6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jelajah Pemanfaatan Rempah dalam Naskah Lontar

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
October 26, 2021
in Esai
Jelajah Pemanfaatan Rempah dalam Naskah Lontar

Ilustrasi tatkala.co

I. PENDAHULUAN

Rempah sebagai salah satu kekayaan alam Indonesia pada masa lampau sempat menjadi primadona bangsa Eropa. Semula mereka menempuh perjalanan panjang menjelajahi berbagai daratan dan lautan untuk mencari rempah, tetapi kemudian lama-kelamaan mereka menjarah lalu menjajah bangsa Indonesia. Konon para penjajah tersebut memanfaatkan rempah untuk berbagai keperluan terutama sebagai penyedap makanan bagi para bangsawan, pengawet makanan, obat, proses penguburan jazad, pewangi ruangan, hingga pembangkit gairah seksual (Kompas, 2017).

Di Indonesia sendiri khususnya Bali, jejak perdagangan rempah diindikasikan sudah dimulai sejak zaman prasejarah atau awal abad masehi. Hal itu dikaitkan dengan penemuan artefak arkeologis seperti gerabah, cermin dari perunggu, dan manik-manik dari India, Cina, dan Mesir. Hubungan intensif yang terjalin antara Bali dengan daerah-daerah lain tersebut salah satunya diduga kuat berhubungan erat dengan pencarian rempah-rempah. Di India, sejak dulu rempah-rempah dimanfaatkan sebagai bumbu makanan dan pengobatan. Sementara itu, di Cina pada dinasti Han ada kebiasaan sebelum rakyat menghadap raja mereka harus mengunyah cengkeh untuk menghilangkan bau mulut. Di sisi lain, di Mesir rempah-rempah digunakan sebagai pengawet jazad (Ardika, 2020).

Selanjutnya, pada zaman sejarah khususnya melalui peninggalan prasasti-prasasti Bali Kuno kita dapat mengetahui bahwa sejumlah rempah telah terdokumentasi dalam kebijakan raja-raja Bali Kuno. Prasasti Sembiran A 1 berangka tahun 844 Masehi yang memuat permohonan rakyat julah kepada raja agar wilayah perbentengan mereka diperbaiki, sekaligus menunujukkan ada sejumlah kebijakan raja untuk tidak memungut jenis rempah seperti cabai dan kemiri kepada masyarakat yang baru saja terkena serangan penjahat kala itu. Pamlin Nayaka di Magha… Tani pamlinyan bras lngis cabya tingkir  “Persembahan untuk Nayaka pada bulan Maga… tidak membeli beras, minyak, cabai, dan kemiri”. Karena permintaan tersebut dilakukan pada bulan Maga, ada kemungkinan persembahan beras, minyak, cabai, dan kemiri kepada Nayaka itu dimanfaatkan untuk makanan atau sarana persembahan atau sarana upacara.

Tidak hanya itu, prasasti Sembiran A II berangka tahun 897 Saka pada masa pemerintahan Sri Janasadu Warmadewa menyebutkan kewajiban masyarakat untuk menghaturkan pembelian sejumlah bahan rempah seperti jahe dan bawang putih pada bulan Kartika (Oktober) kepada seorang pejabat kerajaan. Prasasti itu menyebutkan sebagai berikut me pamaka kadan sara blin ku 1 rasuna, halya, blin ku srahangnya di da kulapati me da karana jataka ditu, angkĕn kartika yang artinya “dan mereka juga menyediakan untuk pembelian panah 1 kupang, bawang putih dan jahe 1 kupang, yang harus diberikan kepada Kulapati Jataka di Julah setiap bulan Kartika (Ardika, 1996: 119-120). Momentum penyerahan bumbu yang bertepatan dengan bulan Kartika atau sasih kapat tersebut mengindikasikan bahwa kemungkinan besar bawang putih (rasuna) dan jahe (halya) dijadikan sebagai bumbu untuk keperluan pembuatan sarana upacara tertentu.

Data artefak prasejarah dan prasasti-prasasti tersebut ternyata hanya memberikan informasi yang fragmentaris atau serba terpenggal kepada kita. Di titik ini tampaknya khazanah naskah lontar Bali sebagai perekam jagat pemikiran orang Bali bisa dijadikan dwara atau pintu masuk untuk menjelajahi pemanfaatan rempah dalam tradisi masyarakat Bali. Pemanfaatan rempah dalam naskah lontar Bali tampaknya belum sempat dilakukan di tengah-tengah kencangnya arus diskusi tentang rempah. Semoga catatan pendahuluan ini bisa memberi sejengkal kontribusi untuk pengusulan Jalur Rempah sebagai Warisan Budaya Dunia yang dicanangkan pada tahun 2024 nanti.   

II. ISI

Sejauh pelacakan yang dilakukan, pemanfaatan rempah dalam khazanah lontar Bali terutama tampak pada tiga bidang kehidupan yaitu ganda, boga, dan usada. Ganda dalam hal ini bermakna aroma, wangi-wangian, atau parfum. Boga bermakna berbagai jenis olahan makanan atau kuliner. Usada bermakna sistem pengetahuan tentang pengobatan.

2.1  Ganda (Parfum)

Sebuah karya sastra geguritan berjudul Megantaka memuat fragmen yang mengindikasikan pemanfaatan rempah sebagai wangi-wangian atau parfum. Karya sastra bermotif panji ini menarik karena ditulis oleh pengarangnya dari cerita lisan orang Bugis di Ampenan Lombok menggunakan bahasa Bali. Ia juga menjelaskan bahwa cerita ini berasal dari zaman Majapahit.

Karya sastra ini mengisahkan petualangan cinta antara Raden Ambaramadia dengan putri Ambarasari. Salah satu godaan yang menguji kekuatan cinta mereka datang dari Ni Limbur. Ia adalah seorang perempuan biasa yang menggunakan guna-guna untuk mendapatkan cinta dari Raden Mantri Ambaramadia. Saban bertemu dengan Raden Mantri, Ni Limbur selalu mempersiapkan diri agar bisa tampil secantik mungkin di hadapan sang putra mahkota.

Dalam konteks persiapan bertemu dengan sang raja itulah kita menemukan pemanfaatan rempah sebagai wangi-wangian atau parfum. Pengarang Geguritan Megantaka menyatakan ramuan parfum yang berasal dari rempah-rempah tersebut dengan deskripsi berikut ini.

Gagandane racik sia, isen jae lawan kunyit, gamongan umbin paspasan, umbin gadung umbin tĕki, kalawan umbin kaladi, biluluk anggon mangratus, sampun ngrangsuk busana, mapasang guna di alis, majujuluk, kĕtog titih jaring bukal  (Geguritan Megantaka, Pupuh Sinom, bait 31).

Terjemahan.

Wangi-wangian (parfumnya) menggunakan sembilan campuran, lengkuas jahe kunir, lempuyang umbi paspasan, umbi gadung umbi teki, dan umbi keladi, disampur dengan buah enau, setelah selesai berhias, memakai guna-guna di alisnya, yang bernama ketog titih jaring bukal.

Berdasarkan petikan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa ramuan parfum yang digunakan oleh Ni Limbur terdiri atas sembilan campuran. Campuran tersebut terdiri atas dua komponen bahan yang utama yaitu rempah-rempah dan umbi-umbian. Rempah-rempah yang digunakan adalah lengkuas, jahe, kunir, dan lempuyang. Sedangkan umbi-umbian yang digunakan adalah umbi paspasan, umbi gadung, umbi rumput teki, dan umbi keladi. Kedua komponen bahan tersebut dicampur dengan buah enau.    

Pengarang memang tidak dengan spesifik menjelaskan mengenai takaran dari masing-masing komponen rempah, umbi-umbian, dan buah dalam petikan tersebut. Barangkali ketika karya sastra tersebut ditulis, pengetahuan umum tentang parfum yang dibuat menggunakan sarana-sarana itu masih terekam kuat dalam endapan pemikiran masyarakat Bali. Terlebih bagi mereka yang pada zaman kerajaan menjadi petugas di karang kaputren. Karang kaputren merupakan tempat para putri raja, selir, dan dayang untuk merawat kecantikan diri mereka. Tentu sistem pengetahuan tentang parfum seperti yang termuat dalam Geguritan Megantaka dijadikan sebagai pengetahuan umum, di samping sejumlah lontar pegangan lainnya seperti Indrani Sastra, Rukmini Tattwa, Pameda Smara, Resi Sambina, dan yang lainnya. Indrani Sastra memuat sistem pengetahuan tentang tata cara merawat kecantikan perempuan.

Dalam Kakawin Ramayana disebutkan bahwa Sita sebagai figure wanita terpelajar tuntas menguasai ajaran ini. Di samping itu, dalam Kakawin Smaradahana juga disebutkan bahwa ketika Dewa Uma bersatu dengan Siwa, beliau mempraktikkan Indrani Sastra. Rukmini Tattwa memuat sistem informasi tentang kecantikan seksualitas. Pameda Smara memuat berbagai hari baik dan buruk ketika melakukan hubungan seksual. Resi Sambina memuat strategi melakukan hubungan seksual secara berkualitas.

Pemanfaatan rempah-rempah dan rerumputan sebagai sarana parfum sesungguhnya dimanfaatkan hingga saat ini. Parfum Patchouli menggunakan sarana rumput sarana rumput patchouli dan vetiver yang memberi nuansa segar. Parfum Versace juga menggunakan perpaduan rempah seperti kapulaga, kelapa, lada, dan jahe. Penelitian lebih lanjut mengenai parfum ini tentu masih diperlukan.

2.2. Boga (Olahan Makanan)

Pemanfaatan rempah dalam dunia boga atau olahan makanan Bali tidak bisa diragukan lagi. Rempah-rempah sebagai bumbu makanan sudah menjadi bahan pokok yang tidak mungkin dilepaskan dari sajian makanan Bali. Menariknya, terdapat sejumlah lontar yang khusus membicarakan makanan dengan pemanfaatan rempah-rempah. Lontar-lontar tersebut di antaranya adalah Dharma Caruban, Purincining Ebatan, dan Kakawin Dharma Sawita. Aneka sistem pengetahuan tentang rempah dalam tiga lontar tersebut dapat dilihat di bawah ini.

2.2.1    Dharma Caruban [Tata Cara Mencampur Olahan]

Secara harfiah, kata dharma dalam judul di atas bermakna tata cara, kebenaran, kewajiban, sedangkan caruban berasal dari kata carub yang artinya campur. Dengan demikian, dharma caruban bermakna tata cara mencampur. Dalam konteks ini dharma caruban dapat dimaknai sebagai tata cara yang dilakukan dalam mencampur/mengolah racikan bumbu-bumbu makanan sesuai dengan uraian resep.

2.2.2 Purincining Ebatan [Rincian Ebatan}

Lontar   Purincining Ebatan melengkapi khazanah lontar Bali yang mengandung sistem pengetahuan  mengenai  kuliner  Bali.  Hal  itu  juga menunjukkan bahwa para intelektual masyarakat Bali di masa lampau telah memberikan perhatian terhadap boga sastra atau sastra yang berisi informasi tentang kuliner, baik bumbu, bahan, dan tata cara pengolahannya secara teknis.

2.2.3 Kakawin Dharma Sawita [Abdi Kebenaran]

Sejauh pelacakan yang dilakukan terhadap karya-karya sastra kakawin, karya sastra ini merupakan satu-satunya kakawin yang membahas tentang 17 bumbu berbahan rempah. Sistem pengetahuan tentang bumbu tersebut disampaikan melalui dialog antara seorang murid bernama Sang Sad Rasa [Sang Enam Rasa] dengan Mpu Sura Rasa [Mpu Ahli Rasa]. Dengan menyajikan dialog antara murid dan guru, pengarang tidak bermaksud menggurui pembaca karyanya.

2.3  Usada (Pengobatan)

Obat Panas

Apabila bibir si pasien pecah-pecah, nafas di hidungnya terasa panas, aliran tenaganya panas, tangan dan kakinya dingin, pertanda si pasien menderita sebaha jampi. Dan jika bibir si pasien pecah-pecah, nafas di hidung terasa dingin dan agak tertahan, jari-jari kakinya dingin, sekujur tubuhnya gerah, pertanda si pasien menderita sebaha jampi. Jika bibirnya kering, dan mual-mual, nafas di hidung terasa panas, gerah setiap menjelang sore, tangan dan kakinya dingin, pertanda si pasien menderita sebaha jampi. Dan apabila jari-jari kaki si pasien panas, nafas di hidung terasa dingin, pertanda si pasien menderita asrep kapendem. Jika nafas di hidung si pasien terasa panas, jari-jari kakinya panas, kukunya tampak kemerahan, pertanda si pasien menderita panas terus. Jika jari-jari kakinya dingin, bibirnya terbuka-tertutup, pertanda si pasien menderita srep terus. Sarana obat untuk bayi tidak 

[5b] mau makan, dinamakan menderita sebaha nyuh, adalah miana hitam, sulasih harum, daun tatahiwak 3 pucuk, jeruk nipis, air cendana, adas, dilumatkan dan direbus, dipakai mandi. Sarana obat bayi menderita panas-dingin adalah lampuyang, lenga wijen, dipakai obat gosok. Dan sarana obat popok kepala adalah gamongan kedis, musi, minyak kelapa, diramu dan dipendam dalam abu panas, dipakai popok kepala. Dan sarana obat popok di pusar adalah serabut dedap, pantat bawang putih. Sarana obat panas-dingin adalah buah pala, dewandaru, ler wandawa, dipakai bedak. Sarana obat untuk bayi panas adalah beras merah, buah sirih, bawang, adas, dipipis untuk dijadikan bedak. Ramuan obat untuk bayi panas adalah daun waribang, daun gandarusa kling, air arak, dipakai menggosok tubuh pasien. 

[6a] Sarana obat untuk bayi panas adalah daun gandarusa kling, temulawak, bawang merah, bawang putih, jangu, diramu untuk menyembur. Obat untuk bayi panas adalah daun sembung, bangle, kelapa bakar, temulawak, dipipis dijadikan obat gosok, dan sarana obat untuk menyembur tubuhnya adalah daun sirih, daun sembung, dilumat lalu dicampur dengan garam, gamongan, dipakai menyembur. Sarana obat panas membara dan gelisah adalah kelapa, adas, air jeruk nipis, dipakai ramuan air mandi. Sarana obat panas gerah gelisah adalah akar sembung, akar kesimbukan, akar pancar sona, kelapa bakar, bawang tambus, air ketan gajih, garam yodium, diramu untuk diminum. Sarana obat untuk anak-anak menderita kegerahan dan gelisah adalah paspasan, padang lepas, limau, dipakai bedak. Sarana obat bayi (anak-anak) gerah gelisah adalah akar 

[6b] katepeng, bunga paspasan, cendana, banyu tuli, dipakai ramuan air mandi. Sarana obat untuk bayi/anak-anak menderita gerah seperti dipanggang adalah kulit pohon pule, air jeruk nipis, bawang, adas, diramu untuk minuman. Sarana obat bayi/anak-anak menderita panas gelisah adalah kayu tulak, kayu sangka, dahusa kling, cendana, air limau, dipakai obat bedak. Dan sebagai obat minum adalah padang lepas, asam, bawang tambus. Sarana obat bayi panas dalam, dipakai menyembur tubuh si pasien, adalah daun kameniran, paspasan, adas, pulasari. Sarana obat minum untuk bayi/anak-anak menderita panas dalam adalah akar silagui, adas, air santan. Sarana obat minum untuk bayi menderita panas dalam adalah tunas daun pancar sona, bawang mentah, air beras. 

[7a] Sarana obat untuk bayi menderita panas dalam adalah kembang wane, belimbing besi, bawang mentah, air ketan gajih, diteteskan di hidung pasien dan dipakai minuman. [T]

Obat Batuk

[25b] akar meduri putih, beras merah, bawang merah, bawang putih, jangu, diramu untuk bedak kaki pasien. Ada lagi sarana lain yakni kayu pugpug, kayu tulak, sampah di persimpangan jalan, laos kapur. Sarana bedak tubuh terdiri atas daun dedap kuning, kulit pohon kesambi, majakane, majakeling, sarilungid. Obat untuk penyakit batuk berdahak, sarananya adalah perasan laos, akar limau, air cuka tahun, diramu untuk diminum. Obat batuk berdahak dan mengorok, sarananya adalah lampuyang, laos, daun pule, ketumbah, air cendana, diramu untuk bedak. Jamunya memakai sarana tangkai pule, miana hitam, temulawak, air cendana, air jeruk nipis, ditim, disaring untuk diminum. Obat batuk, sarananya adalah kunir warangan, sinrong, gula, dipendam dalam abu panas, lalu dipakai menyembur dada pasien.


[26a] seperti menusuk-nusuk, sarananya adalah daun meduri, kunir warangan, kencur, laos, bawang, adas, diramu untuk bedak di dada pasien. Obat batuk, sarananya adalah laos, asam, diramu untuk diminum. Obat batuk, berludah berisi dahak, sarananya adalah temulawak, daun paya puwuh, asam, diramu dan direbus untuk jamu. Ampasnya dipakai menyembur hulu hati pasien. Obat batuk menahun, sarananya asam, air cendana, diramu untuk diminum. Obat batuk berdahak dan terasa sesak di hati, sarananya adalah laos, akar asem, air cuka, diramu untuk diminum. Obat batuk mengeluarkan darah dan nanah, sarananya adalah kunir, asam, minyak kelapa, bawang, telur 
[26b] ayam, dihangatkan, dipakai untuk diminum. Obat batuk kering, sarananya adalah akar teleng putih, kemiri jentung, garam dapur, diramu untuk obat tetes dan untuk menyembur dada pasien.

Tags: lontarrempah-rempahsastrasastra rempah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘’Padma Dewata’’ Wirakesuma , Ingatkan Simbol Unik Sarat Makna Kehidupan

Next Post

“Cut Cat Cit” Teater Selem Putih: Kesedihan Burung, Kelucuan Manusia

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
“Cut Cat Cit” Teater Selem Putih: Kesedihan Burung, Kelucuan Manusia

“Cut Cat Cit” Teater Selem Putih: Kesedihan Burung, Kelucuan Manusia

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co