6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Warung Friend”,  Warung Legend bagi Mahasiswa di Kampus Bawah Undiksha Singaraja

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
September 11, 2024
in Khas
“Warung Friend”,  Warung Legend bagi Mahasiswa di Kampus Bawah Undiksha Singaraja

Warung Friend

MAHASISWA di Undiksha Singaraja, terutama ang perantauan, rata-rata punya warung kesayangan, atau warung favorit. Biasanya warung itu berlokasi di sekitar kampus, atau di sekitar tempat kost.

Saya, beberapa tahun lalu, sebagai mahasiswa seni rupa di kampus bawah, atau kampus di jalan Ahmad Yani Singaraja, juga punya waru8ng favorit. Bukan hanya saya, tapi juga favorit bagi mahasiswa seni rupa yang lain seangkatan saya.

Nama warung itu, “Warung Friend”. Ada yang juga mengenalnya, atau bahkan juga menjadikannya warung favorit?

“Warung Friend” bukan sekadar merk, bukan juga sekadar brand. Itu nama yang sangat sesuai dengan riwayat dan sejarah kami mengenal warung itu.

Warung itu berada di sebelah timur kampus bawah Undiksha, tepatnya di Jalan Tasbih. Lokasi tepatnya di pintu gerbang kampus sisi timur. Dulu pintu itu kadang-kadang masih buka, tapi lebih sering ditutup. Kini sepertinya pintu itu sudah ditutup permanen. Entah apa sebabnya.  

Kini, jika mencari warung itu, patokannya bisa menggunakan Food Court Tasbih. Di depan food court itulah warung itu berada.

Dulu, malam-malam, mahasiswa sering membeli makanan dari dari dalam kampus. Pedagang akan memasukkan makanan lewat sela-sela pintu gerbang. Kemudian para mahasiswa menyantap makanan itu di bawah lampu merkuri di gerbang tersebut, duduk bersama hingga larut malam ditemani aroma melati dari pohon bunga melati yang tumbuh di dekat tiang lampu tersebut. Bukan berbau mistis ya, itu hal biasa bagi mahasiswa kampus bawah—mahasiswa seni rupa khususnya.

Pak Friend dan istrinya | Foto: Susila

Kini setelah tamat, sudah menikah, dan sudah menjadi guru di sebuah SMP di Buleleng, saya masih tetap mengunjungi Warung Friend. Hampir setiap minggu saya menyempatkan diri untuk mampir dan membeli makanan di sana, walaupun perjalanan dari rumah sebenarnya melewati banyak warung yang menjual menu yang sama. Ada hal yang berbeda di Warung Friend.

Atmosfer kampus bawah yang penuh kenangan masih terasa kuat walau dibatasi tembok kokoh tanpa ventilasi lagi. Atmosfer itu yang menarik saya memilih tempat itu untuk berlabuh, terus-menerus, dari dulu, hingga kini.

Masa Mahasiswa yang Indah

Mengenang Warung Friend adalah mengenang masa lalu yang indah. Bahkan, bukan hanya mengenang masa-masa kuliah, melainkan juga bisa terkenang juga masa-masa sekolah.

Masa-masa sekolah, dari dasar sampai perguruan tinggi memang tidak ada habisnya. Banyak sekali hal-hal yang bisa menjadi topik perbincangan, apalagi ada moment yang memang sangat membekas, lucu dan selalu asyik ketika menjadi bahan utama dalam perbincangan. Mulai dari perubahan dalam proses pembelajaran di sekolah, kurikulum, permainan yang dulu dan sekarang, hingga proses sampai saat ini dalam pekerjaan dan rumah tangga.

Semua hal bisa menjadi topik yang hangat untuk mengisi waktu berkumpul dengan kawan. Dalam tongkrongan, satu topik bisa di bahas hingga berjam-jam. Bahkan tidak cukup hanya satu topik, melebar ke topik lain, dari permainan tradisonal, politik, anime, hingga konspirasi di bahas serius. Walau sebenarnya tidak memahami sepenuhnya topik-topik tersebut. Seakan kita sudah sangat kompeten di semua bidang, tapi itulah yang menghidupkan suasana.

Hal-hal semacam itulah yang kami rasakan ketika mengingat Warung Friend di kampus bawah Undiksha. Bicara kenangan masa lalu, berkumpul dengan teman masa kuliah terasa masih segar untuk menambah topik perbincangan.

“Si Dewi yang belahan dadanya isi tahi lalat di mana sekarang ya?”

“Tukang kebun yang ramah masih gak tugas di kampus kita?”

“Tempat kita mabuk dulu sudah jadi gudang sekarang!”

Itu pertanyaan dan pernyataan klasik, dan masih banyak pertanyaan pemantik yang terlontar.

Berbicara masa kuliah, memang tidak ada habisnya, melaratnya mahasiswa rantau dengan bekal pas-pasan menjadi topik yang selalu hadir menghiasi waktu berkumpul.

Ya, menceritakan pengalaman pahit memang sering memberikan suasana yang hangat, saling berbagi pengalaman dan sedikit didramatisir akan memberikan suasana yang hangat dan saling peduli. Bukan playing victim ya, eh bisa jadi juga sih.

Satu topik yang memang menjadi andalan, yaitu ketika dompet menipis di rantauan. Nah, saat mengingat itulah saya—barangkali juga  mahasiswa lain di kampus bawah—akan tersenyum simpul ketika mengingat “Warung Friend”.

Warung ini menjual aneka makanan paket hemat untuk kita yang sedang dilanda “kemiskinan”. Paket hemat, nasi putih dan telur mata sapi dengan sedikit toping bawang goreng dan kecap menjadi menu favorit. Selain itu, ada nasi goreng pink juga dengan sambalnya, wah, saya tak sengaja menelan ludah membayangkan menu itu.

Kenapa namanya Warung Friend?

Penjual di warung itu, yang laki-laki, menganggap semua orang adalah teman. Ia memanggil pembeli tak pernah dengan sebutan nama, entah pikun atau gimana. Ia memanggilnya dengan kata “friend”.

Hanya friend, friend dan friend yang digunakan untuk memanggil pelanggan. Barangkali karena itulah warung tersebut diberi nama “Warung Friend”.

Warung Friend dan suasana di sekitar ang berubah | Foto: Susila

Bahkan mahasiswa yang menjadi pelanggan setia warung itu tidak tahu nama bapak penjualnya. Kami biasa menyebutnya dengan nama Pak Friend. Semua friend, penjualnya friend, yang beli friend, yang banyak bon juga masih friend.

Awal-awal berkunjung dan membeli makanan di sana tentu akan merasa aneh.

“Apa sih bapaknya ini, sok akrab sekali!” Itu yang saya rasakan dulu. Karena memang bukan keramahan seorang pedagang yang ia perlihatkan, tapi keramahan seorang teman atau saudara, seakan sudah akrab dan seakan memang ada hubungan keluarga. Tidak sekalipun memperlihatkan keramahan seorang penjual pada umumnya, yang tutur katanya lemah lembut, nada bicara yang sopan. Semua itu tidak kita temukan pada pelayanan yang diberikan. Bahkan tutur kasar ala-ala Buleleng biasa terlontar dari mulutnya, tidak memandang mahasiswa dari mana asalnya, hal itu berlaku untuk semua pelanggan mahasiswa.

Ya, mungkin satu-satunya alasan karena semua adalah friend, jadi bebas saja layaknya teman.

Warung tempat berlabuhnya mahasiswa dengan dompet tipis ini selalu ramai, ramai oleh mahasiswa yang mencari tempat makan dengan prinsip asal kenyang. Bahkan ada “buku neraka”. Kami, mahasiswa seni rupa menyebutnya “buku neraska”, sebuah buku hampir penuh terisi nama-nama mahasiswa dengan jumlah bon tertulis di “buku neraka” itu.

Tapi itu dulu, ketika suasana kampus masih dipenuhi mahasiswa hingga larut malam dan pintu gerbang timur kampus bawah masih ada. Kini banyak perubahan, gerbang timur sudah di tutup, jam mahasiswa di kampus sudah tak seperti dulu lagi. Kini, ada jam malam di kampus. Tahulah saya, apakah itub berkaitang dengan kurikulum atau slogan Merdeka Belajar.  

Selain itu, Warung Friend kini telah terhimpit dengan beragai lapak modern. Teh Jumbo di sampingnya, Food Court dengan gaya modern dan penuh kelap-kelip lampu berwarna-warni di depannya. Membuat keberadaan “Warung Friend” semakin tersudutkan di tengah kemewahan yang muncul di tengah kota.

Hingga kini, warung tersebut bukan hanya menjual makanan dan minuman saja, sembako dan alat upacara agama Hindu juga mulai dijual. Itu menandakan “Warung Friend” sudah tak mampu bertahan jika hanya menjual makanan saja.

Pak Friend | Foto: Susila

Ditambah lagi dengan kondisi Pak Friend yang sempat sakit dan lama tidak ikut berdagang, hanya istrinya yang berjuang berjualan hingga malam. Itu mungkin menjadi salah faktor pelanggan mulai berkurang, karena memang peran Pak Friend dan kata-katanya memang dapat menarik pelanggan. Keramahan dan cara bercandanya memberikan magnet dan membuahkan hasil yang baik untuk warung tersebut.

Ketika suasana semacam itu telah hilang serta ditambah lagi beberapa himpitan dari kiri dan kanan, membuat “Warung Friend” kini perlu dukungan mahasiswa yang dulu sempat tercatat di “buku neraka”. Ya, setidaknya berkunjung dan beli paket hematnya, atau nasi goreng pink dengan sambel pedasnya.

Namun senyum dan keramahannya masih tetap terjaga, ucapan tanpa rem dengan sedikit bahasa Inggris masih lancar terlontar dari mulutnya. Masih banyak mahasiswa yang telah kembali ke kampung dan ketika berkunjung ke Buleleng menyempatkan diri bernostalgia diwarung itu. Walau suasana sudah jauh bereda, yang tetap sama hanya pelayanan ala-ala friend, dan tentunya menu paket hemat masih tersedia di sana. Cobalah datang ke warung itu. [T]

BACA artikel lain dari penulis SUSILA PRIANGGA

Kemeriahan Lomba  Agustusan dan Pergeseran dalam Inovasi | Opini Kecil dari Komentator Online
Adi Sewaka Nugraha Kepada I Ketut Santosa Untuk Kesetiaannya Mengembangkan Seni Lukis Kaca Nagasepaha
Purnami dan Diva, Siswi SMPN 3 Sukasada, Juara Olimpiade Tingkat Nasional – Berawal dari Medsos
Tags: kulinermahasiswanostalgianostalgia mahasiswaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pondok Literasi Sabih Pedawa dan Kolaborasi Lintas Negara

Next Post

Membedah Problematika Pariwisata Daerah

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Membedah Problematika Pariwisata Daerah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co