6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis

Chris Triwarseno by Chris Triwarseno
January 7, 2024
in Ulas Buku
Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis

Sampul buku Perkara-perkara Nyaris Puitis karya Hilmi Faiq

Judul buku: Perkara-perkara Nyaris Puitis
Penulis: Hilmi Faiq
Penerbit: gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli, 2023

NGELEM dan lem aibon, dua hal yang sangat identik. Perilaku menghisap lem dijadikan sebagai suatu trend di dalam lingkungan, khususnya anak-anak jalanan. Kondisi ini seperti sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian besar lingkungan remaja, terutama remaja yang pola pikirnya belum stabil. Mereka merasa tertantang, coba-coba, dan ujungnya ketergantungan. Hal ini kemudian menyebabkan ketagihan dan melakukan kembali perilaku (relapse) ngelem.

Lem aibon termasuk zat yang berbahaya dan sangat adiktif. Lem aibon dipilih sebagai pengganti obat atau media suntik, karena lebih mudah didapat dan lebih hemat biaya. Melalui karakter Bana di dalam puisi berjudul “Di Bawah Lindungan Tuhan” Hilmi Faiq setidaknya menggunakan zat adiktif itu dalam bangunan metaforanya :

…..
Dia tergeletak di bangku taman
plastik berisi lem aibon di tangan kanan.
Tidurnya tenang, setenang kuburan.
…..

(2019)

Lalu apa relevansinya Hilmi Faiq memvisualisasikan kaleng lem aibon di dalam cover buku sajaknya? Benarkah ini kacamatanya sebagai seorang wartawan dan penyair yang menyoroti fenomena yang tumbuh di masyarakat? Ini menjadi pertanyaan-pertanyaan yang cukup menarik.

Penyair lebih sering atau bahkan selalu memerankan diri sebagai pemberi tanda. Melalui gambar kaleng lem aibon yang terbuka-menguap dan di dalamnya berserakan barang-barang yang (seperti) sedang dalam pusaran banjir, Hilmi sedang melepaskan tanda-tanda yang ia susun agar ditangkap oleh pembaca. Sebut saja gambar-gambar seperti : sebatang pohon, ban mobil, payung, boneka, sandal jepit, jerigen, gadget, dan lainnya seolah “nyampah”  di dalam lem aibon.

Senada dengan yang disampaikan Saras Dewi, sastrawan dan pengajar filsafat di Universitas Indonesia. Di dalam catatan penutupnya, ia menyebutkan antologi sajak Perkara-perkara Nyaris Puitis ini membuatnya terpekur. Sejauh mana kita telah membaca tanda-tanda dalam hidup ini. Tanda memang perlu kepekaan kita. Ia tidak selalu gamblang. Membaca tanda membutuhkan ketenangan dan kesabaran untuk memahaminya.

Sajak-sajak Hilmi adalah pembelaan terhadap yang mungil, yang terbengkalai sehari-harinya. Sajak-sajaknya adalah irisan-irisan tentang Kota Jakarta dan orang-orangnya. Cara mereka bertahan hidup, perjuangan mereka, cinta mereka yang tumbuh seperti rumput liar di tengah impitan beton.

Tidak cukup hanya menggunakan visualisasi gambar saja, Hilmi juga menggunakan bahasa secara sadar untuk bermain-main dengan aspek bunyi, kalimat, dan makna. Perkara-perkara Nyaris Puitis, adalah sebuah judul yang sangat berhasil menjadi satu keutuhan kesepakatan makna yang sedang ia tawarkan melengkapi ilustrasi kaleng lem aibon.

Apakah pembaca harus membuat kesepakatan dengan penawarannya? Inilah asyiknya sajak. Sajak itu kebebasan. Penyair bebas menentukan aturan mainnya. Bagaimana penyair menawarkan kesepakatan itulah, justru ia sedang menentukan nilai-nilai maknanya. Dan pembaca tentu boleh menolak tawaran kesepakatan itu.

Di mana benang merah gambar kaleng lem aibon dengan judul buku Perkara-perkara Nyaris Puitis? Setidaknya kita perlu definisikan masing-masing, “Perkara-perkara”, “Nyaris”, dan “Puitis”.

“Perkara-perkara” adalah sejumlah masalah atau persoalan. “Nyaris” adalah hampir saja terjadi (terutama tentang sesuatu yang membahayakan). “Puitis” adalah bersifat puisi, seperti kata-kata yang digunakan dipilih dan disusun dengan cermat, terdengar indah, diucapkan dengan tekanan suara tertentu sehingga menimbulkan emosi.

Jadi arti rangkaian dalam judul tersebut adalah sejumlah persoalan-persoalan yang hampir atau telah terjadi dengan penanganan atau penyelesaian yang terdengar indah (tapi) menimbulkan emosi. Sepertinya ini mendekati kait-kelindan analogi visualisasi gambar dan judul buku antologi  Hilmi.

Citraan kompleksitas “perkara-perkara” terlihat di dalam barang-barang berserakan di dalam kaleng lem aibon. Ban – bisa jadi ini adalah representasi lonjakan jumlah kendaraan bermotor, kemacetan, dan polusi. Jerigen – bahan bakar yang langka dan harganya melambung. Pohon tumbang – tidak adanya ruang hijau kota, berganti hutan beton, dan tidak ada resapan air-banjir. Payung terbalik – tidak ada payung hukum dan keadilan yang tergadaikan. Boneka – tidak adanya perlindungan anak dan kekerasan terhadap anak. Sandal jepit – rakyat kecil, terpinggirkan, tergusur, dan hunian kumuh.

Mungkin itu baru beberapa  permasalahan saja yang dihadapi dalam tata kelola urban. Lantas di mana letak ke-“nyaris”-annya? Bisa saja Hilmi meminjam kata “nyaris” sebagai satir bahwa perkara-perkara itu (mungkin) “hampir” ditangani atau bahkan (bisa jadi) “diabaikan”.

Lihat saja satir di salah satu baris terakhir sajak berjudul “Di Bawah Lindungan Tuhan” berikut ini :

…..
membuat Bana lupa pada kelaparan
saat negara tidur-tiduran
…..

(2019)

Hilmi mengisyaratkan bahwa penguasa tidak hadir dalam “perkara-perkara” yang  “nyaris” tersebut. Penanganan-penanganannya kerap kali hanya citraan saja – kata-kata manis, obral janji-bual dan nirhasil. “Puitis” bukan? Tidak ada keberpihakan pada keadilan dan kebenaran. Menyakitkan!

*****

Mari kita menjelajah sajak-sajak Hilmi di buku “Perkara-perkara Nyaris Puitis”. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Pertama : Juli 2023. Kurang lebih terdiri dari 125 sajak dan terbagi dalam dua (semacam) bab, yaitu : Tuhan Tak Mati dan Yang Dekat Dekat. Buku dengan warna biru muda – meneduhkan, kontras dengan warna visualisasi gambarnya, dan pilihan jenis serta warna font memberi penegasan tersendiri atas pesan yang akan disampaikan.

Menurut Budi Darma di salah satu esainya yang berjudul “Sastra : Sebuah Catatan”, sastra sebenarnya pengungkapan masalah hidup, filsafat, dan ilmu jiwa. Sejurus dengan pengertian itu, Hilmi mengungkapkan sebuah permasalahan sosial yang cukup pelik. Kemiskinan, perilaku menyimpang, dan ketidakhadiran negara atas permasalahan tersebut. (Justru) Tuhan tidak terlewatkan – hadir dalam filsafat spiritual.

 Di dalam sajak di bawah ini, setidaknya Hilmi telah menafsirkan kegelisahannya melalui personifikasi tokoh utamanya. Bana, seorang (remaja) yang membebaskan kepahit-getiran hidupnya dengan menghirup lem aibon. Lem ini serupa hidangan lengkap pembunuh lapar – “empat sehat lima sempurna”. Ya slogan negara untuk mengkampanyekan hidup sehat rakyatnya. Puitis-ironis bukan?

Bana – representasi rakyat, sedang tertidur dengan tenang, tidurnya setenang kuburan. Kalimat pendukung ini terlihat melebih-lebihkan, tapi faktanya memang demikian efek (relapse) ngelem. Jika rakyat menggunakan lem aibon untuk mempercepat kantuk-menghilangkan rasa lapar. Mungkin tidak demikian bagi wakil rakyat – dewan yang terhormat, wakil Bana juga. Permainan Candy Crush dipilihnya, alih-alih (tidak) hanya untuk menghilangkan rasa kantuk, tetapi untuk menghasilkan cuan tambahan selain tunjangan sebagai anggota dewan. Yang besarannya berkali-lipat gaji pokoknya.

Permainan sajak Hilmi sangat tajam, menuliskan  “saat negara tidur-tiduran” untuk jutaan Bana (rakyat) yang dipaksa “tidur beneran”. Penyimpangan ngelem-nya dicap wakil rakyatnya sendiri sebagai masalah sosial. Fakta lainnya, memang wakil rakyat itu sedang “tidur-tiduran” – tidak tidur beneran. Tidur-tidur ayam di kursi saat sidang, main game online – tepatnya judi online, melihat pornografi-sesaat sebelum membuat pasal untuk undang-undang pornografi, dan aktivitas “tidur-tiduran” yang lain. Mari kita simak sajaknya berikut ini :

DI BAWAH LINDUNGAN TUHAN

Rambut Bana ikal
sedikit cokelat di ujungnya,
mirip untaian kawat karatan.

Entah berapa hari dia tidak mandi, tidak makan, kulitnya kusam.
Lalat-lalat senang hinggap dan terbang
pada betisnya yang seperti permukaan bulan.

Dia tergeletak di bangku taman
plastik berisi lem aibon di tangan kanan.
Tidurnya tenang, setenang kuburan.

Tiba-tiba hujan,
Begitulah cara Tuhan
membuat Bana lupa pada kelaparan
saat negara tidur-tiduran.

(2019)

Di sajak berikutnya yang berjudul “Pintu”, Hilmi sedang berbahasa, berkata-kata atau (mungkin) sedang menuliskan buku harian. Ini adalah proses kognitif, yaitu memperoleh pengetahuan di dalam kehidupan yang diperoleh melalui pengalaman. Melibatkan Indera, kesadaran, dan perasaan.

Di dalam sajak ini, Hilmi menggunakan banyak pengulangan “Aku” dan “Mu”. Setidaknya ada empat “Aku” – satu “ku” yang juga mewakili “Aku” dan ada tiga “Mu”. Ini menunjukkan sebuah keintiman interaksi-komunikasi dua arah antara “Aku” dan “Mu”. Ya setidaknya seperti sedang menulis buku harian yang penuh kesadaran dan menuliskannya dengan perasaan. Keluaran dari curhatan tersebut disebut kognisi.

Hilmi sedang mengajak kita menemukan “Mu” yang terus  saja dia ulang di dalam sajaknya. “Aku”-nya berusaha dengan sekuat tenaga, dengan segala daya upaya, dan dengan berteriak juga. Kegaduhan spiritualnya muncul ketika “Aku”-nya tidak (segera) menemukan “Mu”-nya.

Setelah keintiman yang intens akhirnya “Aku” menyadari bahwa “Mu”-nya lebih dekat dari urat leher “Aku” sendiri. Tentu saja ini bukan berarti otomatis menunjukkan posisi dan letak. Akan tetapi menunjukkan dekat maknawi, yaitu “kedekatan”. Kebahagiaan “Aku” setelah menemukan “Mu” dituliskan dalam tiga baris terakhir sajaknya :

…..
Belakangan baru kusadari
pintu-Mu cukup aku geser
ke kanan atau ke kiri.
…..
(2021)

Selain pengulangan “Aku” dan “Mu”, di sajak ini juga ditemukan pengulangan-pengulangan lain yang lebih bersifat penegasan, kesungguhan, dan merujuk pada kumpulan orang. Lihat saja pengulangan “dorong-dorong”, “tarik-tarik”, dan “hamba-hamba”. Ketiganya memberikan permainan kata dan pemaknaan penegasan-kesungguhan “Aku” dalam menemukan “Mu”.

Puisi dengan demikian juga merupakan sebuah kognisi yang menawarkan untuk diproses kembali oleh pembaca. Menghasilkan kognisi lain yang mungkin sama atau berbeda-beda. Pembaca sajak akan mengalami sebuah peristiwa sajak setelah membaca sajak itu. Dengan mengalami sajak, pembaca mendapatkan pengetahuan, mendapat kognisi yang berupa makna sajak yang sesuai untuknya. Mari kita simak sajak lengkapnya berikut ini :

PINTU

Aku membuka pintu-Mu.
Aku dorong-dorong sekuat usaha.
Aku tarik-tarik dengan segala upaya.
Tiada terbuka jua.

Aku berteriak memanggil-Mu
hingga terkadang lupa
dengan hamba-hamba.

Belakangan baru kusadari
pintu-Mu cukup aku geser
ke kanan atau ke kiri.

(2021)

Menurut Subagio Sastrowardoyo dalam Simphoni – Pustaka Jaya, Jakarta, Jakarta, 1971, hal.45, puisi adalah filsafat, sedangkan roman, cerita pendek, atau drama adalah ilmu jiwa. Melalui sajak berikutnya yang berjudul “Hujan Puisi di Kotaku”, Hilmi sedang berfilsafat  melalui simbol-simbol keyakinan dalam kesetaraan-berdampingan.

Ia dengan leluasa mendampingkan keteduhan “Istiqlal” dengan dentang lonceng “Katedral” untuk menjawab “gemuruh” keyakinan di dadanya. Rupanya Hilmi merasakan getaran-getaran dalam keteduhan sesungguhnya. Hati, jiwa, dan pikirannya berteduh di bawah naungan keyakinan hakiki. Baris keempat sajaknya – “aku berteduh di pojok Istiqlal” dipilih untuk mewakili penggambaran keyakinannya.

Keyakinan itu bertumbuh, serupa rerumputan yang juga tumbuh dengan intensitas hujan dari langit.  Demikian halnya keyakinan, menurut Hilmi akan bertumbuh dengan intensitas “hujan kata-kata” yang berasal dari “mimbar”. “Hujan kata-kata” mewakili derasnya ujaran, ajakan, dan anjuran. Sedangkan “mimbar” berasosiasi pada sesuatu yang khusus dan mempunyai kedudukan lebih tinggi. Kitab atau ulama bisa menjadi terjemahan atas “mimbar” yang dimaksudkan.

Rupanya Hilmi sedang mengungkapkan makna kesadaran, berupa ruang-renung toleransi keberagaman keyakinan. “diselingi bunyi lonceng dari Katedral”, baris terakhir bait pertama ini mempertegas bahwa keyakinan itu “diselingi” – mempunyai irisan-irisan lain. Irisan kemanusiaan, budaya, dan sosial yang (patut diperjuangkan) berdampingan.

Dan dua baris pada bait terakhir adalah penutup yang menjawab pertanyaan-pertanyaan esensial tentang manusia dan toleransi keyakinan. “Segala gemuruh” – pertentangan atau keraguan yang (seringkali) terhijab “di dada” akan hilang. Ini hanya bisa terjadi jika “seiring kata amin Jemaah” – seiring manusia secara berjamaah mempunyai pemahaman dan pemaknaan keberagaman keyakinan yang memanusiakan manusia. Mari kita simak sajak berikut :

HUJAN PUISI DI KOTAKU

Di tengah hari,
tak ada mendung atau angin.
Tiba-tiba udara sejuk menggiring gigil.
Aku berteduh di pojok Istiqlal
menikmati hujan kata-kata dari mimbar
diselingi bunyi lonceng dari Katedral.

Segala gemuruh di dada
perlahan sirna seiring kata amin Jemaah.

(2022)

Sajak bukan (hanya) rekaman utuh suatu peristiwa. Peristiwa itulah yang diolah penyair dengan pendekatan puitika untuk mencapai tingkat kepadatan tertentu. Dipangkas, disederhanakan, dan disisakan bagian-bagian yang (dianggap) penting saja. Tetapi bagian yang tersisa ini masih harus tetap membawa keutuhan rekonstruksi peristiwanya.

Di sajak “Fragmen Kota”, Hilmi memotret kehidupan sosial urban dengan metafora yang kreatif-imajinatif . Sesuai judulnya, tentu saja ini hanya sebuah fragmen-cuplikan atau bagian peristiwa, bukan peristiwa utuh yang direkam. Berikut adalah sajaknya :

FRAGMEN KOTA

Di tengah malam yang sepi dan dingin
serombongan tikus berlarian dari gerobak sampah
setelah sesosok tubuh menghantam gang
menggaungkan suara dentam.

Setelah sekian saat, malam kembali sepi
seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Tubuh itu tetap di sana sampai fajar tiba.

Di seberang sungai sekitar dua blok dari gang itu,
seorang bocah berambut ikal menunggu ibunya
sambil celingukan mencari sebelah kaus kaki yang entah di mana.
Dia harus menemukannya sebelum ibunya pulang dan marah-marah
karena kembali terlambat sekolah.

Sampai tengah hari,
anak itu tak ketemu kaus kakinya
tak ketemu ibunya.

(2022)

Pada bait pertama di atas, melalui “tengah malam”, “serombongan tikus berlarian”, dan “gerobak sampah” Hilmi mendeskripsikan sisi lain kehidupan kota. Citraan area kumuh, miskin dan luput dari perhatian. Hal yang jamak terjadi dan (mungkin) juga berada di sekitar masyarakat urban lainnya. Melalui “…sesosok tubuh menghantam gang”, ia memunculkan sesosok  yang tidak berdaya, berusaha bertahan melawan kerasnya kehidupan, dan (bahkan) mungkin mati dalam ketidakberdayaan yang memiskinkannya.

Tidak ada kepedulian sosial, meskipun potret kehidupannya yang telah “mati” pun “menggaungkan suara dentam” – terdengar dan terlihat nyata di tengah-tengah masyarakat. Kegetiran dan keterpinggiran sudah menjadi karibnya sendiri dari “malam kembali sepi” sampai “di sana sampai fajar tiba” – memang sudah biasa. Tidak pernah terjadi apa-apa. Siapa peduli? Tidak ada.

Di bait ketiga, Hilmi kembali menarasikan sebuah fragmen yang berkait-kelindan dengan ironi sebelumnya. Melalui “seorang bocah”, ia memotret kecemasan, ketakutan dan kehilangan. Bocah yang sedang “menunggu ibunya” – menunggu sebuah harapan, sumber kehidupan – tempat ia bergantung.

Dan fragmen kota itu ditutup dengan sebuah satir yang cukup berhasil. Bocah itu tidak menemukan “kaus kakinya” dan “ibunya”. Tidak ditemukan sebuah harapan, tidak ditemukan sumber kehidupan, dan tidak ditemukan tempat untuk bergantung. Harapan, sumber kehidupan, dan tempat bergantung itu telah mati. Orang-orang disekitar hatinya (telah) mati, tidak peduli, dan negara pun (telah) pura-pura mati. Jadi fragmen kota adalah visualisasi kematian kemanusiaam yang sesungguhnya.

Demikian sajak-sajak Hilmi memotret keadaan di sekitarnya dan zamannya untuk dijadikan bahan mentah perenungan. Dengan kejeliannya, bahan-bahan mentah itu diolah menjadi sajak-sajak yang tidak terikat (lagi) pada tempat dan zaman bahan mentah sebelumnya. Ini yang menjadikan sajaknya menjadi sajak yang baik.

Sajak yang baik, dengan kuat bisa menjadi stimulus berpikir meskipun pembacanya tidak tahu dan (bahkan) tidak pernah menyimpulkan apapun. Sajak yang baik membuat pembacanya tersenyum, tertawa, atau larut dalam kesedihan. Sajak yang baik juga dengan kuat merasakan perasaan yang tak terdefinisikan apa namanya dan bagaimana bentuknya. [T]

Tags: buku puisiChris TriwarsenoHilmi FaiqPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Wildlife Camp 2024: Ikhtiar Menebar Pengetahuan dan Menanam Kesadaran Konservasi Alam Liar di Bali

Next Post

Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Chris Triwarseno

Chris Triwarseno

Alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul : Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, resensi dan esai diterbitkan di beberapa media cetak dan media online, seperti : Jawa Pos, republika.id, mediaindonesia.com, Suara Merdeka, Kaltim Post, Lombok Post, sastramedia.com, pojoktim.com, kurungbuka.com, nongkrong.co, borobudurwriters.id, balipolitica.com, tatkala.co , dll

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co