6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masih Menyisakan Bias dan Misteri | Ulasan Buku

Stebby Julionatan by Stebby Julionatan
May 19, 2022
in Ulasan
Masih Menyisakan Bias dan Misteri | Ulasan Buku

Cover buku Ryan Transformasi Sang Jagal Jombang

Judul Buku                : Ryan Transformasi sang Jagal Jombang
Jenis                           : Reportase
Penulis                       : Doan Widhiandono & Noor Arief Prasetyo
Penerbit                     : Padmedia
Cetakan                     : Pertama, 2022
Tebal                          : xvii + 278 halaman
ISBN                          : 978-623-5654-03-4
Peresensi                   : Stebby Julionatan

Saya teringat perkataan Cletus Kasady, tokoh villain dalam Venom: Let There Be Carnage (2021). Di film yang masuk dalam semesta Mavel Cinematic Universe (MCU) tersebut, sebelum Kasady membacakan sebuah puisi indah kepada Eddie Brock –sang superhero yang memiliki latar belakang sebagai jurnalis investigasi, ia memulainya dengan kalimat: “People love serial killer, Eddie. And I will give you my story.”

Beratus-ratus kilometer jauhnya dari San Fransisco, di jagad non-fiksi, setahun sebelum film tersebut diluncurkan ke publik, Doan Widhiandono dan Noor Arief Prasetyo melakukan perjalanan ke Lapas Khusus Gunung Sindur – Bogor untuk menjumpai Very Idham Henyansyah. Kurang lebih 900 kilometer perjalanan yang harus ditempuh oleh kedua wartawan senior tersebut, dari Surabaya ke Jakarta dan dari Jakarta ke Bogor, untuk menjumpai terpidana mati yang dahulu di 2008 ramai disebut orang dengan sebutan “Ryan Jagal Jombang”.

Tapi saya tak ingin memanggil Ryan dengan sebutan “jagal”. Dia memang membunuh dan jumlah korbannya tidaklah sedikit, ada 11 orang, tapi biarlah hal tersebut sebagai masa lalunya. Saya tak ingin menghakiminya dengan meletakkan “jagal” sebagai kata yang memiliki hierearki nilai dan negatif. Jagal mungkin nanti akan saya gunakan tapi dalam pengertian yang lebih netral. Lagipula, seperti yang diceritakan oleh Doan dan Arief dalam buku ini, rentang 12 tahun di lembaga permasyarakatan telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan Ryan. Ia jadi rajin salat, puasanya tak pernah lepas -ia melakukan puasa kafarat selama dua tahun penuh, bahkan ketika ditemui oleh Doan dan Arief pada pertengahan Oktober 2020 lalu, Ryan baru saja dinyatakan lulus sebagai penghafal Al-Qur’an.

Diakui Doan dan Arief bahwa tulisan-tulisan mereka yang terkumpul dalam buku ini dipantik oleh rasa penasaran pada nasib Ryan saat ini, pasca 12 tahun menjalani penahanan, terlebih setelah menerima buku Misteri Kasus Rian: Pembunuhan Berantai terbitan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (2013) pada awal 2020. Wabah pandemi COVID-19 membuat keduanya harus sedikit menunda keberangkatan hingga Oktober 2020. Dari sanalah tulisan-tulisan dalam buku ini lahir, reportase pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan, dimuat secara bersambung pada Oktober-Desember 2020 di harian Disway, lantas dibukukan dan terbit dengan judul Ryan Transformasi Sang Jagal Jombang (Februari 2022).

Membaca “Sembahyang Bhuvana” Karya Saras Dewi Dari Perspektif Wittgenstein

Buku Ryan Tranformasi Sang Jagal Jombang dicetak setebal 278 halaman, ini lebih tebal dari buku The Untold Story of Ryan karangan Ryan sendiri (128 halaman) yang saat ini keberadaannya telah ditarik dari pasaran. Dalam pengantarnya, Dahlan Iskan sempat berseloroh bahwa dengan terbitnya buku ini maka tak ada lagi misteri yang tersembunyi paska kepergian Ryan nanti. Tapi apakah benar demikian?

Transformasi Ryan

Homines arcani sunt et implicatae creaturae. Misteri dan kompleksitas manusia tidak akan pernah habis untuk digali; meski nantinya akan ada banyak peneliti dan jurnalis yang menulis soal Ryan. Pepatah tersebut secara implisit menjelaskan bahwa misterilah justru yang membuatnya (baca: Ryan) menjadi manusia; karena kompleksitasnya. Misteri pula yang membuat kita –sebagai manusia, memburu pengetahuan, membuat kita bergerak dan tak terperangkap pada kejenuhan rasionalitas.

Perubahan kebiasaan Ryan dari sosok pembunuh sadis sebagaimana yang diceritakan penulis ke sosok yang lebih spiritual bagi saya pribadi masih menjadi  misteri. Hal apakah yang menggerakkannya? Benarkah sebuah penyesalan yang total? Hal yang (di satu sisi) dianggap sebagai buah “keberhasilan” dari proses “pendidikan” yang dilakukan oleh lembaga permasyarakatan dan tentunya juga menjadi hal yang “menyenangkan” untuk dibaca dan didengar oleh masyarakat awam.

Namun, (di sisi lain) kita juga tak dapat menyangkal bahwa beberapa temuan ilmiah telah membuktikan bahwa perubahan kadang hanya terjadi pada lapisan luar (perilaku) yang tidak melibatkan kesadaran. Misal, pada Psyco Cybernetics (1960) karangan Maxwell Maltz yang menyebut bahwa manusia “hanya” memerlukan 21 hari untuk mengubah kebiasaannya. Atau, Michael Foucault yang menjabarkannya dalam teori “pendisiplinan tubuh” (1975), yakni suatu upaya menguasai tubuh subjek agar menjadi individu baru yang diharapkan bahkan tanpa disadari oleh subjek tersebut.

Matinya Kritisme: Ancaman Nyata Bali Hari Ini

Tulisan Doan dan Arief ini secara naratif gencar menyeret pembaca bahwa Ryan kini telah berubah menjadi lebih saleh. Hapalan Al-Qur’an, caranya berpakaian, kesantunan saat menjawab pertanyaan, keakrabannya dengan keponakan dan para napi lain, bahasa kasih dan kehangatan yang ditunjukkan Ryan pada ibunya, Siatun, serta surat permohonan grasinya kepada Presiden yang meminta waktu untuk menyelesaikan kafarat. Tapi apakah benar itu sebuah kesadaran ataukah sebuah hasil dari proses pendisiplinan?

Menikmati reportase yang lancar kedua jurnalis senior ini, saya sangat berharap ada turning poin, yakni proses kesadaran internal Ryan yang dapat ditangkap dan kemudian mereka tuliskan. Tapi tetap saja “transformasi” yang dimaksud keduanya hanyalah transformasi “kulit”; baju gamis panjang dan peci penutup kepala serta azan yang selalu menjadi pengingat Ryan untuk menghentikan kegiatannya (Bab 28. Ingin Pindah ke Sidoarjo, Mulai Bertransformasi). Meski tak salah melihat spiritualitas dari kacamata kuantitatif, tapi saya berharap melihatnya pula secara kualitatif.

Bias Heteronormatif

Misteri lain yang masih menggantung di benak saya adalah orientasi seksualitas Ryan yang dikatakan penulis telah melepaskan kehidupan gay-nya dan menjadi “normal”.

“Dia juga pernah ingin hdiup normal dan menikahi srang perempuan. Tetapi, kondisinya memang belum memungkinkan. Ryan bahkan menawarkan diri untuk memberikan konseling bagi mereka  yang ingin keluar dari dunia LGBT.”

Juga pada:

“Ryan memang punya dasar agama yang cukup. Karena itu, saat begitu jauh tersesat, dia tetap bisa menemukan jalan kembali. Salah satu caranya adalah mendekatkan diri kepada Allah.”

Di sinilah saya merasa Doan dan Arief masih terjebak dalam kerangka heteronormatif. Tak hanya terjebak pada pemikiran bahwa menjadi heteroseksual itu yang “normal” dan berkedudukan lebih baik ketimbang “gay”, tapi juga terjebak pada pemikiran-pemikiran yang berikut saya pertanyakan: Apakah seorang gay tidak bisa menikah dengan perempuan? Apakah gay tidak bisa memanipulasi ereksi penisnya ereksi ketika diperhadapkan pada perempuan yang telanjang? Dan, apakah seorang gay tidak bisa membuahi sel telur? Lalu, apakah jawaban untuk “menjadi normal” adalah dengan dasar agama? Bagaimanakah Doan dan Arief dapat menjelaskan pijakannya itu pada kasus Herry Wirawan, kyai yang didakwa memerkosa 13 santriwati?

Trilogi Jirah | Terasa Sekali Jungkir Balik Perasaan Itu; Kecamuk Kepedihan, Polemik Kekuasaan, Ambisi, Luka…

Judith Butler, filsuf yang subjek penelitiannya berfokus pada teoretisi gender, mengatakan bahwa gender itu performatif dan sifatnya adalah pengulangan. Di budaya kita saat ini, normanya setiap orang harus berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Lelaki harus maskulin dan perempuan harus feminin. Itulah sebabnya mengapa bayi yang terlahir dengan alat kelamin ambigu, pada akhirnya harus dioperasi untuk “menormalkan” alat kelaminnya; membuat tubuh bayi menjadi lelaki atau perempuan.

Didikan di dalam lembaga pemasyarakatan telah mengkonstruksi dan menkonversi orientasi seksualitas Ryan, dan Ryan menerimanya. Ia dikonstruksi untuk menganggap bahwa orientasinya jahat, berdosa, melenceng, dan harus “dinormalkan”. Apalagi, jika kita mengingat statusnya sebagai seorang terpidana mati yang ingin dilepaskan dari jerat hukuman matinya, maka pertanyaan saya selanjutnya, apakah hal tersebut murni sebagai buah dari kesadaran ataukah efek dari pendisiplinan tubuh yang kita semua tidak tahu sampai kapan tubuh Ryan kuat merengkuh semua pendisiplinan itu. [T]

Probolinggo, 9 April 2022

Tags: resensiresensi bukuUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memadupadankan Kehumasan dan Jurnalistik, Memeriksa Hubungan Pemerintah dan Wartawan

Next Post

BATAS USIA DIKSA MENURUT PHDI & RSI SASANA CATUR YUGA

Stebby Julionatan

Stebby Julionatan

Tinggal di Probolinggo, Jawa Timur dan saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di Kajian Gender – Universitas Indonesia.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

BATAS USIA DIKSA MENURUT PHDI & RSI SASANA CATUR YUGA

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co