14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru: Masihkah “Digugu” dan Ditiru? —Catatan Hari Guru

Chusmeru by Chusmeru
November 25, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

 ALMARHUMAH ibu saya seorang guru sekolah dasar (SD) negeri di tahun 1950 – hingga tahun 1990-an. Ayah seorang pegawai swasta. Mereka harus menghidupi dan menyekolahkan empat orang anak pada zamannya. Apakah saya bangga kepada kedua orang tua saya? Tentu saja sangat bangga.

Hanya menamatkan Sekolah Guru B (SGB) saat itu, ibu saya dapat menjadi guru. SGB adalah jenis pendidikan guru yang berkembang di awal kemerdekaan Indonesia untuk memenuhi kekurangan guru di tingkat sekolah dasar. Waktu tempuh pendidikan selama empat tahun, setelah lulus sekolah rakyat (SR) atau setingkat SD sekarang.

Menjadi anak seorang guru pada waktu itu merupakan kebanggaan tersendiri. Di kampung saya, di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, profesi guru dapat dihitung dengan jari. Seorang guru sangat disegani dan dihormati. Panggilan “Bu Guru” orang-orang di kampung kepada ibu saya merupakan sebutan yang mulia, meski bukan seorang priyayi berdarah biru.

Apresiasi masyarakat saat itu kepada guru sudah tentu tak terlepas dari kiprah guru, sehingga muncul anggapan guru adalah akronim digugu dan ditiru. Guru adalah sosok yang patut dipercaya dan ditiru perilakunya. Kredibilitas guru sebagai komunikator kala itu setara dengan tokoh masyarakat lain. Nyaris, banyak pertanyaan dari masyarakat tentang isu-isu tertentu ditanyakan kepada seorang guru, karena guru dianggap mampu menjawabnya.

Guru Dahulu

Apakah guru zaman dahulu digugu, dipercaya oleh murid-muridnya? Sangat dipercaya. Saat SD dulu, nyaris tak ada pertanyaan kritis kepada guru tentang pelajaran yang diberikan di kelas. Murid percaya apa pun yang disampaikan guru. Pertanyaan hanya muncul ketika murid memang kurang paham tentang materi yang diajarkan.

Apakah guru waktu dahulu patut ditiru? Tidak pernah ada cela pada sosok guru di masa lalu. Guru adalah panutan. Guru juga sosok yang sangat patuh pada aturan pemerintah. Tidak pernah ada guru yang berani mengkritik kebijakan pemerintah. Guru juga menurut saja ketika setiap Pemilu harus mencoblos Golongan Karya (Golkar), partai berkuasa milik rezim Orde Baru. Tidak loyal kepada Golkar bisa berakibat dipecat dari pegawai negeri.

Apakah guru dulu berwibawa? Bukan hanya berwibawa, tetapi juga disegani dan ditakuti. Murid akan takut jika guru marah. Murid yang nakal atau bandel akan dijewer, dihukum berdiri di depan kelas, dilempar penghapus, atau dipukul pakai tuding (stik panjang terbuat dari rotan atau bambu). Tidak ada murid yang melawan, tidak ada yang menangis karena dipukul, tidak ada orang tua murid yang protes. Semua dilakukan guru karena untuk menjaga kewibawaan dan disiplin murid.

Apakah guru zaman dahulu hidup sejahtera? Tunggu dulu. Ukuran kesejahteraan sangat relatif. Jika sejahtera dibandingkan dengan buruh tani atau kuli bangunan, mungkin benar. Tapi jika sejahtera merujuk pada kecukupan materi, kecukupan sandang, papan, dan pangan, pastinya tidak. Hidup guru sangatlah prihatin. Jangankan mobil, sepeda motor pun kami tak punya. Sepeda gayung hanya satu yang kami miliki. Ibu pun berangkat kerja ke sekolah dengan jalan kaki.

Kurun waktu 1960 – 1970 kehidupan ekonomi guru sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sangatlah memprihatinkan. Saya tidak tahu persis berapa gaji ibu saat itu. Rumah yang kami tempati adalah hasil utang orang tua ke bank. Belanja ke warung untuk makan sehari-hari, kadang ibu harus berutang pula. Termasuk biaya sekolah dan kuliah anak-anak kelak, semua dari utang.

Sebagai anak seorang guru, saya pernah mengantre membeli minyak tanah di toko sembako di zaman Orde Baru. Makan sehari-harinya pun jauh dari kata bergizi. Bahkan pernah beberapa kali makan hanya berupa nasi putih yang dicampur dengan parutan kelapa diberi garam. Kami pun sering puasa Senin – Kamis; bukan semata karena Sunah Rasul, tetapi juga untuk menghemat biaya hidup. Tidak ada yang mengeluh dari kami sekeluarga; dan saya tetap bangga menjadi anak seorang guru.

Guru Kini

Apakah guru saat ini masih digugu? Semestinya guru kini sangat dipercaya. Guru SD, SMP, dan SMA kini berpendidikan tinggi. Bahkan kini banyak guru SD yang berpendidikan hingga jenjang strata 2 (S2) atau magister. Murid-murid di era kekinian sangatlah kritis. Guru akan malu dan dipermalukan jika tak mampu menjawab pertanyaan murid.

 Apakah guru kini masih patut ditiru? Semestinya masih. Mengingat latar belakang pendidikan guru saat ini yang jauh lebih baik dibanding guru zaman dahulu. Guru kini juga menjadi sosok yang merdeka. Tidak ada lagi kewajiban guru untuk loyal pada partai politik penguasa.  Guru bebas untuk memilih calon presiden siapa pun.

Begitu merdeka profesi guru, sehingga persoalan moralitas menjadi tantangan. Tidak sedikit guru yang kini berjoget ria di tiktok atau instagram. Beberapa kasus asusila menimpa oknum guru, begitu pun kasus pidana. Meski sebagian besar, dan tentu masih lebih banyak guru yang bermoral dan berprestasi yang layak untuk ditiru.

Apakah guru kekinian masih berwibawa? Inilah problematikanya. Banyak guru yang kehilangan kewibawaan lantaran respons murid dan orang tua, ekspektasi murid dan orang tua, serta perilaku murid dan orang tua yang berbeda antara dahulu dan sekarang. Guru kini tidak lagi dapat membentak murid seenaknya. Guru yang menampar, apalagi memukul murid akan dituntut dan dilaporkan polisi oleh orang tua murid dengan tuduhan melakukan tindak kekerasan.

Apakah guru saat ini sejahtera? Ini pun relatif ukuran kesejahteraannya. Membandingkan kesejahteraan guru zaman dahulu dengan sekarang tentu tidak adil. Variabel waktu berubah. Variabel kebijakan pemerintah dan tingkat pertumbuhan ekonomi negara juga berubah. Andai pun guru saat ini lebih sejahtera tentu wajar, dan sudah semestinya dengan melihat kemuliaan profesinya.

Guru kini mendapat beragam tunjangan. Selain tunjangan makan, tunjangan anak, tunjangan suami/istri, dan tunjangan kesehatan, guru juga mendapat tunjangan sertifikasi, tunjangan kinerja daerah, dan tunjangan profesi guru (TPG). Maka kisah pilu seorang guru pegawai negeri sipil semestinya tidak terjadi lagi. Guru dapat memiliki rumah yang bagus, sepeda motor, bahkan mobil yang mengantarkannya ke sekolah.

Anak-anak guru saat ini pasti juga lebih bangga kepada orang tua mereka. Begitu pun murid-murid lain yang bersekolah di zaman sekarang. Mereka tidak lagi hidup prihatin. Sandang , pangan, papan tercukupi. Tidak ada lagi cerita anak seorang guru yang harus makan nasi dicampur parutan kelapa dan garam. Apalagi pemerintah juga memberi tambahan asupan makan bergizi gratis kepada murid-murid yang sudah kecukupan makannya.

Hari ini, tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Masihkah guru digugu dan ditiru? Sepertinya perlu menunggu jawaban 10 atau 20 tahun kemudian. Tapi, saya tetap bangga menjadi anak guru, dan bangga kepada semua guru. Selamat Hari Guru Nasional. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruHari Guru Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Mudah Menjadi Guru

Next Post

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Dari Slogan Tahunan Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Dari Slogan Tahunan Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co