2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HARI AKSARA BALI 4 PEBRUARI || Prasasti Blanjong sebagai Monumen Keberaksaraan Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
January 30, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

Seribu seratus tujuh tahun lampau Raja Kesari Warmadewa menulis sebuah prasasti yang terhitung sebagai kelompok prasasti tertua di Bali, dengan hari dan tahun ‘saptāmyāṁ sita’ Phalguna 835 Śaka yang berespondensi dengan tanggal 4 Pebruari 914 Masehi — sebagaimana dijejaki secara ilmiah oleh Louis-Charles Damais (1959) dalam “Ouvrages d’Études Indonésiennes”, Bulletin d’École française d’Extrême-Orient, 49, 2, pp. 685-686.

Prasasti yang bentuknya monumen pilar (stambha), yang pondasinya ditemukan 170 cm di bawah permukaan tanah ini, sepanjang beberapa dekade telah menjadi “nol kilometer” penulisan sejarah Bali, termasuk juga ketika kita mau merujuk tanggal-tahun keberaksaraan di Bali. Ratusan buku dan puluhan ribu tulisan merujuk pada Prasasti Blanjong sebagai rujukan penulisan sejarah Bali.

Disebut sebagai “keberaksaraan generasi tertua” mengingat ada beberapa prasasti yang angka tahunnya sedikit lebih tua, tetapi tidak mengandung informasi dinasti dan perhitungan hari yang mudah dijejak. Dengan telah lapang ditemukan tanggal penulisannya, Prasasti Blanjong bisa dikatakan dapat mewakili “hari ulang tahun penulisan aksara” di Bali. Tanggal 4 Pebruari, ‘saptāmyāṁ sita’ Phalguna, momentum penting “peradaban beraksara” dimulai untuk “mengenang peristiwa besar bersejarah” di Bali.

Prasasti Blanjong menjadi sangat monumental karena nama Kesari-warmadewa sebagai “peletak dasar” sebuah dinasti penata kelola pulau Bali, namanya secara jelas tertulis dalam prasasti ini. Hal penting lain, yang menjadi sangat serius dipertimbangkan, menurut Ida Putu Maron dalam tulisannya “Poera Besakih dengan toeroetannja” yang dimuat dalam Bhawanagara, yang diterbitkan dalam terbitan Gedong Kirtya tahun 1931 (proefnummer: 20-24), bahwa Śri Kesari terkait dengan pendirian Besakih — merujuk prasasti tinulad yang tersimpan di griyanya. Informasi ini sesuai dengan kepercayaan masyarakat di Besakih di era itu bahwa Mrajan Selonding adalah mrajan (kuil suci keluarga) Sri Kesari. Kawasan Besakih secara turun-temurun diceritakan sebagai kawasan pusat mandala dinasti Kesari Warmadewa dan penerusnya.

Śri Kesari sebagai pemula sebuah dinasti beraksara meletakkan “pondasi spiritual” dan kosmologi batiniah kerajaan Bali di titik Besakih dimana dimulakan sebuah peradaban dan tatanan masyarakat berabad, beragama, dan beraksara. Prasasti Blanjong menjadi pilar utamanya.

Jika dibandingkan dengan prasasti lain yang sedikit lebih awal, prasasti lain tidak memuat nama raja atau penguasa lainnya, juga tidak mudah diakses sebagai monumen, sementara Prasasti Blanjong memang diperuntukkan sebagai monumen peringatan berbentuk pilar (stambha). Berbeda dengan prasasti lain yang ditulis sebagai piagam yang khusus ditujukan pada desa atau wilayah tertentu ditulis di atas tembaga dan disimpan tertutup. Prasasti Blanjong sebagai monumen mengggunakan 2 aksara dan 2 bahasa, memberi gambaran istimewa, sebagai jejak keberaksaraan dan kebahasaan yang tidak tunggal, terbuka untuk dilihat sebagai sebuah jejak “peradaban terbuka” dan bertumbuh dalam pergaulan yang multikultur.

Pendiri Besakih dan Penulis Prasasti Blanjong

Prasasti Blanjong —dengan penulisnya Sri Kesari-warmadewa yang kalau merujuk para informasi dan tulisan prasasti tinulad yang disampaikan Ida Putu Maron yang dikaitkan sebagai sosok di belakang pendirian Besakih — tidak berdiri sendiri tapi punya relasi kuat dengan Besakih sebagai poros.

Pendirian sebuah dinasti dikukuhkan dengan membangun pusat spiritualnya yang tertata, berpusat pada sebuah titik poros mandala, menjadi “manikam” dari titik itu dibangun dan diorkestrasi secara lahir batin peradaban yang dipimpinnya. Bandingkan bagaimana raja-raja Medang Kemulan atau dinasti di Jawa bagian tengah menetapkan kawasan Prambanan sebagai poros mandala atau pivot spiritual dan kekuasaannya. Di sisi baratnya yang bercorak Buddha Mahayana, pusat mandalanya adalah Borobudur. Lebih jauh, dari mengikuti sejarah pembentukan dinasti Jayavarman, pendiri dinasti Khmer, sekitar abad 9, dengan mengikuti prinsip pendirian dinasti Śiwa—Buddha Mahayana, mendirikan kawasan Angkor Wat yang termasyur. Sri Kesari-warmadewa, yang sama-sama punya nama keluarga Warma — juga menjadi nama keluarga Mula-warma(n) di Kalimantan bagian timur dan Purna-warma(n) di Jawa bagian barat — kesemuannya menjadi pendiri dinasti yang punya peradaban aksara dengan aksara induk yang sama. Demikianlah di Bali, Sri Kesari membangun poros mandalanya di pedalaman Pulau Dewata. Poros mandala ini sampai sekarang menjadi “Ibu dari Pura-pura” di Pulau Bali yang dikenal dengan nama Pura Besakih.

Dengan melihat korelasi nama di balik pendiri Prasasti Blanjong dan Besakih, tidak bisa kita pisahkan dalam melihat sejarah “pemberadaban” Bali. Besakih adalah poros pedalaman mandala pulau Bali. Prasasti Blanjong yang terletak di pesisir, yang menjadi pintu dunia luar, dengan keberaksaraan dan bahasa yang jamak, seakan menjadi tepian mandala dengan pinggiran yang terbuka pergaulan dengan dunia luar. Mengusung semangat segara-gunung: Beradab mendalam di pedalaman (Besakih), berkebudayaan terbuka di pesisir (Blanjong).

Jika melihat Prasasti Blanjong secara lebih utuh, dalam konteks prasasti peninggalan lainnya dan pura Besakih, Sri Kesari-warmadewa tampak tidak sekedar menuliskan jejak kekuasaannya, namun terlihat sistematis dengan sadar membuat pilar “deklarasi keberaksaraan” di kawasan yang kini dikenal sebagai kawasan Blanjong-Sanur. Di titik ini pesan publik pendiri dinasti Warmadewa menancapkan “monumen peradaban aksara”.

Dua Sisi Prasasti

Marilah kita membaca Prasasti Blanjong yang punya 2 sisi ini dengan lebih seksama:

Sisi A (berbahasa Bali Kuno, beraksara Pre-Nagari):

1.         śāke ‘bde śara wahnimūrtigaṇite māse tathā phalguṇe (sārā) . . . . . . . . . . . . . . . . . .

2.         . . . (rā) . . . (taki) naswa(kṣā) . . . rādhāyajihitwārowinihatyawairini. . .ḥ . . . . .ng(s) –

3.         . . . . . . (hī) – (ja)awampurang singhadwāla pure(nika)–i. . . . . . ya . . . . . . ta. . . . ṭ . . . .

4.         . . . . . . // (śa). . . . . . . . . . . wulan phalguṇa . . . . . . . . śrī Kesarī . . . . . . . . . . . . . . . . . .

5.         . . . . . . . . . . . .raḥ di gurun di s(u)wal dahumalahang musuḥdho . . .ngka. . . (rana) . . . . . . (tah)di kutarā . . . . . . . .

6.         nnata . . . (tabhāja) . . .kabudhi kabudhi //

Sisi B (berbahasa Sansekerta, beraksara Bali Kuno/Kawi):

1.         swa . . . . . .raṭapratāpamahi. . . (h) . . . . . . . . .ścodayaḥ /dhwastārāti tamaścayo (buga)na

2.         . . . samārggaranggapriyaḥ /padmobo—i . . . (āṣa)serawirabūdhā(ś)ā . . . . . . naḥkṛtiḥ wālidwīpa . . .

3.         . . . (bhayebhīrowi . . . . . . . . . . . . (bhe)ri. . . . . . na(bhū)pa(śa) (śi)nā(r)ā(g)atwa . . . . .

4.         — 7. (illegible)

8.         . . . . . . . . . . . . . . . (śa) . . . . . . (maśangśuta) . . . . . . . . . . . . . .

9.         . . . . . . . . . . . . . . . (śepra)yātandiśārssyannantāriṣr—u, . . . . . . . . . . . . .

10.       . . . . . . //(wija)yarka(ṇḍantaraṇḍ)antā(pe) kabhājobḥrśam//yanā—e …

11.       . . . . . . . . . . . . . . . . . . . nbhidyā(ṣaṭa)langwidhāyunggurubhiḥsarrundhyaśatrūnyu(dh)i

12.       maha . . . . . . ha(dw)iparāgrewairimahibhujā(ng) ṣṛjutaraḥkamp . . . . . . . ..

13.       …ndre(th)a—r—(amajasa)ptā …ptiḥsamastasāmantādhipatiḥśrīkesarīwarmma(dewa) . .. . . . . . . . , . . . . ..

Demikian terbaca dengan alihaksara diakretik yang saya revisi sesuai penulisan diakretik yang telah berkembang, dan di bawah ini terjemahan umumnya, dengan penyesuaian dari penterjemahan sebelumnya, sebagai berikut:

Sisi A (berbahasa Bali Kuna dengan huruf Pre-Nagari ):

“Pada tahun 833 śaka bulan phalguṇa, seorang raja yang mempunyai kekuasaan di seluruh penjuru dunia beristana di singasana Singhadwala, bernama Śri Kesari telah mengalahkan musuh-musuhnya (dahumalahang musuḥdho) di Gurun dan di S(-)wal. Inilah yang harus diketahui sampai dikemudian hari.”

Sisi B (berbahasa Sansekerta, beraksara Bali Kuno/Kawi):

Pada bagian awal (diperkirakan) berisi hal yang sama dengan yang tertulis pada sisi A prasasti. Pada bagian akhir sisi B ini lebih jelas terbaca gelar raja ‘ptiḥsamastasāmantādhipatiḥśrīkesarīwarmma(dewa)’ yaitu ‘Ādhi Patiḥ Śrī Kesarī Warmma(Dewa)’   telah mengalahkan musuh-musuhnya dan menguasai seluruh wālidwīpa (pulau Bali).

Kalau diperhatikan kata ptiḥsamastasāmantādhipatiḥśrīkesarīwarmma menunjukkan ada semacam pesan “kesemestaan tata kelola” menyeluruh Bali yang dideklarasikan. Bali dilihat secara kesatuan tata kelola untuk pertama kalinya secara tertulis 1107 tahun lalu.

Deklarasi Berpaham Global

Pemakaian bahasa dan aksara yang jamak, internasional sekaligus lokal, “glocal” (global—local) menjadi sebuah pertanda bagaimana pendiri dinasti ini berpaham “global”, yang meneguhkan secara tersurat bahwa Bali adalah bagian dari pergaulan internasional. Prasasti yang berdiri di tepian pelabuhan kuno ini adalah deklarasi penting bahwa Bali adalah bagian dari “Sanskrit cosmopolis” — meminjam istilah Sheldon I. Pollock, pakar termasyur Sanskrit, pakar sejarah literasi India dan comparative intellectual history. Sri Kesari Warmadewa telah sadar menjadi bagian dari dinamika perkembangan sosio-politik Asia di abad 9-10 yang diwarnai kemunculan bermacam kekuatan dinasti, yang diantaranya memakai nama “warma” di belakangnya.

Dengan beberapa penjelasan singkat di atas, terkhusus dengan kesadaran menangkap pesan publik dari Sri Kesari Warmadewa, yang dengan visioner menancapkan “monumen peradaban aksara” yang diwarisi sekarang di Bali, maka dengan kerendahan hati yang terdalam, sebagai “anak Bali” saya merekomendasi dan mengajak untuk memperingati tanggal pendirian Prasasti Blanjong sebagai HARI AKSARA BALI. Tanpa mengurangi rasa hormat pada prasasti lainnya, yang berangkat tahun sedikit lebih tua, tetapi tidak menoreh nama raja dan tanggal, dan dengan alasan ketokohan Sri Kesari Warmadewa sebagai penulis dan pendiri dinasti, tanggal pendirian Prasasti Blanjong yaitu 4 Pebruari selayaknya kita rayakan sebagai tanggal HARI AKSARA BALI. [T]

Catatan:

  • Artikel ini dimuat pertama kali di Bali Post edisi cetak, 30 Januari 2021

Tags: aksarabali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Rendezvous, Batu dan Pohon

Next Post

Makian dan Keterancaman Muka

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Makian dan Keterancaman Muka

Makian dan Keterancaman Muka

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co