6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arjuna dan Dua Ekor Semut di Gunung Indrakila

I Putu Supartika by I Putu Supartika
December 13, 2020
in Cerpen
Arjuna dan Dua Ekor Semut di Gunung Indrakila

Ilustrasi; Lukisan Kamasan Arjuna Bertapa [diambil dari akun Facebook Sutasoma Kamasan

Cerpen Supartika

Hingga Jumat Kliwon ini, sudah hampir seminggu Arjuna bertapa di Gunung Indrakila untuk mendapat anugerah panah yang maha sakti dari Dewa Siwa. Ia bertapa dengan khusyuk dan suntuk, duduk bersila di atas sebuah batu yang permukaannya agak rata dan mulutnya komat-kamit tanpa suara, entah mantra apa yang diucapkannya. Sementara di bawah kakinya, pada cekungan batu, dua ekor semuat bersaudara sedang gelisah. Dua ekor semut jantan-betina ini diutus Dewa Siwa untuk menggoda tapa Arjuna.

Untuk mempermudah dalam hal menuliskannya, mari kita sebut semut tertua atau semut betina dengan sebutan Semut I dan adiknya, semut jantan, dengan sebutan Semut II.

Titah Dewa Siwa terus terngiang di telinga mereka: Aku tak ingin panah sakti ini berpindah ke tangan Arjuna, kalian harus menggagalkan tapanya bagaimanapun caranya.

Bukan sembarang titah, seperti ada sebuah ancaman yang terkandung dalam titah itu. Mereka menafsirkanya sendiri, jika gagal melakukan titah itu bukan tak mungkin akan ada hukuman yang menunggunya. Namun bukan tak mungkin pula jika Arjuna melakukan sesuatu yang tak terduga saat mereka mengganggu tapanya. Menggencet tubuh kecilnya dengan jarinya misalnya hingga membuat kedua semut itu penyet serupa perkedel.

“Dari mana kita memulainya?” Semut II bertanya kebingungan.

Semut I hanya menggelengkan kepala.

“Apakah kita akan diam seperti ini dan tidak segera bertindak?”

“Ini keadaan yang serba sulit.”

“Kita harus memilihnya, ini titah.”

“Sebenarnya aku tak ingin memilih keduanya. Lebih baik aku pulang ke rumah dan menikmati remah beras yang tersisa.”

“Bagaimana kau masih bisa memikirkan makanan sementara kita sedang berada di posisi sulit?”

“Ayah dan ibu kita pasti sedang gelisah menunggu di rumah.”

“Bukankah mereka sudah merestui kita untuk melakukan tugas mulia ini?”

“Tugas mulia katamu?” Semut I kembali menggelengkan kepala, “menggagalkan usaha seseorang adalah tugas terkutuk.”

“Tapi ini titah, kita tak bisa melawan titah.”

“Entah apapun namanya, jika Arjuna benar-benar gagal menyelesaikan tapanya, kita akan dianggap sebagai makhluk yang tak bermartabat.”

“Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?”

“Tak ada pilihan.”

“Maksudmu? Kau memilih pulang dan melalaikan titah yang diberikan?”

“Tentu tidak, kita harus menjalankannya,” Semut I diam sejenak. “Meskipun kelak jika tugas ini berhasil kita akan dianggap makhluk tak bermartabat karena menggagalkan usaha Arjuna.”

Mereka berdua diam sejenak. Semut II memandang ke sekeliling yang sedikit remang-remang karena tertutup kaki Arjuna. Hanya ada celah kecil yang tampak putih di sisi barat pada celah batu yang kecil, dan dari sanalah cahaya bisa masuk.

“Dari mana kita akan memulainya?”

“Kau mau dari mana?”

“Aku lebih muda darimu. Dan sebagai semut muda yang ada di sini, aku menyerahkan sepenuhnya padamu.”

Semut I berjalan mendekati telapak kaki Arjuna. Ia melihat telapak kaki yang ukurannya ratusan kali lipat dari ukuran tubuhnya. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika telapak kaki itu menindih tubuhnya dan ia tak akan sempat berteriak atau sekadar merasakan sakit, karena dalam hitungan detik tubuhnya akan rata.

“Ternyata kaki pangeran yang dibilang tampan oleh bangsa manusia ini pecah-pecah,” celetuk Semut II.

“Hus, jaga bicaramu. Jangan keras-keras, nanti ia mengetahui kehadiran kita.”

“Bukankah nanti ia juga akan mengetahui bahwa kita yang mengganggu tapanya.”

“Tapi setidaknya, kita tidak kentara sebelum berbuat sesuatu.”

“Bagaimana kita memulainya?” seperti seorang anak kecil, Semut II terus bertanya dengan cerewet.

“Aku belum tahu, kita harus mencari celah yang tepat.”

“Kita gigit saja telapak kakinya!”

“Telapak kakinya keras, gigimu bisa copot. Juga sangat berbahaya. Jika ia terkejut dan berdiri, kita bisa langsung tergencet.”

“Lalu kita harus bagaimana? Bukannya jika kita naik ke atas dan menggigit tubuh lainnya juga berbahaya? Bisa saja ia menggunakan tangannya lalu memencet kita hingga penyet. Sama-sama berbahaya.”

Dua ekor semut yang gundah duduk kembali di antara cekungan batu. Pikiran mereka penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga dan tentu saja membahayakan.

“Nasib bangsa semut memang kadang kebanyakan tak mujurnya,” celetuk Semut I.

“Tapi setidaknya ini titah mulia, dari Dewa Siwa. Bukan tidak mungkin jika tugas kita berhasil, hidup kita akan bahagia. Dan mungkin kelak kita bisa terlahir kembali menjadi manusia karena kita dianggap berjasa.”

“Kemungkinan selalu ada, termasuk kemungkinan kita mati dalam tugas ini dan orang tua kita di rumah akan menangis sepanjang hari meratapi kepergian kita dan ternyata kita tetap lahir kembali sebagai seekor semut.” Mata Semut I berkaca-kaca. Ia berpikir, mungkin saja saat ini mata orang tuanya juga tengah berkaca-kaca menantikan kepulangannya.

Dalam keadaan seperti ini, ia tentu saja sangat menyesal dilahirkan sebagai seekor semut. Sejak jaman manusia pertama, bangsa semut selalu dijadikan tumbal untuk menggagalkan sebuah pertapaan. Bahkan tak jarang dalam sekali menggagalkan pertapaan, dikerahkan hingga ratusan semut. Dan tak jarang pula, setengah bahkan lebih dari jumlah mereka mati karena si  pertapa marah akibat tapanya gagal dan membunuh semut yang dilihatnya. Diinjak, ditepuk, digilas, digencet, bahkan yang lebih sadis lagi dibakar hidup-hidup.

Belum lagi ribuan semut tewas dibantai manusia di gubuk-gubuk saat mereka memungut sisa-sisa nasi, remah beras, atau potongan kelapa yang dijatuhkan atau dibuang manusia. Saat mereka kentara bergerombol mengangkut sisa makanan itu, mereka malah diinjak-injak, dibakar dengan seenaknya tanpa rasa bersalah, padahal bangsa semut tak mencuri, hanya memungut yang sudah tak diperlukan lagi.

“Aku kira, sekelas anak Raja Pandu tak mungkin membunuh kita sembarangan,” Semut II mencoba menghibur kakaknya.

“Arjuna itu manusia!”

“Tapi, aku melihat dia sangat khusyuk melakukan tapa. Dia seperti patung, tak bergerak sedikitpun. Walaupun kita menggigitnya, aku kira ia tak akan memedulikan kita.”

“Kalau dia tak terganggu saat kita menggingitnya, artinya kita gagal. Tetap saja ada hukuman yang menunggu karena kegagalan kita.”

Mereka kembali terdiam. Samar-samar mereka mendengar suara burung dari luar sana. Sementara Arjuna tetap mematung menjalankan tapanya.

“Apapun risikonya, kita harus jalankan titah ini!” Semut II bangkit dan ingin segera menggigit bagian kaki Arjuna yang tampak olehnya. Namun Semut I buru-buru menarik dan mendudukkannya.

“Jangan lakukan hal yang sia-sia.”

“Tidak ada yang sia-sia, bagaimana kita tahu ini sia-sia jika tak mencobanya.”

Semut I terdiam.

“Aku akan menggigitnya!” Semut II keras kepala. Ia beranjak dan mendekat ke kaki Arjuna. Berkeliling mencari bagian yang sekiranya tidak keras untuk digigit. Ia melihat bagian atas telapak kaki belakang Arjuna yang berkerut. Ini tidak begitu keras, pikirnya.

Perlahan ia naik lewat telapak kakinya. Satu langkah, ia menghentikan langkahnya untuk melihat reaksi Arjuna. Ada degup jantung ketakutan yang dirasakannya. Semut I sedikit ketakutan melihat apa yang dilakukan adiknya.

“Turun kau, jangan gegabah!” dipanggilnya adiknya dengan suara seperti orang berbisik namun sampai ke telinga Semut II.

Semut II tak menghiraukan panggilan itu, dan karena pada langkah pertama Arjuna bergeming, ia terus melangkah selangkah demi selangkah, tentu saja dengan degup jantung yang semakin tak teratur. Ia tetap waspada jika kemungkinan buruk terjadi semisal Arjuna merasakan kehadirannya dan membalikkan telapak kakinya yang bisa membuatnya tergencet. Sesekali dilihatnya tekstur batu di bawah walaupun agak remang. Apabila Arjuna sadar dan membalikkan telapak kakinya, ia bisa menggulingkan tubuhnya dan bersembunyi pada cekungan batu.

Telapak kaki terlewati dan kini ia telah berada di atas telapak kaki belakang Arjuna yang berkerut. Ia memulainya dengan gigitan ringan. Arjuna bergeming. Lebih keras, Arjuna juga bergeming. Digigitnya lebih keras, sangat keras bahkan sampai bergelantungan sambil menggigit. Tetap saja usahanya tak berhasil. Karena beberapa kali menggigit dan tak mempan, ia memutuskan untuk turun dan menemui kakaknya.

“Kau melakukan sesuatu yang sia-sia,” Semut I berkata dengan nada mengejek saat Semut II kembali. “Aku sudah memikirkan dengan matang, dan ini aku kira akan berhasil.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Kita naik ke atas. Cari telinganya. Kita masuk ke dalam telinganya, lalu kita gigit.”

“Bagaimana caranya kita sampai ke telinganya?”

“Kita harus keluar dari sini. Kita harus naik lewat pakaiannya, jangan naiki tubuhnya. Jika kita menaiki tubuhnya, ia pasti menyadarinya. Aku kira Arjuna sudah tahu dan merasakan sakit saat kau menggigitnya, hanya saja ia menahannya.”

Mereka berjalan mengikuti lubang cahaya yang kecil hingga sampai di luar. Lubang cahaya itu mengarah ke samping kiri Arjuna. Kedua semut itu mendongakkan kepala melihat letak telinga Arjuna yang tinggi. Terlihat olehnya rambut Arjuna yang dibiarkannya terurai sedikit bergerak-gerak karena hembusan angin yang cukup kencang.

“Ini terlalu tinggi, apalagi naik lewat pakaiannya. Jika angin kencang saat kita berada di atas, tubuh kita akan terlempar,” kata Semut II.

“Kita naik lewat belakang. Angin tak akan menyentuh kita.”

Semut I berjalan ke belakang tubuh Arjuna, memilih lokasi yang cocok dan mulai naik. Semut II mengikutinya. Mereka mulai dengan menaiki kemben Arjuna kemudian meraih kain putih yang diselempangkan pada tubuhnya. Kain itu ternyata agak licin sehingga mereka harus benar-benar mencengkeram kain agar tak terpeleset dan jatuh. Dengan perjuangan yang cukup melelahkan menaiki kain yang licin, mereka pun sampai di pundak kanan Arjuna.

“Bagaimana sekarang?” Semut II bertanya.

“Mau tidak mau kita harus lewat lehernya. Tak mungkin kita menaiki rambutnya. Angin bisa saja menghempaskan tubuh kita.”

“Kau yakin ini berhasil?”

“Kita harus cepat. Berlari lalu masuk ke dalam lubang telinganya.”

Setelah mengambil nafas panjang, untuk mencegah kemungkinan terburuk, mereka berdua berlari zig-zag. Kiri, kanan, kiri, kanan, mereka zig-zag menaiki leher samping kanan Arjuna, menuju ke pipinya, lalu berbelok dan masuk pada lubang telinga kanannya. Arjuna bergembing bak patung dan hanya rambut dan kain bagian depan tubuhnya saja yang bergerak-gerak diterpa angin.

Lubang telinga Arjuna begitu gelap. Semakin ke dalam semakin tak ada cahaya. Mereka hanya bisa melihat cahaya jika menoleh ke belakang.

“Bagaiama sekarang?”

“Kita masuk sampai ke ujung. Ikuti saja aku.”

Dan sampai di tempat yang ditentukan, kedua semut itu berhenti. Semut II duduk menunggu perintah, sementara Semut I meraba-raba dalam kegelapan mencari tempat yang sekiranya bisa digigit. Karena jika salah, ia hanya akan menggigit kotoran telinga Arjuna dan tentu saja tak akan berpengaruh apapun. Dalam kegelapan ia mengorek-ngorek dan mencoba membedakan kotoran telinga dengan kulit telinga.

“Kita gigit di sini!”

“Di mana? Aku tak melihatmu.”

“Ikuti arah suaraku.”

Dan Semut I menyanyi pelan agar Semut II bisa menemukan keberadaannya.

“Kita gigit di sini!”

“Sekarang?”

“Ya sekarang!”

“Satu, dua, yaa…..”

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gamers”, Idaman Kaum Milineal…

Next Post

PANDORA PARADISE

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
PANDORA PARADISE

PANDORA PARADISE

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co