Dalam kisah cinta tragis Dewi Surati dan Raden Banterang, legenda tak sekadar mengisahkan air yang wangi, tapi juga menyingkap jejak pertemuan dua negeri: Klungkung dan Blambangan. Di balik sungai harum itu, mengalir sejarah yang mempertemukan Bali dan Jawa dalam alur yang tak tercatat tapi terasa.
SIAPA sangka, tanah paling timur Pulau Jawa menyimpan kisah cinta yang tak hanya diwarnai oleh pengorbanan, tetapi juga getirnya fitnah. Nama Banyuwangi lahir dari tragedi yang menimpa Dewi Surati dan Raden Banterang, dua tokoh yang terikat oleh cinta, tetapi dipisahkan oleh prasangka.
Surati, seorang putri dari Kerajaan Klungkung di Bali, melarikan diri ke Blambangan setelah kerajaannya diserang dan keluarganya terbunuh. Di tengah pelariannya, ia bertemu Raden Banterang, seorang bangsawan Blambangan yang jatuh hati padanya dan menjadikannya istri. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Kakak kandung Surati, Bagus Tantra, muncul dan menanamkan benih fitnah, menuduh Surati hendak membalas dendam terhadap Blambangan. Raden Banterang, yang percaya pada tuduhan itu, membawa Surati ke tepi sungai untuk dihukum mati.
Sebelum ajalnya, Surati bersumpah bahwa jika dirinya tidak bersalah, maka air sungai tempat darahnya tumpah akan mengeluarkan bau harum. Setelah kematiannya, keajaiban itu benar terjadi. Sungai memunculkan wangi semerbak, menjadi bukti kesuciannya. Sejak saat itu, tempat tersebut dikenal dengan nama Banyuwangi, yang berarti “air yang wangi”.
Klungkung dan Blambangan dalam Lintas Sejarah
Klungkung dan Blambangan merupakan dua kerajaan yang terpisah selat tetapi terhubung oleh sejarah panjang Nusantara. Kedua kerajaan ini juga memiliki kedekatan geografis sekaligus hubungan politik yang dinamis. Hubungan antara Kerajaan Blambangan dan Kerajaan Klungkung terlihat dalam konteks geopolitik dan kedekatan wilayah serta konflik di masa lalu.
Pada abad ke-16 hingga abad ke-17, Blambangan yang terletak di timur Pulau Jawa (sekarang Banyuwangi) berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali, termasuk Klungkung yang merupakan penerus Kerajaan Gelgel. Kerajaan Gelgel pernah menguasai wilayah yang meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, dan Blambangan.
Legenda sebagai Cerminan Sejarah dan Identitas
Legenda Dewi Surati dan Raden Banterang tak hanya hidup sebagai cerita rakyat, tetapi juga sebagai cerminan identitas dan sejarah yang tersembunyi di balik alur dongeng. Surati, yang berasal dari Klungkung, melambangkan kesetiaan perempuan Bali sekaligus simbol transisi budaya dari akar Hindu-Bali menuju kehidupan baru di tanah Blambangan.
Sementara itu, Banterang digambarkan sebagai pemimpin Blambangan yang gagah tapi rapuh oleh prasangka, mencerminkan tantangan yang dihadapi penguasa dalam menjaga keutuhan wilayah dan kepercayaan rakyat. Di balik cerita tentang sungai yang harum karena pengorbanan, tersimpan jejak sejarah yang tak selalu tercatat dalam prasasti atau babad, tetapi diwariskan lewat tutur dan ingatan kolektif masyarakat Banyuwangi.
Identitas kultural Banyuwangi banyak dipengaruhi oleh legenda Dewi Surati dan Raden Banterang. Meski berbentuk cerita rakyat, kisah ini merekam kemungkinan adanya hubungan historis antara Klungkung di Bali dan Blambangan di ujung timur Jawa.
Pengaruh budaya Hindu-Bali yang masih terlihat dalam tradisi masyarakat Osing menguatkan dugaan bahwa perpindahan penduduk dan akulturasi budaya telah berlangsung sejak masa silam. Dalam konteks ini, legenda bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari memori kolektif yang menyimpan jejak sejarah lokal. [T]
Penulis: Vivit Arista Dewi
Editor: Adnyana Ole


























