25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru: Masihkah “Digugu” dan Ditiru? —Catatan Hari Guru

Chusmeru by Chusmeru
November 25, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

 ALMARHUMAH ibu saya seorang guru sekolah dasar (SD) negeri di tahun 1950 – hingga tahun 1990-an. Ayah seorang pegawai swasta. Mereka harus menghidupi dan menyekolahkan empat orang anak pada zamannya. Apakah saya bangga kepada kedua orang tua saya? Tentu saja sangat bangga.

Hanya menamatkan Sekolah Guru B (SGB) saat itu, ibu saya dapat menjadi guru. SGB adalah jenis pendidikan guru yang berkembang di awal kemerdekaan Indonesia untuk memenuhi kekurangan guru di tingkat sekolah dasar. Waktu tempuh pendidikan selama empat tahun, setelah lulus sekolah rakyat (SR) atau setingkat SD sekarang.

Menjadi anak seorang guru pada waktu itu merupakan kebanggaan tersendiri. Di kampung saya, di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, profesi guru dapat dihitung dengan jari. Seorang guru sangat disegani dan dihormati. Panggilan “Bu Guru” orang-orang di kampung kepada ibu saya merupakan sebutan yang mulia, meski bukan seorang priyayi berdarah biru.

Apresiasi masyarakat saat itu kepada guru sudah tentu tak terlepas dari kiprah guru, sehingga muncul anggapan guru adalah akronim digugu dan ditiru. Guru adalah sosok yang patut dipercaya dan ditiru perilakunya. Kredibilitas guru sebagai komunikator kala itu setara dengan tokoh masyarakat lain. Nyaris, banyak pertanyaan dari masyarakat tentang isu-isu tertentu ditanyakan kepada seorang guru, karena guru dianggap mampu menjawabnya.

Guru Dahulu

Apakah guru zaman dahulu digugu, dipercaya oleh murid-muridnya? Sangat dipercaya. Saat SD dulu, nyaris tak ada pertanyaan kritis kepada guru tentang pelajaran yang diberikan di kelas. Murid percaya apa pun yang disampaikan guru. Pertanyaan hanya muncul ketika murid memang kurang paham tentang materi yang diajarkan.

Apakah guru waktu dahulu patut ditiru? Tidak pernah ada cela pada sosok guru di masa lalu. Guru adalah panutan. Guru juga sosok yang sangat patuh pada aturan pemerintah. Tidak pernah ada guru yang berani mengkritik kebijakan pemerintah. Guru juga menurut saja ketika setiap Pemilu harus mencoblos Golongan Karya (Golkar), partai berkuasa milik rezim Orde Baru. Tidak loyal kepada Golkar bisa berakibat dipecat dari pegawai negeri.

Apakah guru dulu berwibawa? Bukan hanya berwibawa, tetapi juga disegani dan ditakuti. Murid akan takut jika guru marah. Murid yang nakal atau bandel akan dijewer, dihukum berdiri di depan kelas, dilempar penghapus, atau dipukul pakai tuding (stik panjang terbuat dari rotan atau bambu). Tidak ada murid yang melawan, tidak ada yang menangis karena dipukul, tidak ada orang tua murid yang protes. Semua dilakukan guru karena untuk menjaga kewibawaan dan disiplin murid.

Apakah guru zaman dahulu hidup sejahtera? Tunggu dulu. Ukuran kesejahteraan sangat relatif. Jika sejahtera dibandingkan dengan buruh tani atau kuli bangunan, mungkin benar. Tapi jika sejahtera merujuk pada kecukupan materi, kecukupan sandang, papan, dan pangan, pastinya tidak. Hidup guru sangatlah prihatin. Jangankan mobil, sepeda motor pun kami tak punya. Sepeda gayung hanya satu yang kami miliki. Ibu pun berangkat kerja ke sekolah dengan jalan kaki.

Kurun waktu 1960 – 1970 kehidupan ekonomi guru sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sangatlah memprihatinkan. Saya tidak tahu persis berapa gaji ibu saat itu. Rumah yang kami tempati adalah hasil utang orang tua ke bank. Belanja ke warung untuk makan sehari-hari, kadang ibu harus berutang pula. Termasuk biaya sekolah dan kuliah anak-anak kelak, semua dari utang.

Sebagai anak seorang guru, saya pernah mengantre membeli minyak tanah di toko sembako di zaman Orde Baru. Makan sehari-harinya pun jauh dari kata bergizi. Bahkan pernah beberapa kali makan hanya berupa nasi putih yang dicampur dengan parutan kelapa diberi garam. Kami pun sering puasa Senin – Kamis; bukan semata karena Sunah Rasul, tetapi juga untuk menghemat biaya hidup. Tidak ada yang mengeluh dari kami sekeluarga; dan saya tetap bangga menjadi anak seorang guru.

Guru Kini

Apakah guru saat ini masih digugu? Semestinya guru kini sangat dipercaya. Guru SD, SMP, dan SMA kini berpendidikan tinggi. Bahkan kini banyak guru SD yang berpendidikan hingga jenjang strata 2 (S2) atau magister. Murid-murid di era kekinian sangatlah kritis. Guru akan malu dan dipermalukan jika tak mampu menjawab pertanyaan murid.

 Apakah guru kini masih patut ditiru? Semestinya masih. Mengingat latar belakang pendidikan guru saat ini yang jauh lebih baik dibanding guru zaman dahulu. Guru kini juga menjadi sosok yang merdeka. Tidak ada lagi kewajiban guru untuk loyal pada partai politik penguasa.  Guru bebas untuk memilih calon presiden siapa pun.

Begitu merdeka profesi guru, sehingga persoalan moralitas menjadi tantangan. Tidak sedikit guru yang kini berjoget ria di tiktok atau instagram. Beberapa kasus asusila menimpa oknum guru, begitu pun kasus pidana. Meski sebagian besar, dan tentu masih lebih banyak guru yang bermoral dan berprestasi yang layak untuk ditiru.

Apakah guru kekinian masih berwibawa? Inilah problematikanya. Banyak guru yang kehilangan kewibawaan lantaran respons murid dan orang tua, ekspektasi murid dan orang tua, serta perilaku murid dan orang tua yang berbeda antara dahulu dan sekarang. Guru kini tidak lagi dapat membentak murid seenaknya. Guru yang menampar, apalagi memukul murid akan dituntut dan dilaporkan polisi oleh orang tua murid dengan tuduhan melakukan tindak kekerasan.

Apakah guru saat ini sejahtera? Ini pun relatif ukuran kesejahteraannya. Membandingkan kesejahteraan guru zaman dahulu dengan sekarang tentu tidak adil. Variabel waktu berubah. Variabel kebijakan pemerintah dan tingkat pertumbuhan ekonomi negara juga berubah. Andai pun guru saat ini lebih sejahtera tentu wajar, dan sudah semestinya dengan melihat kemuliaan profesinya.

Guru kini mendapat beragam tunjangan. Selain tunjangan makan, tunjangan anak, tunjangan suami/istri, dan tunjangan kesehatan, guru juga mendapat tunjangan sertifikasi, tunjangan kinerja daerah, dan tunjangan profesi guru (TPG). Maka kisah pilu seorang guru pegawai negeri sipil semestinya tidak terjadi lagi. Guru dapat memiliki rumah yang bagus, sepeda motor, bahkan mobil yang mengantarkannya ke sekolah.

Anak-anak guru saat ini pasti juga lebih bangga kepada orang tua mereka. Begitu pun murid-murid lain yang bersekolah di zaman sekarang. Mereka tidak lagi hidup prihatin. Sandang , pangan, papan tercukupi. Tidak ada lagi cerita anak seorang guru yang harus makan nasi dicampur parutan kelapa dan garam. Apalagi pemerintah juga memberi tambahan asupan makan bergizi gratis kepada murid-murid yang sudah kecukupan makannya.

Hari ini, tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Masihkah guru digugu dan ditiru? Sepertinya perlu menunggu jawaban 10 atau 20 tahun kemudian. Tapi, saya tetap bangga menjadi anak guru, dan bangga kepada semua guru. Selamat Hari Guru Nasional. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruHari Guru Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Mudah Menjadi Guru

Next Post

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Dari Slogan Tahunan Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Dari Slogan Tahunan Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co