23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemenangan Hidup

Komang Adnyana by Komang Adnyana
June 14, 2021
in Esai
Kemenangan Hidup

Christian Eriksen | Gambar oleh Nana Partha

“Aku baru tiga bulan ketika itu. Semua orang di Denmark tahu apa yang terjadi pada 92. Sampai dibuatkan berbagai film, semua pemain-pemain itu masih sangat terkenal di Denmark, itulah arti sebuah kemenangan pada turnamen sekelas Euro. Sudah bertahun-tahun lalu, tapi masih tetap diingat.”

Kata-kata itu diucapkan gelandang Christian Eriksen kurang dari dua minggu lalu, dari pusat latihan timnas Denmark. Semangatnya sangat terasa, terlebih tiga pertandingan penyisihan grup akan digelar di Kopenhagen, kandang mereka sendiri. Meski pasukan Tim Dinamit sama sekali tak masuk tim favorit atau bahkan sekedar tim kuda hitam di EURO tahun ini.

Tapi baru pertandingan pertama dengan Finlandia di Stadion Parken berlangsung empat puluh tiga menit, sebagaimana yang sudah bisa ditonton di layar televisi kemarin, juga bertebaran di media, Eriksen kolaps. Dia tersungkur di lapangan. Tak bergerak. Saat hendak menyambut lemparan bola ke dalam. Tanpa dilanggar  oleh pemain mana pun. Dugaan sementara gagal jantung.

Ketika kapten Denmark, Simon Kjaer mendekati Eriksen, memanggil tim medis, disusul kemudian rekan-rekannya mengisyaratkan segera datangnya petugas emergensi, penonton tersadar. Beberapa menutup wajahnya. Yang lain memalingkan muka. Tak kuasa melihat. Ada yang ternganga. Ketakutan. Horor itu nyata.

Seberkelindan apa pun sepakbola dengan sisi-sisi hidup lainnya, ekonomi, sosial bahkan kadang politik, dia tetaplah olahraga permainan. Iya, hanya permainan. Dan hidup itu sendiri jauh lebih penting. Nyawa, keselamatan dan keberlanjutan napas itu sendiri lebih berharga. Maka ketika semua rekan setimnya membentuk barikade melingkar saat tim emergensi bekerja, memberi CPR dan juga bendera pihak lawan, Finlandia digunakan sebagai penutup saat Eriksen dibawa keluar lapangan, kita paham. Sirkus bola, begitu juga sorotan kamera yang mengabaikan etik korbannya tak lebih mulia dari manusianya sendiri. Kalau saja rekan setimnya dan orang-orang di lapangan itu tak peka dan sigap, entah apa yang terjadi pada pemain 29 tahun itu.

Hingga legenda Arsenal, Ian Wright juga mengumpat kepada media yang tetap menyorot dan menyiarkannya, “Kembalilah ke studio ****!” Begitu juga beberapa orang lainnya, kita jadi sadar, ada situasi-situasi yang di luar kontrol dan kendali. Tanpa sengaja jadi drama dan bahan konsumsi. Tanpa mengesampingkan gaung solidaritas, respek, dan kesatuan yang kemudian menggema. Kjaer yang mendekati Eriksen, tim medis yang datang bergegas, penonton yang histeris, Kjaer yang menenangkan istri Eriksen di pinggir lapangan, inikah sisi-sisi lain yang tak bisa dihindarkan itu? Hingga media yang menyiarkannya pun sampai harus meminta maaf. “Kontrol siaran di dalam stadion milik UEFA,” kata televisi itu. 

Pun ketika kemudian pertandingan dilanjutkan satu setengah jam setelahnya, atas kesepakatan kedua tim, setelah mengetahui Eriksen siuman dan dalam kondisi stabil di rumah sakit dan di tengah tudingan fans kepada UEFA sebagai lembaga yang rakus dan serakah, kita seperti melihat paradoks. Kelindan permainan dan perjuangan hidup itu nyata adanya.

 “Kejadian itu membawa semua ingatan pada apa yang pernah terjadi padaku, dan aku benar-benar menangis dan aku bahkan tidak tahu kenapa dia bisa begitu. Aku hanya berpikir, ayolah Eriksen, ayolah.”

Mantan gelandang Bolton, Fabrice Muamba, sedang berada di rumah temannya, dan baru saja menyetel televisi, ketika dia melihat momen Eriksen terjatuh di lapangan. Muamba segera merasa terteror kembali. Dia menelpon ayahnya. Juga bicara kepada istrinya.

“Dia punya dua anak, dan istrinya ada disana. Aku bicara dengan istriku, yang harus berangkat dari Manchester ke London ketika kejadian itu menimpaku dulu, dan aku bertanya kepadanya, bagaimana kamu menghadapinya?” Ungkap Muamba sebagaimana dikutip Daily Mail.

Muamba kolaps sewaktu Bolton menghadapi Tottenham Hotspur di White Hart Lane 2012 lalu. Usianya 23 ketika itu. Gagal jantung sebagai penyebabnya. Jantungnya tak berdetak selama 78 menit. Di tahun yang sama, atas pertimbangan medis dia memutuskan pensiun sebagai pesepakbola profesional.   

Muamba bukan satu-satunya. Dia beruntung selamat. Tragedi yang sama juga menimpa gelandang Sevilla, Antonio Puerta saat melawan Getafe pada 2007. Meski sempat bisa berjalan ke ruang ganti, Puerta kembali kolaps dan akhirnya meninggal di rumah sakit karena kerusakan otak. Usianya pun, baru dua puluh dua tahun.

Pada pertandingan Piala Konfederasi antara Kemerun dan Kolombia 2003 silam, gelandang Marc-Vivien Foe mengalami hal serupa. Foe ditandu keluar lapangan dan setelah empat puluh lima menit usaha tim medis untuk membuat jantungnya berdenyut kembali, dia dinyatakan meninggal.

Gelandang Perugia, Renato Curi, pada usianya yang ke-24, 1977 silam, meninggal karena serangan jantung sesaat setelah jeda babak pertama melawan Juventus. Mantan striker Benfica, Miklos Feher tumbang tak lama setelah diturunkan melawan Vitoria de Guimaraes pada 2004. Pemain Hungaria ini sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong karena masalah aritmia jantung. Masalah serupa dialami mantan gelandang Ajax, Abdelhak Nouri pada pertandingan persahabatan dengan Werder Bremen empat tahun lalu. Dia selamat namun dilaporkan mengalami kerusakan otak permanen akibat insiden itu, sekaligus membuatnya tak bisa bermain bola lagi.

Denmark memang akhirnya kalah dari Finlandia, negara yang baru pentas pertama kali di Euro. Andai tragedi Eriksen tak terjadi, mungkin hasilnya akan lain, pun barangkali kalau toh Finlandia menang, cerita soal kemenangan itu juga akan ditanggapi berbeda. Kita melihat, daripada hasil di papan skor, ada kemenangan lain yang jauh lebih penting.

“Sungguh malam yang berat, dimana kita diingatkan apa yang paling penting dalam hidup ini. Hubungan yang berharga. Orang-orang yang dekat dengan kita. Keluarga dan teman.” Pelatih Denmark, Kasper Hjulmand, tak sedikit pun menyinggung soal kekalahan.

Inilah keluarga yang lain. Keluarga bola. Seperti teriakan striker Belgia, Romelu Lukaku tepat di depan kamera setelah mencetak gol pertama kemenangan 3-0 atas Rusia. “Chris, Chris, I love you…” [T]

____

BACA ARTIKEL EURO YANG LAIN DARI PENULIS KOMANG ADNYANA

Tags: Christian EriksenEURO 2020olahragasepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Luh Evi | Mengangkut Batu Pada Liku Jalan Pedawa

Next Post

Sampah Plastik, Doktor Muda, dan Anak-anak yang Ning di Mengening

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Sampah Plastik, Doktor Muda, dan Anak-anak yang Ning di Mengening

Sampah Plastik, Doktor Muda, dan Anak-anak yang Ning di Mengening

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co