14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Djokovic: Anomali Manusia Modern?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 26, 2022
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Covid-19, tiada henti memicu kontroversi. Kali ini, pusaran kontroversi menghantam entitas peradaban kelas atas dunia. Petenis putra terbaik dunia Novak Djokovic, negara maju dan modern Australia dan perhelatan turnamen tenis elit grand slam Australia Open disengat kontroversi virus Corona. Gara-gara belum vaksinasi Covid-19, visa Djokovic dicabut oleh pemerintah Australia dan tentu saja terancam tidak bisa bertarung pada turnamen Australia Open tahun ini. Jika diurai, situasi ini dapat menjadi sangat rumit dan multi dimensional.

Drama kontroversi ini menjadi semakin menarik lantaran pandemi Covid-19 sudah memasuki tahun ketiga dan kali ini, pihak-pihak yang diterpa kontroversi bukan kaleng-kaleng. Nole, panggilan Novak Djokovic, tentu saja sangat berkepentingan dengan seri grand slam Australia Open dan berjuang mati-matian untuk mendapat izin ikut serta.

Pemegang sembilan trofi Australia Open dan 20 gelar juara grand slam ini, harus mempertahankan tiketnya untuk bersaing di Australia Open kali ini karena memberinya kesempatan untuk pertama kalinya menjadi tunggal putra terbaik dunia. Sebagai petenis peringkat satu dunia saat ini, peluang itu sudah di depan mata. Ia akan meninggalkan The Big Three yang lain, Rafael Nadal dan Roger Federer yang saat ini ketiganya sama-sama menguasai 20 trofi grand slam. Namun, pemerintah Australia bisa saja menghentikan ambisi Djokovic dengan mencabut kali kedua visa legenda hidup Serbia ini.

Medis Versus Attitude

Secara medis, Djokovic jelas orang yang memenuhi syarat untuk tampil pada turnamen yang digelar di Melbourne Park nanti. Alasannya adalah, ia baru saja terkonfirmasi Covid-19 di bulan Desember 2021. Maka secara medis, ia belum memerlukan vaksinasi Covid-19 karena status imunitasnya yang telah melindunginya dari infeksi ulangan. Meski demikian, rekomendasi-rekomendasi terbaru tidak mengharuskan seorang penyintas perlu menunggu setelah tiga bulan untuk menerima vaksin.

Tampaknya kebijakan ini sangat dipengaruhi pula oleh ketersediaan vaksin. Di masa-masa awal program vaksinasi, saat ketersediaan vaksin masih sangat terbatas, jadwal pemberian vaksin bagi penyintas ditetapkan cukup ketat setelah tiga bulan paparan. Inilah yang telah memicu berbagai kecaman terhadap Asosiasi Tenis Australia (TA) yang telah memberi dispensasi kewajiban medis bagi Djokovic. Rasanya, cukup jelas pertimbangan penyelenggara akan daya tarik sosok Djokovic bagi penonton yang tentu saja akan mendongkrak penjualan tiket. Namun pemerintah Australia punya pandangan lain.

Pandangan lain dengan potensi ancaman yang sangat besar bagi Djokovic, mencabut kembali visa petenis yang bermimpi meraih sepuluh kali trofi Australia Open ini. Australia yang cukup kelelahan dengan badai gelombang Delta, telah membuat skema yang sangat ketat bagi pendatang yaitu kewajiban sudah memiliki sertifikat vaksinasi Covid-19.

Sayang sekali, Novak Djokovic adalah seseorang yang anti vaksin dan anti protokol kesehatan terkait Covid-19. Telah diketahui oleh khalayak umum, pada sekitar pertengahan tahun 2020, saat pandemi virus Corona sedang mengepung dunia bagai api melalap ilalang kering, Djokovic membuat kehebohan. Ia dan sejumlah petenis lainnya menyelenggarakan turnamen tenis tanpa prokes di negerinya. Meski mendapat kritikan berbagai pihak, ia bergeming.

Lalu, dari aktivitas sosial tanpa prokes itu, Djokovic dan sedikitnya lima orang petenis lainnya terkonfirmasi Covid-19. Nah, setelah itu, seharusnya ia menerima dosis vaksin sesuai rekomendasi WHO, namun ia tidak melakukannya. Hingga kemudian di akhir tahun kemarin, kembali terkonfirmasi Covid-19. Kronologis cerita yang sedemikian jelas memperlihatkan sikap Novak Djokovic menyangkut pandemi Covid-19, sudah lebih dari cukup untuk menganulir visa yang bersangkutan. Jelas ini soal keteladanan.

Isu Kebebasan

Meskipun secara umum negara-negara Eropa setuju vaksinasi Covid-19, namun masih ada sejumlah negara di benua biru yang sangsi dengan efektivitas vaksin Covid-19. Salah satunya adalah Serbia. Hanya sekitar 45% warga Serbia yang sudah menerima vaksin Covid-19 dan baru 25% yang menerima suntikan booster.

Prinsip kebebasan selalu menjadi isu sentral dan esensial di kalangan masyarakat Eropa, meski saat ini masih sedang menghadapi wabah yang belum dapat dipastikan ujungnya. Sebagian besar negara, baik di Eropa maupun global, dalam hal pandemi seperti saat ini, memilih sikap, negara harus mengatur. Isu ini tidak dapat disetarakan dengan kebebasan berpendapat atau beragama misalnya, karena pandemi jelas memberi dampak komunal dan berbahaya.

Novak Djokovic, dalam berbagai kesempatan memang mengajukan alasan prinsip-prinsip kebebasan memilih untuk kemudian tidak mengikuti program vaksinasi. Ia jelas sangat meyakini ini murni persoalan pribadi. Meski kita semua memahami sebaliknya, prokes dan program vaksinasi diterapkan karena Covid-19 sangat nyata merupakan masalah bersama.

Maka tak berbeda seperti dalam masyarakat kita di belahan dunia timur, sains modern dengan mudah dapat dihadang oleh keyakinan personal yang terlampau kuat. Keyakinan yang dibangun dari hati dan perasaan lebih sering unggul di atas pikiran manusia yang menjadi ragu. Jika demikian, mari kita tunggu sikap pemerintah Australia menyangkut visa si Nole, akankah didasari hati dan perasaan ataukah pikiran? [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menaja Risalah Maya: Antara Popularisme dan Hedonisme dalam “Nyujuh Langit Duur Bukit”

Next Post

Kuta, Kita, Kini | Pameran Seni Rupa Kelompok Artheist

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Kuta, Kita, Kini | Pameran Seni Rupa Kelompok Artheist

Kuta, Kita, Kini | Pameran Seni Rupa Kelompok Artheist

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co