2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru: Masihkah “Digugu” dan Ditiru? —Catatan Hari Guru

Chusmeru by Chusmeru
November 25, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

 ALMARHUMAH ibu saya seorang guru sekolah dasar (SD) negeri di tahun 1950 – hingga tahun 1990-an. Ayah seorang pegawai swasta. Mereka harus menghidupi dan menyekolahkan empat orang anak pada zamannya. Apakah saya bangga kepada kedua orang tua saya? Tentu saja sangat bangga.

Hanya menamatkan Sekolah Guru B (SGB) saat itu, ibu saya dapat menjadi guru. SGB adalah jenis pendidikan guru yang berkembang di awal kemerdekaan Indonesia untuk memenuhi kekurangan guru di tingkat sekolah dasar. Waktu tempuh pendidikan selama empat tahun, setelah lulus sekolah rakyat (SR) atau setingkat SD sekarang.

Menjadi anak seorang guru pada waktu itu merupakan kebanggaan tersendiri. Di kampung saya, di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, profesi guru dapat dihitung dengan jari. Seorang guru sangat disegani dan dihormati. Panggilan “Bu Guru” orang-orang di kampung kepada ibu saya merupakan sebutan yang mulia, meski bukan seorang priyayi berdarah biru.

Apresiasi masyarakat saat itu kepada guru sudah tentu tak terlepas dari kiprah guru, sehingga muncul anggapan guru adalah akronim digugu dan ditiru. Guru adalah sosok yang patut dipercaya dan ditiru perilakunya. Kredibilitas guru sebagai komunikator kala itu setara dengan tokoh masyarakat lain. Nyaris, banyak pertanyaan dari masyarakat tentang isu-isu tertentu ditanyakan kepada seorang guru, karena guru dianggap mampu menjawabnya.

Guru Dahulu

Apakah guru zaman dahulu digugu, dipercaya oleh murid-muridnya? Sangat dipercaya. Saat SD dulu, nyaris tak ada pertanyaan kritis kepada guru tentang pelajaran yang diberikan di kelas. Murid percaya apa pun yang disampaikan guru. Pertanyaan hanya muncul ketika murid memang kurang paham tentang materi yang diajarkan.

Apakah guru waktu dahulu patut ditiru? Tidak pernah ada cela pada sosok guru di masa lalu. Guru adalah panutan. Guru juga sosok yang sangat patuh pada aturan pemerintah. Tidak pernah ada guru yang berani mengkritik kebijakan pemerintah. Guru juga menurut saja ketika setiap Pemilu harus mencoblos Golongan Karya (Golkar), partai berkuasa milik rezim Orde Baru. Tidak loyal kepada Golkar bisa berakibat dipecat dari pegawai negeri.

Apakah guru dulu berwibawa? Bukan hanya berwibawa, tetapi juga disegani dan ditakuti. Murid akan takut jika guru marah. Murid yang nakal atau bandel akan dijewer, dihukum berdiri di depan kelas, dilempar penghapus, atau dipukul pakai tuding (stik panjang terbuat dari rotan atau bambu). Tidak ada murid yang melawan, tidak ada yang menangis karena dipukul, tidak ada orang tua murid yang protes. Semua dilakukan guru karena untuk menjaga kewibawaan dan disiplin murid.

Apakah guru zaman dahulu hidup sejahtera? Tunggu dulu. Ukuran kesejahteraan sangat relatif. Jika sejahtera dibandingkan dengan buruh tani atau kuli bangunan, mungkin benar. Tapi jika sejahtera merujuk pada kecukupan materi, kecukupan sandang, papan, dan pangan, pastinya tidak. Hidup guru sangatlah prihatin. Jangankan mobil, sepeda motor pun kami tak punya. Sepeda gayung hanya satu yang kami miliki. Ibu pun berangkat kerja ke sekolah dengan jalan kaki.

Kurun waktu 1960 – 1970 kehidupan ekonomi guru sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sangatlah memprihatinkan. Saya tidak tahu persis berapa gaji ibu saat itu. Rumah yang kami tempati adalah hasil utang orang tua ke bank. Belanja ke warung untuk makan sehari-hari, kadang ibu harus berutang pula. Termasuk biaya sekolah dan kuliah anak-anak kelak, semua dari utang.

Sebagai anak seorang guru, saya pernah mengantre membeli minyak tanah di toko sembako di zaman Orde Baru. Makan sehari-harinya pun jauh dari kata bergizi. Bahkan pernah beberapa kali makan hanya berupa nasi putih yang dicampur dengan parutan kelapa diberi garam. Kami pun sering puasa Senin – Kamis; bukan semata karena Sunah Rasul, tetapi juga untuk menghemat biaya hidup. Tidak ada yang mengeluh dari kami sekeluarga; dan saya tetap bangga menjadi anak seorang guru.

Guru Kini

Apakah guru saat ini masih digugu? Semestinya guru kini sangat dipercaya. Guru SD, SMP, dan SMA kini berpendidikan tinggi. Bahkan kini banyak guru SD yang berpendidikan hingga jenjang strata 2 (S2) atau magister. Murid-murid di era kekinian sangatlah kritis. Guru akan malu dan dipermalukan jika tak mampu menjawab pertanyaan murid.

 Apakah guru kini masih patut ditiru? Semestinya masih. Mengingat latar belakang pendidikan guru saat ini yang jauh lebih baik dibanding guru zaman dahulu. Guru kini juga menjadi sosok yang merdeka. Tidak ada lagi kewajiban guru untuk loyal pada partai politik penguasa.  Guru bebas untuk memilih calon presiden siapa pun.

Begitu merdeka profesi guru, sehingga persoalan moralitas menjadi tantangan. Tidak sedikit guru yang kini berjoget ria di tiktok atau instagram. Beberapa kasus asusila menimpa oknum guru, begitu pun kasus pidana. Meski sebagian besar, dan tentu masih lebih banyak guru yang bermoral dan berprestasi yang layak untuk ditiru.

Apakah guru kekinian masih berwibawa? Inilah problematikanya. Banyak guru yang kehilangan kewibawaan lantaran respons murid dan orang tua, ekspektasi murid dan orang tua, serta perilaku murid dan orang tua yang berbeda antara dahulu dan sekarang. Guru kini tidak lagi dapat membentak murid seenaknya. Guru yang menampar, apalagi memukul murid akan dituntut dan dilaporkan polisi oleh orang tua murid dengan tuduhan melakukan tindak kekerasan.

Apakah guru saat ini sejahtera? Ini pun relatif ukuran kesejahteraannya. Membandingkan kesejahteraan guru zaman dahulu dengan sekarang tentu tidak adil. Variabel waktu berubah. Variabel kebijakan pemerintah dan tingkat pertumbuhan ekonomi negara juga berubah. Andai pun guru saat ini lebih sejahtera tentu wajar, dan sudah semestinya dengan melihat kemuliaan profesinya.

Guru kini mendapat beragam tunjangan. Selain tunjangan makan, tunjangan anak, tunjangan suami/istri, dan tunjangan kesehatan, guru juga mendapat tunjangan sertifikasi, tunjangan kinerja daerah, dan tunjangan profesi guru (TPG). Maka kisah pilu seorang guru pegawai negeri sipil semestinya tidak terjadi lagi. Guru dapat memiliki rumah yang bagus, sepeda motor, bahkan mobil yang mengantarkannya ke sekolah.

Anak-anak guru saat ini pasti juga lebih bangga kepada orang tua mereka. Begitu pun murid-murid lain yang bersekolah di zaman sekarang. Mereka tidak lagi hidup prihatin. Sandang , pangan, papan tercukupi. Tidak ada lagi cerita anak seorang guru yang harus makan nasi dicampur parutan kelapa dan garam. Apalagi pemerintah juga memberi tambahan asupan makan bergizi gratis kepada murid-murid yang sudah kecukupan makannya.

Hari ini, tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Masihkah guru digugu dan ditiru? Sepertinya perlu menunggu jawaban 10 atau 20 tahun kemudian. Tapi, saya tetap bangga menjadi anak guru, dan bangga kepada semua guru. Selamat Hari Guru Nasional. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruHari Guru Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Mudah Menjadi Guru

Next Post

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Dari Slogan Tahunan Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Dari Slogan Tahunan Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co