7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
March 11, 2023
in Cerpen
Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co

POHON WARU yang cukup besar seperti menari-nari saat diterpa angin, daun-daun yang berguguran membuat angina dan tanah berbahagia akan hari itu. Di sisi teluk, tepat di Selat Bali, dari kejauhan kapal-kapal ferry terlihat lalu-lalang. Kapal-kapal itu terlihat lumayan kecil dari pohon waru.

Senja juga sudah menampakkan keindahannya. Namun tak seindah perasaan dua orang yang sedang duduk di bawah pohon itu. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun. Setiap hari memang ada saja orang-orang yang sengaja menyendiri, sedang membuat janji atau sedang menangis dan duduk bersandar di bawah pohon itu. Mereka mencurahkan suka dukanya pada batang pohon, pada akar, atau pada daun-daunnya yang rimbun. 

Pohon itu tumbuh sendiri, di sekitarnya hanya ada padang savana. Di teluk itu, pohon waru tumbuh di atas karang yang dihiasi lumut-lumut.

Tak jarang para nelayan dan beberapa orang singgah hanya untuk berteduh di bawahnya. Kadang saat air laut pasang, akar-akar pohon itu selalu dipenuhi air. Kadang pohon itu seperti ingin terbawa arus air. Tetapi, untungnya karang-karang ini selalu setia menjaga. Beberapa kali ombak pasang menerjang, kadang membawa pasir-pasir laut sehingga menutupi karang di bawahnya lalu ditumbuhi rumput-rumput liar.

Saat karang tepat di depannya hilang ditelan pasir, setelahnya orang-orang datang berbondong-bondong untuk duduk di bawah pohon waru itu. Daun yang rimbun seakan membawa harap untuk mereka, menikmati senja dan seakan melepas kepergian seseorang.

Dari orang-orang yang datang ke sini, kedua orang itu selalu datang setiap hari. Mereka kadang bahagia, tertawa dan selalu bercanda, lalu pulang dengan rasa bahagia. Kadang salah satunya bersedih entah kenapa tepat saat duduk di bawah pohon waru. Mereka adalah orang yang paling sering berkunjung ke sana. 

Tapi saat ini, suasana tampak tak begitu mengenakkan. Mereka berdua biasanya terlihat baik-baik saja, bercengkrama, tertawa lalu berlarian di sekitaran padang rumput di atas karang sana lalu kembali duduk di bawah pohon waru. Tapi kali ini, isak tangis mereka berdua seakan mengalahkan bunyi-bunyi kapal dan jukung yang berlayar entah ke mana. 

“Jadi mau bagaimana, Ingkar? Aku tak dapat memaksa lagi,” ucap pria itu sembari menunduk.

“Tak ada yang pernah memaksa, Raga. Kita berdua saja yang berusaha memaksa hubungan ini,” ucap Ingkar menangis.

“Aku memaksa, Ingkar. Memaksa kebahagiaanmu yang seharusnya dimiliki lelaki yang pantas.”

“Kau lelaki yang pantas itu.”

“Iya bagi dirimu, tidak bagi orang tuamu.”

Raga menahan tangisnya yang sedari tadi seperti ingin ia keluarkan, sedangkan Ingkar masih saja terisak-isak. Mereka tak saling bercakap kembali. Raga lalu memandang laut Selat Bali, linangan air terlihat sangat jelas di matanya. Napasnya juga tak beraturan, seperti sesak yang tak kunjung usai. 

“Entah kapan lagi kita akan menikmati senja yang indah ini, Ingkar,” ucap Raga membuka percakapan kembali.

Ingkar tak menyahuti perkataan Raga, ia masih saja tenggelam dalam tangisannya.

“Kita sudah tidak bisa lagi bersama, jika ayah dan ibumu juga tak menginginkan aku, Ingkar.”

“Aku juga tak merestui perjodohan ini, Raga. Aku mengutuk mereka!”

“Itu keputusan orang tuamu. Jangan membuat karmamu sendiri, Ingkar.”

“Mereka yang membuat karma itu. Bukan aku, bukan aku!” teriak Ingkar dalam isaknya.

Setelah percakapan yang melelahkan dan tangis yang tak kunjung usai, mereka saling memeluk satu sama lain. Sembari mengelus kepala Ingkar, Raga akhirnya menangis. Menangis di dalam pelukan Ingkar yang hangat, untuk terakhir kalinya.

“Setelah ini kita tak lagi bertemu, Ingkar,” ucap Raga sembari memeluk Ingkar.

“Sampai kapanpun kita tak terpisahkan, Raga. Tak akan. Apapun yang terjadi setelah ini.”

“Tapi bagaimana dengan orang tuamu itu?”  Raga melepas pelukannya.

“Aku tak perduli lagi. Biarlah mereka tersiksa nasib.”

“Tapi kau harus turun kasta jika bersamaku. Itu akan memunculkan amarah keluarga besarmu.”

“Aku tegaskan lagi, Raga! Kita tak akan terpisahkan!” ucap Ingkar dengan muka yang sangat tegas kala itu.

Matahari semakin terbenam, mereka tak juga kunjung beranjak. Tak ada penerangan, hanya cahaya bulan yang segera menerangi mereka. Raga dan Ingkar mulai meredam tangis, mereka menari dalam kegelapan yang indah kala itu. Mereka menari, saling memeluk, kadang mereka tertidur di bawah pohon itu, kadang Raga menari di atas Ingkar begitu sebaliknya.

Mereka memuaskan setiap cinta untuk terakhir kalinya. Tanpa terlewat sedikitpun. Setiap cengkraman cinta-cinta itu ditumpahkan di bawah pohon Waru.

Pohon waru yang kokoh itu daunnya mulai bergoyang diterpa angin malam dari arah laut, seperti ikut menari bersama mereka. Dua orang yang menuntaskan cintanya dan pohon waru yang ikut senang dengan mereka. Tak lama kemudian, Ingkar kembali menangis. Ia menangis terisak di atas badan Raga. 

“Kita tak akan berpisah, Raga!” kata Ingkar sembari menangis.

“Mari tuntaskan, Ingkar.”

“Kita tak akan terpisah.”

“Ya! Aku tahu. Kita tak akan terpisah,” kata Raga.

Ingkar masih terisak dalam tangis, kemudian Raga mencoba menenangkannya. Sembari mengelus rambut lusuh Ingkar, Raga kembali mengungkapkan cintanya. Mereka kembali menari-nari dalam bayang bulan yang sedemikian terang. Angin bertiup semakin kencang, Pohon waru itu melambai ke sana kemari seperti mengikuti tarian Raga dan Ingkar. Mereka masih menari, menarikan cinta-cinta mereka. Hingga malam tak terasa semakin larut. 

Jukung-jukung nelayan terlihat dari kejauhan dengan lampu kunang-kunangnya. Ada yang sudah mulai menjala dan baru berangkat dari tepian. Saat fajar sudah mulai menampakkan dirinya, nelayan-nelayan itu bergegas menarik jala dan mengarahkan jukung-jukungnya untuk kembali ke tepi. Membawa sedikit harap agar ikan-ikan yang ditangkap bisa dijual setelahnya.

Beberapa nelayan juga tak langsung pulang ke rumah, tapi ada yang ingin bercengkrama dengan nelayan lainnya di bawah pohon waru. Karena dari sana, mereka dapat melihat keindahan teluk dan Selat Bali yang selalu mereka hampiri untuk menjala.

Pagi itu, salah seorang nelayan heran karena banyak orang berkerumun di sekitar pohon Waru itu. Tak seperti biasanya pohon itu dikerumuni banyak orang, biasanya hanya satu atau dua orang saja. Nelayan itu mendekat ke kerumunan.

Sampai di sana ia terkejut, seorang pria dan wanita sudah tergantung lemas di pohon waru itu. Mereka masih saling berpegangan tangan sangat erat dan tak memakai sehelai pakaianpun.

Dari kejadian yang menggemparkan itu, pohon waru yang kokoh di sisi teluk dipotong oleh nelayan karena dianggap sudah leteh. Tak ada lagi tempat untuk menikmati keindahan teluk senja dan Selat Bali. Tak ada lagi pohon untuk nelayan berteduh dan tidak ada lagi pohon Raga dan Ingkar untuk menikmati cinta. [T]

KLIK untuk BACA cerpen-cerpen lain

Pisah Ranjang | Cerpen AG Pramono
Rembulan di Bukit Asah | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Kebaya | Cerpen Ikrom F.
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu 2019, Ada Pelajaran

Next Post

Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co