2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayang “Menggugat” Festival Seni Bali Jani

I Bagus Wijna Bratanatyam by I Bagus Wijna Bratanatyam
October 10, 2022
in Esai
Wayang “Menggugat” Festival Seni Bali Jani

Foto ilustrasi: Wayang listrik karya Made Sidia

Tahun 2022 ini, Festival Seni Bali Jani (FSBJ) memasuki penyelenggaraan untuk yang keempat kalinya. Dilandasi spirit pemajuan seni modern, kontemporer dan karya seni bersifat inovatif, perhelatan seni yang digeliatkan sejak tahun 2019 dengan pengayoman oleh Pemda Bali tersebut mengusung konsep yang menggelorakan seni kekinian. Seperti halnya FSBJ IV ini, diharapkan akan hadir membiakkan karya seni yang mengibarkan konsep eksplorasi, eksperimentasi, lintas batas, kontekstual, dan kolaborasi.  

Sebuah bingkai tema Jaladhara Sasmita Danu Kerthi: Air Sumber Peradaban disodorkan pihak panitia sebagai pemantik inspirasi dan bingkai berekspresi dalam beragam rona kegairahan seni. Puspa warna ungkapan seni telah dirancang untuk dinikmati dan diapresiasi masyarakat penonton dalam festival yang digelar di Taman Budaya Bali pada tanggal 9 sampai dengan 23 Oktober ini.

Berkarya seni secara eksploratif banyak diacu oleh para pegiat seni di arena FSBJ. Kecenderungan penggarapan seni dalam wahana ideologi ini merupakan orientasi yang umum dianut oleh para kreator di Bali, termasuk ketika mendapatkan ruang penciptaan seni di FSBJ. Telah dipahami bahwa eksplorasi merupakan pencapaian seni inovatif berbasis kreativitas pribadi, sementara ide dan subjek eksplorasi tetap mengacu atau basis tradisi atau nilai lokal.

Jika menoleh ke belakang, kiprah sejumlah seniman Bali sangat kental dengan basis pengolahan estetika lokal yang ditawarkan sebagai seni kontemporer. Tengoklah misalnya  karya tari Setan Bercanda, 1978, besutan I Wayan Dibia, dimana elemen koreografi, tata busana, dan nuansa magisnya terinspirasi oleh wabah penyakit di Bali. Demikian pula dengan garapan musik Gema Eka Dasa Rudra, 1979, karya I Nyoman Astita, Terompong Beruk, 1982, oleh I Wayan Rai, Kosong, 1984, buah cipta I Ketut Gde Asnawa dan lain-lainnya, semuanya berangkat dari basis karawitan Bali.

Seni pedalangan Bali sebagai subjek eksplorasi, juga tidak sedikit yang dijadikan sumber penggarapan seni masa kini. Pada tahun 1988, dimulai oleh karya I Ketut Kodi dan Dewa Wicaksana dengan karya bertajuk Anugrah, I Made Sidia, 1990, Sumbah, I Gusti Sudarta, 1991, mengetengahkan Kama Salah dan lain-lainnya, tampil dengan media wayang (kulit) Bali yang secara artistik dipresentasikan dalam wajah multi media memberdayakan video, audio, dan tata lampu modern. Garapan wayang kontemporer multi media itu, belakangan, hampir setiap tahun menguak dari momentum ujian-ujian akhir S1 dan S2 garapan seniman muda kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Karya seni kontemporer dalam ekspresi tari, karawitan, dan pedalangan tersebut, sangat disayangkan, rata-rata, hanya bergairah semalam saja. Pada umumnya, hampir semuanya hanya  mengalami pentas pendana. Semuanya meletup temporer. Tak ada pengembangan kembali. Wadah untuk mengakomodasikan kalahirannya tak ada atau belum memberikan kesempatan untuk ujuk diri.

Kini, ketika menyembul pewadahan seni masa kini, syukur karya tari dan karawitan kontemporer yang berbasis nilai-nilai lokal telah menyelinap dan dipersilahkan tampil di FSBJ. Tetapi, seni pedalangan kontemporer, baik yang telah tercipta di masa lalu maupun yang khusus digarap dan digelar untuk FSBJ, kurang tampak, bahkan nyaris senyap.  Sejak awal digelindingkan pesta seni masa kini ini, pihak panitia atau mungkin juga kreator wayang kontemporer yang bertumbuh di perguruan tinggi seni dan sekolah menegah kujuruan seni belum terpanggil bereksplorasi dan berolah cipta menggunakan media wayang di tengah FSBJ.

Sebagai seni tradisi klasik, ada sebagian pandangan bahwasannya wayang sudah mentok. Padahal wayang tak pernah henti bertransformasi dalam pemahaman tradisi yang dinamis. Di tengah masyarakat Jawa misalnya yang penghayatannya terhadap jagat wayang begitu dalam, wayang sebagai media seni pedalangan terus menunjukkan pertanda dan penanda zamannya dengan beragam variasi wayang kekinian. Dinamika wayang sudah dipelopori oleh Walinganga, khususnya Sunan Kalijaga, ketika memanfaatkan wayang sebagai sarana dakwah agama Islam, dimana wayang kulit yang sebelumnya berikonografi realitis manusia, dityalisasi menjadi wayang beranatomi dekoratif.

Pada zaman modern, setelah kemerdekaan RI, wayang  tak hanya bertutur menggunakan lakon-lakon yang bersumber dari cerita Ramayana dan Mahabharata saja namun dikembangkan dengan lakon masa kini, seperti tampak dalam Wayang Suluh dan Wayang Pancasila yang menampilkan para pahlawan nasional dalam pertunjukannya.

Perkembangan bahan baku wayang bukan hanya dibuat dari kulit sapi dan kerbau atau juga dari kayu (Wayang Golek dan Wayang Klitik), namun ada yang terbuat dari rumput seperti tampak pada Wayang Suket. Dalang yang terkenal membawakan Wayang Suket adalah Slamet Gundono, yang dalam penampilannya tak hanya menggunakan wayang yang terbuat dari rumput namun juga menokohkan figur-figur wayang dengan beragam media “kontemporer” yaitu buah-buahan seperti terong, mentimun, kacang panjang, sawi, pisang, rambutan  hingga apel.

Menyimak program acara pagelaran yang disuguhkan dalam FSBJ 2022,  tak tampak tertera adanya garapan eksploratif masa kini dengan menggunakan media wayang. Padahal secara empirik, di Bali, penjelajahan estetik dan artistik dalam presentasi kontemporer telah berlangsung sejak dua dasa warsa lalu, hingga kini. Walau demikian, terselip juga mata acara yang mengangkat mitos Dalang tersohor, dalam ungkapan drama modern persembahan sanggar seni Gita Mahardika, Sukawati, Gianyar.

Kurangnya kesempatan untuk ruang ekspresi wayang kontemporer selama ini di FSBJ, kiranya dalam kesempatan mendatang perlu menyediakan aksentuasi pada karya seni masa kini yang berpijak pada nilai-nilai lokal wayang, menjangkau skala nasional. Melalui tematik wayang kontemporer, masyarakat penonton akan memperoleh wawasan seni masa kini dengan konsep eksplorasi seni yang berorientasi dari nilai seni tradisi lokal, apakah itu wayang masa kini dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan tentu wayang kontemporer dari Bali.

Sebagai sebuah teater total yang berunsur tari, musik instrumental, drama, seni suara, seni rupa, sastra, seni tutur sarat falsafah yang oleh para peneliti asing diapresiasi sebagai seni pertunjukan yang terindah di dunia dan kemudian pada tahun 2003 telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Agung Dunia, wayang terbukti memiliki potensi dan keluwesan beradaptasi dengan berbagai kemungkinan penggarapan seni kontemporer.

Seni pedalangan dengan media utama wayangnya,  begitu terbuka untuk dieksplorasi, amat menjanjikan dieksperimentasi, sungguh lapang dan ramah berinteraksi dengan aneka media, teramat lentur beririsan untuk dimuati kontekstualisasi, dan memiliki pancaran universal dalam toleransi berkesenian kolaboratif. “Gugatan” dari jagat wayang ini, kiranya, akan berkontribusi konstruktif demi berbinarnya karisma dan prestise FSBJ.  [T]

[][][]

BACA artikel lain tentang wayang

Wayang Sinema, Tawaran Menarik Dalam Dunia Pewayangan Kini
Eksplorasi Wayang Dalam Setiap Ruang
Sejarah Panjang Kemunculan Wayang
Tags: Festival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2022ISI Denpasarwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

A Letter to World Leaders

Next Post

“Sangaskara: Abimatrana Tirtha Dakara”, Ramuan Pentas yang Dihidupkan Komunitas Seni Arjuna Production

I Bagus Wijna Bratanatyam

I Bagus Wijna Bratanatyam

Dosen Seni Pedalangan ISI Denpasar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Sangaskara: Abimatrana Tirtha Dakara”, Ramuan Pentas yang Dihidupkan Komunitas Seni Arjuna Production

“Sangaskara: Abimatrana Tirtha Dakara”, Ramuan Pentas yang Dihidupkan Komunitas Seni Arjuna Production

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co