26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Kenal Maka Tak Sayang | Mari Memahami Pepatah dengan Logika Matematika

Wahyudi Prasancika by Wahyudi Prasancika
March 21, 2021
in Esai
Tak Kenal Maka Tak Sayang | Mari Memahami Pepatah dengan Logika Matematika

Ilustrasi: salah satu film drama Korea romantis [Google]

Tentu menyebalkan ketika orang yang pernah sayang kepada kita (misal saja mantan pacar atau mantan lainnya) pada akhirnya seolah tidak kenal lagi setelah dia tidak sayang. Minimal ini valid bagi saya, mungkin bagi temen-temen juga. Permasalahannya, apakah ketika seseorang tak sayang maka akan sepatutnya seolah tidak kenal? Pertanyaan ini membuat saya untuk mengingat kembali pepatah tak kenal maka tak sayang. Sebagai mahasiswa matematika, ya saya coba membawa pertanyaan tadi dan pepatah yang ada ke dalam konsep logika matematika.

Pertama, mari kita sepakati bahwa pepatah tak kenal maka tak sayang memang logis dan sesuai di kehidupan sehari-hari. Selanjutnya akan diarahkan kepada beberapa asumsi/premis untuk mencari kesimpulan/akibat yang sesuai logika.


Misalkan

   p : tak kenal

   q : tak sayang

~ p : kenal

~ q : sayang


Kondisi 1

Tak kenal maka tak sayang.   (pepatah yang sudah disepakati)

Tak kenal.    (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah ….      (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: p

Kesimpulan: q


Kondisi ini dijamin kebenaranannya sesuai logika matematika dan ini dikenal sebagai metode Modus Ponen.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: tak kenal

Kesimpulan: tak sayang


Artinya,

Berdasarlan kondisi di atas, jika tak saling mengenal maka tentu tidak ada sayang. Ya, ini menjadi hal yang cukup jelas dan sederhana untuk dipahami. Tentu semua akan sepakat bahwa tak akan ada sayang yang muncul saat kita tak saling mengenal.


Kondisi 2

Tak kenal maka tak sayang.   (pepatah yang sudah disepakati)

Sayang.     (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah ….     (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: ~ q

Kesimpulan: ~ p


Kondisi ini dijamin kebenaranannya sesuai logika matematika dan ini dikenal sebagai metode Modus Tollens.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: sayang

Kesimpulan: kenal


Artinya,

Berdasarkan kondisi di atas, akibat dari adanya rasa sayang tentu adalah kondisi saling mengenal atau kenal. Ketika kita sayang dengan seseorang, tentu kita sudah mengenalnya bukan? Saya rasa hal ini masih cukup mudah untuk diterima. Jadi terima saja.


Kondisi 3

Tak kenal maka tak sayang.    (pepatah yang sudah disepakati)

Kenal.        (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah ….   (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: ~ p

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Pada kondisi ini, telah disepakati bahwa tidak ada hal yang dapat disimpulkan.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: kenal

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Artinya,

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sayang sudah pasti kenal. Tapi ini tidak langsung berlaku untuk sebaliknya. Kenal belum tentu sayang. Masih ada kemungkinan saat kita kenal dengan seseorang maka kita bisa sayang atau juga tidak. Ya kadang hanya sekadar kenal saja. Jadi memang tidak ada hal yang bisa disimpulkan dan dapat dibenartkan sepenuhnya sebagai akibat dari asumsi yang diiberikan.


Kondisi 4

Tak kenal maka tak sayang.    (pepatah yang sudah disepakati)

Tak sayang.      (asumsi kondisi yang terjadi)

Simpulan yang tepat adalah …. (akibat dari asumsi yang ada)


Pembahasan:

Premis 1: p => q

Premis 2: q

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Pada kondisi ini, telah disepakati bahwa tidak ada hal yang dapat disimpulkan.


Jadi,

Premis 1: tak kenal maka tak sayang

Premis 2: tak sayang

Kesimpulan: tidak dapat disimpulkan


Artinya,

Pada kondisi ini, memang tidak ada hal yang bisa disimpulkan dan dapat dibenartkan sepenuhnya sebagai akibat dari asumsi yang diiberikan. Tak sayang bisa karena memang tak saling mengenal sebelumnya. Juga seringkali ketika sudah tak sayang, akhirnya seolah tak saling mengenal. Padahal memang sudah saling mengenal sebelumnya. (seperti cerita di awal)


           Dia tak sayang karena memang tidak kenal.

           Dia tak sayang setelah adanya perpisahan. Padahal udah kenal sebelumnya.


Jadi tak sayang memang belum bisa dipastikan apakah karena tak kenal atau sebetulnya sudah ada perkenalan sebelumnya.

Ini juga menjawab pertanyaan di awal bahwa ketika sudah tak sayang bukan berarti tak kenal. Ini berlaku kalo kita masih sepakat dengan pepatah tak kenal maka tak sayang. Kalo pepatah yang diyakini berbeda, tentu akan berbeda kesimpulan dari setiap asumsi kondisinya.

Berdasarkan empat kondisi di atas, pepatah tak kenal makak tak sayang menjadi pepatah yang logis untuk kehidupan sehari-hari. Setidaknya logis bagi saya. Jadi saya rasa pepatah ini dibuat sudah sesuai logika dengan beberapa pertimbangan dan akhirnya disepakati. Apa mungkin yang membuat pepatah ini adalah senior saya di matematika?  

Namanya juga mahasiswa matematika yang masih belajar, bisa jadi dalam pembahasan di atas ada kekeliruan. Jadi bisa dikoreksi juga, hehehe. [T]

Tags: BahasaLogikamatematikapepatah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Menulis Pandemi | Cerpen Komang Adnyana

Next Post

Komang Suwanara, Menyadap Tuak Sejak SMP

Wahyudi Prasancika

Wahyudi Prasancika

Mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika di Undiksha, pemain teater, sedang belajar menulis

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Komang Suwanara, Menyadap Tuak Sejak SMP

Komang Suwanara, Menyadap Tuak Sejak SMP

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co