6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Agnes Monica Marpaung by Agnes Monica Marpaung
July 28, 2025
in Esai
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Agnes Monica Marpaung

KITA hidup di zaman yang menjunjung kekuatan mental, ketahanan emosional, dan ketenangan batin sebagai simbol kemajuan pribadi. Di tengah tekanan hidup modern, banyak orang mencari jalan untuk bertahan. Salah satu jalan yang naik daun dalam beberapa tahun terakhir adalah stoikisme.

Mungkin banyak orang yang sudah tidak asing dengan istilah ini. Stoikisme lahir dari rahim pemikiran Sinisme—mazhab yang menjadi induk filosofisnya, yang dikemukakan oleh Zeno, seorang filsuf Yunani kuno pada abad ke-3 SM (Laërtius, D., 1925). Stoikisme mengajarkan cara mencapai ketenangan batin dan kebahagiaan sejati (Eudaimonia) dengan berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan dan menerima apa yang tidak bisa kita kendalikan.

Filosofi kuno dari Yunani ini mendadak populer di media sosial, podcast, hingga buku pengembangan diri. Salah satu buku pengembangan diri yang terkenal hingga menjadi fenomenal membahas seputar stoikisme adalah buku yang ditulis oleh Henry Manampiring dengan judul Filosofi Teras. Dari Zeno, Marcus Aurelius, Epictetus hingga Henry Manampiring, kutipan-kutipan mereka berseliweran—seringkali dipotong, dipermak, dan disajikan sebagai solusi instan untuk masalah hidup yang kompleks.

Namun, ada sesuatu yang perlu kita waspadai. Di balik viralnya filosofi ini, banyak yang tampaknya hanya mengadopsi “kulit”-nya saja. Stoikisme lalu menjelma menjadi semacam perisai emosional yang menolak kelembutan hati, menyangkal duka, dan memuliakan sikap “dingin” atas nama kekuatan. Tanpa disadari, kita sedang menyaksikan bagaimana stoikisme direduksi menjadi versi baru dari toxic positivity.

Stoikisme: Zona Dilarang ‘Baper’

Dalam keseharian, kita sering dengar orang berkata atau mungkin kita yang mengucapkan kalimat-kalimat seperti: “Jangan terlalu berekspektasi” atau “Ikhlasin aja, jangan overthinking” atau yang lebih populer: “Jangan baper, nanti sakit sendiri.” Untuk beberapa momen, kalimat-kalimat ini terdengar seperti nasihat. Tapi dalam frekuensi tertentu, ia berubah jadi tekanan: tekanan untuk selalu tenang, selalu rasional, selalu “kuat”.

Dalam budaya seperti ini, kesedihan dianggap lemah. Marah dianggap kekanak-kanakan. Menangis dianggap tidak dewasa. Kita dipaksa untuk tampak stabil, bahkan ketika jiwa sedang remuk redam.

Stoikisme, ketika disalahpahami, seolah menguatkan narasi ini. Banyak yang mengira stoik itu berarti tidak punya perasaan. Bahwa menjadi dewasa adalah menjadi “kebal”. Dan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang harus dihindari, bukan dialami.

Padahal, stoikisme sejati tidak pernah menyuruh kita untuk tidak merasakan. Ia hanya mengajarkan kita untuk tidak dikuasai oleh emosi. Emosi bukan musuh, ia adalah bagian dari hidup yang perlu dikenali, bukan dibungkam.

Stoikisme Sejati: Mengenali, Mengelola, Bukan Menolak

Dalam buku Meditations, Marcus Aurelius menulis: “You have power over your mind—not outside events. Realize this, and you will find strength.” Kalimat ini cukup terkenal dan sering dikutip, tapi jarang dibaca dengan utuh. Kekuatan dalam stoikisme bukan tentang menolak kenyataan, melainkan tentang menerima apa yang tak bisa diubah, dan bertanggung jawab atas reaksi kita terhadapnya.

Stoikisme mengajak kita untuk mengamati emosi, menanyakan asalnya, memahaminya. Marah boleh, sedih boleh, kecewa juga sangat boleh. Tapi yang menjadi penting adalah: apakah kita akan membiarkan emosi itu membajak keputusan kita?

Namun, dalam praktik populer hari ini, proses ini sering dipotong. Banyak yang hanya mengambil kesimpulan cepat: “Kalau kamu terluka, artinya kamu belum stoik.” Justru ini menjadi keliru. Lebih dari itu, stoikisme yang sehat mengakui bahwa luka adalah bagian dari kehidupan. Ia hanya mengingatkan kita agar tidak hanyut dalam naungan luka itu selamanya.

Pseudo-Stoikisme dan Toxic Positivity: Dua Sisi dari Koin yang Sama

Di sisi lain, toxic positivity adalah budaya yang menuntut kita untuk selalu bahagia, selalu berpikir positif, selalu melihat hikmah di balik luka. Walaupun niatnya mungkin baik, toxic positivity sering membuat kita merasa bersalah ketika merasa sedih. Ia memaksa kita untuk “move on” bahkan sebelum kita sempat duduk bersama rasa kehilangan.

Kombinasi antara toxic positivity dan pseudo-stoikisme menghasilkan generasi yang terampil menahan air mata, tapi kaku dalam mengungkapkan perasaan. Kita jadi terbiasa bilang “Gak apa-apa kok”, bahkan saat hati retak. Kita terbiasa menyemangati teman dengan, “Yasudahlah, ikhlasin aja,” alih-alih duduk mendengarkan.

Kita mengira sedang menolong. Padahal, kita sedang menghilangkan ruang untuk merasakan. Akibatnya, kita menjadi asing dengan perasaan kita sendiri. Kita kehilangan kamus untuk menerjemahkan bahasa hati. Lidah kita menjadi fasih menawarkan solusi dan kutipan penyemangat, namun kelu saat diminta untuk sekadar mengakui, “Iya, ini memang sakit.” Hubungan antarmanusia pun berubah menjadi transaksi motivasi, bukan lagi sebuah perjumpaan dua jiwa yang utuh dengan segala retaknya.

Erosi Lanskap Emosional

Berbagai studi psikologi modern mulai memperingatkan bahaya dari penekanan emosi. Orang yang terbiasa menyangkal kesedihannya cenderung mengalami kecemasan yang lebih besar, kesulitan menjalin hubungan intim, bahkan lebih rentan terhadap burnout. Ini bukan karena mereka lemah, tapi karena sistem emosi mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk berfungsi dengan sehat. Kondisi ini secara perlahan memicu erosi pada pondasi emosional mereka.

Sebuah studi tentang Pathak-Wieten Stoicism Ideology Scale menunjukkan bahwa orang dengan skor stoikisme tinggi (dalam artian menolak ekspresi emosi) cenderung menunda mencari bantuan medis, menyangkal kebutuhan sosial, dan mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah.

Dengan kata lain: menjadi “kuat” secara emosional tidak selalu berarti “sehat” secara emosional. Karena dasarnya, emosi adalah data yang telah tersistem dalam tiap diri setiap manusia yang merasa. Ia merupakan sistem navigasi biologis yang dirancang untuk memberi kita informasi penting. Rasa sedih memberi tahu kita apa yang kita anggap berharga. Rasa takut menunjukkan di mana kita butuh perlindungan. Rasa marah menandakan batas yang telah dilanggar.

Stoikisme yang Manusiawi

Kita hidup dalam dunia yang memuliakan orang yang “tahan banting”, tapi mencemooh yang “gampang nangis”. Kita lebih suka orang yang tegar diam-diam, daripada yang berani minta tolong. Kita salah kaprah dalam memahami makna kekuatan: bahwa kuat itu tidak berarti tidak pernah goyah, tapi berani menghadapi kegoyahan itu dengan jujur.

Barangkali ini sebabnya kenapa banyak orang hari ini terlihat “heartless” atau nirempati. Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka diajari bahwa menjadi manusia berarti menyingkirkan sisi lembutnya. Mereka tidak jahat, mereka hanya tersesat dalam narasi yang salah.

Stoikisme, jika kita pahami dengan utuh, justru mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lengkap—yang berpikir jernih, merasa dengan sadar, dan bertindak dengan bijaksana. Ia bukan tentang menjadi batu karang tanpa emosi, melainkan tentang menjadi pelaut yang bisa tetap tenang meski diterjang ombak.

Barangkali sekaranglah saatnya kita bertanya ulang: benarkah kita sedang belajar kuat, atau kita sedang takut terlihat lemah? Benarkah kita sedang “stoik”, atau kita sedang menyangkal emosi diri sendiri? Kita tidak butuh lebih banyak orang yang tahan banting sampai mati rasa. Kita butuh lebih banyak orang yang bisa berkata: “Aku sedang tidak baik-baik saja. Dan itu tidak membuatku gagal sebagai manusia.”

Karena pada akhirnya, menjadi manusia bukan soal tidak pernah goyah, tetapi tentang bagaimana kita mengenali, menerima, dan tetap berjalan bersama semua luka yang pernah kita punya. [T]

Referensi:

Laërtius, D. (1925). Lives of eminent philosophers (R. D. Hicks, Trans., Vol. 2). The Loeb Classical Library. London: William Heinemann

Aurelius, Marcus. 2006. Meditations (M. Hammond, Trans.). London: Penguin Classics.

Pathak, E. B., Wieten, S. E., & Wheldon, C. W. (2017). Stoic beliefs and health: Development and preliminary validation of the Pathak-Wieten Stoicism Ideology Scale. BMJ Open, 7(11), e015137. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2016-015137

Penulis: Agnes Monica Marpaung
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan
Makanan Mahal ala “Influencer”: Citarasa atau Cuan?
Tags: filsafatStoikisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran

Next Post

Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Agnes Monica Marpaung

Agnes Monica Marpaung

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co