DI ruang belakang C2O Library & Collabtive Surabaya, di sudut dinding tenggara, tertempel banyak sekali poster iklan dari tahun 1950an sampai 1990an. Ada iklan sabun, produk kecantikan, obat kuat, produk elektronik, optik, sampai pasta gigi. Pariwara-pariwara jadul yang dicetak begitu mirip dengan aslinya itu, ditempel sampai menyelimuti dinding, dari atas sampai bawah.
Penataan semacam itu membuat pengunjung tak betah untuk segera menjadikannya sebagai latar foto. Barangkali, selain ingin menunjukkan wajah-wajah iklan lama, penyelenggara juga sengaja menjadikan dinding tersebut sebagai tempat citraan dengan latar estetik—yang notabene sangat digemari oleh generasi belakangan, khususnya Gen Z (generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012).
Selain iklan lama, di ruangan tersebut juga dipajang potret-potret lama wajah Kota Surabaya. Foto-foto bangunan itu dipajang seolah meluber sampai ke lantai dari atas meja mesin jahit yang kuno. Sebuah display yang tak biasa, sebagaimana pameran arsip pada umumnya.


Iklan-iklan jadul di Pamer Koleksi Perpustakaan Medayu Agung dan Museum Sejarah dan Budaya Unair | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Bergeser ke pojok barat, pengunjung akan menemukan jejak-jejak aktivisme dan peristiwa reformasi 1998 yang melegenda itu. Seperti majalah dinding (mading) sekolah, pojok itu menampilkan potongan-potongan (kliping) surat kabar yang memberitakan geliat aktivis dan seputar 1998. Ada wajah Munir, Marsinah, hingga Prabowo. Selain itu, di sana, dipamerkan pula beberapa buku yang berkaitan dengan aktivisme—ada buku Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah (1997) karya Ratna Sarumpaet, Mencintai Munir (2022) karya Suciwati, sampai buku Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie.
Namun, yang tak kalah menarik dari semua itu adalah surat-menyurat Oei Hiem Hwie dengan Pramoedya Ananta Toer—yang dibentang memanjang dan digantung di langit-langit ruangan, mirip seperti lintasan wahana halilintar yang keluar dari mesin tik berkarat. Para pembaca Pram yang sungguh-sungguh, harusnya akrab dengan sosok Oei. Bukan saja karena sama-sama pernah “dibuang” ke Pulau Buru, tapi juga kepada Oei-lah—pun Eko Sutikno dan Tumiso—Pram menitipkan naskah-naskah Pulau Buru-nya seperti Bumi Manusia sebelum diterbitkan. Oei, bisa dibilang salah satu sosok penting di balik terbitnya karya-karya Pram yang legendaris itu.
“Surat-surat pribadi Pak Wi [Oei Hiem Hwie] itu salinan,” ujar Fatimah Mokoginta, kurator Pamer Koleksi, Minggu (24/8/2025) siang di C2O Library & Collabtive Surabaya. “Kami mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan kami tidak meninggalkan detail-detail kecil dalam surat, misalnya coretan, dll. Semua kami salin semirip mungkin,” sambung mahasiswi magister sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu.

Foto-foto wajah Kota Surabaya zaman dulu di Pamer Koleksi Perpustakaan Medayu Agung dan Museum Sejarah dan Budaya Unair | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Pamer Koleksi ini, sebagaimana keterangan Fatim, diselenggarakan atas kerja sama Perpustakaan Medayu Agung dengan Museum Sejarah dan Budaya Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Perpustakaan Medayu Agung merupakan warisan dari Oei Hiem Hwie, jurnalis Trompet Masjarakat sekaligus sosok—sekali lagi—penyelamat manuskrip asli tetralogi Buru-nya Pram. Medayu Agung termasuk perpustakaan partikelir penting di Surabaya. Perpustakaan yang berdiri di daerah Rungkut, Surabaya, itu memiliki 11 ribuan koleksi berupa buku, majalah, koran, hingga dokumen-dokumen penting pra kemerdekaan.
Perpustakaan Medayu Agung menjadi salah satu simpul arsip dokumen yang sangat penting di Surabaya. Banyak wartawan, mahasiswa, dan peneliti dari dalam maupun luar negeri telah berkunjung ke sana. Sosok macam Claudine Salmon, Charles Coppel, Daniel S. Lev, Benedict Anderson, Roger Tol, Rie Poo Tian, John Sidel, He Geng Xin, Tan Ta Sen, Mona Lohanda, Mira Sidharta, dan Pramoedya Ananta Toer sendiri pernah menginjakkan kaki di perpustakaan yang memiliki koleksi buku-buku kuno terbitan pertengahan abad 19 hingga awal abad 20 itu.
“Ya, salah satu tujuan dari pameran ini adalah mengenalkan Perpustakaan Medayu Agung kepada publik yang lebih luas,” kata Fatim di tengah riuh pengunjung pameran. Menurut Fatim, belum banyak orang, khususnya masyarakat Surabaya, yang mengetahui keberadaan Perpustakaan Medayu Agung. “Karena C2O selalu ramai pengunjung, kami buka pameran di sini—sambil menyelam minum air,” ujar Fatim sembari tertawa. Fatim menyebut dirinya sebagai sahabat Medayu Agung.
Sejarah dan Gen Z
Namun, selain, katakanlah, mempromosikan Perpustakaan Medayu Agung, Pamer Koleksi juga bertujuan untuk mendekatkan sejarah—dalam hal ini melalui arsip—kepada generasi Z (atau Gen Z), yang disebut sebagai generasi alergi sejarah atau ahistoris. Seperti “allien”, Gen Z adalah entitas yang, dengan getir, sering disebut sebagai—meminjam bahasa Dr. Tantan Hermansah—”generasi tanpa sejarah” atau paling tidak generasi yang menganggap sejarah itu membosankan.
Dalam survei Pew Research Center, sebanyak 50% siswa Gen Z menyatakan bahwa metode pengajaran yang membosankan dan tidak interaktif menjadi alasan utama kurangnya minat mereka terhadap sejarah. Sedangkan 40% siswa merasa lebih tertarik pada sejarah yang disajikan dalam bentuk multimedia seperti video dokumenter, film, dan konten digital lainnya.
Bagi generasi ini, seperti kata Dr. Tatan, sejarah tidak lagi menjadi semacam pusaka yang diwariskan, melainkan fragmen-fragmen asing yang sering kali dianggap tak berarti. Mereka mengunyahnya dalam berbagai slide frame gambar; dalam ragam video pendek tiga puluh detik dengan narasi kocak yang berserak di media sosial. Alasannya: generasi ini tidak akan kuat disuguhi beban tontonan panjang, apalagi buku bacaan.


Surat-surat pribadi antara Oei Hiem Hwie dan Pramoedya Ananta Toer di Pamer Koleksi Perpustakaan Medayu Agung dan Museum Sejarah dan Budaya Unair | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Namun, Perpustakaan Medayu Agung memiliki cara sendiri untuk mendekatan arsip sejarah kepada generasi Z. “Lewat Pamer Koleksi ini, kita sama-sama belajar bahwa sejarah nggak harus serius dan ngebosenin. Dengan sentuhan Gen Z, arsip bisa jadi seru, cantik, estetik, dan pastinya lebih gampang dipahami,” terang Fatim.
Benar. Sentuhan-sentuhan generasi Z memang sangat kentara dalam pameran arsip ini. Bukan saja penataannya yang dibikin seestetik mungkin, tapi juga gaya bahasa keteran yang digunakan. Lihatlah pada mading Soekarno, misalnya. Di sana terdapat foto Soekarno muda dengan keterangan: Mas-mas teknik. Atau brosur pameran yang didesain simpel dengan narasi yang sangat Gen Z. Ini sebuah pendekatan yang menarik, yang barangkali berpengaruh terhadap pandangan Gen Z terhadap pameran, arsip, maupun sejarah itu sendiri.
Melalui kliping koran tentang aktivisme dan peristiwa 1998 yang dipajang estetik, misalnya, Gen Z dapat belajar dan mengetahui bahwa ada masa di mana banyak orang dibungkam dan dibunuh karena memperjuangkan keadilan. Menurut Fatim, pihak penyelenggara pameran sengaja menyorot isu HAM ini karena sampai sekarang masih problematik, penyelesainnya masih tak terang, kabur, dan bahkan cenderung tak teratasi. “Bahwa perjuangan harus tetap disuarakan,” ujar perempuan muda berkacamata itu.

Mading aktivisme dan peristiwa 1998 di Pamer Koleksi Perpustakaan Medayu Agung dan Museum Sejarah dan Budaya Unair | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Melalui Pamer Koleksi ini, Gen Z seperti diajak menyelami kehidupan masa lalu yang berlapis, bahwa sejarah negara ini tidak berjalan secara datar dan cepat berlalu—sekilas saja muncul, lalu menghilang. Seolah ingin mengatakan kepada generazi Z bahwa optimisme adalah bahan bakar perubahan—meski kini seolah tergantikan oleh pesimisme yang menguap di balik meme dan ironi. Jika diamati betul, Pamer Koleksi, disadari atau tidak, mencegah adanya generasi yang kehilangan makna.
Gen Z tidak alergi sejarah. Hanya saja bagaimana sejarah itu disampaikan secara menarik dan tidak terjebak pada narasi romantik yang kadang kala justru menjerumuskan kita pada apa yang disebut post power syndrome.
Bukan Sekadar Romantisme
Sampai di sini, alih-alih mengagung-agungkan atau meratapi masa lalu, ada yang lebih penting dari sekadar pandangan romantisme dalam memandang penggalian sejarah atau pameran arsip seperti Pamer Koleksi ini, yaitu menempatkan sejarah (masa lalu) sebagai kritik untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik—menyurat yang silam, menggurat yang menjelang, kata Nancy K. Florida.
Dengan demikian, kita perlu menjadikan pameran arsip semacam ini sebagai sebagai pergulatan sosial, pergulatan kuasa di antara kekuatan sosial, dari masa ke masa. Pergulatan (diskursus) itulah saya kira yang membawa Indonesia sampai pada keadaan seperti sekarang.
Kita perlu memahami kekuatan apa yang membuat kita, hari ini, secara kolektif seolah bergerak memunggungi kedinamisan, kecairan, dalam bernegara—kita hari ini seolah bernegara dengan kaku, kolot, dan menegangkan—karena hanya dengan begitu kita bisa memahami apa yang harus dilakukan untuk bergerak ke arah sebaliknya. Inilah fungsi sejarah sebagai kritik, kata Hilmar Farid.

Mading Pramoedya Ananta Toer di Pamer Koleksi Perpustakaan Medayu Agung dan Museum Sejarah dan Budaya Unair | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Dalam sejarah sebagai kritik, menurut Hilmar, arti penting suatu peristiwa, seorang tokoh atau sebuah tempat, tidak ditentukan oleh hasil akhirnya (telos), tetapi karena kedudukannya dalam waktu dan tempat tertentu. Hanya dengan begitu kita bisa kembali mengangkat peristiwa, tokoh atau tempat yang dalam pandangan dominan dianggap tidak penting menjadi penting. Hanya dengan begini pemahaman kita mengenai sejarah, dan juga masa kini dan masa depan, akan menjadi lebih adil.
Kita juga perlu menganggap bahwa sejarah bukan sekadar ilmu yang mempelajari masa lalu, lebih dari itu, seperti orang-orang bijak bilang, juga menyisakan banyak hal, pelajaran, sekaligus menawarkan alternatif kebajikan—yang buruk dari masa silam dibenamkan, yang baik ditegakkan.
Namun, diakui atau tidak, kerja-kerja pengarsipan di negara ini sepertinya memang tampak tidak lebih penting dan populer daripada membagi-bagi sembako. Muhidin M. Dahlan dalam buku Politik Tanpa Dokumen (2018) menyebut “Indonesia bangsa perusak. Bangsa yang tak punya mental merawat. Apa pun akan dirusaknya jika itu tak memberi keuntungan pragmatis. Tak peduli, bahkan milik berharga Proklamator Indonesia. Dua warisan dari dua bapak pendiri bangsa itu, sepanjang reformasi, terkubur satu-satu.”
Banyak dari kita yang memandang arsip bukanlah barang yang menghasilkan keuntungan materi atau bukan barang yang memiliki timbal balik. Sehingga, arsip mendapat posisi antrean paling belakang. Arsip dianggap benda mati semata, tidak hidup dan menghidupi. Padahal, senada pendapat Muhidin, “Arsip [adalah] bagian [penting] dari kehidupan.”[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole



























