TABANAN tak termasyur sebagai julukan daerah “lumbung padi”, tetapi juga sebagai gudangnya para seniman. Maka tak salah, kalau Tabanan juga dikenal sebagai “lumbung” seniman yang banyak melahirkan seniman dan maestro, mulai dari seniman tradisional hingga seniman kontemporer, baik seni karawitan, tari, ataupun seni rupa. Sebut saja seniman tari dengan karya jenius dan mendobrak pakem tarian tradisional pada masanya, yakni I Ketut Marya.
Kemudian, ada maestro patung Nyoman Nuarta dengan karya monumental, seniman surealis dan akademisi I Gusti Nengah Nurata, juga mendiang Wayan Teher, Nyoman Nodi, seniman progresif Putu Sutawijaya, hingga seniman multitalenta mendiang Made Wianta yang sangat kompetitif dalam percaturan seni rupa internasional.
Hingga kini Tabanan terus melahirkan seniman-seniman muda potensial yang berkiprah dalam percaturan dan perkembangan seni rupa baik daerah, nasional sampai internasional dengan bergerak secara kolektif maupun personal. Munculnya seniman-seniman muda itu, dibarengi dengan semangat pergerakan secara kolektif, misalnya saat ini para perupa Tabanan membentuk sebuah komunitas bernama “Maha Rupa Batukaru”.
Komunitas ini dibentuk pada tahun 2019, lahir sebagai wadah dan tempat dari berbagai aktifitas kesenian serta persamaan visi dan misi dari para anggotanya. Komunitas Maha Rupa Batukaru ini, bahkan sudah berbadan hukum dengan penerbitan Akta Perkumpulan dari KEMENHAM dengan nomor akta C-321.HT.03.02-Th.2000.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama pelukis Ari Winata yang melukis Pangeran Diponogoro | Foto: tatkala.co/Bud
Maha Rupa Batukaru memiliki visi dan misi, sehingga selalu aktif membuat berbagai kegiatan sosial, edukasi untuk pelestarian dan pengembangan seni rupa Tabanan untuk tetap kompetitif. Kegiatan-kegiatan itu berupa pameran, workshop dan diskusi seni berkolaborasi dengan berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah melalui dinas kebudayan daerah dan provinsi.
Pada tiga tahun terakhir ini, Komunitas Maha Rupa Batukaru selalu aktif bergerak bersama untuk menjaga eksistensi serta membentuk ekosistem kesenian yang lebih tertata dan baik dengan semangat kebersamaan para anggota, tentunya hal tersebut terpengaruh dari semangat dan juga agresifitas seniman-seniman Tabanan terdahulu yang mampu berada dalam lingkar kesenian nasional dan global secara mandiri.

Seorang pelukis mengamati lukisan karyanya dalam pameran “Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi” | Foto: tatkala.co/Bud
Kali ini, Komunitas Maharupa Batukaru menggelar pameran bersama bertajuk “Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi” di Gedung Mario, Tabanan. Pameran yang menghadirkan 30 seniman dari seratusan anggota Komunitas Maharupa Batukaru dibuka oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon bersama Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, Jumat 5 September 2025 dan disaksikan para seniman, budayan, tokoh serta masyarakat seni di Tabanan.
Idenya itu, berawal berita dari Kementerian Kebudayaan bahwa ada salah satu museum di Belanda melakukan pengembalian beberapa artepak ke pihak Indonesia. Konon, jumlahnya lebih dari 150 lebih item artepak itu, dan sebanyak 130 item artepak itu asalnya dari Puri Tabanan bekas rampasan perang.
“Berita pemulangan dan kunjungan kebudayaan Menbud Fadli Zon ke Tabanan, maka terscetuslah ide Maha Rupa Batukara dilibatkan untuk mengisi acara ini,” kata Ketua Komunitas Maharupa Batukaru, Nyoman Wijaya.
30 seniman perwakilan dari perupa Tabanan
Pameran seni rupa itu mengangkat tema “Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi” sebagai gambaran perupa Tabanan yang memiliki berbagai warna. Aneka Warna Pelangi itu tidak terikat pada satu tema, tetapi secara garis besar menyajikan garis warna-warni, pelangi Tabanan.
“Lalu, pemilihan 30 seniman yang berpameran itu, merupakan perwakilan dari perupa Tabanan baik dari senior hingga yang muda, seperti seniman senior A A. Surya Buana yang pensiunan dosen ISI Bali dan I Gusti Nengah Nurata, akademisi di ISI Solo,” kata Nyoman Wijaya.



Karya-karya yang dipamerkan dalam pameran “Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi” | Foto: tatkala.co/Bud
Pemeran “Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi” menghadirkan A A. Surya Buana dengan karya “Woman in Cobalt”, I Gusti Nengah Nurata (Terperangah), Nyoman Aptika (Merak), Nyoman Ari Winata (”200 th Perang Diponegoro/Ratu Adil), Komang Merta Sedana (Susu Tante Painting on Mannequin), I Gusti Ketut Adi Dewantara S.Sn (Hope & Apportunity), IKadek Dedy Sumantra Yasa (Triangle of Brahma), Ketut Mastrum (SUBAK), Ni Luh Gede Fridayani (My self).
Ni Luh Gede Widiyani, Made Gama (Wanita Bali), Made Gunawan (Harvest), N. Suradman (Cengkraman Kayu Mahoni, Sonokeling dan sparepart gitar 2016), Dr. Drs. I Nengah Wirakesuma. M.Sn. (Earth Mandala), Nyoman Wijaya (ILD), I Kadek Satya Artama (Menunggu Rejeki), I Putu Suhartawan (Refleksi), I Gede Made Surya Darma (Blind In Paradise), I Made Sutarjaya (Si Cantik Oleg Tamulilingan).
Udik Putra Asthawan (Tumbal Leak), I Made Wahyu Senayadi (Setengah Harapan), Drs. I Made Subrata (Padi Jatiluwih), I Wayan Santrayana (Sacrifice – The Last Paradise), I Wayan Sukarma (Rasa Syukur), Wayan Susana (Nature), Wayan Naya Swantha (Tekstur Tumbukan), Tri Akta Bagus Prasetya (Mata Hari Terbit Dari Barat), Astikayasa (Spirit Harmoni) dan I Made Bakti Wiyasa (Togog Relief Macan Bali di Kesiman).
Nyoman Wijaya mengatakan, seni rupa itu menjadi bagian dari kebudayaan, sehingga kahadiran para perupa ini menunjukan kalau Tabanan juga menjadi lumbungnya seni rupa di Bali. Tokoh-tokoh seni rupa Bali dan nasional banyak lahir di Tabanan.
“Kami berharap pameran Maha Rupa Batukaru ini menjadi momentum yang bisa dijadikan titik balik perkembangan seni rupa kembali. Sudah dari sejak tahun 28-an hingga 30-an penari legendaris I Ketut Mario menari keliling dunia, juga sekaa gonga Pangkung, maka sejak itu pula bahkan pionir, seniman di Tabanan telah berkembang,” kata Wijaya.

Karya-karya yang dipamerkan dalam pameran “Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi” | Foto: tatkala.co/Bud
Di tahun 1970-an, di Tabanan muncul Keit, seniman modern yang karyanya pernah dipamerkan di luar negeri. “Saya berharap moment ini menjadi titik balik perkembangan seni rupa di Tabanan untuk bangkit dan mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya Kementrian Kebudayaan untuk bisa membuat museum atau gallery untuk mewadah seniman di Tabanan yang memiliki banyak potensi,” harap Wijaya.
Di akhir komentarnya, Wijaya atas nama Komunitas Maharupa Batukaru mengucapkan terima kasih yang sebesarnya kepada bapak Bupati Kepala Daerah Tk II Tabanan, beserta jajaran dinas terkait, atas segala perhatiannya terhadap perkembangan ke senirupaan di daeraah Tabanan.
Sebanyak 30 karya dalam pameran Aneka Warna Gaya di kota Pelangi, tidak dipajang di tembok, karena Gedung Marya kini dalam bentuk terbuka. Karya-karya itu dipajang dengan menggunakan standard easel, karena pameran hanya sehari saja. Menbud Fadli Zon dan Bupati Sanjaya serta para undangan juga pengunjung menyempatkan untuk melihat-lihat karya seni lukis itu. Ketika sampai pada lukisan 200 tahun Perang Diponegoro (Ratu Adil), karya Nyoman Ari Winata, Menbud Fadli Zon terpesona dan ingin mengoleksinya.
“Saya tidak pernah menyangka kalau lukisan Perang Diponegoro ini dipilih dan akan dikoleksi Bapak Menteri. Hanya sebelum itu, saya yang sempat bersembahyang di Puri Tabanan, ada seekor burung titiran mendekati dan langsung bersuara. Suaranya indah dan membuat saya larut. Ternyata itu tanda, kalau karya lukisan saya dipilih Bapak Menteri,” ucap Ari Winata senang.


Karya-karya yang dipamerkan dalam pameran “Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi” | Foto: tatkala.co/Bud
Menbud Fadli Zon dalam sambutannya, mengaku senang dapat berkunjung ke Tabanan, daerah yang memiliki banyak seniman, termasuk perupa yang kini memamerkan karyanya dalam tajuk “Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi” hari ini.
“Kita memang perlu untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan yang ada dalam undang-undang pemajuan kebudayaan. Kebudayaan kita sangat luar biasa, sangat kaya dan beragam,” kata Fadli Zon.
Menbud Fadli Zon menyampaikan kekagumannya terhadap keragaman budaya Indonesia. Ia sekaligus mengapresiasi Bupati Tabanan yang telah mampu melakukan regenerasi budaya melalui pembinaan generasi muda.
“Saya selalu mengatakan, tidak ada di belahan bumi ini yang kekayaan budaya dan keragamannya lebih hebat dari Indonesia. Kita ini pantas disebut mega diversity. Indonesia ini superpower di bidang kebudayaan, kita ini adidaya. Dan ini yang harus kita gali terus, lestarikan, lindungi, kembangkan dan manfaatkan,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan tujuan kedatangannya ke Bali yang berkaitan dengan agenda Chandi 2025 (Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy and Innovation), yang baru saja ditutup.
“Budaya bukan beban atau masa lalu, maka tema Chandi 2025 adalah Culture for The Future, budaya untuk masa depan. Budaya bisa menjadi ekonomi budaya dan industri budaya. Ini penting untuk pembangunan bangsa,” kata Fadli Zon di hadapan para tokoh budaya dan tamu yang hadir.
Menbud Fadli Zon yang mengaku baru pulang dari Korea untuk menghadiri pertemuam Menteri Kebudayaan yang tergabung dalam Apec menyebutkan, kedepan kebudayaan sangat penting untuk menjadi budaya ekonomi. Sekarang ini ada satu pengembangan sustainability culture dunia yang akan dikembangkan adalah budaya. Sebab, budaya itu soft power untuk menghadapi konflik dan bisa menyatukan dunia.


Karya-karya yang dipamerkan dalam pameran “Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi” | Foto: tatkala.co/Bud
“Kita sangat berbangga, karena tidak ada ekspresi kebudayaan lebih hebat dari Indonesia. Musik berkembang dari Aceh sampai Papua. Di Bali memiliki seni tari, musik seni rupa yang menjadi warisan budaya tak benda,” imbuh Fadli Zon.
Menbud Fadli Zon menambahkan, suguhan dari pertunjukkan yang luar biasa dan menyenangkan karena dilakukan oleh generasi muda, ini satu bukti bahwa budaya kita bisa lestari dan tentu ini harus dapat dukungan semua pihak. Kemajuan kebudayaan adalah tugas bersama. Keberlanjutan ekosistem budaya sangat penting dan itu sudah terbangun baik di Bali, terutama di Tabanan.
Bupati Sanjaya menyambut hangat kehadiran Menteri Kebudayaan dalam kunjungan budaya ini. Pihaknya menyampaikan apresiasi karena telah memilih Tabanan sebagai lokasi kegiatan.
“Saya atas nama Pemerintah Kabupaten Tabanan dan seluruh masyarakat Tabanan menyampaikan selamat datang kepada bapak Menteri, beserta rombongan di Kota Singasana. Semoga kehadiran bapak Menteri akan membuat masyarakat kami semakin bersemangat menjaga akar budayanya sendiri,” kata Sanjaya.
Tabanan tidak hanya memiliki budaya yang potensial tapi juga merupakan lumbung berasnya Bali. Selaku Bupati, ia juga menyatakan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian dan pengembangan budaya.

arya-karya yang dipamerkan dalam pameran “Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi” | Foto: tatkala.co/Bud
“Melalui acara temu wicara ini, mari kita saling bertukar pikiran, gagasan dan saling memberikan inspirasi demi kemajuan kesenian di Kabupaten Tabanan. Saya sangat berharap pertemuan ini dapat kita jadikan wadah untuk berdiskusi tentang kekayaan dan keragaman seni budaya yang kita miliki, sekaligus menjadi sarana untuk mempererat persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat,” ujar Sanjaya.
Sebelum itu, Menbud Fadli Zon sempat berkunjungi ke kediaman sastrawan modre Putu Bawa Samar Gantang dan sanggarnya di Jero Tengah, Desa Dauh Peken. Sanggar itu menyajikan pertunjukan yang sangat berkelas, perpaduan musik dan tari. Pementasan kesenian Bali seperti Tari Jayaning Singasana hingga Tari Kebyar Duduk karya maestro tari Ketut Marya, hingga menyaksikan Samar Gantang yang membacakan puisi bertajuk Leak Tanah. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























