23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hidup Lebih Baik dengan Lebih Sedikit | Catatan Sehabis Nonton Film Dokumenter “The Minimalist”

Vincent Chandra by Vincent Chandra
January 31, 2021
in Esai
Hidup Lebih Baik dengan Lebih Sedikit | Catatan Sehabis Nonton Film Dokumenter “The Minimalist”

Seberapa sering kamu mendengar kalimat “bersyukurlah atas apa yang kamu punya”, sambil kamu kebingungan menggambarkan “apa” yang seperti apa dan “apa” yang bagaimana di pikiranmu. Dalam konteks kesadaran dan gaya hidup, kita hampir tidak bisa menyebutkan hal yang betul-betul esensial dan punya nilai lebih bagi diri kita. Jadi, apa yang sebetulnya mau kita syukuri?

Film dokumenter Netflix bertajuk “The Minimalist” dapat membantu kita menjawab persoalan itu. Diawali dengan menyinggung fenomena konsumerisme yang hari-hari ini perlahan tapi pasti telah menjadi kenormalan dalam hidup manusia, film ini menghantarkan kita pada sosok Joshua Millburn dan Ryan Nicodemus yang mengaku justru hidup lebih baik dengan lebih sedikit (lives better with less).

Hidup lebih baik yang mereka maksud didukung oleh testimoni atau kesaksian para cast, orang-orang yang umumnya hidup di areal perkotaan yang mengaku menganut gaya hidup minimalisme. Mereka menceritakan pengalaman serta perubahan-perubahan positif yang mereka dapatkan lewat gerakan itu. Minimalisme, dari padanan katanya tidak terdengar mengarah pada sebuah gaya hidup yang memberikan hidup yang sempurna, apalagi hidup yang mewah. Mereka lebih percaya diri menyebut minimalisme sebagai sebuah jaminan untuk hidup yang sederhana, serta alat untuk mencapai kebebasan, atau singkatnya mengurangi keruwetan hidup.

Kesederhanaan dan kebebasan, siapa yang tidak mendambakan kedua hal tersebut? Tentu orang-orang yang masih menganggap dirinya serba kurang. Layaknya Josh dan Ryan yang ketika belum menemukan solusi atas hidupnya, selalu merasa perlu mengisi kekosongan dalam diri mereka dengan membeli berbagai macam barang. Belanja tentu bukan hal yang salah apalagi sebuah dosa, namun gerakan minimalisme ingin membantu kita mengerti bahwa tidak semua hal yang kita beli selalu cocok dengan kebutuhan kita. 

Josh dan Ryan, kedua sahabat ini melalui perjalanan hidup yang cukup mirip. Mereka berasal dari keluarga yang miskin, sama-sama memiliki masa kecil yang tidak mengenakan, tumbuh di daerah yang sama, mengalami persoalan dalam hubungan, dan sering cemas terhadap tiap aspek hidup mereka yang kacau. Sehingga perlu waktu bagi mereka tuk sampai pada hari mereka memutuskan untuk menjadi lebih baik. Namun bagi mereka yang punya latar belakang itu, menjalani hidup secara minimalis tidaklah terlalu sulit sebab mereka terbiasa untuk memfungsikan sumber daya yang ada.

Ya betul, yang sejatinya esensial bagi kehidupan kita tentu sesuatu yang memiliki fungsi. Walaupun ia akan tampak berbeda-beda bagi tiap orang, karena minimalisme sendiri adalah kacamata untuk menemukan yang “esensial” dan sekaligus yang “penting” itu. Josh dalam film ini juga menyatakan bahwa kita tidak perlu hidup dengan menyimpan puluhan kotak dus, elektronik, pakaian, souvenir atau dekorasi ruangan hanya dengan alasan agar sebuah momen dapat abadi. Kitalah yang paling tahu bagaimana memori atas momen itu, tanpa harus menimbun barang-barang yang bahkan belum tentu akan kita akses lagi. Terlebih itu semua bisa jadi lebih bernilai bagi orang lain.

Mulai dengan melepas satu persatu barang yang tidak sering digunakan, sebagai gantinya mereka menjamin kita mendapatkan sesuatu yang lebih dari cukup. Cukup untuk mengenali diri, untuk lebih fokus, untuk berkontribusi, dan bebas dari segala macam perangkap dunia yang menjadi sebab kekacauan hidup kita.

…

Itu adalah 53 menit tercepat dalam hidup saya. Menonton film The Minimalist ini seolah memperjelas jalur jalan setapak untuk mencapai keinginan saya (dan mungkin juga orang lain) yang sesungguh-sungguhnya, yakni hidup sederhana dan bahagia. Saya yakin itu cukup dapat diterima untuk mendefinisikan kalimat “hidup yang lebih baik”. Walaupun pada kenyataannya untuk menahan diri menghabiskan uang pada barang yang belum tentu diperlukan pun saya masih harus berjuang keras.

Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di kawasan urban yang memiliki berbagai latar kultur, saya lebih mendambakan hidup yang minimalis, punya ruang yang cukup untuk beraktifitas dan tentu tertata. Meski ketika awal-awal tinggal dan merantau di Bali saya lebih banyak menumpang di rumah keluarga yang bisa dibilang cukup besar. Hari ini saya lebih senang berpergian bebas sambil membawa koper berukuran sedang berisikan pakaian-pakaian, ditambah sebuah tas ransel, serta tas khusus yang dipenuhi dengan material untuk melukis.

Saya jadi teringat dengan kisah Buddha yang memilih meninggalkan semua kemewahannya sebagai seorang pangeran dan malah hidup dalam kesederhanaan sebagai seorang Samana/ Petapa. Bukan dalam rangka membandingkan atau membangun citra, tapi lebih kepada memaknai perjalanan hidup yang pasang-surutnya tidak pernah ada habisnya.

Awalnya catatan ini saya buat hanya untuk disisipkan sebagai keterangan link film dokumenter The Minimalist yang akan saya bagikan di sosmed, tau-taunya saya kebablasan. Saya bukan pencerita atau penulis yang baik, jadi saya harap kawan-kawan bisa langsung saja menonton film dokumenter ini untuk bisa melengkapi maksud tulisan saya yang baru hanya sepenggal-sepenggal.

Terkait pertanyaan di awal catatan ini, kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa melepas bisa jadi salah satu bentuk bersyukur. Bersyukur tidak melulu soal menyimpan atau mengunci yang kita miliki. Bisa jadi dengan melepas, kita berpeluang menambah nilai hidup orang lain.

Karena itu sederhana, lives can be better with less. [T]

Tags: filmrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengapa Kumpulan Cerpen “Nglekadang Meme” Mendapat Hadiah Sastera Rancage 2021?

Next Post

Bulan Bahasa Bali | Pembukaan Tanpa Penonton

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Bahasa Bali | Pembukaan Tanpa Penonton

Bulan Bahasa Bali | Pembukaan Tanpa Penonton

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co