6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak

AS Rosyid by AS Rosyid
July 21, 2025
in Esai
Buku Saya, Islam Noah, dan Lontar Husada Sasak

AS Rosyid

I

Buku saya, “Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”, adalah tesis magister yang saya garap dalam kurun 2017-2019. Remah-remah tesis ini terbit lebih dulu pada tahun 2022, dengan judul “Melawan Nafsu Merusak Bumi”. Dibandingkan dengan remah-remahnya, buku saya kali ini lebih metodologis dan bobotnya lebih serius (kendati sudah dipoles dalam gaya bahasa yang ringan). Sebab, buku ini adalah fondasi awal dari bangunan wacana yang panjang.

Saya tidak pernah bermaksud untuk mengulik wacana Islam dan lingkungan hidup terlalu lama. Bisa saja ide-ide normatif tentang agama yang memihak lingkungan diperkaya sampai tak terhingga, tapi saya memilih untuk cukup menulis satu karya fondasional yang membidik masalah-masalah mendasar dengan tanpa basa-basi. Isu fondasional yang saya bidik dalam buku saya, salah duanya, adalah ekosentrisme Islam dan modernitas berbasis kapitalisme.

Pertama, dalam Islam, keutuhan alam merupakan isu sentral. Dari sana tauhid dibangun dan kebutuhan dasar manusia dipenuhi: pangan, obat, keadilan sosial, kekerabatan, hingga spiritualitas. Saya bahkan meletakkan hak-hak bumi untuk lestari di atas hak-hak manusia untuk menyembah Tuhan. Sebab, al-Qur’an sendiri menyatakan dalam banyak ayat bahwa iman pada Tuhan dibangun dengan intensitas pengamatan dan dialog antara manusia dan alam lantaran tanda kekuasan-Nya terpampang di sana. Bila alam dihancurkan, jembatan penghubung antara manusia dan Tuhan terputus, sehingga esensi penyembahan menjadi pudar. Menurut saya, lisensi manusia untuk berbuat berdasarkan kepentingannya baru bisa dibicarakan setelah diskursus tentang hakikat dan hak-hak bumi terpenuhi.

Kedua, Islam menentang cara-cara kapitalis bekerja menggalang uang hingga ke akar-akarnya. Ini bukan saja tentang mode produksi dan mode konsumsi yang saling menciptakan kehancuran di bentang alam, melainkan juga corak berpikir positivistik yang menghasilkan pendekatan tunggal dalam melihat alam, yakni pendekatan lahiriah (dari kata Arab zhâhir, “tampak”; semakna dengan nazhara atau “melihat”), sehingga meminggirkan pendekatan batiniyah (dari kata Arab bathn, “isi di dalam perut”, tidak diketahui sampai keluar), yang sebetulnya lebih cocok secara sosiologis, antropologis, dan spiritual dengan corak asli masyarakat kita: realisme magis. Islam melihat bumi sebagai entitas hidup, berkesadaran, dan mampu bertindak dalam motif, bukan barang mati seperti diproyeksikan saintis.

Dua fondasi itu penting saya letakkan karena saya hendak bergerak dari Islam dengan tradisi politik menuju Islam dengan tradisi kearifan lokal. Saya (ingin) menamainya: Islam Noah.

II

Sebagai Orang Sasak, saya melihat sebuah keunikan dalam kajian budaya dan sejarah suku penghuni Pulau Lombok ini. Mereka punya prinsip: gumi Sasak gumi selam (bumi Sasak bumi Islam; kata “gumi” mengacu pada ruang fisik dan budaya sekaligus). Klaim semacam ini tidak unik; ia muncul di banyak suku di Nusantara. Namun, terdapat diskursus yang berkembang di sementara Orang Sasak, yang melampaui batas-batas imajinasi tentang Islam, yakni tesis bahwa komunitas pertama Suku Sasak adalah keturunan dan pengikut Nabi Nuh.

Babad Lombok sendiri menceritakan awal mula kedatangan komunitas genealogis pertama ini dalam salah satu pupuhnya:

“Mung sajodo wong kang hurup, hikang mati, ponan kadamepa katah, tumiba hing pulo Lombok …… Wus lepasa kang samudera, mayit wong ngiku, kang gawe humah hing kana, lang ngulati pamangani lan wargi, yata hamanggiha toya.”

(Hanya sepasang manusia yang hidup, yang lainnya mati, tercerai-berai semuanya, tiba di Pulau Lombok …… Sesudah lepas dari samudera, mayat-mayat tertinggal. Yang selamat membuat pondok di sana, mencari makanan serta penduduk, kemudian menemukan air).

Pupuh-pupuh selanjutnya mengisahkan bahwa sepasang penyintas dari samudera yang terdampar di Pulau Lombok adalah seorang perempuan dengan kekasihnya (yang berarti, tokoh utamanya adalah si perempuan), berikut kisah-kisah tentang pembentukan struktur sosial awal Suku Sasak yang sangat sederhana dan pengangkatan penghulu pertama, yakni seorang alim dari garis keturunan Nabi Nuh.

Tesis ini memiliki penentang yang cukup banyak, tapi kelompok pengaju tesis ini pun telah bekerja menafsirkan babad itu dan mengumpulkan data sejak medio 70-an. Sumber mereka tidak terbatas pada lontar dan jejak artefak seperti penandoq (tapak penanda bekas bangunan) di hutan-hutan rahasia Rinjani, kode kuno di balik corak arsitektur (lumbung alang, misalnya), dan bahkan temuan-teman terbaru seperti di situs Gunung Piring, Mertak. Mereka melangkah lebih jauh: sumber-sumber mentifak digali langsung dari perut kebudayaan Sasak seperti senepe (siloka) dalam mantra dan ritual, wawasan, tradisi, dan memori kolektif para lokaq-mangku tua yang “lidahnya masih bersih”, nama-nama dan sejarah desa tua, bahasa-bahasa arkais, bahkan penelusuran khazanah mistisme asli Sasak yang begitu berbeda bila dibandingkan dengan khazanah mistisme dari jalur Pengeran Guru Ali Batu.

Tentu saja perdebatan dua kubu di wacana sasak-selam (sasak-islam) itu terlalu panjang dan tidak relevan untuk diuraikan di sini. Namun saya, yang telah lama mempelajari argumentasi kubu pengaju, melihat satu kepentingan besar untuk meneguhkan suatu “Islam-lain”; Islam yang secara sosiologis amat berbeda dengan Islam-mainstream hari ini.

Tradisi Islam yang dibawa Nuh dan Ibrahim memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Islam-Abrahamik (sementara ini, begitu saja kita menyebutnya) berorientasi pada politik pembebasan dan perlawanan pada kekuasaan yang korup. Ibrahim dan para nabi dari keturunan Ishaq berhadapan dengan raja-raja yang zalim, atau malah menjadi raja yang bijak. Kecuali Muhammad, sebagai keturunan Ismail yang bergulat dengan tradisi kedatuan. Namun, kendati Muhammad tidak melawan rezim politik, melainkan rezim masyarakat, kerja-kerja dakwah Muhammad lekat dengan aktivisme politik, banyak terinspirasi oleh leluhurnya dari pihak Ishaq, dan merencanakan Islam sebagai suatu rezim politik di masa depan.

Sementara itu, tradisi Nuh sepertinya bertitik tekan pada penyadaran masyarakat dan penyelamatan lingkungan. Yang ia perjuangkan adalah meluruskan teologi yang menyimpang dan penyimpangan itu berdampak fatal pada lingkungan. Ada indikasi bahwa kerja-kerja Nuh adalah kerja-kerja mengembalikan “realisme magis khas Islam”, dengan mengajak masyarakat melihat dunia alam sebagai dunia sakral tajalli Tuhan, dan “penyimpangan” yang dilawan Nuh adalah reduksi nilai alam menjadi nilai ekonomis yang membuat hutan-hutan dihancurkan demi keuntungan jangka pendek. Puncaknya, Nuh menerima kabar hujan deras akan datang, sedang aktivitas manusia telah memandulkan fungsi ekosistem untuk mengikat air di tanah. Banjir menjadi tak terelakkan. Nuh diperintahkan untuk membuat bahtera, dan itu bukan untuk menyelamatkan manusia yang bebal, melainkan untuk melindungi satwa dan puspa.

Kisah Nuh, seperti halnya kisah keturunannya di Lombok dalam Babad Lombok, tentu harus dikonfirmasi dan diinterpretasikan kembali berdasarkan temuan-temuan ilmiah terbaru. Namun, dengan mengangkat Nuh sebagai akar kebudayaannya, Suku Sasak telah menegaskan arah Islam yang diinginkan, yakni (1) Islam dalam sistem politik kedatuan yang pengaturannya berskala kecil tapi dapat dikontrol baik, (2) Islam dengan tatakan adat dan kearifan lokal yang sakral sehingga tidak bisa dianggap enteng penegakan nilai-nilainya, serta (3) Islam yang orientasinya adalah melindungi alam dan mengembangkan kualitas kemanusiaan. Hal itulah yang tampak, misalnya, dalam sistem politik wetu telu di Bayan yang membagi pemerintahan berdasarkan tiga kementerian besar: lokaq-mangku (urusan spritual dan sumber daya alam), kiai-pengulu (urusan keberagamaan dan dakwah) dan pembekel (urusan kemasyarakatan). Ketiganya berdiri setara dan mengatur diri dalam protokol super ketat (dan bahkan bernuansa magis), dengan dijembatani musyawarah super sakral bernama gundem.

Kira-kira, “Islam” yang “seperti itu”-lah yang akan saya eksplorasi ke depannya.

III

Salah satu isu yang menarik untuk dieksplorasi, dan saya syukuri menjadi tema Singaraja Literary Festival (SLF) tahun ini, adalah tradisi pengobatan khas masyarakat realisme-magis: usada atau husada. SLF mengangkat lontar pengobatan tradisional, Usada Budha Kecapi, yang menjadikan fiksi sebagai medium penyampainya.

Kalimat terakhir dalam Babad Lombok yang terkutip di atas, yaitu yata hamanggiha toya (“kemudian mereka menemukan air”), menunjukkan bahwa sepasang penyintas yang tiba di Pulau Lombok telah menelusuri hutan dan menemukan sumber air paling sejati di Lombok, yang berlokasi di Rinjani. Sebab, kata toya dalam bahasa Kawi biasanya merujuk pada air suci (sedangkan air pada umumnya akan menggunakan kata banyu). Statemen ini penting karena dalam husada Sasak, air menjadi medium penyembuhan yang paling dasar dan umum. Asal-usul semua aliran air biasa (banyu) yang ada di Lombok adalah air suci di (toya) di Rinjani, sehingga air biasa pun bisa digunakan sebagai medium penyembuhan, asalkan ia “dibuka” terlebih dahulu dengan suatu mantra pembuka.

Saya pernah dibukakan sebuah lontar husada, tanpa judul, yang isinya tidak menggunakan cerita sebagai medium penyampai. Itu adalah lontar yang diterima oleh guru saya dari seorang tuan guru terkenal di Lombok Timur, bergelar Guru Isah. Di dalam lontar itu ditulis tiga jenis pengobatan Sasak lama: pengobatan murni ramuan, pengobatan ramuan dengan mantra, dan pengobatan murni mantra. Jenis pengobatan terakhir menggunakan air sebagai medium, dan air itulah yang harus “dibuka” kesuciannya dengan mantra yang diawali dengan shalawat pada Muhammad dan Khidir, kemudian diikuti dengan mantra dalam bahasa Sasak arkais (yang saya tidak bisa tulis di sini lantaran etika kerahasiaan). Mantra selanjutnya harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Bila pasien sakit di bagian tengkuk, maka mantra akan disisipi dengan nama ruh dari bagian yang sakit. Ruh dari bagian tyang sakit itu disapa baik-baik dan

Mungkin, sistem pengobatan yang seperti ini akan dianggap mengada-ada bahkan oleh orang Islam sendiri. Namun, pembagian nama ruh berdasarkan anggota badan bukanlah barang asing dalam tradisi mistisme Islam (tasawuf). Setiap benda punya nama, dan begitu manusia dan benda saling mengenal, dari sana hal-hal yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. Itu cerminan dari intimnya relasi antara manusia Sasak (selam)dan alam gumi-nya. Dan dalam husada Sasak, nama-nama ruh itu pada mulanya menggunakan bahasa Sasak arkais, dan pewarisnya memilih untuk tidak menggantinya ke dalam bahasa Arab. Itu adalah cerminan rasa percaya diri Orang Sasak bahwa tradisi tua mereka adalah tradisi Islam.

Sebuah hadis riwayat ad-Darimi menjelaskan bahwa menjelang kematiannya, Muhammad menderita demam luar biasa tinggi sampai-sampai ia memerintahkan istrinya untuk “menyiramkan ke tubuhnya (shubbû ‘alayya) tujuh ember air (sab’a qirabin) yang berasal dari tujuh sumur berbeda (min sab’i âbârin syattâ) agar dirinya merasa sedikit lebih segar dan bisa beraktivitas seperti biasa. Kenapa tujuh? Dan kenapa dari sumur yang berbeda? Seumpama riwayat itu berhenti pada perintah memandikan saja, itu masih cukup logis (air mendinginkan panas). Namun, tujuh air dari tujuh sumur adalah bentuk nalar yang khas realisme magis. Husada Islam (dan, dengan demikian pula, husada Sasak) berakar pada satu tradisi, yaitu realisme magis.

Inilah hal-hal yang tidak diketahui oleh umat Islam hari ini (yang menyebabkan mereka jauh dari memahami arti dari Islam berbasis masyarakat adat). Inilah juga hal-hal yang bersiap saya garap ke depannya. Dan saya akan berangkat dari fondasi yang telah saya letakkan dalam buku kecil yang kelihatan tidak penting itu: “Al-Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan”. [T]

  • Artikel akan disampaikan dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: AS Rosyid
Editor: Adnyana Ole

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra
Pengobatan dalam Teks Lama dan Baru, dari Wahyu ke Kedokteran Berbasis Bukti dan Genomik
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Road To Singaraja Literary Festival  2025:  Membangun Kota yang Berpikir dengan Festival yang Intim
Tags: IslamLombokSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

Next Post

Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

AS Rosyid

AS Rosyid

Penulis dan peneliti yang berminat pada isu agama, lingkungan hidup, dan kearifan lokal. Saya telah menerbitkan tiga buku, yang terakhir berjudul “Melawan Nafsu Merusak Bumi” (EA Books, 2022). Sehari-hari saya mengajar literasi, riset dan ilmu sosial di Pesantren Alam Sayang Ibu, Lombok Barat.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

Antida Sound Garden Resmi Dibuka Kembali, Hidupkan Lagi Ruang Seni Alternatif di Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co