6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon

Jaswanto by Jaswanto
July 5, 2024
in Liputan Khusus
Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon

Ilustrasi penari Sanghyang Sengkrong | Foto: Ist

“TUNGGU sebentar, ya. Jro Bendesa masih ada rapat!” seru seorang petugas keamanan LPD Desa Pakraman Kepaon, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, kepada tim peneliti Mulawali Institute, Senin (17/7/2023) pagi. Hari itu, peneliti Mulawali Institute sedang menjalankan program dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Bali-NTB, yakni “Analisis Ekosistem Kebudayaan di Kota Denpasar”.

Program tersebut bertujuan untuk memetakan ekosistem—kreasi, manajemen dan produksi, distribusi, konsumsi, dan apresiasi—empat Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), yakni Barong Ket, Gambuh, Joged Bumbung, dan Sanghyang Sengkrong, di Kota Denpasar. Penelitian ini juga diharapkan dapat menyusun rencana tindak lanjut atas ditetapkannya keempat OPK tersebut sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Setelah sempat mengobrol sebentar, petugas keamanan itu mengarahkan para peneliti ke sebuah ruangan ber-AC dekat aula di belakang ruang utama kantor LPD. Di sanalah mereka diminta untuk menunggu.

Seorang peneliti mengamati seisi ruangan. Sementara lainnya menyiapkan alat tulis, alat rekam suara, dan kamera DSLR untuk mendokumentasikan proses wawancara. Sesaat setelah alat-alat disiapkan, seorang laki-laki paruh baya berkacamata dan berbusana adat Bali serba putih memasuki ruangan pertemuan.

Sebelum duduk, dengan ramah lelaki itu menyapa dan menyalami satu per satu tamu yang hendak mewawancarainya. Ya, dialah Bendesa Adat Kepaon, Anak Agung Ketut Wirya, salah satu narasumber yang dinilai otoritatif dalam menjelaskan seluk-beluk kesenian Sanghyang Sengkrong.

Sanghyang Sengkrong merupakan salah satu dari sekian banyak tarian sakral di Bali. Seperti tarian Sanghyang yang lain, Sanghyang Sengkrong juga tergolong ke dalam tarian kerauhan (trance dance)—karena dalam pertunjukannya penari mengalami kesurupan.

Menurut Ketut Wirya, di Desa Adat Kepaon, tarian sakral tersebut sering juga disebut Ida Bhatara Mayun Sakti. “Ida Bhatara Mayun Sakti sangat kami sucikan dan kami puja di Pura Dalem Kepala Kepaon,” ujarnya.

Sanghyang Sengkrong hanya ditarikan atau dibawakan oleh seorang lelaki—yang rambutnya dibalut menggunakan kain putih—dengan keadaan tidak sadar (trance). Ketut Wirya menjelaskan, sebelum Tari Sanghyang Sengkrong dipentaskan, pihaknya harus melaksanakan pecaruan panca sata—semacam ritual mencari wangsit—untuk mencari penari terlebih dahulu.

Ya, tak sembarang orang boleh menarikannya. Hanya laki-laki yang berasal dari keturunan Krama Tuban yang dipilih berdasarkan prosesi ritual bernama nyanjan, yang bisa menarikan (mapajar) Sanghyang Sengkrong.

Kesakralan dan kemagisan Tari Sanghyang dapat dilihat pada saat penari mengalami trance, kerauhan, atau kerasukan. Pada saat seperti itu, penari Sanghyang Sengkrong akan menari-nari di atas bara api, memanjat bambu, menari di atas bambu, dan melakukan hal-hal di luar nalar manusia. Namun, yang aneh sekaligus spektakuler, penari tidak mengalami luka, terjatuh, atau terbakar.

Tetapi, yang perlu diingat, bagi masyarakat Adat Kepaon, Sanghyang Sengkrong bukan hanya sekadar soal debus, menendang api, atau kerasukan saja. Bukan! Lebih dari itu, Sanghyang Sengkrong adalah cara masyarakat Kepaon untuk menghubungkan diri dengan Tuhan, alam, dan keseharian masyarakat—dan itu semua sebagai bentuk bakti kepada Ida Bhatara Mayun Sakti.

Tari Sanghyang Sengkrong dipentaskan dengan menggunakan iringan kekidungan khusus dan kecak sebagai bagian rangkaian ritual. Mapajar dilakukan di lingkungan Pura Dalem Kepala Desa Adat Kepaon dengan durasi tarian yang berlangsung kurang lebih 2 jam.

“Tarian ini digelar 3 kali dalam setahun, tepatnya pada kajeng kliwon sasih kalima (bulan kelima), kajeng kliwon sasih kaenem (bulan ke enam), dan kajeng kliwon sasih kapitu (bulan ketujuh),” terang Ketut Wirya, sesaat setelah menjelaskan dua kelompok yang berperan penting dalam ritual Sanghyang Sengkrong, yakni Krama Samping (warga Pasek) dan Krama Tuban (warga Dalem Sri Kresna Kepakisan).

Krama Samping bertanggung jawab untuk mengabdikan diri, ngayah, mempersiapkan segala sarana dan prasarana upacara serta menjadi pelantun kidung Sanghyang Sengkrong. Sedangkan Krama Tuban, sebagaimana telah disinggung di atas, bertanggung jawab sebagai penari dan mengabdikan diri kepada Ida Bhatara Mayun Sakti.

Ekosistem Sanghyang Sengkrong

Mengenai ekosistem—yang terdiri dari kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan apresiasi—Sanghyang Sengkrong di Desa Adat Kepaon, mengacu pada data penelitian Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV dan Mulawali Institute, kesenian tersebut dinilai memiliki ekosistem yang cukup baik—walaupun masih ada beberapa persoalan di baliknya.

Tari Sanghyang Sengkrong sebagai kesenian sakral yang masih dilestarikan masyarakat, secara bentuk kreasi tidak banyak berubah. Sebab, sebagaimana penjelasan Ketut Wirya, bentuk pertunjukan Sanghyang ini sangat aksidental sekali. Artinya, dalam pengertian ini, sangat bergantung pada konteks prosesi ritualnya.

“Bentuk gerak tarian Sanghyang Sengkrong akan selalu menyesuaikan kondisi kerauhan yang dialami penarinya—yang penuh improvisasi. Sehingga, improvisasi gerak yang dilakukan penari Sanghyang dalam pertunjukan ritual tidak pernah tersusun dan terstruktur,” terang Wirya.

Dan, Wirya menambahkan, dari sisi kostum dan sarana prasarana pementasan juga masih tetap dipertahankan seperti aslinya, seperti dahulu kala, meski beberapa memang sudah pernah di restorasi, seperti gelungan (hiasan penutup kepala) dan kostum lainnya. Namun, secara konten pertunjukan yang sifatnya insidental tetap dipertahankan—mengikuti prosesi ritual pecaruan sasih kanem yang dilakukan di Pura Dalem Kepala Desa Kepaon.

Sebelum Tari Sanghyang Sengkrong dipentaskan di Pura Dalem Kepala, sebagaimana tarian sakral lainnya, kelompok yang bertanggung jawab—Krama Tuban dan Krama Samping—akan melakukan beberapa persiapan terlebih dahulu.

Tahap pertama (pra-produksi) menentukan penari, hari baik (waktu pementasan), pendelegasiaan sekaa (kelompok) yang akan bertugas, persiapan penari secara mandiri, penyiapan sarana upakara (sesajen), dan menyiapkan tempat pementasan.

“Nah, pada saat pelaksanaan (produksi), juga ada beberapa rangkaian ritual yang harus dilakukan, seperti  ngias gelung, penyucian penari, nedunang gelung, masolah/mapajar, dan nyineb gelung  (menyimpan gelungan),” terang Wirya.

Pada tahap ngias gelung, menurut Jro Mangku Ketut Merta, selaku penari Sanghyang Sengkrong Desa Adat Kepaon, dilakukan di jeroan Pura Dalem Kepala yang dilakukannya sendiri dan dibantu orang-orang Krama Samping. Prosesi ngias gelung dilakukan satu hari sebelum upacara puncak. Setelah itu, dilakukan ritual penyucian penari secara niskala melalui upacara pawintenan (penyucian).

“Setelah prosesi ini selesai, penari langsung menggunakan busana Tari Sanghyang Sengkrong dan bersiap untuk menyambut dan menggunakan gelungan. Pada ritual ini, gending kidung pamendak dan kidung nedunang gelung sudah dilantunkan. Setelah keduanya selesai dilantunkan, penari berdiri untuk mengambil posisi dalam keadaan setengah sadar—untuk menari (mapajar),” ungkap Jro Merta, di kediamannya di dekat Pura Dalem Kepala, Selasa (18/7/2023) siang.

Prosesi mapajar dilakukan sesuai dengan sesajen yang berjumlah 6 (enam) tandingan, sehingga penari melakukan tarian selama enam kali. Biasanya, pada saat penari Sanghyang Sengkrong sudah bergerak secara tidak sadar (trance), banyak rencang-rencang (teman atau pengawal) Ida Bhatara Mayun Sakti juga akan ikut tedun (turun) dan merasuki—“atau meminjam,” kata Merta—badan kasar dari krama yang terpilih secara langsung di tempat pementasan.

“Ritual terakhir pada tarian ini adalah nyineb gelung. Pada prosesi terakhir ini, gelungan kembali diletakan di tempat penyimpanannya melalui ritual penyineban dan ngewaliang taksu (pengembalian energi),” ujar Jro Merta.

Benar. Manajemen produksi kesenian Tari Sanghyang Sengkrong di Kepaon nyaris berjalan secara alami, apa adanya, dan tahapan-tahapan produksi mulai dari pemilihan penari, penembang, sampai pementasan pada sasih keenam sudah ada aturannya, pakemnya, dari dulu. Hal itu berkaitan dengan tujuan Tari Sanghyang Sengkrong yang sejak awal memang berfungsi untuk kebutuhan ritual (sakral), bukan pertunjukan hiburan semata (profan).

Oleh karena itu, segala keperluan produksi sudah diatur oleh desa adat, yang dipimpin oleh bendesa adat. Segala persiapan mulai dari nyanjan (ritual pemilihan penari) sampai pementasan difasilitasi oleh bendesa adat, yang saat ini dijabat Anak Agung Ketut Wirya. Tetapi, dalam hal menyiapkan teknis keperluan ritual, sebagaimana sudah disampai di awal, semua dilakukan oleh Krama Samping.

Tari Sanghyang Sengkrong sejauh ini hanya didistribusikan dalam bentuk pementasan langsung untuk upacara adat (sakral) di Pura Dalem Kepala Desa Adat Kepaon. Sejak dulu hingga sekarang kesenian ini tidak pernah dipentaskan atau didistribusikan untuk kepentingan hiburan (profan).

Anak Agung Ketut Wirya mengatakan tak berani mengotak-atik fungsi, peran, dan pakem Tari Sanghyang Sengkrong. Hal ini mengakibatkan hanya orang-orang Kepaon yang dapat menyaksikan pertunjukan Sanghyang Sengkrong. Bagi orang luar, harus berkunjung ke Pura Dalem Kepala jika ingin ikut menyaksikannya.

Sampai di sini, jika dilihat dari uraian di atas, ekosistem Sanghyang Sengkrong tampak baik-baik saja, tak ada kendala apa pun dalam pelestariannya. Namun, meski demikian, seperti halnya bentuk kesenian atau budaya lainnya, tari ini juga memiliki beberapa kelemahan dan tantangan yang perlu diperhatikan.

Menurut hasil laporan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV dan Mulawali Institute, masalah utama Tari Sanghyang Sengkrong adalah eksklusivitasnya—tarian ini hanya bisa diakses oleh kelompok tertentu atau dalam konteks upacara adat tertentu.

Dengan begitu, sebagai akibatnya, aksesibilitas dan penyebaran tari ini (mungkin) menjadi terbatas dan kurang dapat dinikmati masyarakat umum atau generasi muda yang tidak terlibat dalam tradisi sakral.

Tidak hanya itu, urusan regenerasi penari dan penembang juga penting diperhatikan. Mengingat, saat ini, usia penari dan penembang Sanghyang Sengkrong tak lagi muda. Meski sebenarnya, persoalan ini lebih rumit daripada yang dibayangkan. Pasalnya, urusan penari dan penembang tidak boleh sembarang orang. Masyarakat Kepaon percaya bahwa Ida Bhatara Mayun Sakti sendiri yang akan memilih penerusnya.

Kepercayaan Masyarakat Kepaon

Tari Sanghyang Sengkrong di Desa Adat Kepaon berbeda dengan yang ada di Desa Adat Padang Luwih, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Sanghyang Sengkrong di Padang Luwih umumnya ditarikan oleh penari perempuan.

Perempuan dalam konteks Sanghyang Sengkrong di Padang Luwih adalah simbol kesuburan, sedangkan laki-laki dalam konteks Sanghyang Sengkrong di Kepaon adalah simbol kekuatan. Perbandingan tersebut yang menjadikan Tari Sanghyang Sengkrong di Desa Adat Kepaon menjadi lebih eksklusif.

Tak hanya persoalan penari, perbedaan antara Sanghyang di Padang Luwih dengan Kepaon juga terletak pada iringan (tembang) tarian, kostum (termasuk gelungan), ritual, tempat dan waktu pertunjukan, fungsi, hingga kepercayaan masyarakat atasnya.        

Sanghyang Sengkrong di Desa Adat Kepaon dipercaya sebagai Ida Bhatara Mayun Sakti. Kepercayaan turun-temurun ini tidak terlepas dari asal-muasal tarian tersebut. Dikisahkan, dulu, wilayah Kepaon dan sekitarnya sedang dilanda pagebluk, kabrabahan, wabah penyakit, dan hama tanaman di sawah.

Mengenail hal tersebut, sang Raja Badung yang berkuasa saat itu, yaitu Ida Bhatara Maharaja Sakti alias Kyai Anglurah Pemecutan atau Ida Cokorda Pemecutan III, melakukan tapa brata yoga semadi di Pura Dalem Kepala (lingga putra dari Ida Bhatara di Pura Sakenan). Dari semadinya, sang raja mendapat wangsit atau wahyu untuk membuat kreasi Sanghyang yang nantinya akan ditarikan di pura tersebut.

Ketika akan membuat tarian Sanghyang, sang raja melihat rakyat buangan dari Klungkung. Mereka adalah korban perang yang dinggal di Tuban—yang dulunya hutan belantara. Sebagai seorang raja yang berhati lembut, Ida Cokorda Pemecutan mengizinkan mereka untuk tinggal di wilayah sekitar pura dengan syarat harus nyineb wangsa—menghilangkan asal-usul wangsa, kasta, atau catur warna pada golongan tertentu.

Tak hanya itu, untuk bisa tinggal di wilayah pura, orang-orang korban perang itu juga diberikan tugas untuk ngaturang ngayah—mengabdikan diri—di Pura Dalem Kepala sebagai penari Sanghyang tersebut. Sedangkan penembang sekaligus kelompok yang menyiapkan seluruh rangkaian acara, raja meminta atau memerintahkan golongan Krama Samping yang berjumlah 16 kepala keluarga sebagai pengayah.

“Setelah tarian itu dibuat dan dipentaskan di Pura Dalem Kepaon, seluruh hama dan bhuta kala kembali menjadi energi positif yang memberi keselamatan untuk pertanian dan masyarakat Desa Kepaon. Sejak itu, tarian ini dipercaya sebagai bhatara (yang dipuja) di Pura Dalem Kepala sebagai Tari Sanghyang Sengkrong,” terang Ketut Wirya, memungkasi ceritanya.

Sanghyang Sengkrong, sebagaimana tarian Sanghyang lainnya, dipercaya sebagai tari upacara untuk memohon keselamatan (menolak bala) bagi masyarakat setempat. Sebagai sebuah tari upacara, Sanghyang memiliki konsep pertunjukan yang bersifat sakral (wali). Hal itu dapat dilihat dari bentuk pertunjukan, konteks, lokasi, waktu, pelaku, proses pertunjukan, dan lain sebagainya—yang keseluruhannya itu dimaknai sebagai sebuah ritual.

Sanghyang erat kaitannya dengan masyarakat agraris di Bali. Kemunculannya dikaitkan dengan hasil panen para petani. Dalam laporan hasil penelitian Mulawali Institute, bahwa fungsi Sanghyang bagi masyarakat Bali—khususnya Desa Adat Kepaon—dianggap sebagai ritual, selain menolak bala, juga mencegah hama pertanian seperti wereng, walang sangit, burung, dll.

Namun, seiring perubahan kondisi sosial-masyarakat Desa Adat Kepaon, dari masyarakat agraris menjadi masyarakat urban dan industrial, menurut Anak Agung Ketut Wirya, fungsi Tari Sanghyang Sengkrong sudah disesuaikan. “Sanghyang Sengkrong hari ini berperan atau berfungsi untuk membangun ketenangan jiwa masyarakat,” ujarnya.

Sebagaimana kesenian Bali pada umumnya, Sanghyang Sengkrong juga memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Kepaon. Posisi kesenian di masyarakat dapat beragam, tergantung pada budaya, tradisi, dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh suatu komunitas di mana kesenian tersebut berada.

Begitu pula kesenian Sanghyang Sengkrong Desa Kepaon, yang diposisikan dan dipercaya sebagai kesenian yang pingit, tengat—yang memiliki kekhususan secara niskala; karenanya tidak boleh dipentaskan di sembarang tempat. Bahkan, penarinya harus dipilih berdasarkan ritual khusus bernama nyanjan.

“Masyarakat Kepaon percaya bahwa tarian Sanghyang Sengkrong dapat dijadikan sarana pelindung (atau yang melindungi) dan dapat menyembuhkan segala bentuk gering (penyakit),” terang Ketut Wirya.

Posisi kesenian dalam masyarakat dapat bervariasi dari satu komunitas ke komunitas lainnya. Namun, pada umumnya, kesenian dihargai karena perannya dalam memperkaya budaya, membentuk identitas, memberikan hiburan, mendidik, dan menginspirasi individu serta memfasilitasi dialog budaya antaranggota masyarakat.

Dan masyarakat adat Kepaon, alih-alih menjadikan Sanghyang Sengkrong sebagai sekadar hiburan pariwisata, justru malah menjadikan dan mengukuhkannya sebagai ritual sakral yang tenget, keramat, tak bisa diotak-atik menjadi sesuatu yang profan.

Kepercayaan mereka atas Sanghyang Sengkrong sama besarnya dengan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Dan itulah iman—membuat yang muskil, yang keras, yang suci, dan juga yang kejam, dijalani. Dan ini adalah bentuk kekuatan dalam menjaga kesenian tersebut tetap lestari. Selama masyarakat Kepaon masih memiliki kepercayaan atasnya, selama itu juga Sanghyang Sengkrong akan tetap ada. Selamanya.[T]

Baca juga artikel terkait LIPUTAN KHUSUS atau tulisan menarik lainnya JASWANTO

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tari Barong Ket Kunti Sraya di Denpasar: Yang Sakral, Profan, dan Seragam
Gambuh Pedungan: Kesenian Klasik yang Dilematis dan Persoalan Lain di Baliknya
Tags: BudayadenpasarDesa Adat KepaonPamoganTari Sanghyang SengkrongTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gong Kebyar Dewasa dari Yayasan Lilanjani Kerta Bumi, Tabanan, Sajikan Sunar Genjong, Raga Sidhi, dan Jayaning Singasana di PKB 2024

Next Post

Enam Bulan Kerinduan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

by Agus Wiratama
January 9, 2026
0
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk...

Read moreDetails

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

by Jaswanto
February 28, 2025
0
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

SEBAGAIMANA Banyuwangi di Pulau Jawa, secara geografis, letak Pulau Lombok juga cukup dekat dengan Pulau Bali, sehingga memungkinkan penduduk kedua...

Read moreDetails

Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

by Made Adnyana Ole
February 13, 2025
0
Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

SUNGGUH kasihan. Sekelompok remaja putri dari Desa Baturiti, Kecamatan Kerambitan, Tabanan—yang tergabung dalam  Sekaa Gong Kebyar Wanita Tri Yowana Sandhi—harus...

Read moreDetails

Relasi Buleleng-Banyuwangi: Tak Putus-putus, Dulu, Kini, dan Nanti

by Jaswanto
February 10, 2025
0
Relasi Buleleng-Banyuwangi: Tak Putus-putus, Dulu, Kini, dan Nanti

BULELENG-BANYUWANGI, sebagaimana umum diketahui, memiliki hubungan yang dekat-erat meski sepertinya lebih banyak terjadi secara alami, begitu saja, dinamis, tak tertulis,...

Read moreDetails

Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi | Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

by Jaswanto
February 3, 2025
0
Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi  |  Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

ADA kisah pilu pada pertengahan Oktober 2023 lalu. Gadis (23) penyandang disabilitas rungu wicara diperkosa oleh kerabatnya sendiri yang berumur...

Read moreDetails

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

by Jaswanto
December 31, 2024
0
Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

DI jaba tengah (madya mandala)---semacam ruang bagian tengah---Pura Ratu Gede Sambangan, Tejakula, Buleleng, Bali, orang-orang berkumpul, berdesak-desakan, menanti sebuah pertunjukan....

Read moreDetails

Masalah Stunting dan Bagaimana Pemerintah Buleleng Mengatasinya

by Jaswanto
October 29, 2024
0
Masalah Stunting dan Bagaimana Pemerintah Buleleng Mengatasinya

PADA awal tahun, Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Buleleng menggelar Lomba Inovasi Kuliner Berbahan...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Enam Bulan Kerinduan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co