2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Perubahan Tematik Karya Sastra Modern di Bali

I Nyoman Wirata by I Nyoman Wirata
November 2, 2021
in Esai
Membaca Perubahan Tematik Karya Sastra Modern di Bali

Nyoman Wirata pada acara Timbang Rasa, Festival Seni Bali Jani, di Taman Budaya Denpasar, Bali

Gerakan literasi menumbuhkan kemampuan membaca perubahan. Tantangan berinovasi dan eksplorasi memproduksi tema dan  makna estetik dalam penciptaan karya sastra dimulai dari sikap keritis. Pembaca yang cerdas menuntut penulis kreatif. Hubungan pembaca dan penulis menimbulkan ketegangan dan kegelisahan kreatif.

Realitas sosial adalah ladang luas menjadi permenungan menjadi tema karya sastra.  Gerakan inovatif dan eksploratif menuntut suatu tindakan yang intens memahami khasanah yang ada,budayanya, perubahan sosial,untuk  dianggakat menjadi sebuah tema.Harus ada kemampuan membaca dan menafsir ulang guna melahirkan tema yang variartif.

Tapi ada yang bertanya; ”Apakah sebuah puisi hanya berhenti pada tema estetika minus pencerahan? Wahai penyair, kunanti jawabanmu,” meminjam judul lagu lama di tahun 60-an.

Tema karya sastra modern Bali sangat variatif. Sekilas pra 1980-an sikap nasionalis masih terasa menjadi beberapa tema puisi. Selain tema politik. Tidak ada dominasi tema seperti perkembangan sesudah 1980-an dengan semangat kembali ke akar kultur.

Khasanah sastra dan kehidupan Bali menjadi perhatian dalam menampilkan tema puisi. Keadaan itu karena adanya dorongan semangat   untuk membaca dan menafsir ulang berupa tertulis maupun yang hidup sebagai sebuah nilai budaya.

Tumbuhnya tema yang variatif dalam puisi modern Bali karena beberapa hal.

Teks tak lagi  berada di ruang dengan pintu tertutup

Akses untuk menemukan teks makin terbuka.Dibaca langsung.Teks pernah berada hanya dalam wilayah komunitas tertentu. Seperti berada di ruang dengan pintu tertutup.Ini melahirkan agen-agen penyalur makna dari sebuah  teks termasuk pada kitab suci.Seorang dalang menafsir Ramayana dan masyarakat penonton  menerima hasil penafsirannya.

Pragina atau seniman panggung sebagai penafsir menghasilkan hal serupa. Ada makna tunggal dari hasil penafsiran itu.Kemungkinan lain sisi penting dari teks mudah luput. Makna “gelap” kadang  belum terjamah. Demikian pula kitab suci, sejarah atau babad mengalami hal serupa. Mengapa terjadi konflik, adalah karena adanya penafsiran tunggal. Teks tidak mudah didapat untuk dibaca langsung. Hanya terbatas pada lingkungan komunitas, tidak menyebar ke masyarakat dan ketakmampuan dan ketakutan menafsir ulang.

Ketika orang mengatakan karya sastra bertolak dari realitas ke imajinasi maka jelas kehidupan sosial budaya menjadi menarik di situ dijadikan titik tolak. Realitas sosial tak berhenti pada perjumpaan melahirkan tema juga gaya ucap.

Contoh karya puisi magis terpengaruh oleh mantra adalah sisi lain di luar tema hasil pemahaman terhadap nilai budaya.Inilah sumber tema dari karya sastra modern Bali.Sekalipun tak sesemarak dalam bentuk prosa,khususnya cerpen.

Membaca perubahan

Perubahan dari masyarakat agraris ke industri,banyak yang diungkap dalam tema puisi.Paling banyak dalam bentuk cerpen.

Industri pariwisata berhadapan dengan adat dan budaya.Kasus pesisir yang dikuasai investor menjadi karya bertema kritik sosial. Di luar masalah  tadi tradisi beragama, kasta, gaya hidup, hubungan antar personal, bahasa, arsitektur dan lain-lain menjelaskan betapa kaya, rumit dan unik kehidupan sosial budaya Bali.Dan ini memerlukan kemampuan membaca perubahan.

Sebuah otoritas

Kesadaran memiliki sebuah otoritas telah memperkaya tema karya sastra modern Bali. Dalam membaca perubahan misalnya. Banyak sekali tema muncul mengikuti perkembangan.Termasuk konflik. Jika tanpa kesadaran memiliki sebuah otoritas akan tetap menjadi sebuah tontonan. Bisa jadi mudah muncul karya “Moi Bali” (meminjam istilah “Moi Indie” dalam perkembangan seni lukis Indonesia). Artinya hanya menyasar eksotiknya Bali.

Banyak yang dianggap sensitif, seperti kasta yang mudah menimbulkan konflik.Ada yang Isoterik dan dianggap tabu. Semuanya kemudian terbuka untuk dibaca dan ditafsir ulang memperkaya tema.Dengan demikian teks bergerak menjadi kontekstual.

Kembali ke akar kultur

Kesadaran melihat kembali nilai lokal,kultur setempat di tahun 80an adalah PR (Pekerjaan Rumah) bagi penulis muda yang mengaggap Umbu Landu Paranggi (alm,06.04.2021) sebagai guru.

Di rubrik sastra koran Bali Post selalu muncul tulisan kritis tentang dengan tema kehidupan sosial budaya masyarakat setempat.Juga berupa puisi. Di samping itu puisi-puisi magis dan dengan konten Bali banyak tumbuh dari penyair muda saat itu. Kembali ke akar kultur penekannannya merevitalisasi termasuk “kitab suci”. Ini berjasa menumbuhkan tema yang variatif.

Umbu seperti menyadarkan bahwa tradisi adalah sumber pengetahuan dan inspirasi.Dia mengembangkan sebuah tradisi dialektika . Dalam istilah yang berbeda hal serupa sesungguhnya juga menjadi perbincangan di tingkat nasional.

Misalnya dalam Forum 10 Penyair Indonesia dan Forum Penyair Muda Indonesia di tahun 1980-an yang saya hadiri muncul gagasan “Kembali Ke Timur”.

Saat itu orang-orang bicara tentang Indonesia surplus penyair dengan selera berseloroh mengatakan seolah-olah penyair akan masuk sorga karena menulis puisi religius, agamis yang bertebaran di koran. Produktifitas mudah mengarah pada steriotips.

Dalam buku puisi “BlengBong Sajak-sajak Penyair Pos Budaya”(2021), ketika saya merespon ke bentuk sketsa, tema puisi sangat variatif. Beberapa buku puisi banyak tema bersumber dari sosial budaya Bali dengan presentasi yang utuh atau terselip sebagai  penajam.

Dengan demikian dapat dikatakan, kegelisahan kreatif sejak semula telah dibangun dengan mencoba berpijak pada nilai akar kultur sebagai cara pengembangan kreativitas dan penemuan kutub-kutub baru melalui inovatif , eksploratif. Bahasanya Umbu,melihat ke-diri.

Dalam hal ini keunikan Bali patut ditoleh untuk menggali tema yang variartif,menuju karya yang tak sekedar estetik.

Kesimpulan

Tematik dalam karya sastra modern Bali: inovatif dan eksploratif  terbangun melalui

1) Gerakan literasi yang menumbuhkan pembaca yang kritis.Tidak menerima teks apa adanya tapi dibaca dan ditafsir ulang untuk memperoleh makna lebih luas. Ini sebuah tantangan melakukan inovasi dan eksplorasi melahirkan tema yang variatif.

2) Teks tak lagi berada di ruang dengan pintu tertutup karena makin banyak orang memiliki akses langsung membaca dan lebih banyak memproduksi makna sehingga melahirkan tema yang variatif.

3) Kemampuan membaca perubahan dalam masyarakat yang terus berubah. Ini memberi ruang melahirklan tema inovasi dan eksplorasi berkelanjutan.

4) Kesadaran memiliki sebuah otoritas guna merespsi  sebuah teks baik yang tertulis maupun bentuk kehidupan melahirkan tema yang variatif.

5) Kembali ke akar kultur merupakan sebuah gerakan melihat kembali kekayaan budaya dalam membangun tema yang variatif melalui eksplorasi dan inovasi.

  • Artikel ini disampaikan dalam acara Timbang Rasa, Festival Seni Bali Jani, di Taman Budaya Denpasar, Bali, 31 Oktober 2021.

Tags: Festival Seni Bali JanisastraSastra Indonesiasastra indonesia di Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Presentasi Atas Segala Negosiasi | Catatan Jelang Pentas “Hero on the Way” Teater Kalangan

Next Post

Menimbang Kapita Selekta Budaya

I Nyoman Wirata

I Nyoman Wirata

Lahir dan tinggal di Denpasar.Begiat di seni lukis dan nulis puisi serta telah menerbitkan 2 buah buku kumpulan puisi.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Kapita Selekta Budaya

Menimbang Kapita Selekta Budaya

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co