DALAM upaya mendukung program kesehatan pranikah guna mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas, tim dosen dan mahasiswa KKN Universitas Udayana melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertema “Optimalisasi Peran Ibu PKK dalam Meningkatkan Partisipasi Skrining Kesehatan Pranikah” di Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, pada 27 Juli 2025.
Program ini juga menjadi wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat, dengan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.
Program pengabdian ini merupakan hilirisasi dari hasil penelitian tahun 2024 tentang penerimaan remaja terhadap skrining pranikah bagi calon pengantin (catin). Sasaran utama kegiatan adalah ibu-ibu PKK dan Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Desa Saba sendiri telah ditetapkan sebagai desa prioritas intervensi stunting oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar periode 2023–2025. Melalui pendekatan ini, diharapkan ibu-ibu PKK mampu berkoordinasi dengan Kader TPK untuk meningkatkan partisipasi calon pengantin dalam menjalani skrining kesehatan pranikah sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya pemahaman masyarakat, terutama calon pengantin, mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. Padahal, skrining pranikah berperan penting dalam mencegah penularan penyakit menular, mendeteksi risiko kesehatan reproduksi, serta memastikan kesiapan fisik dan mental pasangan dalam membangun keluarga.
Melalui program ini, tim pengabdian memberikan edukasi dan pelatihan kepada ibu-ibu PKK dan Kader TPK agar mampu menjadi motor penggerak sosialisasi pentingnya skrining pranikah di lingkungan masing-masing. Ibu-ibu PKK dipilih karena memiliki kedekatan sosial dengan masyarakat serta peran strategis dalam menjangkau calon pengantin melalui kegiatan dasa wisma, posyandu, hingga aktivitas adat di desa.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ni Putu Widarini, SKM, MPH, menjelaskan bahwa kegiatan ini juga melibatkan narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar dan Balai Penyuluhan KB Kecamatan Blahbatuh.
“Kegiatan ini tidak hanya berupa penyuluhan, tetapi juga pelatihan komunikasi efektif, penyusunan materi edukatif, hingga simulasi pendampingan calon pengantin. Kami ingin para kader PKK tidak hanya memahami pentingnya skrining pranikah, tetapi juga mampu mengajak dan meyakinkan masyarakat untuk melaksanakannya,” ujar Widarini.

Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari peserta. “Selama ini kami tahu tentang pentingnya kesehatan sebelum menikah, tetapi tidak tahu harus memulainya dari mana. Dengan pelatihan ini, kami jadi lebih percaya diri untuk mengajak anak-anak muda di banjar kami agar mengikuti pemeriksaan,” ungkap salah satu ibu PKK Desa Saba.
Diharapkan, hasil dari kegiatan ini dapat meningkatkan angka partisipasi skrining kesehatan pranikah di Desa Saba dan menjadi model bagi desa-desa lain di Kabupaten Gianyar. Optimalisasi peran ibu-ibu PKK dalam promosi kesehatan pranikah menjadi langkah konkret dalam mendukung upaya pemerintah mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. [T]
Reporter/Penulis: Siaran Pers
Editor: Adnyana Ole



























