2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tjok Bagus, Sang Pengembara

Gde Putra by Gde Putra
January 29, 2022
in Esai
Tjok Bagus, Sang Pengembara

Tjok Bagus [Foto: Istimewa]

Keputusan Tjok Bagus meninggalkan Nosstress sungguh mengejutkan para penggemar band folks asal Bali ini. Mereka menyayangkan langkah yang diambil sang idola.

Sontak kolom komentar akun sosmed pria yang handal menepak cajon ini dibanjiri permintaan dari para penggemar agar Tjok Bagus, yang biasa disapa Cok atau Cokgus, mengurungkan niatnya.

Bagaimana tidak, kekompakan dan keceriaan selalu ditunjukan tiga serangkai ini, baik di panggung, maupun di luar panggung seperti terlihat dalam berbagai video diary Nosstress di kanal youtube.

Nosstress adalah “rumah” yang ikut dibangun Cok dari nol. Rumah itu bukan saja meneduhkan para personil nosstress, namun juga para crew dan penggemar mereka.

Bukannya menetap di rumah yang semakin kokoh itu, Cok malah memilih keluar. Kali ini dia bertarung sendiri. Dia menggarap beberapa karya solo. Sudah 5 lagu dia ciptakan.

Memulai dari awal tidaklah mudah. Dia mesti mengurus tetek bengek rekaman tanpa bantuan manajemen. Meski demikian Cok percaya dengan kata hatinya.

Ada banyak hal menarik yang dia temui sebagai “single fighter”. Dia lebih bebas mengikuti moodnya. Cok tidak perlu risau akan deadline. Berkesenian tanpa target membuatnya lebih lentur meracik nada dan lirik.

Di dalam dunia industri, cara berkesenian seperti yang dilakoni Cok ibarat berenang melawan arus. Target dan deadline adalah wajib sebagai konsekuensi dari tuntutan produktifitas. Karya mesti dicetak secepatnya supaya penggemar tidak bosan.

Jika penggemar terpuaskan maka pundi-pundi juga kan bertambah, album jadi laku, permintaan marchandise meningkat, tawaran konser dan endorsement berdatangan.

Di hadapan industri, mood bisa menjadi kontraproduktif sekalipun karya yang mumpuni membutuhkan mood sang seniman. Industri mewajibkan kepastian, sedangkan mood sebaliknya. Industri menuntut konsistensi, mood menuntut kemerdekaan.

Cok memilih memerdekakan dirinya. Berkesenian mesti tanpa beban dan mengalir dengan leluasa, bukan dicengkram target atau tuntutan pasar. Baginya menempatkan target sebagai sentral justru melenyapkan otonomi seniman dalam berkarya.

Di saat Cok sedang khusuknya menempa karya, duka datang menghampiri. Sakit yang menggerogoti ibundanya semakin parah.

Perempuan ulet yang pernah bekerja sebagai guru SD ini adalah figur spesial bagi Cok. “Dia adalah nyawa saya” begitu kalimat yang Cok lontarkan saat ditanya mengenai ibundanya.

Cok adalah anak semata wayang. Rasa sayang sang ibu terpusat padanya. Perempuan tegar ini selalu menerima dan mendukung total segala macam keputusan yang dipilih buah hatinya.

Semua ini nampak dari bermacam kesibukan yang digeluti Cok. Selain bermusik, eks personil Nosstress ini mempunyai berbagai bidang usaha, dari toko pakaian hingga warung makan. Dia juga seorang desainer interior.

Cok seorang multi talenta. Dia pandai melukis, memahat, menari, memasak dan memainkan bermacam alat musik baik itu musik modern ataupun tradisional.

Boleh jadi berbagai bakat itu membuat dia berani menggeluti berbagai macam hal.

Namun tanpa dukungan moril dari sang Ibu, belum tentu dia percaya diri mengaktualisasi bakat-bakatnya. Bakat tanpa adanya dukungan kan berujung tumpul, berakhir sia-sia.

Perjuangan ibundanya dalam menghadapi sakit penuh lika liku. Selain berobat  ke rumah sakit, pengobatan tradisional juga pernah dijalaninnya. Hasilnya sama saja, nihil.

Beliau sudah begitu lelah dengan ketidakpastian. Perempuan tangguh ini memohon kepada pihak keluarga agar dirawat di rumah. Beliau siap menerima konsekuensi apapun.

Dengan berat hati pihak keluarga mengabulkan keinginan sang Ibu daripada merasa tersiksa di rumah sakit. Berada di rumah sendiri membuat sang ibu lebih nyaman.

Dalam situasi kalut akan kondisi kesehatan Ibunya yang kian hari semakin menurun, lagu “Ya sudahlah” tecipta. Lagu ini tentang keikhlasan untuk menerima kehilangan yang abadi. Hal ini terbaca pada sepenggal lirik lagu ini;

“Seberat apapun itu harus terbiasa
Sesakit apapun itu harus berlatih
Untuk menerima
Untuk ikhlas”


Seperih apapun rasa kehilangan, dia mesti dihadapi. Dengan lirih Cok berdendang;

“Yang terjadi terjadilah
Yang terjadi adalah pelajaran
Yang berlalu di kenang, yang akan datang dipersiapkan”

Tjok Bagus [Foto: Istimewa]

Tanda-tanda memburuknya kondisi kesehatan sang ibu semakin nampak. Tubuhnya gontai dan loyo. Walau demikian wajah sang ibu tetap memancarkan ketenangan. Ibunya ingin tampil bersih dan rapi di hari-hari terakhirnya.

Cok menyisir rambut beliau dengan lembut, dan menatanya agar nampak menawan. Cok kemudian membantu Ibunya mengenakan kamben.

Beliau nampak anggun. Tersirat sepertinya beliau siap pergi meninggalkan semuanya dengan lapang dada. Beberapa saat kemudian sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya.

Posisi Cok saat ini bak pengembara. Dia pergi meninggalkan Nosstress, “rumah” yang dia bangun dari nol, dan sekarang dia kehilangan “rumah” lamanya, yaitu sosok ibu tempat dia berteduh dan merasa nyaman menjadi dirinya.

Single “Ya sudah lah” adalah lagu tentang manusia yang memilih ikhlas. Lagu ini adalah lagu survivor, lagunya orang yang bertahan hidup dari ketiadaan tempat berteduh.

Lewat lagu ini, Cok menunjukan dirinya sebagai pengembara yang tegar. Banyak kisah di dalam kesendirian seseorang menemukan kekuatannya. Mungkin Cok salah satu dari mereka. Selamat menikmati… [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peningkatan Kualitas Media Digital: Tak Hanya Kejar Traffic, Juga Tingkatkan Kualitas Konten

Next Post

Puisi-puisi Mettarini | Aku Mencumbu Waktu

Gde Putra

Gde Putra

Penulis tinggal di Denpasar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Mettarini | Aku Mencumbu Waktu

Puisi-puisi Mettarini | Aku Mencumbu Waktu

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co