22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayang “Menggugat” Festival Seni Bali Jani

I Bagus Wijna Bratanatyam by I Bagus Wijna Bratanatyam
October 10, 2022
in Esai
Wayang “Menggugat” Festival Seni Bali Jani

Foto ilustrasi: Wayang listrik karya Made Sidia

Tahun 2022 ini, Festival Seni Bali Jani (FSBJ) memasuki penyelenggaraan untuk yang keempat kalinya. Dilandasi spirit pemajuan seni modern, kontemporer dan karya seni bersifat inovatif, perhelatan seni yang digeliatkan sejak tahun 2019 dengan pengayoman oleh Pemda Bali tersebut mengusung konsep yang menggelorakan seni kekinian. Seperti halnya FSBJ IV ini, diharapkan akan hadir membiakkan karya seni yang mengibarkan konsep eksplorasi, eksperimentasi, lintas batas, kontekstual, dan kolaborasi.  

Sebuah bingkai tema Jaladhara Sasmita Danu Kerthi: Air Sumber Peradaban disodorkan pihak panitia sebagai pemantik inspirasi dan bingkai berekspresi dalam beragam rona kegairahan seni. Puspa warna ungkapan seni telah dirancang untuk dinikmati dan diapresiasi masyarakat penonton dalam festival yang digelar di Taman Budaya Bali pada tanggal 9 sampai dengan 23 Oktober ini.

Berkarya seni secara eksploratif banyak diacu oleh para pegiat seni di arena FSBJ. Kecenderungan penggarapan seni dalam wahana ideologi ini merupakan orientasi yang umum dianut oleh para kreator di Bali, termasuk ketika mendapatkan ruang penciptaan seni di FSBJ. Telah dipahami bahwa eksplorasi merupakan pencapaian seni inovatif berbasis kreativitas pribadi, sementara ide dan subjek eksplorasi tetap mengacu atau basis tradisi atau nilai lokal.

Jika menoleh ke belakang, kiprah sejumlah seniman Bali sangat kental dengan basis pengolahan estetika lokal yang ditawarkan sebagai seni kontemporer. Tengoklah misalnya  karya tari Setan Bercanda, 1978, besutan I Wayan Dibia, dimana elemen koreografi, tata busana, dan nuansa magisnya terinspirasi oleh wabah penyakit di Bali. Demikian pula dengan garapan musik Gema Eka Dasa Rudra, 1979, karya I Nyoman Astita, Terompong Beruk, 1982, oleh I Wayan Rai, Kosong, 1984, buah cipta I Ketut Gde Asnawa dan lain-lainnya, semuanya berangkat dari basis karawitan Bali.

Seni pedalangan Bali sebagai subjek eksplorasi, juga tidak sedikit yang dijadikan sumber penggarapan seni masa kini. Pada tahun 1988, dimulai oleh karya I Ketut Kodi dan Dewa Wicaksana dengan karya bertajuk Anugrah, I Made Sidia, 1990, Sumbah, I Gusti Sudarta, 1991, mengetengahkan Kama Salah dan lain-lainnya, tampil dengan media wayang (kulit) Bali yang secara artistik dipresentasikan dalam wajah multi media memberdayakan video, audio, dan tata lampu modern. Garapan wayang kontemporer multi media itu, belakangan, hampir setiap tahun menguak dari momentum ujian-ujian akhir S1 dan S2 garapan seniman muda kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Karya seni kontemporer dalam ekspresi tari, karawitan, dan pedalangan tersebut, sangat disayangkan, rata-rata, hanya bergairah semalam saja. Pada umumnya, hampir semuanya hanya  mengalami pentas pendana. Semuanya meletup temporer. Tak ada pengembangan kembali. Wadah untuk mengakomodasikan kalahirannya tak ada atau belum memberikan kesempatan untuk ujuk diri.

Kini, ketika menyembul pewadahan seni masa kini, syukur karya tari dan karawitan kontemporer yang berbasis nilai-nilai lokal telah menyelinap dan dipersilahkan tampil di FSBJ. Tetapi, seni pedalangan kontemporer, baik yang telah tercipta di masa lalu maupun yang khusus digarap dan digelar untuk FSBJ, kurang tampak, bahkan nyaris senyap.  Sejak awal digelindingkan pesta seni masa kini ini, pihak panitia atau mungkin juga kreator wayang kontemporer yang bertumbuh di perguruan tinggi seni dan sekolah menegah kujuruan seni belum terpanggil bereksplorasi dan berolah cipta menggunakan media wayang di tengah FSBJ.

Sebagai seni tradisi klasik, ada sebagian pandangan bahwasannya wayang sudah mentok. Padahal wayang tak pernah henti bertransformasi dalam pemahaman tradisi yang dinamis. Di tengah masyarakat Jawa misalnya yang penghayatannya terhadap jagat wayang begitu dalam, wayang sebagai media seni pedalangan terus menunjukkan pertanda dan penanda zamannya dengan beragam variasi wayang kekinian. Dinamika wayang sudah dipelopori oleh Walinganga, khususnya Sunan Kalijaga, ketika memanfaatkan wayang sebagai sarana dakwah agama Islam, dimana wayang kulit yang sebelumnya berikonografi realitis manusia, dityalisasi menjadi wayang beranatomi dekoratif.

Pada zaman modern, setelah kemerdekaan RI, wayang  tak hanya bertutur menggunakan lakon-lakon yang bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabharata saja namun dikembangkan dengan lakon masa kini, seperti tampak dalam Wayang Suluh dan Wayang Pancasila yang menampilkan para pahlawan nasional dalam pertunjukannya.

Perkembangan bahan baku wayang bukan hanya dibuat dari kulit sapi dan kerbau atau juga dari kayu (Wayang Golek dan Wayang Klitik), namun ada yang terbuat dari rumput seperti tampak pada Wayang Suket. Dalang yang terkenal membawakan Wayang Suket adalah Slamet Gundono, yang dalam penampilannya tak hanya menggunakan wayang yang terbuat dari rumput namun juga menokohkan figur-figur wayang dengan beragam media “kontemporer” yaitu buah-buahan seperti terong, mentimun, kacang panjang, sawi, pisang, rambutan  hingga apel.

Menyimak program acara pagelaran yang disuguhkan dalam FSBJ 2022,  tak tampak tertera adanya garapan eksploratif masa kini dengan menggunakan media wayang. Padahal secara empirik, di Bali, penjelajahan estetik dan artistik dalam presentasi kontemporer telah berlangsung sejak dua dasa warsa lalu, hingga kini. Walau demikian, terselip juga mata acara yang mengangkat mitos Dalang tersohor, dalam ungkapan drama modern persembahan sanggar seni Gita Mahardika, Sukawati, Gianyar.

Kurangnya kesempatan untuk ruang ekspresi wayang kontemporer selama ini di FSBJ, kiranya dalam kesempatan mendatang perlu menyediakan aksentuasi pada karya seni masa kini yang berpijak pada nilai-nilai lokal wayang, menjangkau skala nasional. Melalui tematik wayang kontemporer, masyarakat penonton akan memperoleh wawasan seni masa kini dengan konsep eksplorasi seni yang berorientasi dari nilai seni tradisi lokal, apakah itu wayang masa kini dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan tentu wayang kontemporer dari Bali.

Sebagai sebuah teater total yang berunsur tari, musik instrumental, drama, seni suara, seni rupa, sastra, seni tutur sarat falsafah yang oleh para peneliti asing diapresiasi sebagai seni pertunjukan yang terindah di dunia dan kemudian pada tahun 2003 telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Agung Dunia, wayang terbukti memiliki potensi dan keluwesan beradaptasi dengan berbagai kemungkinan penggarapan seni kontemporer.

Seni pedalangan dengan media utama wayangnya,  begitu terbuka untuk dieksplorasi, amat menjanjikan dieksperimentasi, sungguh lapang dan ramah berinteraksi dengan aneka media, teramat lentur beririsan untuk dimuati kontekstualisasi, dan memiliki pancaran universal dalam toleransi berkesenian kolaboratif. “Gugatan” dari jagat wayang ini, kiranya, akan berkontribusi konstruktif demi berbinarnya karisma dan prestise FSBJ.  [T]

[][][]

BACA artikel lain tentang wayang

Wayang Sinema, Tawaran Menarik Dalam Dunia Pewayangan Kini
Eksplorasi Wayang Dalam Setiap Ruang
Sejarah Panjang Kemunculan Wayang
Tags: Festival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2022ISI Denpasarwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

A Letter to World Leaders

Next Post

“Sangaskara: Abimatrana Tirtha Dakara”, Ramuan Pentas yang Dihidupkan Komunitas Seni Arjuna Production

I Bagus Wijna Bratanatyam

I Bagus Wijna Bratanatyam

Dosen Seni Pedalangan ISI Denpasar

Related Posts

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails
Next Post
“Sangaskara: Abimatrana Tirtha Dakara”, Ramuan Pentas yang Dihidupkan Komunitas Seni Arjuna Production

“Sangaskara: Abimatrana Tirtha Dakara”, Ramuan Pentas yang Dihidupkan Komunitas Seni Arjuna Production

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co