6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Galungan

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
September 27, 2020
in Esai
Memaknai Galungan

Ini obrolan mereka di teras Shuck Cafe tadi malam:

“Cong, Nang Kocong, menurutmu apa sih makna Galungan?”

“Kan sudah jelas, hari kemenangan dharma melawan adharma. Yang gitu-gitu ditanyakan lagi. Sing ngelah gae?” Nang Kocong mengusap sisa buih minuman di kumisnya.

“Maksudku, masa harus
selalu kemenangan dharma atas adharma?”

“Memang begitu, wong dharmanya udah menang, mau diapain lagi. Mau dibalik, adharmanya yang menang? Malah ribet jadinya.”

“Apa tak ada jawaban lain? Sejak SD hingga setua ini, jawabannya selalu begitu saja: kemenangan dharma melawan adharma.”

“Seharusnya apa?”

“Memangnya ada urusan apa si dharma dengan si adharma. Kapan dan di mana mereka berantem. Kok tiba-tiba saja si dharma menang, malah kita rayakan pula kemenangannya?”

“Badah, Byah, Gobyah, kamu tak paham. Itu soal spiritual, bersifat kerohanian, sesuatu yang ada di dalam hati, bukan perkelahian fisik seperti dua petinju di atas ring.”

“Aku tahu Cong. Setidaknya, berilah pemahaman agar aku mengerti apa maksud dari kemenangan dharma atas adharma itu.”

“Terus, aku harus mengarang jawaban, gitu? Kemenangan dharma atas adharma, itu saja sudah cukup. Tak perlu diutak-atik lagi. Kalau ulangan di sekolah, nilaimu 10 dengan jawaban itu.”

“Tapi kamu kan punya otak, Cong. Pakai otakmu. Siapa tahu ketemu jawabannya.”

“Kamu serius ingin tahu makna Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tumben peduli soal-soal begituan. Kamu salah minum obat?”

“Tidak juga, hahaha…”

“Gini, Byah, Galungan dan Kuningan itu hanya ritual, tapi skenarionya bagian dari ajaran tradisional tentang pencerahan terhadap tubuh, pikiran, dan spirit manusia. Di balik ritual hari raya itu bersembunyi ajaran kerohanian, semacam ajaran Dasa Aksara, sebagai salah satu jalan bagi manusia Bali mengenali jati dirinya.”

“Nah kan, mulai terpancing ngarang-ngarang, hahaha…”

“Yeh, tadi kamu minta aku nyari jawaban. Ya sudah kalau begitu. Ndak jadi dah.”

“Bercanda, Cong. Jangan ngambul. Lanjut…”

“Kamu tahu, Galungan dan Kuningan terdiri tiga bagian utama, yakni Penampahan, Galungan, dan Kuningan. Itu  simbol bhur, bwah, swah. Simbol tubuh fisik, tubuh pikiran, dan tubuh rohanimu.”

“Mulai ruwet ini. Terus?”

“Penampahan itu maknanya membuka kesadaranmu pada tubuh fisik, mengajakmu untuk mengenali tubuhmu, memahami organ-organnya yang secara spiritual organ-organ itu dianggap pusat-pusat energi kedewataan dirimu.”

“Cong, pada waktu Penampahan kita nampah celeng, mebat, bikin lawar dan komoh. Itu adalah pesta, maknanya lebih dekat kepada nyomia buthakala dengan kuliner yang enak-enak. Jauh banget kalau dihubungkan dengan memahami organ-organ tubuh. Ngaco aja kamu.”

“Celeng itu pretiwimba. Organ celeng atau babi itu sama dengan yang ada di tubuhmu.”

“Betul, tapi organ-organ itu cocoknya dibuat sate saja ditemani lau, haha…”

“Kamu benar, pada hari Penampahan, organ celeng itu memang dibuat sate, namanya sate galungan, orang bilang sate penawasangan atau sate senjata nawa sanga.”

“Apa maksudnya?”

“Sate galungan itu simbol untuk mengingatkanmu bahwa organ-organ vital dalam tubuhmu itu, selain pusat energi kasar yang secara alamiah mempengaruhi pribadimu, membentuk naluri, ego, nafsu, ambisi, atau pikiran-pikiran dasar lainnya, kamu harus menyadari bahwa di situ juga pusat energi halus, energi dewata.”

“Nggak mudeng, aku.”

“Pikiran kita selalu dipengaruhi oleh kekuatan rwa bineda, oleh energi kasar dan energi halus, energi butha dan energi dewa, negatif dan positif. Dalam ajaran kerohanian di Bali, kedua jenis energi itu berpendar melalui organ-organ tubuhmu. Tapi energi kasar yang dominan memengaruhi pikiran atau emosimu, sedangkan energi halus sangat lembut.”

“Mulai muter-muter kan kamu. Tuangin bir dulu, Cong, biar lancar otakmu. Lantas, sate itu apa urusannya?”

“Sate galungan itulah simbol dewata, untuk menggambarkan dewa apa yang bertahta di tubuhmu.”

“Apa saja, Cong?”

“Agar tahu dengan detil, nanti kamu baca bukunya saja. Tapi garis besarnya, sate galungan itu dibuat dari organ tubuh untuk menggambarkan dewa-dewa di organ tersebut. Misalnya, sate asem. Itu simbol cakra. Dibuat dari nyali, tapi diganti dengan lemak atau usus halus, untuk menggambarkan di nyalimu ada ‘energi’ Dewa Wisnu.  Sate japit, dari unsur jantung,  simbol bajra,  melambangkan yang bercokol di jantungmu adalah Dewa Iswara. Begitu seterusnya…”

“Mih, ruwet ya.”

“Ya, memang ruwet. Capek menjelaskannya. Lagian, aku juga gak hafal semuanya, males, hehe…”

“Terus, apa hubungannya sate-sate yang ruwet itu dengan Penampahan?”

“Itu adalah bahasa leluhur untuk mengajarkan kepada kita semua, ‘Wahai, anak-anakku, para keturunanku, orang-orang mulia, periksalah tubuhmu, ketahuilah, sesungguhnya tubuhmu adalah stana para dewata. Sadari dan camkan itu baik-baik’, begitu kira-kira.”

“Berarti di badanku ada dewa, gitu?”

“Ya, setidaknya ada sembilan dewa.”

“Mih, sembilan aku ngubuh dewa?”

“Tapi ingat, tidak hanya dewa, di situ juga ada butha kala. Malah butha ini lebih kuat pengaruhnya dan mengendalikanmu.”

“Aku ngubuh butha juga. Berarti di tubuhku ada ogoh-ogoh?”

“Betul. Ini yang disebut Sang Butha Galungan.”

“Terus kapan ogoh-ogoh Butha Galungan itu harus dibakar?”

“Tidak dibakar. Ia tidak bisa dibunuh, karena ia yang menghidupkanmu. Menghidupkan naluri, hasrat, nafsu, dan pikiran-pijiranmu. Ia memicu ahamkara, pikiran egomu.”

“Mih, ada-ada saja kamu, Cong.”

“Makanya waktu Penampahan kamu natab Banten Byakala atau apapun namanya. Itu ritual untuk butha di tubuh fisikmu, di bhur loka. Byakala itu bukan pembersih kaki atau lututmu, tapi untuk menyadarkanmu akan keberadaan butha di tubuhmu agar kamu waspada, eling.”

“Nah, sambil minum, Cong. Kasi patabuh butha kalanya biar somia, hehe… Lalu apa hubungannya semua itu dengan Galungan?”

“Kita permudah ya. Sate senjata nawasanga, simbol ‘energi’ organ-organ tubuhmu itu, kita ringkas jadi lima, yakni nyali, jantung, hati, ginjal, dan “puncak” hati. Galungan itu ritual untuk tubuh pikiranmu, bwah loka. Kamu memasuki kesadaran pikiran.”

“Apa hubungan nyali, jantung, dan lainnya itu dengan pikiran?”

“Sesungguhnya kualitas pikiranmu itu dipengaruhi oleh energi tubuh fisikmu, baik oleh butha yang keras maupun energi dewata yang syahdu. Sebagai manusia Bali, kamu diminta memenangkan energi dewata dan mengendalikan energi butha.”

“Ngawur kayaknya ini, hehe…”

“Dari kaca mata kerohanian, energi halus dari nyalimu, yang digambarkan sebagai cahaya Dewa Wisnu itu, adalah pembentuk pikiran kasih. Energi jantung, Dewa Iswara, membentuk pikiran religius. Energi hati, Dewa Brahma, membentuk pikiran kreatif. Energi ginjal, Mahadewa, membangun pikiran yang berkaitan dengan kesejahteraan.”

“Kalau seperti kita ini, senang minum di kafe, energi pikiran apa namanya?”

“Makanya magalung, Byah. Itu adalah tuntunan kesadaran, ‘Wahai manusia Bali, cerahkanlah energi dewata di nyalimu agar pikiranmu dipenuhi cinta kasih, cerahkanlah jantungmu agar religiusitasmu bercahaya, sadarilah energi hatimu supaya tumbuh pikiran kreatifmu, dan seterusnya,’ begitulah, Byah, biar kamu ngerti.”

“Berarti orang Bali itu harus hidup dengan pikiran kasih, religius, dan kreatif?”

“Benar. Itulah dasar Tri Kaya Parisuda. Bila hidup didasari pikiran, ucapan, dan tindakan penuh cinta kasih, religius, dan kreatif, maka semua akan sejahtera.”

“Mih, serem ini.”

“Dalam kehidupan sehari-hari, panca aksara atau panca dewata itu diringkas jadi tiga aksara, dan ini diterjemahkan jadi Kayangan Tiga: Pura Puseh, Pura Dalem, Pura Desa. Itu pesan sekaligus jalan bagimu untuk selalu ingat memuja Wisnu, di Pura Puseh, mencerahkan cahaya nyalimu, menguatkan sifat-sifat cinta kasihmu. Memuja Iswara di Pura Dalem, mencerahkan energi jantung, menguatkan religiusitasmu. Memuja Brahma di Pura Desa, mencerahkan hatimu agar engkau cerdas kreatif. Kalau ketiga hal itu tercerahkan maka pikiranmu akan jagadhita, bahagia, sejahtera. Tubuh pikiranmu berpendar dalam energi Dewa Siwa. Hidupmu akan penuh cinta kasih, cerdas, kreatif, bijaksana, rendah hati.”

“Bukankah Kayangan Tiga tempat memuja Brahma, Wisnu, Siwa, beliau sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur? Begitu yang aku tahu.”

“Soal pencipta, pemelihara, atau pelebur, itu adalah hukum alam. Biarkan saja mereka mau ngapain. Tidak ada yang dapat kamu lakukan dengan itu. Tugasmu adalah menjalani hidup dengan kasih, religius dan kreatif. Apa pun yang kamu lakukan hendaknya berdasar kepada ketiga sifat tersebut, muter-muter di situ saja. Itu baru namanya kamu memuja Brahma, Wisnu, Iswara.”

“Ah, kamu ini Cong, omonganmu tidak sesuai sastra.”

“Makanya Byah, kalau makan sesuatu itu jangan ditelan mentah-mentah.”

“Hahaha.. itu sih bisa-bisanya kamu aja menghubung-hubungkan dan mengartikannya.”

“Tapi jangan lupa, di tubuh pikiranmu juga ada bhuta kala, dinamakan Butha Dunggulan. Dia seperti mesin turbo yang menggerakkan dan membuat liar pikiranmu. Tanpa kamu sadari dialah yang memunculkan pikiran dan nafsu tamakmu dan selalu ingin unggul.”

“Seperti sifatmu itu ya, Cong, haha… Terus, diapakan bhuta kala ini?”

“Kamu natab Banten Durmanggala, supaya kamu menyadari bahwa pikiranmu sesungguhnya dikendalikan oleh bhuta. Ketika kamu sadar dan mampu mengendalikan bhuta itu, serta menstanakan cahaya dewata di pikiranmu, itulah namanya Galungan. Kamu tercerahkan, pikiranmu jadi terang galang dalam kebijaksanaan. Ini yang dimaksud dengan kemenangan dharma atas adharma. Kalau dalam Mahabharata, itu namanya kamu berhasil memenangkan Pandawa atas Kurawa. Begitu kira-kira, Byah.”

“Ya deh, aku iyain aja, yang penting ceritanya berlanjut mumpung belum ngantuk. Lantas, mengapa pakai Kuningan lagi, kan dharma sudah menang?”

“Yang tadi itu kan baru pencerahan terhadap tubuh fisik dan tubuh pikiranmu, belum tubuh rohanimu. Kuningan itu simbol pencerahan tubuh rohanimu. Kamu memasuki kesadaran rohani, swah loka.”

“Tapi kenapa jarak Kuningan itu 10 hari dari Galungan, sementara dengan Penampahan cuma sehari.”

“Maumu berapa hari? Tiga bulan? Kelamaan dong hari liburnya.”

“Bebeki memang kamu, Cong.”

“Penampahan dengan Galungan memang berjarak sehari, karena tubuh dan pikiran itu dekat, keduanya dianggap berada di matra badan kasar, bahkan saling terkait, sedangkan alam rohani berada sepuluh langkah di luar panca mahabhuta dan panca tanmatra. Untuk mencapai kesadaran rohani kamu harus melampaui lima indramu dan lima matramu, karena alam rohani itu tidak berbentuk fisik, tidak terlihat, tidak tercium, tidak terdengar, tidak tersentuh, tidak terkecap. Alam rohani itu dapat kamu capai dengan menyelami sedalam-dalamnya ajaran Sepuluh Aksara atau Dasa Aksara. Begitu kira-kira.”

“Apa maknanya, Cong?”

“Ketika kamu telah tercerahkan secara rohani, serta secara pikiran dan tubuhmu, maka itulah jati dirimu sebagai manusia Bali. Manusia Budi. Manusia paripurna, utuh lahir batin. Kualitas hidupmu disimbolkan sebagai di alam Siwa.”

“Walaupun kayaknya kamu ngaco, coba sekarang lanjutkan memaknai Kuningan.”

“Capek Byah, ngoceh dari tadi. Mataku juga mulai berkunang-kunang. Kamu sih, kebanyakan ngasi minum.”

“Masih ada sebotol nih, boleh sambil ngelanjutin ngobrolnya.”

“Nanti kamu cari-cari sendirilah maknanya. Pakai otakmu. Biar bisa belajar sesuatu. Nggak cuma copy paste. Atau belum apa-apa sudah mistik aja di otakmu, entar malah jadi tambah gelap pengetahuanmu. Tapi itu memang hanya permainan simbol. Bukan di situ substansinya. Malah tadi aku mau bilang ke kamu kalau Penampahan itu adalah sama dengan Pura Puseh, Galungan itu sama dengan Pura Desa, dan Kuningan adalah Pura Dalem. Tapi takutnya malah kamu jadi bingung dan memaki aku. Sekarang yang penting kamu sudah paham sedikit makna Galungan yang aku sampaikan tadi.”

“Paham? Enggak juga, Cong. Sama sekali aku nggak ngerti. Malah ocehanmu itu bikin kepalaku mumet. Tapi aku salut, Cong, omonganmu kayak orang ngerti aja, padahal nggak, haha…”

“Itulah namanya aliran pengetahuan dari semesta, Byah, sebab aku menghidupkan pohon ‘waringin sungsang’ di dalam diriku, dan kamu yang rajin menyiraminya dengan minuman, kikikik…”

“Walah, makin ngawur aja kamu, Cong. Maksudku, apa kamu tidak bisa memaknai Galungan secara sederhana, gak pakai organ-organ tubuh segala, macam Ilmu Hayat gitu?”

“Ada, Byah. Makna Galungan secara sederhana juga ada.”

“Nah, apa itu?”

“Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah hari kemenangan dharma melawan adharma, gitu aja udah.”

“Ataah, itu lagi! Masih ada waktu, Cong, sebelum kita pulang. Singkat saja, biar otakku tidak menggantung. Kuningan itu apa?”

“Kuningan itu maknanya kamu memasuki kesadaran atau pencerahan pada tubuh rohanimu. Dalam hidupmu, kamu mesti mengisi rohanimu dengan ajaran-ajaran kerohanian. Tentu saja ini wilayah rahasia nan abstrak. Sebagai orang Bali, ciri jalan hidup spiritualmu adalah semangat, gembira, membumi. Religiusitasmu harus tumbuh dengan energi yang cemerlang, cerah, gembira, aktif, bergerak. Tidak kosong atau putih, tidak juga senyap atau hitam, tapi spiritualitas yang merangsang dan menggairahkan hidupmu, dilambangkan dengan warna kuning.”

“Hahaha…, kayaknya nyaplir ini. Maksudmu Kuningan itu warna kuning, gitu?”

“Yup. Itu bahasa simbol. Penjelasannya seperti yang aku bilang tadi. Spiritualitasmu adalah akar dari filsafat hidupmu atau Iswara, spiritualmu adalah sumber inspirasi pengetahuan hidupmu atau Brahma, spiritualmu adalah pusat energi kasih hidupmu atau Wisnu. Karena itu, sebagai orang Bali, kamu harus menghayati nilai-nilai ini.”

“Waduh, otakku tidak bisa menangkapnya, ampura, Cong.”

“Spiritualitas orang Bali itu adalah sumber inspirasi untuk memuliakan kehidupan, mengelola kehidupan, dan mengasihi kehidupan di alam nyata ini, bukan untuk bertapa, bukan untuk pengasingan diri.”

“Semakin uyeng-uyengan omonganmu, Cong. Perayaan Kuningan kan harus selesai sebelum pukul 12 siang, kalau tidak, katanya nanti yang datang adalah Dewa Berung.”

“Itu adalah simbol waktu produktif, waktu untuk hidup. Sedangkan setelah pk 12 siang disebut waktu lingsir, waktu kematian. Spiritualitas orang Bali adalah untuk produktivitas, untuk kehidupan. Pengetahuan rohanimu yang menginspirasi dan ‘menyinari’ pikiran atau tindakanmu untuk mengelola kehidupan sehari-hari dengan indah sebagai karakter manusia Bali. Jika tidak, bagaimana pun tingginya pengetahuan rohanimu kalau tidak bermanfaat bagi kehidupan maka tidak akan ada gunanya, hanya kesia-siaan belaka. Istilahnya, yang kamu temukan nanti hanya Dewa Berung.”

“Apa ada ogoh-ogohnya juga?”

“Ada. Tubuh rohanimu juga dikendalikan bhuta, dinamakan Sang Bhuta Amangkurat. Malah ia sangat kuat dan cara mainnya sangat rahasia. Karena itulah kamu natab Banten Prayascita agar kamu menyadari keberadaannya. Bila ia menguasaimu, ia dapat membuatmu mabuk spiritual, mabuk agama, ya semacam itulah.”

“Berarti maksud dari Galungan dan Kuningan itu adalah kita menyadari dan memenangkan dewa di badan kasar kita, dewa di pikiran, dan dewa di rohani kita, begitu?”

“Nah, pintar kamu, Byah.”

“Peh. Ayo dah kita pulang. Ini sudah hampir tengah malam. Habisin dulu minumanmu, Cong, biar Dewa Berung gak keburu datang.” [T]

Kuta, 2020.

Tulisan ini juga dimuat majalah Media Hindu, edisi 198, Oktober 2020.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Sanur, Padang Sanur & Toponimi Bali

Next Post

[Puisi-puisi Manik Sukadana] – Pernyataan Pada Perempuan Pengagum Warna

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
[Puisi-puisi Manik Sukadana] – Pernyataan Pada Perempuan Pengagum Warna

[Puisi-puisi Manik Sukadana] - Pernyataan Pada Perempuan Pengagum Warna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co