SEORANG agen intelijen lapangan berhasil mengelabui banyak orang. Ia menyamar sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang berpakaian compang-camping di jalanan. Kadang juga menyamar sebagai penjual bakso keliling. Kadang pula sebagai pemulung. Aktingnya begitu meyakinkan.
Dunia prostitusi mengenal apa yang disebut “ayam kampus”. Mereka adalah oknum mahasiswi yang menjalani profesi ganda, sebagai mahasiswi sekaligus pekerja seks komersial (PSK). Teman-teman kuliah tak ada yang menyangka mereka adalah ayam kampus. Dosen pun tak tahu. Aktingnya begitu sempurna.
Pengemis di kota-kota besar, seperti Jakarta bisa mendapatkan penghasilan ratusan ribu rupiah setiap hari. Ada pula yang memiliki rumah mewah di kampungnya. Mereka mengemis dengan berbagai penampilan. Ada yang menggunakan tongkat penyangga seperti layaknya orang cacat tubuh. Ada juga yang membawa bayi seraya menunjukkan raut muka memelas. Tidak sedikit orang yang menaruh belas kasihan dengan memberikan uang. Aktingnya sungguh hebat.
Begitulah kehidupan. Mengutip lagu “Panggung Sandiwara” yang dipopulerkan Ahmad Albar, dunia ini memang panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar, ada peran berpura-pura. Semua orang hidup di dunia menjalankan perannya. Semua menjadi aktor dalam panggung sandiwara. Ada yang gagal menjalankan peran, namun tidak sedikit yang berhasil.
Panggung sandiwara bukan hanya dalam kehidupan sosial. Dunia politik juga banyak diwarnai sandiwara. Ada peran, ada akting. Seorang calon anggota legislatif, calon bupati, calon walikota, calon gubernur, dan calon presiden berpidato penuh semangat di atas podium. Membakar emosi rakyat, mengumbar janji, dan menebar harapan. Rakyat sebagai penonton terpukau, lantas memilih mereka. Akting menjadi sangat berhasil.
Namun layaknya sebuah panggung sandiwara, banyak peran yang pura-pura. Agen intelijen yang berpakaian seperti ODGJ tentu tidak mengalami gangguan jiwa. Saat berada di kampus, seorang ayam kampus tentunya bukan PSK lantaran ia duduk rapi di kursi kelas saat kuliah. Pengemis yang pulang ke kampung halaman akan diterima sebagai warga desa yang baik. Begitu pun politisi, aktingnya di panggung bisa saja sebatas pemberi angin surga.
Panggung Politik
Bagi politisi, panggung politik diperlukan untuk mengelola kesan baik. Panggung politik itu bisa berujud mimbar untuk orasi, gedung DPR, istana negara, kantor pemerintahan, acara talkshow di TV, podcast; bisa juga di pemukiman kumuh, jalanan rusak dan becek, lokasi banjir, dan tempat-tempat lain di mana aktor politik dapat menjalankan peran dalam bersandiwara.
Kesan baik diperlukan politisi untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan rakyat, dengan pemilihnya, atau dengan pendukungnya. Kesan baik itu dapat dikemas dalam bentuk penampilannya yang sederhana ketika bertemu rakyat miskin, gaya bicaranya yang lembut dan memelas saat bertemu buruh yang baru saja di-PHK, atau cara berjalan yang sangat sopan ketika bertemu para ulama.
Penampilan aktor politik, seperti anggota DPR, bupati, walikota, gubernur, dan presiden dalam perspektif Dramaturgi Erving Goffman selalu berada dalam dua panggung, yaitu panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage).
Mereka, politisi itu akan menjalankan peran dalam dua panggung politik, panggung depan saat mereka tampil di depan rakyat, dan panggung belakang tempat mereka mempersiapkan diri untuk tampil di panggung depan. Ada yang berhasil menciptakan kesan baik di hadapan publik, namun ada pula yang gagal bersandiwara yang berujung caci-maki rakyat.
Di panggung depan terdapat personal front, seperti pakaian, bentuk tubuh, ekspresi muka, gerakan tubuh, dan sebagainya yang diperlukan untuk melengkapi setting yang bersifat individual (Kuswarno, 2009).
Beberapa presiden di Indonesia mengelola kesan baik dengan personal front yang berbeda. Ada yang selalu berpakaian rapi, ada pula yang berpakaian seadanya. Ada yang gaya bicara dan ekspresi tubuhnya tertata dengan baik, ada yang berbicara menggebu-gebu sambil gebrak meja, ada pula yang tampil apa adanya sehingga terkesan plonga-plongo. Semua adalah upaya pengelolaan kesan, menjalankan peran dalam panggung sandiwara politik.
Meski demikian, ada orang yang gagal bersandiwara di panggung politik. Bukan kesan baik yang dia dapatkan, namun justru menerima hujatan dari penonton, dari rakyat. Hal ini bisa terjadi karena banyak hal. Salah satunya, aktingnya di panggung politik tak sesuai dengan setting di mana ia berperan dan suasana hati penontonnya.
Joget para anggota DPR sesaat setelah sidang tahunan di Senayan mendapat caci-maki rakyat. Mereka berakting tidak sesuai dengan setting Kompleks Parlemen yang semestinya menjadi tempat untuk memutuskan masa depan nasib rakyat Indonesia. Mereka juga gagal di panggung depan ketika rakyat sedang terhimpit menanggung beban kehidupan.
Suasana hati rakyat sebagai penonton sandiwara politik ikut menentukan keberhasilan para aktornya. Di tengah kehidupan ekonomi yang sulit, rakyat disuguhi tontonan politik berupa penganugerahan tanda kehormatan kepada beberapa menteri yang dianggap berjasa besar kepada negara. Benarkah para menteri itu berjasa luar biasa kepada negara, sementara mereka belum genap satu tahun bekerja di kabinet? Ironinya, ada pula mantan koruptor yang mendapat tanda penghargaan.
Gaya bicara sebagai salah satu manner yang diperlukan dalam pentas politik di panggung depan dapat pula menggagalkan seorang aktor politik mendapat kesan baik. Aksi rakyat yang menuntut pembubaran DPR adalah bentuk kritik terhadap kinerja dan penampilan lembaga legislatif. Namun ketika anggota DPR menyebut rakyat yang menuntut sebagai “orang tolol sedunia” adalah sebuah kegagalan sandiwara politik di panggung depan.
Panggung belakang (back stage) tak kalah penting dalam sandiwara politik. Wilayah ini biasa digunakan aktor politik mempersiapkan diri untuk memainkan peran di panggung depan. Panggung belakang merupakan wilayah yang jangan sampai diketahui oleh penonton. Ketika panggung belakang terkuak, maka akting di panggung depan dapat mengalami kegagalan, menimbulkan kesan buruk.
Layaknya artis film atau sinetron yang tampil di depan layar kaca. Dalam perannya ia menjadi seorang suami atau istri yang baik dan setia. Namun di panggung belakang, di dalam rumah tangganya kerap terjadi pertengkaran yang berujung perceraian. Ketika panggung belakang terkuak, kesan baik dalam film bisa berubah buruk.
Begitu pun seorang aktor politik, entah itu DPR maupun menteri. Ia akan tampil maksimal di panggung depan untuk mendapatkan kesan baik. Ia akan bersikap tegas menolak korupsi, membela mati-matian buruh yang di-PHK. Itu semua panggung depan. Panggung belakangnya akan ditutupi. Dan ketika seorang wakil menteri tertangkap KPK karena korupsi, ia gagal membangun panggung depan. Bukan kesan baik yang didapat; bahkan ia menangis di panggung depan. Ia pun gagal menjadi aktor politik.
Kerja Sama Tim
Sebagaimana dalam panggung sosial, aktor dalam panggung politik ada kalanya tidak sendirian. Goffman (dalam Kuswarno,2009) menyebut istilah tim (team) sebagai sejumlah individu yang bekerja sama mementaskan sesuatu. Mereka memiliki peran penting dalam membangun komunikasi sehingga tercipta lakon yang baik.
Terdapat dua faktor penting dari keterlibatan dan kerja sama tim. Pertama, semua anggota tim harus bekerja sama untuk menghindari perilaku yang menyimpang. Kedua, di hadapan penonton, para anggota tim harus bekerja untuk mempertahankan suatu tujuan tertentu. Ini berarti semua anggota tim harus kompak dan membangun komunikasi yang baik.
Mantan presiden yang tersandung isu ijazah palsu harus membangun panggung depan untuk menimbulkan kesan baik, menghapus stigma buruk tentang dirinya. Ia tidak dapat bermain sandiwara sendirian. Ia perlu tim untuk mengelola kesan baik tentang dirinya. Maka acara reuni di kampusnya menjadi kerja sama tim untuk menimbulkan kesan baik.
Tak cukup itu, beberapa tim lain seperti para pendukung fanatik hingga tokoh Ormas juga bekerja untuk menjelaskan dan mengklarifikasi di media, bahwa ijazah mantan presiden itu memang asli. Hingga kini, panggung sandiwara itu menimbulkan dua penonton yang terbelah, antara yang percaya dengan akting politiknya dan yang tidak percaya. Sejauhmana tujuan menciptakan kesan baik itu tercapai akan sangat ditentukan oleh kerja sama tim. Jika ada salah satu anggota tim yang berperilaku menyimpang, maka panggung belakang akan terkuak.
Kerja sama tim juga ditunjukkan oleh pemerintahan saat ini. Stigma tentang rezim yang otoriter, pemerintahan yang oligarki, dan rezim yang tak berpihak pada rakyat kecil dianggap menjadi beban. Maka para pembantunya di kabinet harus menjadi tim yang bertujuan menciptakan kesan baik, pemerintahan yang demokratis dan berpihak pada rakyat. Kadang tim berjalan dan berkomunikasi dengan baik, namun kadang kurang komunikatif.
Munculnya bendera bajak laut “One Piece” menjelang perayaan kemerdekaan yang awalnya banyak ditentang elite politik, tiba-tiba dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan bagian dari demokrasi. Kerja sama tim diperlukan untuk mengubah stigma rezim otoriter menjadi demokratis di panggung depan. Semua ramai-ramai berbicara bahwa itu semua bentuk kreativitas yang tak perlu dilarang.
Meski demikian, tim di panggung belakang masih saja ada yang melakukan intimidasi bagi mereka yang mengibarkan bendera bajak laut. Elite politik di panggung depan menyuarakan mendukung demokrasi, namun tim di panggung belakang melarang atribut karnaval masyarakat yang membawa patung tikus berdasi di Bangkalan, Jawa Timur, karena dianggap mengandung unsur provokasi (Kompas.com, 26/8/2025).
Elite politik di panggung depan berujar, unjuk rasa atau demonstrasi adalah bagian dari kebebasan berpedapat. Namun kerja sama tim tidak menghasilkan kesan baik tentang demokrasi. Seorang pengemudi ojek online (Ojol) yang terjebak di tengah demonstrasi tanggal 28 Agustus 2025 di Jakarta tewas ditabrak dan dilindas mobil kendaraan taktis polisi. Sadis dan biadab ! Akankah beredar tagar #IndonesiaGelap atau #IndonesiaCemas? Lantaran nyawa tidak lagi berharga di bawah mobil lapis baja barakuda.
Rakyat terbukti marah. Aksi unjuk rasa terjadi hampir di semua daerah. Entah sampai kapan. Rakyat sepertinya muak disuguhi sandiwara politik para elite. Sasaran aksi kini bukan hanya polisi, tetapi juga gedung DPR dan DPRD, serta simbol-simbol kekuasaan. Bukan hanya itu, rakyat pun mulai melakukan penjarahan terhadap simbol-simbol ekonomi. Rakyat yang tertindas melakukan perlawanan. Rumah ketiga anggota DPR yang dianggap menyakiti hati rakyat pun dirusak dan dijarah. Bahkan kabar terbaru, rumah pribadi Menteri Keuangan Sri Mulyani juga dijarah massa.
Kesan baik tentang pemerintahan yang peduli dengan rakyat dilakukan oleh tim. Panggung politik pun disiapkan. Makan bergizi gratis (MBG) menjadi upaya mengelola kesan. Semua menteri berkomentar kompak. MBG diklaim berhasil. Bahkan ada menteri yang berkomentar MBG mampu meningkatkan kemampuan matematika dan bahasa Inggris. Jika di panggung belakang ada siswa yang keracunan MBG, sudah ada menteri yang dengan lantang berkata: “Karena siswa belum terbiasa”.
Sampai kapan rakyat sebagai penonton percaya pada sandiwara politik? Tentu saja sepanjang panggung depan dan panggung belakang berkesesuaian. Agak sulit. Nyaris mustahil. Saat panggung depan pemerintah menyuarakan tentang keadilan dan kesejahteraan rakyat, di panggung belakang rakyat dicekik oleh kenaikan harga sembako dan pajak-pajak. Rakyat berontak. Sandiwara politik yang gagal total!. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU


























