25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HARI AKSARA BALI 4 PEBRUARI || Prasasti Blanjong sebagai Monumen Keberaksaraan Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
January 30, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

Seribu seratus tujuh tahun lampau Raja Kesari Warmadewa menulis sebuah prasasti yang terhitung sebagai kelompok prasasti tertua di Bali, dengan hari dan tahun ‘saptāmyāṁ sita’ Phalguna 835 Śaka yang berespondensi dengan tanggal 4 Pebruari 914 Masehi — sebagaimana dijejaki secara ilmiah oleh Louis-Charles Damais (1959) dalam “Ouvrages d’Études Indonésiennes”, Bulletin d’École française d’Extrême-Orient, 49, 2, pp. 685-686.

Prasasti yang bentuknya monumen pilar (stambha), yang pondasinya ditemukan 170 cm di bawah permukaan tanah ini, sepanjang beberapa dekade telah menjadi “nol kilometer” penulisan sejarah Bali, termasuk juga ketika kita mau merujuk tanggal-tahun keberaksaraan di Bali. Ratusan buku dan puluhan ribu tulisan merujuk pada Prasasti Blanjong sebagai rujukan penulisan sejarah Bali.

Disebut sebagai “keberaksaraan generasi tertua” mengingat ada beberapa prasasti yang angka tahunnya sedikit lebih tua, tetapi tidak mengandung informasi dinasti dan perhitungan hari yang mudah dijejak. Dengan telah lapang ditemukan tanggal penulisannya, Prasasti Blanjong bisa dikatakan dapat mewakili “hari ulang tahun penulisan aksara” di Bali. Tanggal 4 Pebruari, ‘saptāmyāṁ sita’ Phalguna, momentum penting “peradaban beraksara” dimulai untuk “mengenang peristiwa besar bersejarah” di Bali.

Prasasti Blanjong menjadi sangat monumental karena nama Kesari-warmadewa sebagai “peletak dasar” sebuah dinasti penata kelola pulau Bali, namanya secara jelas tertulis dalam prasasti ini. Hal penting lain, yang menjadi sangat serius dipertimbangkan, menurut Ida Putu Maron dalam tulisannya “Poera Besakih dengan toeroetannja” yang dimuat dalam Bhawanagara, yang diterbitkan dalam terbitan Gedong Kirtya tahun 1931 (proefnummer: 20-24), bahwa Śri Kesari terkait dengan pendirian Besakih — merujuk prasasti tinulad yang tersimpan di griyanya. Informasi ini sesuai dengan kepercayaan masyarakat di Besakih di era itu bahwa Mrajan Selonding adalah mrajan (kuil suci keluarga) Sri Kesari. Kawasan Besakih secara turun-temurun diceritakan sebagai kawasan pusat mandala dinasti Kesari Warmadewa dan penerusnya.

Śri Kesari sebagai pemula sebuah dinasti beraksara meletakkan “pondasi spiritual” dan kosmologi batiniah kerajaan Bali di titik Besakih dimana dimulakan sebuah peradaban dan tatanan masyarakat berabad, beragama, dan beraksara. Prasasti Blanjong menjadi pilar utamanya.

Jika dibandingkan dengan prasasti lain yang sedikit lebih awal, prasasti lain tidak memuat nama raja atau penguasa lainnya, juga tidak mudah diakses sebagai monumen, sementara Prasasti Blanjong memang diperuntukkan sebagai monumen peringatan berbentuk pilar (stambha). Berbeda dengan prasasti lain yang ditulis sebagai piagam yang khusus ditujukan pada desa atau wilayah tertentu ditulis di atas tembaga dan disimpan tertutup. Prasasti Blanjong sebagai monumen mengggunakan 2 aksara dan 2 bahasa, memberi gambaran istimewa, sebagai jejak keberaksaraan dan kebahasaan yang tidak tunggal, terbuka untuk dilihat sebagai sebuah jejak “peradaban terbuka” dan bertumbuh dalam pergaulan yang multikultur.

Pendiri Besakih dan Penulis Prasasti Blanjong

Prasasti Blanjong —dengan penulisnya Sri Kesari-warmadewa yang kalau merujuk para informasi dan tulisan prasasti tinulad yang disampaikan Ida Putu Maron yang dikaitkan sebagai sosok di belakang pendirian Besakih — tidak berdiri sendiri tapi punya relasi kuat dengan Besakih sebagai poros.

Pendirian sebuah dinasti dikukuhkan dengan membangun pusat spiritualnya yang tertata, berpusat pada sebuah titik poros mandala, menjadi “manikam” dari titik itu dibangun dan diorkestrasi secara lahir batin peradaban yang dipimpinnya. Bandingkan bagaimana raja-raja Medang Kemulan atau dinasti di Jawa bagian tengah menetapkan kawasan Prambanan sebagai poros mandala atau pivot spiritual dan kekuasaannya. Di sisi baratnya yang bercorak Buddha Mahayana, pusat mandalanya adalah Borobudur. Lebih jauh, dari mengikuti sejarah pembentukan dinasti Jayavarman, pendiri dinasti Khmer, sekitar abad 9, dengan mengikuti prinsip pendirian dinasti Śiwa—Buddha Mahayana, mendirikan kawasan Angkor Wat yang termasyur. Sri Kesari-warmadewa, yang sama-sama punya nama keluarga Warma — juga menjadi nama keluarga Mula-warma(n) di Kalimantan bagian timur dan Purna-warma(n) di Jawa bagian barat — kesemuannya menjadi pendiri dinasti yang punya peradaban aksara dengan aksara induk yang sama. Demikianlah di Bali, Sri Kesari membangun poros mandalanya di pedalaman Pulau Dewata. Poros mandala ini sampai sekarang menjadi “Ibu dari Pura-pura” di Pulau Bali yang dikenal dengan nama Pura Besakih.

Dengan melihat korelasi nama di balik pendiri Prasasti Blanjong dan Besakih, tidak bisa kita pisahkan dalam melihat sejarah “pemberadaban” Bali. Besakih adalah poros pedalaman mandala pulau Bali. Prasasti Blanjong yang terletak di pesisir, yang menjadi pintu dunia luar, dengan keberaksaraan dan bahasa yang jamak, seakan menjadi tepian mandala dengan pinggiran yang terbuka pergaulan dengan dunia luar. Mengusung semangat segara-gunung: Beradab mendalam di pedalaman (Besakih), berkebudayaan terbuka di pesisir (Blanjong).

Jika melihat Prasasti Blanjong secara lebih utuh, dalam konteks prasasti peninggalan lainnya dan pura Besakih, Sri Kesari-warmadewa tampak tidak sekedar menuliskan jejak kekuasaannya, namun terlihat sistematis dengan sadar membuat pilar “deklarasi keberaksaraan” di kawasan yang kini dikenal sebagai kawasan Blanjong-Sanur. Di titik ini pesan publik pendiri dinasti Warmadewa menancapkan “monumen peradaban aksara”.

Dua Sisi Prasasti

Marilah kita membaca Prasasti Blanjong yang punya 2 sisi ini dengan lebih seksama:

Sisi A (berbahasa Bali Kuno, beraksara Pre-Nagari):

1.         śāke ‘bde śara wahnimūrtigaṇite māse tathā phalguṇe (sārā) . . . . . . . . . . . . . . . . . .

2.         . . . (rā) . . . (taki) naswa(kṣā) . . . rādhāyajihitwārowinihatyawairini. . .ḥ . . . . .ng(s) –

3.         . . . . . . (hī) – (ja)awampurang singhadwāla pure(nika)–i. . . . . . ya . . . . . . ta. . . . ṭ . . . .

4.         . . . . . . // (śa). . . . . . . . . . . wulan phalguṇa . . . . . . . . śrī Kesarī . . . . . . . . . . . . . . . . . .

5.         . . . . . . . . . . . .raḥ di gurun di s(u)wal dahumalahang musuḥdho . . .ngka. . . (rana) . . . . . . (tah)di kutarā . . . . . . . .

6.         nnata . . . (tabhāja) . . .kabudhi kabudhi //

Sisi B (berbahasa Sansekerta, beraksara Bali Kuno/Kawi):

1.         swa . . . . . .raṭapratāpamahi. . . (h) . . . . . . . . .ścodayaḥ /dhwastārāti tamaścayo (buga)na

2.         . . . samārggaranggapriyaḥ /padmobo—i . . . (āṣa)serawirabūdhā(ś)ā . . . . . . naḥkṛtiḥ wālidwīpa . . .

3.         . . . (bhayebhīrowi . . . . . . . . . . . . (bhe)ri. . . . . . na(bhū)pa(śa) (śi)nā(r)ā(g)atwa . . . . .

4.         — 7. (illegible)

8.         . . . . . . . . . . . . . . . (śa) . . . . . . (maśangśuta) . . . . . . . . . . . . . .

9.         . . . . . . . . . . . . . . . (śepra)yātandiśārssyannantāriṣr—u, . . . . . . . . . . . . .

10.       . . . . . . //(wija)yarka(ṇḍantaraṇḍ)antā(pe) kabhājobḥrśam//yanā—e …

11.       . . . . . . . . . . . . . . . . . . . nbhidyā(ṣaṭa)langwidhāyunggurubhiḥsarrundhyaśatrūnyu(dh)i

12.       maha . . . . . . ha(dw)iparāgrewairimahibhujā(ng) ṣṛjutaraḥkamp . . . . . . . ..

13.       …ndre(th)a—r—(amajasa)ptā …ptiḥsamastasāmantādhipatiḥśrīkesarīwarmma(dewa) . .. . . . . . . . , . . . . ..

Demikian terbaca dengan alihaksara diakretik yang saya revisi sesuai penulisan diakretik yang telah berkembang, dan di bawah ini terjemahan umumnya, dengan penyesuaian dari penterjemahan sebelumnya, sebagai berikut:

Sisi A (berbahasa Bali Kuna dengan huruf Pre-Nagari ):

“Pada tahun 833 śaka bulan phalguṇa, seorang raja yang mempunyai kekuasaan di seluruh penjuru dunia beristana di singasana Singhadwala, bernama Śri Kesari telah mengalahkan musuh-musuhnya (dahumalahang musuḥdho) di Gurun dan di S(-)wal. Inilah yang harus diketahui sampai dikemudian hari.”

Sisi B (berbahasa Sansekerta, beraksara Bali Kuno/Kawi):

Pada bagian awal (diperkirakan) berisi hal yang sama dengan yang tertulis pada sisi A prasasti. Pada bagian akhir sisi B ini lebih jelas terbaca gelar raja ‘ptiḥsamastasāmantādhipatiḥśrīkesarīwarmma(dewa)’ yaitu ‘Ādhi Patiḥ Śrī Kesarī Warmma(Dewa)’   telah mengalahkan musuh-musuhnya dan menguasai seluruh wālidwīpa (pulau Bali).

Kalau diperhatikan kata ptiḥsamastasāmantādhipatiḥśrīkesarīwarmma menunjukkan ada semacam pesan “kesemestaan tata kelola” menyeluruh Bali yang dideklarasikan. Bali dilihat secara kesatuan tata kelola untuk pertama kalinya secara tertulis 1107 tahun lalu.

Deklarasi Berpaham Global

Pemakaian bahasa dan aksara yang jamak, internasional sekaligus lokal, “glocal” (global—local) menjadi sebuah pertanda bagaimana pendiri dinasti ini berpaham “global”, yang meneguhkan secara tersurat bahwa Bali adalah bagian dari pergaulan internasional. Prasasti yang berdiri di tepian pelabuhan kuno ini adalah deklarasi penting bahwa Bali adalah bagian dari “Sanskrit cosmopolis” — meminjam istilah Sheldon I. Pollock, pakar termasyur Sanskrit, pakar sejarah literasi India dan comparative intellectual history. Sri Kesari Warmadewa telah sadar menjadi bagian dari dinamika perkembangan sosio-politik Asia di abad 9-10 yang diwarnai kemunculan bermacam kekuatan dinasti, yang diantaranya memakai nama “warma” di belakangnya.

Dengan beberapa penjelasan singkat di atas, terkhusus dengan kesadaran menangkap pesan publik dari Sri Kesari Warmadewa, yang dengan visioner menancapkan “monumen peradaban aksara” yang diwarisi sekarang di Bali, maka dengan kerendahan hati yang terdalam, sebagai “anak Bali” saya merekomendasi dan mengajak untuk memperingati tanggal pendirian Prasasti Blanjong sebagai HARI AKSARA BALI. Tanpa mengurangi rasa hormat pada prasasti lainnya, yang berangkat tahun sedikit lebih tua, tetapi tidak menoreh nama raja dan tanggal, dan dengan alasan ketokohan Sri Kesari Warmadewa sebagai penulis dan pendiri dinasti, tanggal pendirian Prasasti Blanjong yaitu 4 Pebruari selayaknya kita rayakan sebagai tanggal HARI AKSARA BALI. [T]

Catatan:

  • Artikel ini dimuat pertama kali di Bali Post edisi cetak, 30 Januari 2021

Tags: aksarabali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Rendezvous, Batu dan Pohon

Next Post

Makian dan Keterancaman Muka

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Makian dan Keterancaman Muka

Makian dan Keterancaman Muka

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co