15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Kenal Maka Tak Sayang | Mari Memahami Pepatah dengan Logika Matematika

Wahyudi Prasancika by Wahyudi Prasancika
March 21, 2021
in Esai
Tak Kenal Maka Tak Sayang | Mari Memahami Pepatah dengan Logika Matematika

Ilustrasi: salah satu film drama Korea romantis [Google]

Tentu menyebalkan ketika orang yang pernah sayang kepada kita (misal saja mantan pacar atau mantan lainnya) pada akhirnya seolah tidak kenal lagi setelah dia tidak sayang. Minimal ini valid bagi saya, mungkin bagi temen-temen juga. Permasalahannya, apakah ketika seseorang tak sayang maka akan sepatutnya seolah tidak kenal? Pertanyaan ini membuat saya untuk mengingat kembali pepatah tak kenal maka tak sayang. Sebagai mahasiswa matematika, ya saya coba membawa pertanyaan tadi dan pepatah yang ada ke dalam konsep logika matematika.

Pertama, mari kita sepakati bahwa pepatah tak kenal maka tak sayang memang logis dan sesuai di kehidupan sehari-hari. Selanjutnya akan diarahkan kepada beberapa asumsi/premis untuk mencari kesimpulan/akibat yang sesuai logika.


Misalkan

   p : tak kenal

   q : tak sayang

~ p : kenal

~ q : sayang


Kondisi 1

Tak kenal maka tak sayang.   (pepatah yang sudah disepakati)

Tak kenal.    (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah ….      (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: p

Kesimpulan: q


Kondisi ini dijamin kebenaranannya sesuai logika matematika dan ini dikenal sebagai metode Modus Ponen.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: tak kenal

Kesimpulan: tak sayang


Artinya,

Berdasarlan kondisi di atas, jika tak saling mengenal maka tentu tidak ada sayang. Ya, ini menjadi hal yang cukup jelas dan sederhana untuk dipahami. Tentu semua akan sepakat bahwa tak akan ada sayang yang muncul saat kita tak saling mengenal.


Kondisi 2

Tak kenal maka tak sayang.   (pepatah yang sudah disepakati)

Sayang.     (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah ….     (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: ~ q

Kesimpulan: ~ p


Kondisi ini dijamin kebenaranannya sesuai logika matematika dan ini dikenal sebagai metode Modus Tollens.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: sayang

Kesimpulan: kenal


Artinya,

Berdasarkan kondisi di atas, akibat dari adanya rasa sayang tentu adalah kondisi saling mengenal atau kenal. Ketika kita sayang dengan seseorang, tentu kita sudah mengenalnya bukan? Saya rasa hal ini masih cukup mudah untuk diterima. Jadi terima saja.


Kondisi 3

Tak kenal maka tak sayang.    (pepatah yang sudah disepakati)

Kenal.        (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah ….   (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: ~ p

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Pada kondisi ini, telah disepakati bahwa tidak ada hal yang dapat disimpulkan.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: kenal

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Artinya,

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sayang sudah pasti kenal. Tapi ini tidak langsung berlaku untuk sebaliknya. Kenal belum tentu sayang. Masih ada kemungkinan saat kita kenal dengan seseorang maka kita bisa sayang atau juga tidak. Ya kadang hanya sekadar kenal saja. Jadi memang tidak ada hal yang bisa disimpulkan dan dapat dibenartkan sepenuhnya sebagai akibat dari asumsi yang diiberikan.


Kondisi 4

Tak kenal maka tak sayang.    (pepatah yang sudah disepakati)

Tak sayang.      (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah …. (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: q

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Pada kondisi ini, telah disepakati bahwa tidak ada hal yang dapat disimpulkan.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: tak sayang

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Artinya,

Pada kondisi ini, memang tidak ada hal yang bisa disimpulkan dan dapat dibenartkan sepenuhnya sebagai akibat dari asumsi yang diiberikan. Tak sayang bisa karena memang tak saling mengenal sebelumnya. Juga seringkali ketika sudah tak sayang, akhirnya seolah tak saling mengenal. Padahal memang sudah saling mengenal sebelumnya. (seperti cerita di awal)


           Dia tak sayang karena memang tidak kenal.

           Dia tak sayang setelah adanya perpisahan. Padahal udah kenal sebelumnya.


Jadi tak sayang memang belum bisa dipastikan apakah karena tak kenal atau sebetulnya sudah ada perkenalan sebelumnya.

Ini juga menjawab pertanyaan di awal bahwa ketika sudah tak sayang bukan berarti tak kenal. Ini berlaku kalo kita masih sepakat dengan pepatah tak kenal maka tak sayang. Kalo pepatah yang diyakini berbeda, tentu akan berbeda kesimpulan dari setiap asumsi kondisinya.

Berdasarkan empat kondisi di atas, pepatah tak kenal makak tak sayang menjadi pepatah yang logis untuk kehidupan sehari-hari. Setidaknya logis bagi saya. Jadi saya rasa pepatah ini dibuat sudah sesuai logika dengan beberapa pertimbangan dan akhirnya disepakati. Apa mungkin yang membuat pepatah ini adalah senior saya di matematika?  

Namanya juga mahasiswa matematika yang masih belajar, bisa jadi dalam pembahasan di atas ada kekeliruan. Jadi bisa dikoreksi juga, hehehe. [T]

Tags: BahasaLogikamatematikapepatah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Menulis Pandemi | Cerpen Komang Adnyana

Next Post

Komang Suwanara, Menyadap Tuak Sejak SMP

Wahyudi Prasancika

Wahyudi Prasancika

Mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika di Undiksha, pemain teater, sedang belajar menulis

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Komang Suwanara, Menyadap Tuak Sejak SMP

Komang Suwanara, Menyadap Tuak Sejak SMP

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co