“Kami akan bantu. Ini sebenarnya sudah terbukti kami lakukan (di Badung) tapi cakupannya ke depan, lebih, selesai. Mudah-mudahan saya bisa terpilih, Koster-Giri. Lima tahun sebagai wakil gubernur dan 10 tahun sebagai gubernur. Saya pastikan bertanggung jawab, pura pura di Bali tuntas,”
PERNYATAAN Giri Prasta yang dikutip dari laman detik.com tersebut menunjukkan kepercayaan diri terhadap karir politik yang kiranya akan moncer tanpa kendala berarti selama lima belas tahun mendatang. Asal tidak ada turbulensi politik yang kencang, niscaya figur yang dikenal sebagai politisi bares ini akan menikmati nyamannya fasilitas Jaya Sabha.
Meski kepercayaan diri Giri Prasta tampak terlampau tinggi, nyatanya kepercayaan diri tersebut didukung dengan fakta-fakta politik yang tersuguhkan hari ini. Di masa kandidasi pilkada 2024, Giri Prasta adalah figur dengan elektabilitas tak tersaingi oleh figur lain, bahkan Koster sang gubernur petahana. Menurut hasil survey dari Charta Politika Indonesia yang dilaksanakan pada 30 Oktober hingga 6 November 2024, Giri Prasta meraih angka elektabilitas sebesar 72,9%, unggul dibanding dengan kandidat lainnya.
Citranya sebagai politisi yang royal sejak menjadi Bupati Badung pun dilanjutkan tatkala dirinya terpilih menjadi wakil gubernur mendampingi Koster. Salah satu aksinya yang tersorot media adalah saat dirinya memberikan bantuan sebesar Rp. 45 juta kepada Sekaa Teruna Teruni (STT) Suralaga Banjar Wangaya Kelod, Denpasar. Tentu aksinya ini menunjukkan kepeduliannya dalam menjaga semangat generasi muda Bali dalam melestarikan budaya. Dan hal ini memberi sekaligus mempertahankan citra baik sang wakil gubernur.
Pasca dilantik pada Februari 2025 lalu, praktis Giri Prasta dipaksa mengatur ulang ritme kerja, termasuk manuver-manuver politiknya. Maklum saja, kini dirinya hanya berperan sebagai “ban serep” Koster dalam kepemimpinan daerah, termasuk dalam proses pengambilan kebijakan. Meski tidak lagi menjadi pemeran utama, nyatanya pelbagai aktivitas maupun langkah politiknya tetap tidak luput dari sorotan media—dirinya masih menjadi “media darling” di mata publik Bali. Lantas dengan berkurangnya jatah “manggung”, masih realistiskah kepercayaan diri Giri Prasta untuk dapat melenggang menjadi gubernur di perhelatan pilkada selanjutnya?
Menyiapkan Kekuatan di Luar Partai Politik
Sebagai kader partai, otomatis kekuatan utama Giri Prasta dalam menghadapi perhelatan pilkada mendatang adalah partai politik. Apalagi dirinya adalah ketua partai di tingkat kabupaten, memberi kemudahan baginya untuk mengkonsolidasikan kekuatan—setidaknya di kabupaten tempatnya memimpin. Hingga kini barisan yang dipimpinnya dikenal sangat solid dan berhasil memenangkan banyak kontestasi elektoral, bahkan pada pilgub 2018, Giri Prasta dipercaya sebagai “panglima perang” untuk memenangkan pasangan Koster-Ace.
Alih-alih hanya mengandalkan partai politik sebagai kekuatan utama, Giri Prasta dengan cemerlang menyiapkan pelbagai instrumen kekuatan politik dalam upayanya mencapai kursi Bali 1. Sekurang-kurangnya terdapat kekuatan di luar partai politik yang sudah dan sedang digalang, yaitu Aliansi Bali Angunggah Shanti, Tanem Tuwuh Bali, dan Pasikian Yowana Bali.
Pertama, Aliansi Bali Angunggah Shanti adalah gabungan dua ormas besar, yakni Laskar Bali dan Baladika Bali—organisasi ini belakangan tampak gencar mengutus anggota-anggotanya untuk berlaga di arena politik elektoral. Tidak sedikit yang pada akhirnya berhasil mencicipi indahnya kekuasaan, sebut saja Bagus Alit Sucipta (Gus Bota), Ketua Umum DPD Pusat Baladika Bali, kini duduk nyaman sebagai Wakil Bupati Badung.
Tidak hanya Gus Bota, adik kandungnya, I Bagus Jagra Wibawa (Gus Ari) berhasil duduk sebagai Anggota DPRD Kota Denpasar untuk kedua kalinya. Organisasi ini pun berhasil meloloskan Sekretaris Jenderal-nya, I Komang Merta Jiwa sebagai Anggota DPD RI. Lolosnya beberapa tokoh sentral dalam kontestasi politik elektoral, membuktikan bahwa organisasi ini mampu mengkonsolidasikan diri dengan sangat baik.
Untuk kasus Aliansi Angunggah Bali Shanti, Giri Prasta telah menyiapkan wahana ini bahkan sejak dirinya menjabat sebagai Bupati Badung. Kini, Giri Prasta juga dipercaya duduk sebagai Ketua Dewan Pengawas Aliansi Angunggah Bali Shanti.
Kedua, Tanem Tuwuh Bali merupakan organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan dengan tiga program utama, yaitu kesehatan, bantuan sosial, serta pendidikan. Tanem Tuwuh Bali telah memulai gerakannya sekiranya sejak akhir tahun 2023. Semakin massive tatkala tahapan Pilkada 2024 berlangsung. Tanem Tuwuh Bali secara resmi dipimpin langsung oleh Diana Putri—anak sulung Giri Prasta sejak 28 April 2025 lalu.
Ketiga, adalah Pasikian Yowana Bali—lembaga adat yang bernaung di bawah Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali sesuai dengan yang diatur dalam Perda Provinsi Bali No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali. Hingga tahun 2030, Pasikian Yowana Bali menjadi organisasi yang memberi ruang bagi seluruh pemuda Hindu Bali untuk berkreativitas. Dan beberapa waktu lalu, Diana Putri—anak sulung Giri Prasta dikukuhkan sebagai ketua.
Hadirnya tiga kekuatan politik dengan fokus gerakannya masing-masing memiliki potensi untuk menggerakkan kelompok masyarakat Bali yang lebih luas dan beragam. Hal ini tentu menguntungkan bagi Giri Prasta, setidaknya memudahkannya untuk mendistribusikan produk politik yang diusungnya kelak. Tiga kelompok potensial yang kelak menjadi penyokong utama Giri Prasta sekurang-kurangnya memiliki dua tugas utama. Pertama, memberi panggung seluas-luasnya bagi Giri Prasta tampil di hadapan masyarakat, dan kedua adalah memastikan segala bentuk gerak dan program yang dilakukan selalu diasosiasikan dengan Giri Prasta.
Dan pada akhirnya, hanya turbulensi politik luar biasa saja yang dapat menyebabkan sirnanya kesempatan Giri Prasta untuk bertarung di ruang kontestasi pilkada sebagai calon gubernur. [T]
Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole
Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI


























