Drs. I Dewa Nyoman Sarjana, M.Pd adalah penulis sastra Bali modern yang tinggal di Perum Griya Multi Jadi, Eksklusiv 4 No.24A, Desa Banjar Anyar, Banjar Jadi Pisah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan-Bali. Ia berasal dari Pandak Gede, Kediri. Mantan guru dan kepala sekolah ini tidak pernah berpikir hasil tulisannya bagus ataupun jelek, yang penting ia menulis. Sebab, pikirannya akan merasa plong jika ide-ide yang ditemukan itu mampu disulap menjadi sebuah tulisan yang dapat dibaca oleh orang lain.
Walau demikian, pria kelahiran Yehembang, 31 Desember 1964 ini tetap mempertimbangkan gaya bahasa, penyajian informasi, sehingga mendapat respons pembaca. Karena ia sangat sadar, sebuah buku yang bagus itu memiliki tema yang menarik, informasi yang akurat dan bermanfaat, serta gaya bahasa yang enak dibaca. Semua itu bisa diwujudkan bila membiasakan dengan menulis, menangkap ide-ide di lapangan serta kebiasaan di dalam kehidupan.
Suami Ni Komang Suarningsih ini mulai menjadi penulis aktif sejak tahun 1983, ketika itu tulisan opini sudah dimuat di Bali Post. Tulisan itu, bahkan dinobatkan sebagai sepuluh besar yang kemudian diberikan hadiah berupa jam dinding. Penghargaan itu, menjadi cambuk baginya untuk tetap menghasilkan tulisan, sehingga ia makin rajin menulis. Tulisanya tak hanya dimuat di Bali Post, tetapi juga mewarnai koran lain, seperti harian Nusa Tenggara, serta koran lokal lainnya yang memiliki rubrik sastra dan budaya.
Dewa Sarjana menerima penghargaan Bali Jani Nugraha serangkaian Festival Seni Bali Jani 2025 yang diserahkan Gubernur Bali I Wayan Koster pada malam penutupan festival itu di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Senin, 28 Juli 2025.
Atas penghargaan itu Dewa Sarjana mengucap syukur dan terima kasih. Sebagai seorang guru, ia menyadari betapa penting menulis karena menjadi syarat untuk naik pangkat dan meningkatkan karir, sehingga ia pun menulis sesuai dengan tuntutan profesi, terutama terkait dengan pembelajaran di sekolah. Buku pertama yang ia tulis Siapa Bilang Menulis itu Susah. Dan yang terakhir buku pembelajaran berjudul Cyber Pedagogi. Ia pun terus menulis seiring aktivitas dan karir guru setelah dipercaya menjadi kepala sekolah lebih dari 20 tahun. Kebiasaan menuangkan pikiran dalam tulisan itu ditularkan kepada para siswanya melalui pembuatan majalah sekolah. Guru dan siwa, tentu memiliki tugas mengisi majalah itu. Ia sadar lewat majalah akan mampu menghidupkan budaya literasi utama menulis di sekolah.
Ayah dari Dewa Ayu Putu Candra Dharmastuti dan Dewa Ayu Made Asri Agustin ini memang kreatif. Walau tak memiliki komunitas atau sanggar, ia justru mengajak para siswa yang memiliki hobi menulis untuk memupuk bakatnya. Artinya, di sekolah manapan ia ditugaskan, maka dengan kreativitasnya di ruang pendidikan itu muncul majalah. Misalnya saat menjadi kepala sekolah di SMPN 2 Pupuan di Blimbing, SMPN 2 Perean Baturiti, SMPN 1 Tabanan, SMPN 4 Kediri di Kaba-kaba.
Pria yang biasa disapa Dewa Sarjana ini akhirnya dipercaya membina jurnal bagi guru-guru. Tak kalah dalam dunia pendidikan beliau juga menjadi instruktur nasional, sehingga sering mendapat tugas di Bali juga luar daerah seperti pernah mengajar beberapa kepala sekolah di Makasar.
Jika dihitung ke belakang, kebiasaan menulis sastra itu telah dilakukan sejak tahun 1999. Pada tahun 2000, kegiatan menuslia sastra, juga terkait menulis buku bernuansa pendidikan. Beberapa tulisan bernuansa pendidikan, diantaranya Mendidik Siswa Jaman Now, Siapa Bilang Menulis itu Susah, Saatnya Guru Melakukan Publikasi Ilmiah, Menjadi Guru Panggilan Hati, dan lainnya.
Semua pengalaman mendapat apresiasi dari pemerintah, sehingga Gubernur Bali memberikan Penghargaan Widya Kusuma sebagai Pengabdi Pendidikan tahun 2012. Sebagai Guru Berprestasi Provinsi Bali tahun 2010. Juara 1 kepala sekolah berprestasi jenjang SMP tingkat nasional (2010), sehingga mendapat kesempatan study banding ke quangsu Cina dan Australia.
Dewa Sarjana kemudian berangsur angsur beralih ke gaya penulisan sastra. Ada kurang lebih 9 buku sastra tunggal, dan 7 buku antologi karya bersama. Sekitar tahun 2018, beliau mencoba beralih ke sastra Bali modern seperti puisi dan pantun. Buku sastra Bali modern pertama terbit berupa kumpulan puisi berjudul Kunang-Kunang yang masuk nominasi 10 besar dalam penghargaan Rencange. Awal mula ini membuatnya semakin fokus menulis, berupa kumpulan cerpen, puisi dan juga satua bahasa Bali. Ketika ditanya mengapa beralih ke sastra Bali modern karena begitu susahnya generasi muda di Bali bisa atau dapat bercerita dengan bahasa Bali. Disamping itu beliau juga sudah terlepas dari tugas abdi negara dan sudah meraih prestasi kerja paling puncak, karena ia sudah 4D, pangkat tertinggi dan mendekati pensiun.
Menulis sastra Bali modern semakin disukainya, setelah menemukan teman-teman yang selalu memberikan support. Sayang, kegiatan menulis sempat mandeg ketika dunia dilanda pandemic Covid-19. Imbas dari masa pandemic itu membuat kegiatan menulis terhenti. Namun, ia memanfaatkan suasana itu dengan menulis puisi. Ia berhasil menerbitkan kumpulan puisi pada tahun 2020. Saat itu tidak ada kegiatan sekolah, sehingga menulis kumpulan puisi bertajuk Antologi Puisi Perempuan Berpayung Hitam, yang menceritakan tentang sekolah yang sepi, bangku berdebu, seorang perempuan ditinggal suami, sementara harus mengidupi keluarga.
Ide-ide nya pun terus mengalir, apalagi di jaman ini sudah canggih ini. Ketika muncul ide, ia langsung mencatat di note hand pone. Setelah terkumpul, lalu menulis dalam bentuk buku kemudian dicetak di beberapa percetakan sendiri. Ia telah melahirkan beberap buku sastra Bali Modern, seperti Perempuan Perempuan Pencari Hantu, Tak Mudah Memutar Waktu, Di Kintamani Cinta Berlabuh, Serunai Angin Malam dan lainnya. Semau tulisan itu, konon idenya mengalir dan menulisnya sesuai dengan 5W 1 H.
Kadang orang bilang mendapat ide itu susah, padahal ide bisa muncul kapan dan dimana saja, asal kemudian menuliskannya. Misal ketika ke sawah menemukan temuku mati, lalu muncul ide menulis “Magarang Temuku”, melihat pura subak semakin sedikit anggotanya maka lahir tulisan “Pura Subak”yang didalamnya berisi tentang konplik antara pengempon subak, kelian subak dengan pengembang. Berbeda lagi, dengan tulisan berjudul “Borosan” yang menceritakan pemilihan Kepala Desa hingga dibawa kepada pemilihan bupati. Ketika ngayah diacara ngaben ia menemuka kalimat “Mati ten Ngaba Empugan”
Ketika ditanya berapa lama menyelesaikan 1 buku, beliau katakan tidak tentu. Bisa satu tulisan, selesai waktu 2 sampai 3 bulan atau sesuai dengan mood. Hanya saja, kendala baginya adalah penulisan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Sementara kalau menulis bahasa Bali, ia sering keliru dalam mengucapkannya. Hal itu karena dipengaruhi dialek tempat ia berada.

Dewa Sarjana
Sekarang ini, Dewa Sarjana telah memiliki karya buku sendiri sekitar 20 buah, dan sekitar 10 buku berupa antologi, lokal, nasional dan internasioal. Ia sebagai penulis antologi kumpulan tulisan tentang ibu bergabung dengan penulis dari berbagai negara, seperti India, Pakistan, Polandia, Bolivia, Jerman, Perancis dan lainnya. Sekarang ini, dua tulisannya sedang menunggu cetak tinggal mencarikan ISBN, yaitu buku berbahasa Bali “Bulan Megantung”, dan kumpulan puisi “Ngeling Ulian Tresna”. Kedua karya rulis itu rencana diikutkan penghargaan rencange di Yogyakarta.
Bagi Dewa Sarjana, bersusastra itu sangat bagus bagi pengembangan pribadi kita, dapat menghaluskan budi, karena sastra dasarnya adalah ungkapan rasa, imajinasi, perenungan dari berbagai sudut pandang dalam keseharian. Apa yang dirasa unik, apa yang mengalir dipikiran maka itu yang ditulis. Walau demikian, ia merasa jarang menghasilkan satu judul tulisan dalam sekali menulis. Tetapi beda, kalau ide sudah mengalir, maka bisa mengasilkan tulisan 5 – 7 halaman dengan ukuran kerta A5. Ia juga menyempatkan diri untuk membimbing keponakannya sehingga berhasil sebagai pemenang. Puisi karyanya juga sempat dijadikan rujukan dalam lomba sastra oleh salah satu komunitas di Negera.
Dewa Sarjana mengaku terkejut ketika mengetahui akan dianugrahkan Penghargaan Bali Jani Nugraha oleh Gubernur Bali. Semua itu mungkin kebaikan hati teman-teman yang memantau karyanya, karena sering pula menulis di media Face Book.
Ucapan terimakasih yang setinggi tingginya dan setulus tulusnya kepada Bapak dan Ibu Gubernur Bali atas penghargaan ini. Demikian pula buat para penulis senior sastra Bali yang selalu membimbing. Kedepan untuk memajukan sastra Bali modern, Dewa Sarjana berharap harus ada perhatian sungguh-sungguh dan konsiten, terutama dari pihak pengambil keputusan dan kebijakan untuk melihat penulis-penulis di Bali dan karya-karyanya. Jangan seperti linuh (gempa), ngidupang raga ngematiang raga (menulis sendiri, menjual sendiri, biaya sendiri, dan kalau tidak laku lalu membaca sendiri). Buku-buku akhirnya bertumpuk di dalam rak itu. [T/*]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























