3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Perubahan Tematik Karya Sastra Modern di Bali

I Nyoman Wirata by I Nyoman Wirata
November 2, 2021
in Esai
Membaca Perubahan Tematik Karya Sastra Modern di Bali

Nyoman Wirata pada acara Timbang Rasa, Festival Seni Bali Jani, di Taman Budaya Denpasar, Bali

Gerakan literasi menumbuhkan kemampuan membaca perubahan. Tantangan berinovasi dan eksplorasi memproduksi tema dan  makna estetik dalam penciptaan karya sastra dimulai dari sikap keritis. Pembaca yang cerdas menuntut penulis kreatif. Hubungan pembaca dan penulis menimbulkan ketegangan dan kegelisahan kreatif.

Realitas sosial adalah ladang luas menjadi permenungan menjadi tema karya sastra.  Gerakan inovatif dan eksploratif menuntut suatu tindakan yang intens memahami khasanah yang ada,budayanya, perubahan sosial,untuk  dianggakat menjadi sebuah tema.Harus ada kemampuan membaca dan menafsir ulang guna melahirkan tema yang variartif.

Tapi ada yang bertanya; ”Apakah sebuah puisi hanya berhenti pada tema estetika minus pencerahan? Wahai penyair, kunanti jawabanmu,” meminjam judul lagu lama di tahun 60-an.

Tema karya sastra modern Bali sangat variatif. Sekilas pra 1980-an sikap nasionalis masih terasa menjadi beberapa tema puisi. Selain tema politik. Tidak ada dominasi tema seperti perkembangan sesudah 1980-an dengan semangat kembali ke akar kultur.

Khasanah sastra dan kehidupan Bali menjadi perhatian dalam menampilkan tema puisi. Keadaan itu karena adanya dorongan semangat   untuk membaca dan menafsir ulang berupa tertulis maupun yang hidup sebagai sebuah nilai budaya.

Tumbuhnya tema yang variatif dalam puisi modern Bali karena beberapa hal.

Teks tak lagi  berada di ruang dengan pintu tertutup

Akses untuk menemukan teks makin terbuka.Dibaca langsung.Teks pernah berada hanya dalam wilayah komunitas tertentu. Seperti berada di ruang dengan pintu tertutup.Ini melahirkan agen-agen penyalur makna dari sebuah  teks termasuk pada kitab suci.Seorang dalang menafsir Ramayana dan masyarakat penonton  menerima hasil penafsirannya.

Pragina atau seniman panggung sebagai penafsir menghasilkan hal serupa. Ada makna tunggal dari hasil penafsiran itu.Kemungkinan lain sisi penting dari teks mudah luput. Makna “gelap” kadang  belum terjamah. Demikian pula kitab suci, sejarah atau babad mengalami hal serupa. Mengapa terjadi konflik, adalah karena adanya penafsiran tunggal. Teks tidak mudah didapat untuk dibaca langsung. Hanya terbatas pada lingkungan komunitas, tidak menyebar ke masyarakat dan ketakmampuan dan ketakutan menafsir ulang.

Ketika orang mengatakan karya sastra bertolak dari realitas ke imajinasi maka jelas kehidupan sosial budaya menjadi menarik di situ dijadikan titik tolak. Realitas sosial tak berhenti pada perjumpaan melahirkan tema juga gaya ucap.

Contoh karya puisi magis terpengaruh oleh mantra adalah sisi lain di luar tema hasil pemahaman terhadap nilai budaya.Inilah sumber tema dari karya sastra modern Bali.Sekalipun tak sesemarak dalam bentuk prosa,khususnya cerpen.

Membaca perubahan

Perubahan dari masyarakat agraris ke industri,banyak yang diungkap dalam tema puisi.Paling banyak dalam bentuk cerpen.

Industri pariwisata berhadapan dengan adat dan budaya.Kasus pesisir yang dikuasai investor menjadi karya bertema kritik sosial. Di luar masalah  tadi tradisi beragama, kasta, gaya hidup, hubungan antar personal, bahasa, arsitektur dan lain-lain menjelaskan betapa kaya, rumit dan unik kehidupan sosial budaya Bali.Dan ini memerlukan kemampuan membaca perubahan.

Sebuah otoritas

Kesadaran memiliki sebuah otoritas telah memperkaya tema karya sastra modern Bali. Dalam membaca perubahan misalnya. Banyak sekali tema muncul mengikuti perkembangan.Termasuk konflik. Jika tanpa kesadaran memiliki sebuah otoritas akan tetap menjadi sebuah tontonan. Bisa jadi mudah muncul karya “Moi Bali” (meminjam istilah “Moi Indie” dalam perkembangan seni lukis Indonesia). Artinya hanya menyasar eksotiknya Bali.

Banyak yang dianggap sensitif, seperti kasta yang mudah menimbulkan konflik.Ada yang Isoterik dan dianggap tabu. Semuanya kemudian terbuka untuk dibaca dan ditafsir ulang memperkaya tema.Dengan demikian teks bergerak menjadi kontekstual.

Kembali ke akar kultur

Kesadaran melihat kembali nilai lokal,kultur setempat di tahun 80an adalah PR (Pekerjaan Rumah) bagi penulis muda yang mengaggap Umbu Landu Paranggi (alm,06.04.2021) sebagai guru.

Di rubrik sastra koran Bali Post selalu muncul tulisan kritis tentang dengan tema kehidupan sosial budaya masyarakat setempat.Juga berupa puisi. Di samping itu puisi-puisi magis dan dengan konten Bali banyak tumbuh dari penyair muda saat itu. Kembali ke akar kultur penekannannya merevitalisasi termasuk “kitab suci”. Ini berjasa menumbuhkan tema yang variatif.

Umbu seperti menyadarkan bahwa tradisi adalah sumber pengetahuan dan inspirasi.Dia mengembangkan sebuah tradisi dialektika . Dalam istilah yang berbeda hal serupa sesungguhnya juga menjadi perbincangan di tingkat nasional.

Misalnya dalam Forum 10 Penyair Indonesia dan Forum Penyair Muda Indonesia di tahun 1980-an yang saya hadiri muncul gagasan “Kembali Ke Timur”.

Saat itu orang-orang bicara tentang Indonesia surplus penyair dengan selera berseloroh mengatakan seolah-olah penyair akan masuk sorga karena menulis puisi religius, agamis yang bertebaran di koran. Produktifitas mudah mengarah pada steriotips.

Dalam buku puisi “BlengBong Sajak-sajak Penyair Pos Budaya”(2021), ketika saya merespon ke bentuk sketsa, tema puisi sangat variatif. Beberapa buku puisi banyak tema bersumber dari sosial budaya Bali dengan presentasi yang utuh atau terselip sebagai  penajam.

Dengan demikian dapat dikatakan, kegelisahan kreatif sejak semula telah dibangun dengan mencoba berpijak pada nilai akar kultur sebagai cara pengembangan kreativitas dan penemuan kutub-kutub baru melalui inovatif , eksploratif. Bahasanya Umbu,melihat ke-diri.

Dalam hal ini keunikan Bali patut ditoleh untuk menggali tema yang variartif,menuju karya yang tak sekedar estetik.

Kesimpulan

Tematik dalam karya sastra modern Bali: inovatif dan eksploratif  terbangun melalui

1) Gerakan literasi yang menumbuhkan pembaca yang kritis.Tidak menerima teks apa adanya tapi dibaca dan ditafsir ulang untuk memperoleh makna lebih luas. Ini sebuah tantangan melakukan inovasi dan eksplorasi melahirkan tema yang variatif.

2) Teks tak lagi berada di ruang dengan pintu tertutup karena makin banyak orang memiliki akses langsung membaca dan lebih banyak memproduksi makna sehingga melahirkan tema yang variatif.

3) Kemampuan membaca perubahan dalam masyarakat yang terus berubah. Ini memberi ruang melahirklan tema inovasi dan eksplorasi berkelanjutan.

4) Kesadaran memiliki sebuah otoritas guna merespsi  sebuah teks baik yang tertulis maupun bentuk kehidupan melahirkan tema yang variatif.

5) Kembali ke akar kultur merupakan sebuah gerakan melihat kembali kekayaan budaya dalam membangun tema yang variatif melalui eksplorasi dan inovasi.

  • Artikel ini disampaikan dalam acara Timbang Rasa, Festival Seni Bali Jani, di Taman Budaya Denpasar, Bali, 31 Oktober 2021.

Tags: Festival Seni Bali JanisastraSastra Indonesiasastra indonesia di Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Presentasi Atas Segala Negosiasi | Catatan Jelang Pentas “Hero on the Way” Teater Kalangan

Next Post

Menimbang Kapita Selekta Budaya

I Nyoman Wirata

I Nyoman Wirata

Lahir dan tinggal di Denpasar.Begiat di seni lukis dan nulis puisi serta telah menerbitkan 2 buah buku kumpulan puisi.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Kapita Selekta Budaya

Menimbang Kapita Selekta Budaya

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co