6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setelah Suami Berpulang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 10, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

DITINGGAL mati orang terkasih rasanya berat. Itu yang saya amati dari ibu saya, setelah ayah “pulang” lebih dulu. Ibu seperti kehilangan “teman hidup” yang pernah menemaninya puluhan tahun lamanya. Ibu tidak ke rumah sakit pada waktu menjelang kematian ayah, saat-saat “sakratul maut”. “Takut,” katanya.

Ibu punya trauma tentang kematian. Beliau hanya berkata-kata kepada ayah melalui telepon genggam, kata-kata terakhir sebelum ayah meninggalkan badan fisiknya.

Ibu kulihat kerap kali melamun, terutama saat pagi hari. Matanya menerawang memandang langit yang tampak dari pintu rumah. Ia sedih, merasa sendiri, tidak ada lagi suami yang bisa diajak berbagi banyak hal. Dunia terasa hampa baginya.

Begitu “derita” istri setelah suami berpulang. Hal itu pula yang saya dapati dari mengamati media sosial para ibu yang mana suaminya telah meninggal. Meskipun anak-anak mereka sukses, telah berkeluarga, punya anak-anak yang lucu, tetap saja terasa kurang ketika ayah bagi anak dan kakek bagi cucu-cucunya tidak ada.

Saat suami meninggal, biasanya istri akan tetap hidup sendiri, mengisi hidup dengan tidak lagi menikah dengan laki-laki selain suami mereka. Menyandang status “janda” hingga akhir hayat. Status yang kadang berat sebelah, tidak adil.

Ini tentu berbeda dengan laki-laki. Saat misalnya sang istri berpulang lebih dulu, suami dengan mudahnya membuka hati pada perempuan “baru”, menikahinya, dengan cepat melupakan kenangan akan perempuan yang pernah menjadi istrinya yang dengan setia menemaninya dalam waktu lama; menjadi ibu bagi anak-anaknya, teman diskusi dan “curhat” kala suami menemui kebuntuan baik itu soal pekerjaan, uang, maupun hubungan personal dengan saudara atau keluarga besar.

Perempuan dengan sangat baik menyimpan kenangan tentang laki-laki dalam ingatannya. Tengoklah dalam kehidupan sehari-hari: yang paling ingat tanggal pernikahan atau ulang tahun suami dan anak-anak (juga cucu-cucu) adalah perempuan.

Piranti pernikahan, misalnya cincin kawin, juga dengan bangga dikenakan istri, sebagai simbol cinta yang tidak lekang oleh waktu. Saat misalnya kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk, perempuanlah yang menangis diam-diam ketika misalnya cincin kawin mesti digadai atau dijual, sebagai jalan terakhir untuk bertahan hidup yang semakin hari terasa semakin keras.

Para ibu yang suaminya meninggal juga lebih banyak menghabiskan masa-masa hidupnya untuk dekat dengan anak-anak, menantu dan cucu-cucu mereka. Memasak, membuat kue, atau menulis bagi perempuan penulis adalah contoh aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan.

Ada juga yang rutin bepergian ke luar kota atau ke luar pulau untuk sejenak berkumpul kepada keluarga asal, melepas kerinduan terutama bagi yang telah lama “keluar rumah” untuk menikah, mengabdi pada suami dan keluarganya, dalam sistem perkawinan patriarki yang banyak dianut dalam kelompok masyarakat di Indonesia.

Suami yang berpulang menyisakan bahagia dan bisa pula meninggalkan derita, jika istri tidak punya sumber ekonomi karena misalnya semenjak menikah tidak bekerja, menggantungkan penghasilan keluarga pada suaminya. Syukur jika suami meninggal saat anak-anak sudah lulus sekolah atau universitas dan telah mampu bekerja serta hidup mandiri.

Ada kalanya, suami meninggal saat anak-anak masih kecil atau masih sekolah yang membuat perubahan drastis pada keluarga yang ditinggalkan. Sumber ekonomi hilang, istri kemungkinan akan menikah lagi dan tidak jarang dengan tega meninggalkan anak-anak yang masih kecil; atau juga sebaliknya, membawa anak-anak pada suami “baru”-nya, dengan segala konsekuensi psikologis—punya ayah tiri yang belum tentu hangat dan baik.

Maka itu, patut diperhatikan tentang kemandirian perempuan. Terdapat “tren” kini di Bali, misalnya, tentang keluarga suami yang lebih menghargai istri yang bekerja dibandingkan dengan istri yang hanya menjadi ibu rumah tangga dan tidak punya penghasilan.

Di satu sisi, perlakuan ini secara permukaan terlihat “tidak adil”, “kejam”, bahkan terkesan “diskriminatif”. Namun jika kita lihat dengan lebih tenang dan jernih, istri yang bekerja di samping membuat perekonomian keluarga lebih stabil, juga menjadi “bekal” jikalau (maaf) suami tidak berumur panjang; entah karena sakit keras, kecelakaan lalu lintas, atau juga oleh sebab lain yang menjadi takdir dan karmanya.

Istri yang bekerja memang membuat waktu kebersamaan dengan anak-anak lebih pendek. Hal ini tentu bisa disiasati jika keluarga besar suami turut dilibatkan dalam pengasuhan anak.

Pada banyak wilayah di Bali dan juga daerah lain di Indonesia, menjadi jamak dan biasa jika anak diasuh oleh kakek dan nenek mereka, juga paman dan bibinya.

Komunalitas menjadi contoh budaya gotong-royong yang sayangnya kini makin hilang; individualisme mengakibatkan anggota keluarga hanya memikirkan diri dan kepentingannya saja: punya rumah sendiri-sendiri, terpisah dari keluarga besar, ayah dan ibu yang telah renta hidup sendirian—jika tidak dititipkan di panti jompo, seperti kehidupan di negara-negara maju.

Suami yang berpulang menjadi “lapang” jalan pulangnya jika istri melepasnya untuk melanjutkan perjalanan dengan ikhlas. Secara kasat mata, istri yang ditinggalkan suami tidak banyak menemui kesusahan setelah ditinggal mati suami. Tentu kematian menjadi perlu untuk dibicarakan, tidak dianggap tabu dan menakutkan seperti dalam kebiasaan masyarakat sekarang.

Kemungkinan terburuk—dan solusi atas itu, perlu sering didiskusikan, sehingga kematian kemudian tidak menjadi derita terutama bagi istri dan anak-anak, serta juga keluarga besar yang ditinggalkan.

Ini juga berlaku sebaliknya, jika istri yang meninggal lebih dulu dari suami, apa saja yang menjadi pesan istri perlu dijalankan. Termasuk untuk misalnya menikah lagi, perlu persetujuan dari istri. Tidak lantas menjadikan budaya patriarki sebagai pembenaran, jika misalnya istri wanti-wanti agar setelah ia meninggal suami tidak boleh menikah lagi dan dengan baik menjaga anak-anak mereka. Begitu kira-kira.[T]

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Enam Bulan Kerinduan
Perlukah Mal di Bali: Sebuah Kajian Antropologis
Dilema Membuka Diri Orang dengan Gangguan Jiwa
Meditasi Selamatkan Hidup Saya
Menjadi Terbuka Itu Berbahaya | Catatan Akhir Tahun
Tags: budaya patriarkiPerempuan Balirefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkelana Sambil Belajar di Hutan Adat Desa Buahan: Menjaga Hutan, Merawat Kebudayaan

Next Post

Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Mendengar Lantunan Gending-Gending Sanghyang Dedari Desa Rejasa, Tabanan, yang Sakral dan Magis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co