RUANG sastra daerah di sekolah sempit dan redup. Menurut Hidayat (2009) pembelajaran sastra daerah bersifat aktif reseptif karena siswa tidak dapat membaca karya sastra dengan benar apalagi diajari menulis. Pembelajaran bahasa, aksara, dan sastra Bali misalnya, dianggap membosankan, tidak menarik dan tidak produktif. Wayan Artika (2024) menyatakan pelajaran bahasa Bali sebagai kuliah-kuliah linguistik yang berat, hafalan, dan tidak fungsional. Buku-buku pelajaran bahasa Bali sama sekali tidak didukung oleh literasi sastra. Seperti itulah pendapat para pegiat sastra yang mencerminkan kondisi pembelajaran bahasa dan sastra daerah saat ini.
Namun, harus diakui juga pembelajaran bahasa dan sastra daerah yang aktif, produktif, dan menyenangkan di sekolah di tengah gempuran era digital dan perubahan zaman memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk diwujudkan. Jika pembelajaran dilaksanakan secara berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan, niscaya sastra daerah akan menguar dari jendela dan pintu kelas.



Hasil belajar siswa berupa cerita bergambar dengan pendekatan diferensiasi. Luh Suci Armini Putri sebagai Penulis Cerita dan Kadek Wiwin Riska Ariyani sebagai ilustrator
Tidak semua siswa memiliki minat dan bakat menulis karya sastra. Jika semua siswa diharapkan menghasilkan karya sastra berupa puisi atau cerita di akhir pembelajaran, maka ini tentu sulit untuk direalisasikan. Sebagaimana kata Ki Hadjar Dewantara, setiap murid memiliki potensi yang unik. Dengan ini keberagaman kelas adalah keniscayaan, juga tantangan sekaligus kekayaan. Jika pada akhirnya hasil atau produk belajar itu harus dipaksakan seragam, maka pembelajaran tidak memberikan kesempatan siswa untuk berkembang. Kemampuan siswa tidak dihargai. Alih-alih produktif, pembelajaran sastra malah menjadi pasif.
Siswa asyik menggambar padahal guru sedang menjelaskan materi ajar. Fenomena ini tak jarang dijumpai di ruang-ruang kelas. Salah satu bukti keragaman kelas yang sering tak disadari. Perilaku seperti ini dianggap kurang sopan hingga guru akhirnya memberikan teguran. Apakah guru salah mengingatkan siswanya agar fokus belajar tidak hilang? Tentu tidak. Akan tetapi, setelah itu, yang perlu direfleksi bersama adalah kekayaan kelas ini luput dari pemberdayaan sehingga pembelajaran menjadi tidak membahagiakan siswa karena tidak sejalan dengan kebutuhan belajarnya.
Lantas bagaimana sebaiknya pembelajaran sastra daerah dilaksanakan di ruang kelas yang unik agar tetap produktif?
Pendekatan diferensiasi memberikan kesempatan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan melalui berbagai bentuk sumber belajar (diferensiasi konten), memahami materi melalui berbagai aktivitas pembelajaran (diferensiasi proses), dan menunjukkan apa yang mereka pahami lewat berbagai bentuk (diferensiasi produk).
Pendekatan diferensiasi dalam pembelajaran sastra daerah adalah upaya menciptakan pembelajaran sastra yang diselaraskan dengan kebutuhan belajar siswa. Selain menggunakan sumber belajar cetak, sejalan dengan kodrat zaman perlu juga memanfaatkan sumber belajar digital, seperti kamus bahasa daerah daring, buku nonteks digital, dan video. Agar lebih menarik minat belajar siswa perlu difasilitasi sumber belajar yang sesuai dengan kemampuan awal, konteks lingkungan dan budayanya.
Modifikasi atau penyelarasan aktivitas pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif. Pendekatan pembelajaran berkelompok ini dapat membantu siswa untuk menguasai pengetahuan faktual juga aplikatif sejalan dengan teori konstruktivisme sosial. Psikolog Rusia, Lev Vygotsky menyatakan bahwa pengetahuan dikonstruksi melalui interaksi sosial.
Pengelompokan perlu dilakukan secara fleksibel. Menurut Imelda Hutapea (dalam Shibab, 2016) pengelompokan yang kaku tanpa usaha meningkatkan kemampuan pelajar adalah miskonsepsi diferensiasi. Bekerja sama dengan pelajar yang berlainan baik dari segi minat dan kesiapan memberikan kesempatan menguasai strategi belajar baru dan memperdalam apa yang telah dimilikinya.
Pembelajaran berbasis teks—menjadikan teks sebagai pusat kegiatan belajar—juga dapat digunakan untuk memodifikasi proses pembelajaran sastra. Aktivitas pembelajarannya, yaitu pemodelan teks, bekerja sama membangun teks, membangun teks secara mandiri, (Knapp dan Watkins, dalam Mahsun (2014:115). Guru menunjukkan teks sastra yang relevan dengan konteks siswa serta menjelaskan bagaimana teks itu dibangun (pemodelan). Siswa dalam kelompok belajar bersama untuk menulis karya sastra (bekerja sama membangun teks). Siswa menerapkan pengetahuan yang telah diketahui untuk mencipta teks secara mandiri (membangun teks secara mandiri).
Dalam pembelajaran menulis puisi misalnya, merujuk buku Pedoman Model Pembelajaran Bahasa Bali Tingkat SMP (Balai Bahasa Provinsi Bali, 2022) dapat digunakan model pembelajaran mind mapping dengan langkah-langkah, yaitu menentukan tema puisi, mencari kata-kata yang akan digunakan sebagai kata kunci, merumuskan menjadi kalimat, menyusun kalimat ke dalam baris-baris puisi, menghias, dan finishing.
Juga model pembelajaran pengamatan objek sekitar (POS) dengan langkah-langkah, yaitu keluar dari lingkungan keseharian, misalnya ke pasar, sungai, atau tempat apapun yang ada di sekitar, mencatat hal-hal menarik yang ditemui dalam pengamatan, menentukan hal yang akan ditulis/topik, dan menulis puisi berdasarkan hasil pengamatan.
Modifikasi produk dapat berupa hasil belajar yang selaras dengan minat dan bakatnya. Hasil belajar tidak selalu dalam bentuk teks puisi atau cerita, tetapi bisa dalam bentuk gambar, musikalisasi puisi, teks ulasan, komik, pembacaan puisi, dan lain sebagainya.
Pada tahun ajaran 2021/2022 dan 2022/2023, saya pernah mengajak siswa untuk belajar menulis puisi Bali modern. Semua siswa memang berhasil menulis, tetapi karena perbedaan minat dan bakat tidak semua mampu menunjukkan hasil karya puisi yang maksimal, hanya 12 siswa dari 120-an siswa. Walaupun demikian, saya sangat mengapresiasi usaha keras siswa untuk tetap belajar menulis.



Produk kolaborasi cerita bergambar berjudul I Moka karya Ni Luh Pebri Ani Suwarnisi sebagai penulis cerita dan Komang Andini Pradnyadewi sebagai ilustrator
Beberapa puisi-puisi terpilih sempat dimuat di majalah Suara Saking Bali—majalah daring berbahasa Bali yang memuat karya sastra berbahasa Bali. Berkat dukungan Kepala SMPN 2 Sawan, Ni Nyoman Kartikawati, S.Pd., karya-karya terpilih dari siswa tersebut kemudian diterbitkan dalam satu buku antologi Nyurat Rasa Ngupapira Basa (Pustaka Ekspresi, 2023). Publikasi karya di media digital dan dalam bentuk buku dapat memotivasi semangat belajar dan menginspirasi siswa yang lain.
Kemudian pada tahun ajaran 2024/2025, saya meninjau kembali implementasi diferensiasi produk dalam pembelajaran sastra. Siswa diberikan kebebasan untuk mengekspresikan hasilnya belajarnya tidak hanya dengan satu jenis produk. Hasilnya di luar ekspektasi. Ada siswa yang menunjukkan hasil belajarnya dengan bercerita. Ada juga siswa yang menulis cerita, siswa yang lain mengalihwahanakannya dalam bentuk gambar. Jadilah kemudian produk belajar berupa cerita bergambar.
Pendekatan diferensiasi dalam pembelajaran sastra dapat menciptakan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa. Keragaman potensi siswa yang terfasilitasi menjadikan pembelajaran kaya hasil belajar. Namun, tantangannya adalah diperlukan waktu yang tak sedikit bagi guru untuk memberikan umpan balik yang relevan, apalagi produk belajar siswa yang beragam.
Apakah implementasi pendekatan diferensiasi dalam pembelajaran sastra ini PR bagi guru? Iya, pembelajaran berdiferensiasi itu ribet atau rumit. Namun, orang bijak mengatakan bahwa tantangan adalah peluang. Kesulitan pembelajaran niscaya akan teratasi—tumbuh berkembang menjadi kesuksesan—jika guru senantiasa merefleksi diri, berdiskusi, dan berkolaborasi. [T]
Sumber bacaan:
- Artika, I Wayan. (2024). Guru Bahasa Bali “Pengawi” : Kata Pengantar Buku Antologi Puisi ”Gita Rasmi Sancaya” Karya I Putu Wahya Santosa. Diakses 6 Agustus 2025 dari https://tatkala.co/2024/02/14/guru-bahasa-bali-pengawi-kata-pengantar-buku-antologi-puisi-gita-rasmi-sancaya-karya-i-putu-wahya-santosa/
- Hidayat, A. (2009). Pembelajaran Sastra di Sekolah. INSANIA: Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 14 (2), 221-230.
- Mahsun, (2014). Teks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013. Jakarta: Rajawali Pers.
- Putra, Ida Bagus Rai, dkk. (2022). Pedoman Model Pembelajaran Bahasa Bali Tingkat SMP. Denpasar: Balai Bahasa Provinsi Bali.
- Shihab, Najelaa, dkk. (2016). Diferensiasi Memahami Pelajar untuk Belajar Bermakna & Menyenangkan. Tangerang: Literati.
Penulis: Komang Sujana
Editor: Adnyana Ole


























