6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Pendek Sekali: Pameran Tunggal Naela Ali, The Beauty of The Mundane

Vincent Chandra by Vincent Chandra
January 19, 2025
in Ulas Rupa
Catatan Pendek Sekali: Pameran Tunggal Naela Ali, The Beauty of The Mundane

Naela Ali di antara lukisannya yang dipamerkan di Ruang Arta Derau (RAD), Tegallalang, Gianyar | Foto: Roll Roland

“Creativity is piercing the mundane to find the marvelous.” – Bill Moyers

Rombongan anak mengikuti ekskursi sekolah, sorak sorai siswa-siswi menemukan vending machine, para lansia berjalan perlahan menikmati kebersamaan, lahapnya siswi menikmati camilan sambil menunggu kereta berangkat, hingga interaksi kecil di kedai takoyaki. Mereka adalah sekian potret keseharian yang menjadi bagian dari pengalaman tubuh dan pikiran Naela Ali tentang kota-kota di Jepang, yang tak henti-henti berdenyut dalam kesibukan dan dinamikanya, namun justru menyimpan ruang-ruang keheningan yang melimpah dan jarang disadari.

Naela menangkap kesadaran itu. Maka sebagai seorang pencerita tulen, sudah kodratnya untuk kemudian Naela menumpahruahkan tiap detil dari apa yang telah ia amati dan alami ke dalam kanvas-kanvasnya sebagai catatan, pengingat, sekaligus pelipur lara bagi hatinya yang barangkali selalu merindukan rasa ramen dan takoyaki hangat pada musim gugur di Fukuoka.

Naela Ali di antara lukisannya yang dipamerkan di Ruang Arta Derau (RAD), Tegallalang, Gianyar | Foto: Roll Roland

Bila kita cermati, apa yang tampil dalam karya-karya Naela sesungguhnya bukan pokok persoalan yang penuh gejolak, sensasi, lantang, dan penuh kegemparan. Sebaliknya, karya-karya Naela justru lebih sering merayakan dan mengagungkan nilai dan keindahan dari keseharian yang biasa, apa adanya, tetapi pada sisi lain menyimpan berbagai kedalaman yang tak terduga. Sehingga tanpa perlu bergantung pada peristiwa dramatis sekalipun, Naela akan tetap mampu mengartikulasikan dimensi “lain” dari keindahan yang bisa jadi hanya dapat ditemukan di dalam rutinitas sehari-hari. Persis seperti rangkaian potret-portret yang telah diungkap pada awal tulisan pengantar ini.

Baik menulis maupun melukis, nampaknya Naela memang telah bulat menyimpulkan bahwa narasi yang menarik tidak mutlak disusun oleh peristiwa-peristiwa yang monumental. Tetapi juga tumbuh dari momen-momen keseharian yang biasa-biasa saja, luput dari lirikan mata, hingga seringkali disepelekan.

Inilah premis sederhana yang kini tengah bolak-balik dieksplor oleh Naela melalui karya-karyanya. Termasuk 13 lukisan Naela yang tampil dalam pameran tunggalnya di Bali mulai 15 Desember 2024 hingga 16 Februari 2025, berkolaborasi dengan Ruang Arta Derau (RAD)–satu lagi kantong segar untuk seni rupa Bali yang digagas dan diaktivasi sejak tahun 2023 oleh perupa Sekar Puti di Kedisan, Tegallalang, Gianyar, Bali. Lukisan dengan pilihan pokok persoalan sederhana nan kontemplatif ala Naela yang dibingkai dalam tema “The Beauty of The Mundane” ini diniatkan untuk memungkinkan hadirnya kesadaran serupa pada yang mengamati.

Naela Ali. A Glace to the Past. 60 x 80 cm. Acrylic and Oil on Canvas. 2024 | Foto: Roll Roland

Apabila kita tarik mundur, pandangan Naela tadi merupakan akumulasi atau efek dari sekian perjalanannya–khususnya pada tahun 2023 lalu–ke negeri Jepang untuk mengikuti program residensi seni di sebuah area pedesaan Fukuoka. Perjalanan tersebut telah mengubah pandangan Naela menyoal kemewahan dan kedamaian. Kemewahan yang barangkali di kampung halaman Naela, Jakarta–yang tak kalah sibuk dan dinamis, musti dikaitkan dengan materiil atau prestise semata. Namun di Jepang, Naela menyadari betul bahwa ketenangan, kesederhanaan, dan ruang refleksi adalah kemewahan yang jauh lebih mendalam, yang sebenar-benarnya. Kesempatan dan pengalaman empirik tersebutlah yang kemudian mendorongnya untuk mengapresiasi dan menyadari pentingnya momen-momen kecil dalam hidup.

***

Naela adalah tipe pelukis yang tidak senang bertele-tele. Membaca alam pikiran dan metode berkesenian Naela, kita akan segera menemukan bagaimana konsep “keseharian” yang ia angkat sebagai tema utama dalam karyanya diterjemahkan pula dengan dua pendekatan utama yang cenderung menampilkan apa yang ia lihat dan rasakan secara langsung tanpa interpretasi simbolik dan ‘hiasan’ yang berlebihan.

Yang pertama, lihat misal bagaimana Naela menyorot pokok figur (ekspresi, gestur, kondisi) pada lukisan “A Day in Nara Park”, “Blue Silence”, atau “A Field Trip to Remember”. Apa yang muncul dalam bidang gambarnya sebagai objek utama yaitu cutout satu atau lebih figur yang disusun diantara setting bidang warna tegas dan padat khas sifat warna cat akrilik dan minyak. Meski figur diniatkan hadir sebagai fokus utama dalam ide beberapa karya tersebut, elemen warna yang hadir sesungguhnya juga mendominasi sebagian besar bidang kanvas. Warna-warna itu ditugaskan Naela untuk membagi dan membatasi objek utama dengan latar belakang dan alas tempat figur diletakkan.

Naela Ali. A Field Trip to Remember. 50 x 60 cm. Acrylic on Canvas. 2024 | Foto: Roll Roland

Namun persoalan warna pada latar bagi Naela memiliki dimensi lain. Dalam diskusi kami, Naela mengungkapkan bahwa melalui penggunaan warna-warna latar yang padat ia tengah berusaha membangun kembali suasana hati yang terjalin erat dengan ruang dan waktu yang ia alami secara langsung. Sehingga warna dalam konteks lukisan Naela juga menjadi jembatan emosional yang memanggil kembali kenangan (reminiscing) yang terendap dalam alam bawah sadarnya. Lihat semisal bagaimana warna hijau lembut (muted green) yang membentang dalam kanvas Naela diwujudkan untuk membawa suasana angin sejuk musim gugur yang menandai setiap momen kedatangan Naela ke Jepang.

Pendekatan lain dalam lukisan Naela yang cukup kontras dengan deskripsi sebelumnya juga musti disinggung. Lihat misal karya “A Glance to the Past”, “A Day at the Croquette Stand”, dan serupanya. Naela cenderung menyalin objek yang ia amati secara utuh untuk segera menyampaikan gagasan utamanya. Dasar Naela memang tidak senang bertele-tele. Sehingga jika berhadapan langsung dengan lukisan tersebut, kita bisa langsung menangkap pengalaman personal Naela tentang toko buku tua di Kyoto yang kini hilang tergerus waktu, serta hangatnya sajian kroket dari penjaga toko yang setia pada profesinya. Meskipun dalam pendekatan ini pun penggambaran figur tidak dapat lepas dari lukisan Naela, benturan antara bangunan arsitektur Jepang dan elemen modern yang kemudian menjadi karakter umum dalam setting-setting lukisannya Naela tak kalah mencuri perhatian.

Bagi Naela, proses menyalin objek (mimesis) bukan sekedar memindahkan momen yang telah ia bekukan melalui lensa kameranya kedalam bidang kanvas. Melainkan juga proses untuk refleksi mendalam pada pengalaman yang telah membentuk visi estetikanya. Dengan bantuan fotografi, Naela dapat menjaga ingatannya tentang keseharian di Jepang atau momen-momen berharga lainnya agar tetap hidup dan dapat dikupas pada waktu yang akan datang. Oleh karena itu, Naela tidak hanya mereproduksi apa yang dilihat, tetapi juga menciptakan interpretasi pribadi yang melampaui sekadar representasi visual.

Naela Ali. A Day In Nara Park. 50 x 100 cm. Acrylic on Canvas. 2024 | Foto: Roll Roland

Pendekatan Naela juga mengingatkan saya pada konsep flaneur (penjelajah kota) yang diperkenalkan oleh penyair Charles Baudelaire. Ia menyoroti sosok pengamat yang memilih melihat dunia luar sambil tetap menjaga jarak dengan subjek yang diamatinya. Flaneur menggambarkan individu yang senantiasa menjalani kehidupan dengan santai, menyerap pengalaman estetis, dan mengamati kehidupan sosial sebagai bentuk refleksi seni. Naela secara tidak langsung seperti mengadopsi sikap flaneur tersebut. Ia terlibat dalam mengamati momen-momen kecil tanpa sepenuhnya mendekat pada subjek yang digambarkan. Hal ini tampak pada karya-karyanya yang banyak mengambil sudut pandang yang lebih luas, jauh, dan secara sadar tidak menampilkan detail berarti pada penggambaran sosok figur-figur yang kemudian menyisakan ruang imajinasi bagi audiens.

Melalui pendekatan-pendekatan sederhana tadi, kekaryaan Naela menunjukkan bagaimana kreativitas memungkinkan seseorang melihat potensi dan keindahan dalam situasi atau fenomena keseharian yang biasa-biasa saja, dimana kedamaian dan ketenangan itu ternyata banyak bersembunyi. Seperti yang banyak dikutip orang dari Bill Moyers, “Creativity is piercing the mundane to find the marvelous”. Tentu kreativitas, lalu keindahan itu, ia tak terbatas hanya ada di Jepang, tetapi juga pada setiap sudut tempat yang kita saksikan.

Naela melalui karya-karyanya, seolah ingin menepuk pundak kita. Mengingatkan kita bahwa “ia” bisa ditemukan dengan berjalan kaki, berinteraksi, bahkan menikmati waktu luang sebagai sesuatu yang layak dirayakan dan dihayati lebih dalam. “Mari berhenti sejenak, menarik nafas, melihat sekitar, dan menemukan keindahan dalam keseharian yang bersahaja.”[T]

Di antara Jimbaran – Batubulan, Desember 2024

Vincent Chandra (penulis/kiri) bersama Naela Ali dalam pameran di Ruang Arta Derau (RAD), Tegallalang, Gianyar | Foto: Roll Roland

  • Tentang Naela Ali (b.1992)

Naela Ali adalah pelukis, ilustrator, dan penulis yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Beragam karyanya telah direkognisi dalam event internasional termasuk London Book Fair dan Singapore Art Book Fair. Saat ini, Naela berfokus pada karirnya sebagai seorang pelukis dengan menantang nilai dan konsep keindahan dari keseharian dan hal-hal biasa. Pada tahun 2023, Naela mengikuti sebuah program residensi di Fukuoka-Jepang, yang kemudian mempengaruhi cara pandanganya terhadap banyak hal termasuk berkesenian itu sendiri. Bagi Naela, melukis dan menulis adalah ruang khusyuk untuk menyelami ingatan dan pengalaman estetiknya. Karya-karya Naela mendorong kita untuk berkontemplasi dan menghargai detail-detail subtil dalam kehidupan manusia.

Penulis: Vincent Chandra
Editor: Adnyana Ole

Menantang Definisi Prasi | Catatan Pameran “Peta Tanpa Arah” Mahasiswa Seni Rupa Undiksha
Kode Gurita di Pantai Berawa
ARTSUBS: Seniman, Platform dan Pasar
Garis-garis Puitika Karya-karya Made Kaek
Tags: Naela AliPameran Seni RupaRuang Arta DerauSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tung Tung Uma di LATAR #1: Film Tentang Refleksi Sebuah Perubahan di Tanah Bali

Next Post

Kawasan Bali Selatan Kini Berkembang Menjadi Perkotaan Tanpa Pusat dan Aksis

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails
Next Post
Rustic System dalam Perencanaan Wilayah

Kawasan Bali Selatan Kini Berkembang Menjadi Perkotaan Tanpa Pusat dan Aksis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co