2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru: Masihkah “Digugu” dan Ditiru? —Catatan Hari Guru

Chusmeru by Chusmeru
November 25, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

 ALMARHUMAH ibu saya seorang guru sekolah dasar (SD) negeri di tahun 1950 – hingga tahun 1990-an. Ayah seorang pegawai swasta. Mereka harus menghidupi dan menyekolahkan empat orang anak pada zamannya. Apakah saya bangga kepada kedua orang tua saya? Tentu saja sangat bangga.

Hanya menamatkan Sekolah Guru B (SGB) saat itu, ibu saya dapat menjadi guru. SGB adalah jenis pendidikan guru yang berkembang di awal kemerdekaan Indonesia untuk memenuhi kekurangan guru di tingkat sekolah dasar. Waktu tempuh pendidikan selama empat tahun, setelah lulus sekolah rakyat (SR) atau setingkat SD sekarang.

Menjadi anak seorang guru pada waktu itu merupakan kebanggaan tersendiri. Di kampung saya, di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, profesi guru dapat dihitung dengan jari. Seorang guru sangat disegani dan dihormati. Panggilan “Bu Guru” orang-orang di kampung kepada ibu saya merupakan sebutan yang mulia, meski bukan seorang priyayi berdarah biru.

Apresiasi masyarakat saat itu kepada guru sudah tentu tak terlepas dari kiprah guru, sehingga muncul anggapan guru adalah akronim digugu dan ditiru. Guru adalah sosok yang patut dipercaya dan ditiru perilakunya. Kredibilitas guru sebagai komunikator kala itu setara dengan tokoh masyarakat lain. Nyaris, banyak pertanyaan dari masyarakat tentang isu-isu tertentu ditanyakan kepada seorang guru, karena guru dianggap mampu menjawabnya.

Guru Dahulu

Apakah guru zaman dahulu digugu, dipercaya oleh murid-muridnya? Sangat dipercaya. Saat SD dulu, nyaris tak ada pertanyaan kritis kepada guru tentang pelajaran yang diberikan di kelas. Murid percaya apa pun yang disampaikan guru. Pertanyaan hanya muncul ketika murid memang kurang paham tentang materi yang diajarkan.

Apakah guru waktu dahulu patut ditiru? Tidak pernah ada cela pada sosok guru di masa lalu. Guru adalah panutan. Guru juga sosok yang sangat patuh pada aturan pemerintah. Tidak pernah ada guru yang berani mengkritik kebijakan pemerintah. Guru juga menurut saja ketika setiap Pemilu harus mencoblos Golongan Karya (Golkar), partai berkuasa milik rezim Orde Baru. Tidak loyal kepada Golkar bisa berakibat dipecat dari pegawai negeri.

Apakah guru dulu berwibawa? Bukan hanya berwibawa, tetapi juga disegani dan ditakuti. Murid akan takut jika guru marah. Murid yang nakal atau bandel akan dijewer, dihukum berdiri di depan kelas, dilempar penghapus, atau dipukul pakai tuding (stik panjang terbuat dari rotan atau bambu). Tidak ada murid yang melawan, tidak ada yang menangis karena dipukul, tidak ada orang tua murid yang protes. Semua dilakukan guru karena untuk menjaga kewibawaan dan disiplin murid.

Apakah guru zaman dahulu hidup sejahtera? Tunggu dulu. Ukuran kesejahteraan sangat relatif. Jika sejahtera dibandingkan dengan buruh tani atau kuli bangunan, mungkin benar. Tapi jika sejahtera merujuk pada kecukupan materi, kecukupan sandang, papan, dan pangan, pastinya tidak. Hidup guru sangatlah prihatin. Jangankan mobil, sepeda motor pun kami tak punya. Sepeda gayung hanya satu yang kami miliki. Ibu pun berangkat kerja ke sekolah dengan jalan kaki.

Kurun waktu 1960 – 1970 kehidupan ekonomi guru sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sangatlah memprihatinkan. Saya tidak tahu persis berapa gaji ibu saat itu. Rumah yang kami tempati adalah hasil utang orang tua ke bank. Belanja ke warung untuk makan sehari-hari, kadang ibu harus berutang pula. Termasuk biaya sekolah dan kuliah anak-anak kelak, semua dari utang.

Sebagai anak seorang guru, saya pernah mengantre membeli minyak tanah di toko sembako di zaman Orde Baru. Makan sehari-harinya pun jauh dari kata bergizi. Bahkan pernah beberapa kali makan hanya berupa nasi putih yang dicampur dengan parutan kelapa diberi garam. Kami pun sering puasa Senin – Kamis; bukan semata karena Sunah Rasul, tetapi juga untuk menghemat biaya hidup. Tidak ada yang mengeluh dari kami sekeluarga; dan saya tetap bangga menjadi anak seorang guru.

Guru Kini

Apakah guru saat ini masih digugu? Semestinya guru kini sangat dipercaya. Guru SD, SMP, dan SMA kini berpendidikan tinggi. Bahkan kini banyak guru SD yang berpendidikan hingga jenjang strata 2 (S2) atau magister. Murid-murid di era kekinian sangatlah kritis. Guru akan malu dan dipermalukan jika tak mampu menjawab pertanyaan murid.

 Apakah guru kini masih patut ditiru? Semestinya masih. Mengingat latar belakang pendidikan guru saat ini yang jauh lebih baik dibanding guru zaman dahulu. Guru kini juga menjadi sosok yang merdeka. Tidak ada lagi kewajiban guru untuk loyal pada partai politik penguasa.  Guru bebas untuk memilih calon presiden siapa pun.

Begitu merdeka profesi guru, sehingga persoalan moralitas menjadi tantangan. Tidak sedikit guru yang kini berjoget ria di tiktok atau instagram. Beberapa kasus asusila menimpa oknum guru, begitu pun kasus pidana. Meski sebagian besar, dan tentu masih lebih banyak guru yang bermoral dan berprestasi yang layak untuk ditiru.

Apakah guru kekinian masih berwibawa? Inilah problematikanya. Banyak guru yang kehilangan kewibawaan lantaran respons murid dan orang tua, ekspektasi murid dan orang tua, serta perilaku murid dan orang tua yang berbeda antara dahulu dan sekarang. Guru kini tidak lagi dapat membentak murid seenaknya. Guru yang menampar, apalagi memukul murid akan dituntut dan dilaporkan polisi oleh orang tua murid dengan tuduhan melakukan tindak kekerasan.

Apakah guru saat ini sejahtera? Ini pun relatif ukuran kesejahteraannya. Membandingkan kesejahteraan guru zaman dahulu dengan sekarang tentu tidak adil. Variabel waktu berubah. Variabel kebijakan pemerintah dan tingkat pertumbuhan ekonomi negara juga berubah. Andai pun guru saat ini lebih sejahtera tentu wajar, dan sudah semestinya dengan melihat kemuliaan profesinya.

Guru kini mendapat beragam tunjangan. Selain tunjangan makan, tunjangan anak, tunjangan suami/istri, dan tunjangan kesehatan, guru juga mendapat tunjangan sertifikasi, tunjangan kinerja daerah, dan tunjangan profesi guru (TPG). Maka kisah pilu seorang guru pegawai negeri sipil semestinya tidak terjadi lagi. Guru dapat memiliki rumah yang bagus, sepeda motor, bahkan mobil yang mengantarkannya ke sekolah.

Anak-anak guru saat ini pasti juga lebih bangga kepada orang tua mereka. Begitu pun murid-murid lain yang bersekolah di zaman sekarang. Mereka tidak lagi hidup prihatin. Sandang , pangan, papan tercukupi. Tidak ada lagi cerita anak seorang guru yang harus makan nasi dicampur parutan kelapa dan garam. Apalagi pemerintah juga memberi tambahan asupan makan bergizi gratis kepada murid-murid yang sudah kecukupan makannya.

Hari ini, tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Masihkah guru digugu dan ditiru? Sepertinya perlu menunggu jawaban 10 atau 20 tahun kemudian. Tapi, saya tetap bangga menjadi anak guru, dan bangga kepada semua guru. Selamat Hari Guru Nasional. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruHari Guru Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Mudah Menjadi Guru

Next Post

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Dari Slogan Tahunan Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Dari Slogan Tahunan Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co