2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemenangan Hidup

Komang Adnyana by Komang Adnyana
June 14, 2021
in Esai
Kemenangan Hidup

Christian Eriksen | Gambar oleh Nana Partha

“Aku baru tiga bulan ketika itu. Semua orang di Denmark tahu apa yang terjadi pada 92. Sampai dibuatkan berbagai film, semua pemain-pemain itu masih sangat terkenal di Denmark, itulah arti sebuah kemenangan pada turnamen sekelas Euro. Sudah bertahun-tahun lalu, tapi masih tetap diingat.”

Kata-kata itu diucapkan gelandang Christian Eriksen kurang dari dua minggu lalu, dari pusat latihan timnas Denmark. Semangatnya sangat terasa, terlebih tiga pertandingan penyisihan grup akan digelar di Kopenhagen, kandang mereka sendiri. Meski pasukan Tim Dinamit sama sekali tak masuk tim favorit atau bahkan sekedar tim kuda hitam di EURO tahun ini.

Tapi baru pertandingan pertama dengan Finlandia di Stadion Parken berlangsung empat puluh tiga menit, sebagaimana yang sudah bisa ditonton di layar televisi kemarin, juga bertebaran di media, Eriksen kolaps. Dia tersungkur di lapangan. Tak bergerak. Saat hendak menyambut lemparan bola ke dalam. Tanpa dilanggar  oleh pemain mana pun. Dugaan sementara gagal jantung.

Ketika kapten Denmark, Simon Kjaer mendekati Eriksen, memanggil tim medis, disusul kemudian rekan-rekannya mengisyaratkan segera datangnya petugas emergensi, penonton tersadar. Beberapa menutup wajahnya. Yang lain memalingkan muka. Tak kuasa melihat. Ada yang ternganga. Ketakutan. Horor itu nyata.

Seberkelindan apa pun sepakbola dengan sisi-sisi hidup lainnya, ekonomi, sosial bahkan kadang politik, dia tetaplah olahraga permainan. Iya, hanya permainan. Dan hidup itu sendiri jauh lebih penting. Nyawa, keselamatan dan keberlanjutan napas itu sendiri lebih berharga. Maka ketika semua rekan setimnya membentuk barikade melingkar saat tim emergensi bekerja, memberi CPR dan juga bendera pihak lawan, Finlandia digunakan sebagai penutup saat Eriksen dibawa keluar lapangan, kita paham. Sirkus bola, begitu juga sorotan kamera yang mengabaikan etik korbannya tak lebih mulia dari manusianya sendiri. Kalau saja rekan setimnya dan orang-orang di lapangan itu tak peka dan sigap, entah apa yang terjadi pada pemain 29 tahun itu.

Hingga legenda Arsenal, Ian Wright juga mengumpat kepada media yang tetap menyorot dan menyiarkannya, “Kembalilah ke studio ****!” Begitu juga beberapa orang lainnya, kita jadi sadar, ada situasi-situasi yang di luar kontrol dan kendali. Tanpa sengaja jadi drama dan bahan konsumsi. Tanpa mengesampingkan gaung solidaritas, respek, dan kesatuan yang kemudian menggema. Kjaer yang mendekati Eriksen, tim medis yang datang bergegas, penonton yang histeris, Kjaer yang menenangkan istri Eriksen di pinggir lapangan, inikah sisi-sisi lain yang tak bisa dihindarkan itu? Hingga media yang menyiarkannya pun sampai harus meminta maaf. “Kontrol siaran di dalam stadion milik UEFA,” kata televisi itu. 

Pun ketika kemudian pertandingan dilanjutkan satu setengah jam setelahnya, atas kesepakatan kedua tim, setelah mengetahui Eriksen siuman dan dalam kondisi stabil di rumah sakit dan di tengah tudingan fans kepada UEFA sebagai lembaga yang rakus dan serakah, kita seperti melihat paradoks. Kelindan permainan dan perjuangan hidup itu nyata adanya.

 “Kejadian itu membawa semua ingatan pada apa yang pernah terjadi padaku, dan aku benar-benar menangis dan aku bahkan tidak tahu kenapa dia bisa begitu. Aku hanya berpikir, ayolah Eriksen, ayolah.”

Mantan gelandang Bolton, Fabrice Muamba, sedang berada di rumah temannya, dan baru saja menyetel televisi, ketika dia melihat momen Eriksen terjatuh di lapangan. Muamba segera merasa terteror kembali. Dia menelpon ayahnya. Juga bicara kepada istrinya.

“Dia punya dua anak, dan istrinya ada disana. Aku bicara dengan istriku, yang harus berangkat dari Manchester ke London ketika kejadian itu menimpaku dulu, dan aku bertanya kepadanya, bagaimana kamu menghadapinya?” Ungkap Muamba sebagaimana dikutip Daily Mail.

Muamba kolaps sewaktu Bolton menghadapi Tottenham Hotspur di White Hart Lane 2012 lalu. Usianya 23 ketika itu. Gagal jantung sebagai penyebabnya. Jantungnya tak berdetak selama 78 menit. Di tahun yang sama, atas pertimbangan medis dia memutuskan pensiun sebagai pesepakbola profesional.   

Muamba bukan satu-satunya. Dia beruntung selamat. Tragedi yang sama juga menimpa gelandang Sevilla, Antonio Puerta saat melawan Getafe pada 2007. Meski sempat bisa berjalan ke ruang ganti, Puerta kembali kolaps dan akhirnya meninggal di rumah sakit karena kerusakan otak. Usianya pun, baru dua puluh dua tahun.

Pada pertandingan Piala Konfederasi antara Kemerun dan Kolombia 2003 silam, gelandang Marc-Vivien Foe mengalami hal serupa. Foe ditandu keluar lapangan dan setelah empat puluh lima menit usaha tim medis untuk membuat jantungnya berdenyut kembali, dia dinyatakan meninggal.

Gelandang Perugia, Renato Curi, pada usianya yang ke-24, 1977 silam, meninggal karena serangan jantung sesaat setelah jeda babak pertama melawan Juventus. Mantan striker Benfica, Miklos Feher tumbang tak lama setelah diturunkan melawan Vitoria de Guimaraes pada 2004. Pemain Hungaria ini sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong karena masalah aritmia jantung. Masalah serupa dialami mantan gelandang Ajax, Abdelhak Nouri pada pertandingan persahabatan dengan Werder Bremen empat tahun lalu. Dia selamat namun dilaporkan mengalami kerusakan otak permanen akibat insiden itu, sekaligus membuatnya tak bisa bermain bola lagi.

Denmark memang akhirnya kalah dari Finlandia, negara yang baru pentas pertama kali di Euro. Andai tragedi Eriksen tak terjadi, mungkin hasilnya akan lain, pun barangkali kalau toh Finlandia menang, cerita soal kemenangan itu juga akan ditanggapi berbeda. Kita melihat, daripada hasil di papan skor, ada kemenangan lain yang jauh lebih penting.

“Sungguh malam yang berat, dimana kita diingatkan apa yang paling penting dalam hidup ini. Hubungan yang berharga. Orang-orang yang dekat dengan kita. Keluarga dan teman.” Pelatih Denmark, Kasper Hjulmand, tak sedikit pun menyinggung soal kekalahan.

Inilah keluarga yang lain. Keluarga bola. Seperti teriakan striker Belgia, Romelu Lukaku tepat di depan kamera setelah mencetak gol pertama kemenangan 3-0 atas Rusia. “Chris, Chris, I love you…” [T]

____

BACA ARTIKEL EURO YANG LAIN DARI PENULIS KOMANG ADNYANA

Tags: Christian EriksenEURO 2020olahragasepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Luh Evi | Mengangkut Batu Pada Liku Jalan Pedawa

Next Post

Sampah Plastik, Doktor Muda, dan Anak-anak yang Ning di Mengening

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Sampah Plastik, Doktor Muda, dan Anak-anak yang Ning di Mengening

Sampah Plastik, Doktor Muda, dan Anak-anak yang Ning di Mengening

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co