Sangat dipercaya. Saat SD dulu, nyaris tak ada pertanyaan kritis kepada guru tentang pelajaran yang diberikan di kelas. Murid percaya apa pun yang disampaikan guru. Pertanyaan hanya muncul ketika murid memang kurang paham tentang materi yang diajarkan.

Apakah guru waktu dahulu patut ditiru? Tidak pernah ada cela pada sosok guru di masa lalu. Guru adalah panutan. Guru juga sosok yang sangat patuh pada aturan pemerintah. Tidak pernah ada guru yang berani mengkritik kebijakan pemerintah. Guru juga menurut saja ketika setiap Pemilu harus mencoblos Golongan Karya (Golkar), partai berkuasa milik rezim Orde Baru. Tidak loyal kepada Golkar bisa berakibat dipecat dari pegawai negeri.

Apakah guru dulu berwibawa? Bukan hanya berwibawa, tetapi juga disegani dan ditakuti. Murid akan takut jika guru marah. Murid yang nakal atau bandel akan dijewer, dihukum berdiri di depan kelas, dilempar penghapus, atau dipukul pakai tuding (stik panjang terbuat dari rotan atau bambu). Tidak ada murid yang melawan, tidak ada yang menangis karena dipukul, tidak ada orang tua murid yang protes. Semua dilakukan guru karena untuk menjaga kewibawaan dan disiplin murid.

Apakah guru zaman dahulu hidup sejahtera? Tunggu dulu. Ukuran kesejahteraan sangat relatif. Jika sejahtera dibandingkan dengan buruh tani atau kuli bangunan, mungkin benar. Tapi jika sejahtera merujuk pada kecukupan materi, kecukupan sandang, papan, dan pangan, pastinya tidak. Hidup guru sangatlah prihatin. Jangankan mobil, sepeda motor pun kami tak punya. Sepeda gayung hanya satu yang kami miliki. Ibu pun berangkat kerja ke sekolah dengan jalan kaki.

Kurun waktu 1960 – 1970 kehidupan ekonomi guru sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sangatlah memprihatinkan. Saya tidak tahu persis berapa gaji ibu saat itu. Rumah yang kami tempati adalah hasil utang orang tua ke bank. Belanja ke warung untuk makan sehari-hari, kadang ibu harus berutang pula. Termasuk biaya sekolah dan kuliah anak-anak kelak, semua dari utang.

Sebagai anak seorang guru, saya pernah mengantre membeli minyak tanah di toko sembako di zaman Orde Baru. Makan sehari-harinya pun jauh dari kata bergizi. Bahkan pernah beberapa kali makan hanya berupa nasi putih yang dicampur dengan parutan kelapa diberi garam. Kami pun sering puasa Senin – Kamis; bukan semata karena Sunah Rasul, tetapi juga untuk menghemat biaya hidup. Tidak ada yang mengeluh dari kami sekeluarga; dan saya tetap bangga menjadi anak seorang guru.

Guru Kini

Apakah guru saat ini masih digugu? Semestinya guru kini sangat dipercaya. Guru SD, SMP, dan SMA kini berpendidikan tinggi. Bahkan kini banyak guru SD yang berpendidikan hingga jenjang strata 2 (S2) atau magister. Murid-murid di era kekinian sangatlah kritis. Guru akan malu dan dipermalukan jika tak mampu menjawab pertanyaan murid.

 Apakah guru kini masih patut ditiru? Semestinya masih. Mengingat latar belakang pendidikan guru saat ini yang jauh lebih baik dibanding guru zaman dahulu. Guru kini juga menjadi sosok yang merdeka. Tidak ada lagi kewajiban guru untuk loyal pada partai politik penguasa.  Guru bebas untuk memilih calon presiden siapa pun.

Begitu merdeka profesi guru, sehingga persoalan moralitas menjadi tantangan. Tidak sedikit guru yang kini berjoget ria di tiktok atau instagram. Beberapa kasus asusila menimpa oknum guru, begitu pun kasus pidana. Meski sebagian besar, dan tentu masih lebih banyak guru yang bermoral dan berprestasi yang layak untuk ditiru.

Apakah guru kekinian masih berwibawa? Inilah problematikanya. Banyak guru yang kehilangan kewibawaan lantaran respons murid dan orang tua, ekspektasi murid dan orang tua, serta perilaku murid dan orang tua yang berbeda antara dahulu dan sekarang. Guru kini tidak lagi dapat membentak murid seenaknya. Guru yang menampar, apalagi memukul murid akan dituntut dan dilaporkan polisi oleh orang tua murid dengan tuduhan melakukan tindak kekerasan.

Apakah guru saat ini sejahtera? Ini pun relatif ukuran kesejahteraannya. Membandingkan kesejahteraan guru zaman dahulu dengan sekarang tentu tidak adil. Variabel waktu berubah. Variabel kebijakan pemerintah dan tingkat pertumbuhan ekonomi negara juga berubah. Andai pun guru saat ini lebih sejahtera tentu wajar, dan sudah semestinya dengan melihat kemuliaan profesinya.

Guru kini mendapat beragam tunjangan. Selain tunjangan makan, tunjangan anak, tunjangan suami/istri, dan tunjangan kesehatan, guru juga mendapat tunjangan sertifikasi, tunjangan kinerja daerah, dan tunjangan profesi guru (TPG). Maka kisah pilu seorang guru pegawai negeri sipil semestinya tidak terjadi lagi. Guru dapat memiliki rumah yang bagus, sepeda motor, bahkan mobil yang mengantarkannya ke sekolah.

Anak-anak guru saat ini pasti juga lebih bangga kepada orang tua mereka. Begitu pun murid-murid lain yang bersekolah di zaman sekarang. Mereka tidak lagi hidup prihatin. Sandang , pangan, papan tercukupi. Tidak ada lagi cerita anak seorang guru yang harus makan nasi dicampur parutan kelapa dan garam. Apalagi pemerintah juga memberi tambahan asupan makan bergizi gratis kepada murid-murid yang sudah kecukupan makannya.

Hari ini, tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Masihkah guru digugu dan ditiru? Sepertinya perlu menunggu jawaban 10 atau 20 tahun kemudian. Tapi, saya tetap bangga menjadi anak guru, dan bangga kepada semua guru. Selamat Hari Guru Nasional. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruHari Guru Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Mudah Menjadi Guru

Next Post

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Dari Slogan Tahunan Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Dari Slogan Tahunan Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co