6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“The Flu”, “The Contagion”, dll. — Menonton Film Pandemi untuk Selamat dari Pandemi

Vincent Chandra by Vincent Chandra
April 19, 2020
in Ulasan
“The Flu”, “The Contagion”, dll. — Menonton Film Pandemi untuk Selamat dari Pandemi

Ilustrasi: Vincent Chandra

Sebuah kontainer berisi puluhan imigran gelap diselundupkan oleh oknum mafia ke sebuah daerah di Korea Selatan. Setelah tiba dan dibuka, mafia-mafia ini hanya menemukan tubuh-tubuh imigran gelap yang tergeletak, tikus-tikus yang sedang menggerogoti tubuh imigran, serta bau busuk yang tajam dari dalam kontainer.

Salah seorang imigran yang selamat secara tidak sengaja menularkan virus kepada salah seorang mafia sebelum akhirnya berhasil kabur ke tengah kota. Keesokannya mafia ini mulai batuk keras ditengah keramaian. Lewat mafia tadi akhirnya virus ini viral ke beberapa bagian dunia hanya dalam hitungan hari, dan mengakibatkan seisi kota harus diisolasi.

Warga mulai panik, yang terjangkit tidak tertangani, warga kehilangan kepercayaan pada pemerintah, pemerintah cemas dan kebingungan, warga yang diisolasi menolak tertib, pemerintah akhirnya terpaksa mengambil sikap dengan menembak warganya sendiri, setelah beberapa hari sejak wabah muncul, sebuah antibody untuk membunuh virus itu akhirnya dapat ditemukan.

Insiden tadi adalah pokok cerita dari film The Flu yang sekilas memprediksikan kondisi dunia hari ini. Jelas tidak sepenuhnya, kadang terkesan melebihkan, namun setidaknya ada kemiripan dengan penggambaran psikologis masyarakatnya selama menghadapi pandemi. Film-film serupa ini seperti The Contagion, Outbreak, I Am Legend (salah satu film favorit saya), Children of Men, The Happening, World War Z, Train To Busan, dan Bird Box pula mencoba menggambarkan realitas sosial dunia hari ini versi masing-masing.

Semua film itu beberapa diantaranya benar terinspirasi dari kasus-kasus nyata yang sebelumnya terjadi. Tidak heran bila didalamnya tampak banyak wujud tindakan yang masuk akal dan layak kita coba untuk menyelamatkan diri dari krisis ini. Terdengar lebih optimis, film-film ini berpotensi membantu kita untuk selamat dan menanggani pandemi bila kita jeli menangkap nilai-nilai penting yang ada didalamnya. Sebaliknya menimbulkan ketakutan dan kecemasan berlebihan bila kita salah memaknai film-film tadi. Saya sendiri memaknai film ini sebagai kunci jawaban dari persoalan pandemi ini, yang kemudian lebih tepat kita pakai untuk mengevaluasi 1 bulan keadaan kita belakangan selama pandemi.

Mari kita coba kupas mengapa film-film ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita selama pandemi? The Contagion misalnya. Film ini menggunakan alur yang amat ilmiah untuk menggambarkan bagaimana penularan virus dapat terjadi dari hewan ke manusia. Ia juga menjelaskan dengan detil bagaimana virus dapat menular lewat objek yang disentuh korban penularan.

Lebih akurat lagi, film ini menunjukkan bagaimana mereka melacak jejak korban yang terinfeksi, kemudian mengidentifikasi, mengisolasi, dan memantaunya. Pengerjaan film ini melibatkan ahli medis dan ilmuwan, sehingga isu yang dibangun terasa nyata dan tidak terkesan dibesar-besarkan. Mereka percaya diri bahwa krisis seperti di hari ini akan datang cepat atau lambat.

Di film Outbreak, kita dapat melihat bagaimana sebuah protokol lapangan dijalankan dengan baik. Pemerintah menanggapi virus yang teridentifikasi dengan serius. Di film lainnya, mainstream namun tetap relevan. Mereka menggambarkan para tenaga medis dan militer yang kelelahan demi melindungi masyarakat, menangani warga yang frustasi dan panik, serta kesigapan pemerintah dalam mengambil keputusan. Semua itu tampak seperti hint yang diberikan kepada kita untuk siap menghadapi tragedi ini.

Satu lagi elemen yang tidak kalah penting, ada harapan dan energi positif yang ditularkan di tiap-tiap film tadi. Kita bisa melihat para tenaga medis yang melalui tahap panjang untuk memecahkan persoalan pandemi. Kita dapat melihat negara-negara bersatu dan saling membantu. Hingga pada akhir film para pasien dapat pulih kembali dan menemui keluarganya. Bukankah sekilas ini mirip dengan yang baru-baru ini terjadi di dunia kita? Film-film ini seolah ingin mengingatkan kita, bahwa disamping suramnya hari dan kerasnya tragedi, ada keindahan yang sedang ditunjukkan oleh manusia.

Krisis rasionalitas selama pandemi

Kesemua film tadi juga punya satu kemiripan yang selalu hadir sebagai resep utama agar masyarakat kebanyakan mau berlama-lama menikmati film, yaitu peristiwa yang dramatis. Dengan takaran dramatis yang tepat, film-film tadi sukses menarik kita ke dalam gravitasi imaji para pembuat film sehingga betah berlama-lama dan terus terbayang-bayang. Ceritanya yang mendebarkan secara tidak sadar punya kemiripan pada masyarakat kebanyakan dengan karakteristik kepribadain dramatis yang membuat mereka haus akan adrenalin. Ibarat naik roller coaster, ada rasa takut, tegang, menyenangkan, lega, dan menagihkan yang dicari-cari (tidak heran jika acara televisi nasional seperti termihik-mihik dan sejenisnya begitu digemari masyarakat kebanyakan).

Pandemi Covid-19 yang kini melanda dunia seolah-olah adalah tiket gratis untuk naik roller coaster tersebut. Celakanya, tidak sedikit orang yang suka gratisan. Alhasil tiket laku keras hingga sold out. Mereka pun menikmati wahana pandemi sambil lupa mengencangkan safety belt.

Dari film The Flu, secara gamblang diisyaratkan bahwa segala konflik yang terjadi selama pandemi diakibatkan oleh kepanikan atau kecemasan masyarakatnya. Sementara dalam realita walau tidak sedramatis film, hal serupa juga terjadi setelah pandemi dinyatakan berhasil masuk ke dalam negeri. Masyarakat mulai panik dan mempersiapkan diri dengan memborong sejumlah barang di pasar dan supermarket.

Pada minggu pertama, komoditas masker, hand sanitizer, dan tisu menjadi langka. Minggu selanjutnya, masyarakat berebut makanan dan sembako, penimbunan barang-barang terjadi, dan masyarakat terpaksa membeli kembali barang-barang timbunan dengan harga yang telah meningkat beberapa kali lipat. Kepanikan membuat mereka percaya bahwa membuang uang untuk membeli barang yang dapat melindungi mereka itu sepadan.

Kita sepakati fenomena ini sebagai kepanikan yang irasional, atau kepanikan yang berlebihan dan tidak perlu. Kepanikan dan ketakutan yang muncul memicu kita bertindak dengan tidak bijak. Memang perlu mempersiapkan diri untuk hal yang tidak kita ketahui, namun jika dilakukan dengan panik maka hanya akan menimbulkan kerugian.

Ketika kita melihat beberapa orang dengan panik memborong sembako saat di pasar, dorongan untuk melakukan hal persis juga akan muncul pada diri kita. Kondisi panik ini timbul dengan efek bola salju, memancing orang yang melihat untuk berpartisipasi. Ilustrasi yang pertama ini seperti yang ditunjukkan dalam film The Contagion. Ini cukup menjelaskan bagaimana kepanikan dapat mewabah hanya dalam waktu singkat.

Menurut para ahli tindakan tadi hanyalah sebuah reaksi alamiah untuk menyelamatkan diri, suatu cara untuk mengontrol ketidaktahuan dan ketidakpastian atas sebuah situasi. Dalam situasi seperti ini, biasanya kita kehilangan kemampuan untuk berpikir tenang dan rasional. Sehingga rasa panik menjadi satu-satunya alternatif yang mengatur gerak kita.

Kepanikan juga muncul pada masyarakat yang terlalu mengikuti perkembangan berita. Baik informasinya benar atau tidak, ia tetap akan menimbulkan kepanikan. Untuk sekarang kita perlu membatasi konsumsi informasi ini, sekaligus menahan diri untuk terus menyinggung berita didalam percakapan sehari-hari, sesekali ya boleh. Yang terpenting adalah lebih mengarahkan fokus kepada upaya diri masing-masing dalam menjaga kesehatan dan keluarga. Untuk masalah ini saya ingin mengutip nasihat dari seorang teman, “Boleh waspada tapi jangan sampai ketakutan. Be mindfull on where we put our hands, but also on where we put our attention”.

Kita jelas tidak mau berakhir seperti didalam film-film dramatis kebanyakan. Walau sebenarnya dapat selamat dari wabah, kita malah apes karena kepanikan sendiri, lebih apes lagi jika dikarenakan kepanikan orang lain. Saya mengerti betul bahwa terkadang kepanikan itu ada diluar kendali kita. Tapi mari belajar berpikir rasional, setidaknya sampai pandemi ini berakhir. Perkara pencegahan, salah satu caranya tergolong biasa, kita hanya cukup tahu cara cuci tangan yang baik saja. Sebenarnya sesederhana itu. Tapi masyarakat kebanyakan seolah tidak rela. Mereka percaya untuk peristiwa yang dramatis perlu pula reaksi yang dramatis.

Dibalik banyaknya berita buruk yang kita dengar dan lihat, ke-chaos-an, tragedi yang menggunung.. ada hal baik yang juga sedang terjadi. Orang-orang saling menyemangati dan bernyangi bersama lewat balkon rumah, mereka punya waktu lebih banyak untuk berkumpul dengan keluarga, negara-negara bersatu dan saling membantu, anak-anak muda bergerak bersama membagikan kebahagiaan, lewat tenaga, dana, dan pikiran. Semua ini maknanya untuk menyembuhkan kecemasan kita, untuk mebangkitkan optimisme kita.

Dibanding akhir cerita dalam film Train to Busan yang menyisakan beberapa warga yang selamat akibat saling membunuh, rasanya kita semua lebih mengharapkan akhir yang melegakan serupa akhir dalam film The Contagion. Vaksin ditemukan, masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa, pergi kemanapun tidak perlu lagi merasa panik, jabat tangan dan pelukan hangat legal kembali. Untuk sampai disana akan memerlukan perjalanan yang panjang. Selama kita tetap keep on track, mendengar himbauan pemerintah, saling percaya dan menjaga, tetap penuh harapan dan optimis, maka hari dimana kita bisa bertemu sapa secara langsung akan tiba lebih cepat tanpa kita sadari. Semoga.[T]

Tags: covid 19filmpandemivirusvirus corona
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Kolaborasi LPD dan Pekerja Migran Membangun Desa

Next Post

Sukses Simon Sinek Menginspirasi Lewat “Start With Why”

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menuntut Keadilan Sejarah Melalui “Menjerat Gus Dur” Virdika Rizky Utama

Sukses Simon Sinek Menginspirasi Lewat “Start With Why”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co