6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air

Kadek Suartaya by Kadek Suartaya
June 18, 2023
in Esai
Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air

Ilustrasi Tatkala.co

PEMAIN SEPAKBOLA hebat dunia sering dijuluki seniman bola. Bahkan Pele atau Maradona, misalnya, disanjung tinggi sebagai pesepakbola berkelas maestro.

Olahraga yang paling populer sejagat itu juga dikagumi sebagai sebuah permainan yang maha indah. Karena itu, permainan elok sepakbola Brasil dipuji bak tari Samba. Demikian pula liukan sepakbola Argentina disanjung bagaikan tari Tango nan mempesona.

Jika kesenian dipandang bersifat universal—memancarkan binar keindahan pada kehidupan manusia di penjuru bumi—sepakbola juga tak kalah semesta spirit damainya.

Jejak-jejak olahraga ini sudah ditemukan pada sejumlah peradaban kuno Tiongkok dinasti Han abad II Masehi hingga zaman Romawi dengan sebutan haspartun.

Kini, sepakbola dimainkan di negara-negara besar modern sampai di pelosok kampung  pedalaman yang posisinya mungkin tak terendus dalam peta dunia.

Olahraga permainan si kulit bundar yang merakyat ini termasuk digemari banyak penonton. Ada pula yang dengan fanatik mengusung olahraga ini sebagai “agama” kedua.

Sepakbola membumbung gengsinya sejak digelar dalam ajang Piala Dunia oleh Federation Internationale de Football Association (FIFA) pada tahun 1930 yang dilangsungkan di Uruguay.

***

Masyarakat Indonesia masa kini termasuk sangat menggandrungi sepakbola. Olahrahga ini mulai dimainkan di Pulau Jawa pada tahun 1914 yang diperkenalkan oleh orang-orang Belanda.

Sebaran pegiat dan pecinta olahraga bola kaki ini, dalam perkembangannya, kemudian dinaungi dengan pendirian lembaga Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 1930.  Sejak itu, timnas sepakbola Indonesia tak mau kalah untuk merengkuh prestasi bahkan sampai level Piala Dunia, seperti misalnya ambil bagian dalam kualifikasi Piala Dunia pada tahun 1958 yang dilangsungkan di Swedia.

Kendati belum mampu unjuk gigi membanggakan bangsa di forum tertinggi itu, akan tetapi eksistensi sepakbola di Tanah Air tak pernah kendor, hingga hari ini.  Di Bali, misalnya, masyarakatnya, selain antusias menonton seni pertunjukan, juga banyak yang tertarik menonton pertandingan sepakbola—menggeliat sejak tahun 2015 yang digelorakan oleh kebolehan Bali United. Stadion Kapten I Wayan Dipta di Kabupaten Gianyar menjadi saksi membuncahnya riuh penonton sepakbola di Pulau Dewata.

Hampir setiap negara di dunia berharap para atlet sepakbolanya tampil di Piala Dunia. Selain terobsesi dan berambisi menggamit juara, tidak sedikit yang berjuang keras untuk menjadi tuan rumah pesta akbar sepakbola sedunia itu.

Hasrat sebagai negara peserta maupun berdahaga menjadi penyelenggara tersebut, juga bergemuruh di dada bangsa Indonesia. Walaupun asa itu tampaknya seperti halusinasi, akan tetapi ada jalan ada peluang.

Celah itu menguak pada gelaran Piala Dunia U-20. Digedor oleh keinginan yang berdebur, dengan percaya diri, Indonesia pun mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah perhelatan tahun 2023. Syukur, melalui suatu proses seleksi yang dilakukan oleh FIFA, mimpi indah untuk turut sebagai peserta dan sekaligus bertindak selaku tuan rumah dipastikan menjadi kenyataan.

Pada bulan Mei-Juni, Indonesia resmi ditunjuk sebagai penyelenggara. Bersama 23 negara lainnya, pesepakbola muda Indonesia yang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri, diberi “bonus” untuk turut berlaga. Enam lapangan sepakbola telah dipilih, termasuk stadion Kapten I Wayan Dipta.

Tunggu, jangan bereuforia dulu. Tak ada mendung tak ada hujan, kebanggaan dan kehormatan menjadi tempat perhelatan prestisius Piala Dunia itu, tiba-tiba disambar gledek di siang bolong.

Sekitar pertengahan Maret, sejumlah pihak dari ormas, partai politik hingga satu dua pejabat pemerintah melontarkan penolakan keikutsertaan dan kehadiran Israel—salah satu kesebelasan yang lolos kualifikasi.

Polemik pun merebak bersengkarut dalam silang pro dan kontra. Singkat cerita, akhir Maret, FIFA mengambil langkah lugas, mencoret Indonesia sebagai tuan rumah. Kita ternganga. Kita blingsatan terbangun dari sebuah buaian mimpi.

Para insani sepakbola Indonesia bersedu sedan, sedih dan kecewa. Kesempatan langka untuk menunjukkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia sirna. Media sosial menjadi sesak dengan beragam hiruk pikuk ungkapan, dari yang mengerang emosional hingga celoteh  menggerutu dongkol.

Di tengah ingar bingar ini, Presiden Joko Widodo berpidato dengan amanat jelas, “Jangan mencampuradukkan urusan olahraga dengan politik”. Tapi, kiranya, para penolak tim Israel itu, telah berhura riang.

***

Panggung diplomasi kebudayaan telah berkontribusi pada politik luar negeri Indonesia. Jagat seni sering dikedepankan pada zaman Bung Karno, di antaranya dengan mengirim para seniman andal unjuk pesona di luar negeri.

Namun, walau kini, partisipasi atlet-atlet kita dalam perhelatan olahraga antar bangsa yang digelar di dalam maupun di luar negeri tak digadang-gadang secara eksplisit sebagai misi diplomasi, akan tetapi sumbangsihnya pada keharuman nama Indonesia tidak sedikit.

Dalam bidang bulutangkis misalnya, Indonesia begitu disegani dunia dan sering mengobarkan keharuan nasionalisme kita di forum internasional. Terbukti pula, asas sportivitas dan persahabatan dalam olahraga telah menunjukkan hasil yang positif dan berhasil merujukkan hubungan renggang antar negara.

Tengoklah kembali diplomasi pingpong Amerika-Tiongkok di tahun 1970an yang berujung pada kunjungan Presiden Amerika Richard Nixon yang menjadi penanda dibukanya isolasi Tiongkok dari dunia luar. “Diplomasi sepakbola” yang bertujuan perdamaian antar bangsa  juga sudah banyak dipertandingkan di penjuru belahan jagat.

Pencampuradukan olahraga dengan politik yang kontra produktif bahkan destruktif adalah bila dicemari dengan politik bablas pragmatis. Kiranya, pembatalan Piala Dunia U-20 di Indonesia dikoyak oleh egoisme politik oportunis tumpul empati, mengabaikan dimensi konstruktif bagi persepakbolaan kita.

Bagi Bali yang terpilih sebagai salah satu venue pertandingan, sudah pasti akan mereguk imbas ekonomi kepariwisataan berikut semua aspeknya. Mata dunia pun kian akan lebih terbelalak pada Bali, sebagai destinasi wisata masyur Island of Paradise.

Tetapi, begitulah. Binar-binar cerah itu telah padam. Gol pinalti FIFA telah menerjang. Kita telah mempermalu diri sendiri. Kita dicibir dengan sinisme tudingan mencla-mencle, plintat-plintut, konyol dan sederet cap minor lainnya.

Jika kita tak jera berulah offside dan berpaham absurd dalam konteks percaturan olahraga internasional, Indonesia akan terus diganjar “kartu merah”. Sepakbola kita membusuk di liang kubur. Sepakbola pun tak tampak indah lagi.[T]

Bali, Indonesia, dan Piala Dunia
Piala Dunia Afrika Selatan 2010: Saat Musik dan Sepakbola Bersatu
Nonton Bareng Piala Dunia, Melintas Dari Zaman ke Zaman
Tags: baliPiala Dunia U 20Politiksepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tamblingan dan Lanskap yang (tidak) Indah

Next Post

Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Kadek Suartaya

Kadek Suartaya

Pemerhati seni budaya, dosen ISI Denpasar.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Acara KCKB Buleleng: Sebuah Usaha Menumbuhkan Kesadaran Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co