3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Mesin Memainkan Gamelan, Kini Menunggu Mesin Pencetak Gamelan

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
September 29, 2021
in Esai
Ada Mesin Memainkan Gamelan, Kini Menunggu Mesin Pencetak Gamelan

Gamelan dibentuk dengan berbagai cara, salah satunya dengan digerinda. | Foto: dok Nyoman Mariyana

Gamelan merupakan salah satu di antara begitu banyaknya kesenian adiluhung. Instrumen musik ini semakin digemari oleh masyarakt Bali, Jawa bahkan di luar negeri. Meskipun semakin digemari, namun dalam proses pembuatan gamelan memerlukan waktu yang sangat lama. Proses pembuatan gamelan ternyata tidak semudah yang dibayangkan, karena harus melewati berbagai tahapan yang rumit. Berbeda dengan alat musik lain yang bisa dikerjakan dengan mesin atau robot, sampai saat ini gamelan hanya bisa dikerjakan secara manual oleh tangan-tangan terampil dan terlatih. 

Secara umum alat musik gamelan terdiri dari 24 jenis yang hampir semuanya harus dikerjakan secara manual. Semua itu karena dalam penyetelan tangga nada masih menggunakan alat-alat tradisional. Semua alat musik gamelan yang berasal dari logam harus terlebih dahulu dipanaskan untuk kemudian dibentuk. Setelah terbentuk baru dimulai untuk membuat dengan tangga nada yang dimaksud, Proses pengerjaan alat musik warisan budaya ini tidaklah mudah. Untuk membuat satu set gamelan setidaknya membutuhkan waktu antara dua hingga tiga bulan. Bertambahnya waktu pengerjaan biasanya lebih dalam proses finishing seperti tambahan ukiran atau kehalusan.

Dalam proses pembuatan gamelan, setidaknya terdapat lima tahap yang harus dilalui. Kelima tahap tersebut antara lain, tahap melebur campuran atau yang disebut dengan membesot, mencetak atau menyinggi, menempa, dan melakukan pemeriksaan terakhir atau yang biasa disebut dengan proses membabar. Setelah membabar, ada satu proses penting lagi yang harus dilakukan untuk menghasilkan satu set gamelan yang sempurna, yaitu proses menyesuaikan tangga nada (tuning).

Pembuatan seperangkat gamelan merupakan suatu pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan ketrampilan yang khusus dan dimiliki oleh seorang pande gamelan, dan dalam prosesnya mempergunakan cara-cara dan alat-alat yang bersifat tradisional. Dalam pekerjaan gamelan, teknologi modern hanya mampu mempengeruhi sebagian kecil dari pekerjaan membuat gamelan. Misalkan pada tahap finishing yang mempergunakan gerinda dan tahap tuning yang mempergunakan aplikasi tuning up. 

Berikut ini adalah pembuatan gamelan secara manual dengan tangan manusia.

Gambar 1
Gambar 2

Pada gambar 1 di atas, cetakan gamelan berbentuk bilah sebelum dimasukkan bahan baku berupa bubur besi. Gambar 2. Kowi dipanaskan untuk proses peleburan bahan baku pembuatan gamelan. Proses tersebut masih dilakukan secara tradisional hingga kini. Dalam proses tersebut, peleburan timah dengan tembaga sehingga menjadi bentuk bilah, harus menunggu pengeringan dan waktu yang lumayan lama. Belum lagi masalah percampuran bahan yang tidak stabil dapat berpengaruh pada proses pengerjaannya.

Gambar 3
Gambar 4

Dalam proses peleburan pada gambar 3, untuk menghasilkan panas yang maksimal dibutuhkan alat pemanas khusus. Gambar 4 adalah gamelan berbentuk bilah yang baru saja dicetak, belum memasuki tahap menempa. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, setelah dicetak, gamelan dibentuk dengan berbagai cara, salah satunya dengan digerinda.

Setelah dicetak, gamelan dibentuk dengan berbagai cara, salah satunya dengan digerinda.

Dalam pembuatan gamelan, kemajuan teknologi yang baru dipakai dalam proses tersebut hanya sebatas pada alat Gerinda. Itupun dalam proses finishing akhirnya saja, namun dalam proses pembuatannya semua masih menggunakan tata pembuatan gamelan secara tradisional. Sebagai tantangan atas kemajuan teknologi yang semakin canggih, maka diperlukan sebuah alat khusus yang mampu memudahkan manusia untuk mempercepat produksi gamelan sehingga dalam pembuatan gamelan tidak harus menunggu waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Sejauh ini perkembangan teknologi baru sudah mulai diterapkan oleh Aaron Taylor Kuffner untuk menciptakan gamelan elektronik diberi nama Gamelatron. Alat musik yang diciptakannya sudah dikenal luas dan sempat dipamerkan pada Baazar Art Jakarta di Pacific Place, 27-30 Juli 2017 lalu.

Foto: Gamelatron.com

Gamelatron adalah sebuah terobosan baru dari seni musik gamelan yang menggabungkan unsur robotika di dalamnya. Pertunjukan yang diberikan Gamelatron terasa sangat intens dan mendalam melalui alunan suara yang dihasilkan. Alat musik seperti gong dan bonang disatukan dengan pemukul mekanik dan diatur agar dapat bergerak otomatis sesuai perhitungan. Bentuknya seperti patung bergerak sambil menghasilkan harmonisasi suara yang mampu memukau banyak orang.

Aaron Taylor Kuffner memiliki misi tersendiri untuk proyek Gamelatron ini. Karya seni ini dimaksudkan untuk melestarikan warisan musik tradisional dari gamelan melalui inovasi. Menggabungkan unsur modern dan kuno, Gamelatron hadir sebagai penanda kesiapan musik tradisional menyambut era globalisasi dan modernisasi. Melalui Gamelatron, Aaron melahirkan sebuah seni yang dapat menenangkan jiwa melalui nilai artistik yang kreatif yang dibungkus dalam kemasan yang modern.

Gamelatron merupakan salah satu karya buatan Aaron Taylor Kuffner yang bekerjasama dengan Eric Singer pada 2008. Aaron sebelumnya tertarik untuk mempelajari seni musik gamelan. Ia melakukan riset selama beberapa tahun tinggal di pulau Jawa dan Bali. Aaron mencari cara membuat instrumen hingga mengatur nada setiap alat musik. Pada September 2008, satu set perangkat Gamelatron pun selesai di buat di New York dan sudah mendapat penghargaan Artist in Residency dalam League of Electronic Musical Urban Robots. Aaron Taylor Kuffner adalah seorang seniman konseptual asal Amerika yang bertempat tinggal di New York.

Karya yang dihasilkannya memiliki makna khusus yang memberikan unsur keindahan dan keagungan seni. Aaron mengembangkan Gamelatron selama 9 tahun terakhir dan sudah membuat lebih dari 40 alat musik dalam berbagai ukuran dan fungsi. Karya seni ini sudah dipamerkan dan dapat dinikmati seperti pada museum dan rumah singgah. Rangkaian Gamelatron juga dipasang pada ruang publik dan institusi pendidikan serta pusat kebudayaan di berbagai negara.

Teknologi yang diciptakan tersebut memberikan kemajuan dan inovasi  dalam kasanah musik tradisional di Indonsia. Namun, dalam proses produksi gamelan Bali maupun Jawa saat ini masih menggunakan alat manual seperti yang diungkapkan di atas. Tantantangannya kedepan, adalah penemuan sebuah alat baru yang mampu mempercepat produksi instrumen bilah, pencon, hingga gong yang mempermudah manusia sehingga dapat digunakan dalam proses tersebut.

Alatnya bisa saja seperti Mesin Cetak Gamelan yang bisa memproduksi gamelan secara global. Hanya saja dalam tahap akhir tetap menggunakan alat tuning baik dari aplikasi smartphone (Carltone) untuk menentukan kwalitas suara gamelan.

Dengan adanya mesin cetak gamelan, nantinya akan dapat mengirit biaya pengerjaan sebuah gamelan, mengurangi tenaga manusia dalam proses pengerjaannya, serta memperlancar sekaligus mempercepat produksi gamelan secara menyeluruh. [T]

Tags: gamelanmusikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belanja Tomat Berbuah Blackberries | Kabar dari Jepang

Next Post

Agar Cabai Tak Busuk, Petani Dikenalkan Alat Pengering Berbahan Gas LPG

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Agar Cabai Tak Busuk, Petani Dikenalkan Alat Pengering Berbahan Gas LPG

Agar Cabai Tak Busuk, Petani Dikenalkan Alat Pengering Berbahan Gas LPG

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co