MESKIPUN ada orang yang melihat K-Pop dari sisi negatif, Ni Komang Puspita Karianti Putri (22), yang biasa disapa Ita, justru menemukan semangat baru dari budaya massa Korea Selatan itu.
Sejak duduk di bangku SMP, Ita diperkenalkan K-Pop oleh temannya. Awalnya dia tertarik belajar bahasa Korea karena melihat temannya bisa berbicara dalam bahasa Korea. Sejak saat itu, Ita langsung menyukai K-Pop dan mulai belajar bahasa Korea secara otodidak, terutama huruf Hangul.
Menurut Ita, K-Pop menjadi penyemangat dalam belajarnya. Setiap kali melihat idol yang ia kagumi, rasa ingin belajar semakin meningkat, terutama karena melihat perjuangan dan pencapaian mereka.
Awalnya, Ita hanya menyukai girl group Blackpink, namun lama-lama ia mulai tertarik dengan boy group EXO dan Treasure. Ita menyebutkan bahwa EXO punya tempat istimewa di hatinya. Di dunia nyata, menurutnya, ketika seseorang bercerita, jarang mendapat respon atau feedback yang sesuai harapan.
“Jika orang lain menghakimi kita saat bercerita, lebih baik aku menonton mereka saja. Setiap kali mereka ada sesi wawancara, mereka selalu berkata-kata yang memotivasi dan menyentuh hati, sesuatu yang tidak pernah aku temukan di kehidupan nyata,” ujar Ita.

Saat Ita pergi ke Living World, ia mengikuti acara karaoke bersama dan mengaku sangat seru. Di sana ia bisa mengekspresikan diri bersama para penggemar K-Pop lainnya. Menjadi penggemar K-Pop membuat Ita lebih cepat akrab dan memiliki banyak teman. Menurut Ita, hubungan antara idol dan penggemar yang paling menarik adalah ketika Treasure membuka kafe dan mengundang beberapa Teume, singkatan dari Treasure Maker.
Penggemar yang datang ke kafe langsung dilayani oleh anggota Treasure. Ita merasa Treasure tidak melupakan para penggemarnya, mereka tetap aktif berinteraksi dan tidak ada batasan. Jika harus memilih satu boy group yang paling memengaruhi dirinya, Ita memilih Treasure.
Boy group tersebut berada di bawah agensi ternama YG Entertainment. Mereka debut pada tahun 2020 dengan 12 anggota, namun karena alasan pribadi dan kesehatan, Treasure kini aktif dengan formasi 10 anggota.
“Yang ‘My Treasure’ itu seperti lagu yang dibuat pada masa pandemi Covid, yang bisa membangkitkan semangat. Mereka bilang jangan sedih, jangan terlalu stres, pasti kita bisa melewati masa ini. Itu yang membuatku terpengaruh, kalau Treasure saja bisa mengatakan seperti itu, kenapa kita nggak bisa?” kata alumni Politeknik Negeri Bali itu.
Motivasi dan Pengembangan Diri Para Kpopers
Ita pernah ingin belajar sampai ke Korea Selatan dan bahkan pernah mencari beasiswa Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). Meski salah satu impian itu belum tercapai, ia tetap bangga karena ia telah berusaha belajar segala hal untuk bisa belajar ke Negeri Ginseng.
Dari sana, ia merasakan dampak K-Pop terhadap dirinya sendiri. Tidak hanya dalam pendidikan, Ita juga belajar cara berpenampilan, karena ia percaya penampilan memang penting. Tapi bukan semata-mata untuk diperhatikan, melainkan agar orang yang melihat pun merasa nyaman.
Perempuan asal Labuhan Sait, Pecatu, ini juga pernah punya mimpi ingin bekerja di luar Indonesia, tetapi bekerja sebagai hotelier, intinya, ia ingin bekerja di luar sambil menikmati dunia luar Indonesia yang bisa dikumpulkan pengalamannya.
Selain Ita, Ni wayan suwini (20) juga seorang Kpopers. Ia mengatakan sangat menyukai boy group EXO sejak tahun 2018—walaupun sebenarnya ia mengidolakan Kim Jong-dae dengan nama panggung Chen. Kalau sedang sedih ia pasti memilih menonton konten-konten EXO. Menyalurkan kesedihan dengan melihat tingkah dan tawa idolanya.
“Jadi pengen olahraga mulu! Soalnya aku juga suka banget nge-dance EXO The Eve sampai hafal koreografinya,” katanya antusias. Sebuah jawaban singkat tapi cukup membuktikan bahwa K-Pop tak melulu buruk.

Suwini juga mengagumi boy group NCT. Ia memberikan alasan singkat mengapa bisa memilih lagu “Hello Future” milik NCT Dream. Karena beat musik lagu tersebut mengacu semangatnya, tipe-tipe musik yang bisa membuatnya asyik sendiri, katanya.
Selain musiknya yang bisa mengacu semangat, liriknya juga keren, ia paling suka bagian Park Ji-sung, anggota group termuda, yakni pada lirik “here we go here we go, bentangkan sayapmu meskipun akan patah dan terluka lagi”. Ia suka tipe lagu yang easy listening, salah satu contohnya “Hello Future”, lagu yang sekali didenger langsung nyantol.
Ada lagi, Kpopers bernama Kiki, seorang siswi SMK jurusan afirmasi. Ia hampir menyukai seluruh boy atau girl group. Kiki menyukai salah satu lagu NCT Dream, yaitu “Ridin” yang membahas soal keberanian untuk maju, membuktikan diri sendiri, serta terus optimis meskipun masa depan masih belum pasti. Setiap kali Kiki mendengarkan lagu tersebut rasanya seperti diberikan dorongan baru untuk tidak mudah menyerah.
Sampai di sini, Kini mengaku, dalam K-Pop ada banyak hal positif yang bisa diambil. K-Pop mengajarkan tentang kerja keras, disiplin, juga konsistensi. Idol-idol itu tidak langsung sukses dalam semalam, mereka latihan bertahun-tahun, jatuh bangun, bahkan ada yang hampir menyerah tetapi tetep berdiri sampai akhirnya dikenal dunia.
“Vibes fandom yang rame, suportif, sama kreatif, juga bikin aku nggak ngerasa sendirian. Kayak ada energi positif yang terus ngedorong aku buat lebih semangat ngejalanin hari. Singkatnya, jadi diri sendiri itu berharga dan selalu ada energi positif kalau kamu mau,” jelas Kiki.
Izzy seorang Kpopers—yang bekerja sebagai waiters di Restoran Jepang—juga mengatakan K-Pop sangat memotivasi, apalagi yang kerjaannya berat seperti yang ia lakukan, jadi bisa ada penyemangat. Orang tua Izzy juga salah satu penyuka K-Pop karena awalnya nonton Drama Korea.
“Here I Stand, ini lagu Jepangnya Treasure, biasanya kalau lagi down karena masalah hidup, ini lagunya cocok. Sesuai sama judulnya, juga buat tetep bertahan dan bersinar di posisi kita yang sekarang,” terang Izzy ketika ditanya apa salah satu lagu boy group yang disukai.
K-Pop Memengaruhi Kesehatan Mental
Ita menyebutkan bahwa K-Pop bisa menyembuhkan seseorang yang sedang rapuh karena lelah mengejar nilai, masalah keluarga, percintaan, pertemanan, dan lain-lain. Ada penyemangat tersendiri yang bisa didapat dari K-Pop.
“Ketika mendengarkan suara idolamu, itu bisa menyemangati kita dan menenangkan—walau hanya sementara dan tidak permanen, tapi setidaknya kita bisa bertahan di masa-masa sulit,” kata Ita. Jadi, menurut Ita, itu bisa menjadi obat untuk orang-orang tertentu.
Kalau Ita dimintai saran satu lagu oleh seseorang yang sama sekali tidak tahu atau tidak pernah mendengar K-Pop, maka ia akan memilih lagu “My Treasure.” Musik video lagu ini sangat cerah dan menyenangkan—yang terpenting adalah setiap liriknya memiliki makna yang dalam.
Bagi Ita, K-Pop tidak hanya sekadar hiburan, tapi juga semacam dorongan untuk terus berkembang, bertemu teman baru, dan yang terpenting, menjadi versi dirinya yang lebih baik.

“Itu hanya sebatas lagu saja, tapi bisa membuat kita semangat dan tenang,” katanya, membuktikan bahwa di balik kepopuleran idol K-Pop ada hal-hal positif yang tersembunyi.
Saat ditanya mengenai masa depan K-Pop, Ita menjawab, “Kalau musnah kayaknya enggak. Karena tergantung agensi-agensi di Korea Selatan. Mereka punya inovasi baru, cara memperkenalkan idol-idolnya, atau cara membuat sesuatu yang lebih menarik dan segar daripada sebelumnya, nggak monoton.”
Sebagai generasi Z, Ita memilih K-Pop generasi 3 karena banyak boy atau girl grup yang ia idolakan debut di generasi tersebut. Contohnya ada NCT, BTS, Gfriend, Red Velvet, EXO, TWICE, GOT7, dan masih banyak lagi, walaupun Treasure debut di generasi 4.
Ita memberikan tanggapan terkait bagaimana K-Pop sering dipandang sebelah mata, “Mending diem sih, karena itu juga mancing keributan, aku juga males nanggepin orang-orang kayak gitu,” ujarnya.
Memang banyak orang yang tidak suka K-Pop. Mereka cenderung melihat K-Pop hanya dari sisi tarian dan busana yang dianggap terlalu terbuka. Namun, mereka tidak melihat sisi yang lebih luas, seperti kekayaan budaya dan tempat wisata yang menarik di Korea Selatan. Bahkan, para idola K-Pop yang mereka benci tetap menempuh pendidikan sambil menjalani jadwal yang padat, seperti latihan menari, menyanyi, dan kegiatan lainnya.[T]
- Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Jaswanto











![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-75x75.jpg)















